Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 104 Sulit mengubah takdir


__ADS_3

"ucapanmu memang benar.. tapi apa kamu mau tahu alasan kenapa aku memperselir mpu tamer ?"


tanya Rakai pikatan sendu..


"Kamu menjelaskan pun itu tidak akan mengubah keputusanku.. "


"Dahulu secara tidak sengaja sebenarnya.. "


tidak sengaja apanya, mana mungkin kucing menolak ikan asin..


batin Ratih prameswari yang tentu saja didengar Rakai pikatan.


"Waktu itu sedang gencar gencar nya aku memperluas wilayah kekuasan Mamratipura, karena bagaimanapun setiap penguasa akan dinilai dari area wilayah yang bisa dikuasai.. "


kata Rakai pikatan, namun disanggah oleh Ratih prameswari.


"Bukankah saat itu sri pramodhawardani sudah memperingatkan, tidak perlu bermain politik kekuasaan cih.. "


Ratih prameswari berpaling muka.. mengingat poligami yang dilakukan tanpa ijin istri sah membuat Ratih prameswari tiba tiba muak menatap Rakai pikatan.


"tolong Jangan membenciku adinda... " tangan hangat itu kembali merengkuh telapak tangan kanan Ratih.


tesss...


sebuah air menetes dari netra Rakai pikatan terjatuh tepat dipunggung tangan Ratih..


menatap pria disebelahnya yang sedang menunduk seperti merasa bersalah.


"kamu bisa nangis juga ternyata heh.. "


Ratih prameswari luluh juga Akhir nya, "baiklah aku akan mendengar cerita tentang dirimu dan mpu Tamer.. "


Rakai pikatan mulai bercerita tentang bagaimana Pertemuan pertama dengan mpu Tamer.


Kala itu Rakai Mamrati beserta rombongan pengawal mengunjungi sebuah wilayah di daerah wetan. Rakai Mamrati mendapat informasi dari para patih jika terjadi ketidak adilan sosial di sebuah desa, dimana rakyat setempat membayar pajak atau dipaksa membayar pajak dalam jumlah besar, tidak peduli apakah masa panen sukses atau merugi, pajak yang diterapkan tetap tinggi dan banyak rakyat yang mengeluh.


Dengan Maksud menemui kepala daerah tersebut, Rakai Mamrati ingin melakukan kesepakatan, Butuh berhari hari sampai sebelum akhirnya kepala desa setuju untuk mengikuti perhitungan pajak yang diterapkan oleh ibukota atas kebijakan sri kaluhunan.


Menjelang malam, Saat Rakai Mamrati menikmati makan malam bersama beberapa pemangku desa setempat, nampak seorang wanita berusaha memaksa masuk kedalam aula perjamuan.


dengan sedikit berteriak wanita tersebut seperti tersedu sedu..


"Kanjeng Rakai Mamrati huhuhuuu... tolong ijinkan saya menghadap !!"


Awalnya Rakai Mamrati tidak menggubris dan melanjutkan aktivitas makannya.


namun semakin lama suara wanita itu semakin memilukan hingga akhirnya,


"Maaf paduka.. salah satu warga saya sangat Lancang, biar saya temui dulu.. " kata pemangku desa

__ADS_1


"Siapa sebenar nya wanita itu.. " tanya Rakai Mamrati


"seorang wanita pemilik tanah paduka, tanah yang dikelola oleh warga lain sebagian adalah milik wanita itu.. "


sang pemangku desa mengatupkan kedua tangan hendak undur diri dan menyelesaikan masalah dengan wanita itu.


nampak berpikir sejenak lalu dengan cepat mencegah, "Bawa dia menemui aku ! "


Titah sang Raja Rakai Mamrati pun Akhirnya wanita pemilik tanah berhasil berbincang empat mata.


Lalu..


wanita itu bernama mpu Tamer yang entah mengapa memiliki sebuah daya pikat tersendiri bagi siapa pun pria yang dia inginkan pasti akan luluh dan menuruti apa yang Mpu Tamer inginkan.


"Saat itu aku tidak sadar telah masuk dalam perangkap mpu Tamer Adinda.. "


"dia benar benar membuat diriku terpesona dan semua yang ada pada diri mpu Tamer sangat menarik hasrat kelelaki lakianku.. "


ucap Rakai Pikatan seperti menyesali apa yang sudah terjadi.


"Maaf.. tapi apapun itu alasan cerita versimu aku tetap tidak suka sama pengkhianatan. "


jujur saja telinga Ratih prameswari merasa panas setiap kali Rakai pikatan menyebut nama pelakor mpu Ta mer.


"bisa kita bahas cerita yang lainnya ? maaf sekali maaf Rakai pikatan.. sesak sekali disini.. " kata Ratih prameswari tangannya menyentuh dadanya.


sedih..


"itu urusan pemerintahan bukan urusan ranjang.. kamu pikir semua wanita itu mahluk lemah yang menurut seperti kambing congek.. BIG NO !!"


kesal sekali setiap membahas diskriminasi status wanita..


Ratih prameswari mencoba mengalihkan perhatian dengan pemandangan didepannya.


"indah sekali danau ini ya.. seandainya ini masih ada di jamanku pasti akan membuat peninggalan candi prambanan semakin asri.. karena kompleks candi prambanan sangat kering.. gersang.. panas... "


ucap Ratih membayangkan seandainya ada danau sungguhan dijamannya tepat seperti yang dia lihat saat ini..


hening..


tidak ada sepatah katapun terucap dari mulut keduanya,


baik Ratih prameswari maupun Rakai pikatan sedang mendalam i pikiran masing masing.


sore hari..


"bukankah kita terlalu lama berdiam disini Rakai pikatan ?"


kata Ratih prameswari membuyarkan keheningan,

__ADS_1


"masih ada tempat yang akan kita kunjungi atau kita sudahi saja sesi perjalanan kali ini, dan maaf sepertinya keputusan ku masih tetap sama.. "


ucap Ratih prameswari kembali menghela nafas..


"Adinda.. seandainya aku mengijinkan ragamu menikah dengan pria selain reinkarnasiku apa kamu akan bahagia ?"


menoleh sendu..


"entahlah Rakai pikatan, tapi saat ini aku benar benar yakin untuk memilih melawan takdir diantara kita.. "


Ratih menunduk tidak enak hati..


sekali lagi perkataannya mengiris hati pria disebelahnya


"Baiklah Adinda.. meskipun kelak takdir kita pasti akan terjadi namun aku merelakan dirimu merasakan kebahagiaan apa yang dahulu tidak dapat aku berikan.. "


Agak tidak rela saat mengucapkan hal itu tapi mau bagaimana lagi..


"Sungguh ?? apa itu artinya kamu akan mengambil kembali kalung ini tanpa syarat seperti yang kamu sebutkan beberapa waktu lalu ??"


tanya Ratih menahan sorak gembira..


"Hhmm.. iya adinda.. ikatan kalung dan cincin tidak akan pisah, aku hanya akan menyimpannya sampai saatnya nanti kamu akan kembali mengenakan nya.. "


"apa ?? kenapa harus begitu ?? aku mau selamanya kalung itu lepas dariku Rakai pikatan !!"


mendengus kesal. lagi, ternyata sulit sekali merubah takdir


"Terima kesepakatan ini atau kamu tidak akan bisa memilih jalanmu.. "


kata Rakai pikatan lagi..


"Kamu masih punya waktu adinda.. pertimbangkanlah sembari kita menuju tempat istimewa selanjutnya.. "


tersenyum penuh arti dan itu cukup membuat Ratih prameswari was was..


...apalagi duh Gusti... ...


...****************...


bersambung


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2