Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 129 Persiapan malam ritual bulan purnama


__ADS_3

Suasana rumah disiang Hari semakin sibuk, Ibu astuti dibantu beberapa orang lainnya tampak sedang memasak berbagai hidangan untuk nanti malam.


Hajat rutin selapan pisan setiap malam bulan purnama yang mana tamu berdatangan tanpa diundang, Ruangan rumah pak Yitno hanya berukuran sedang, cukup diisi 30 orang didalam sedangkan tamu lainnya akan duduk diteras.


Meskipun jumlah tamu yang hadir dari berbagai wilayan namun, tidak pernah lebih dari 50 orang yang datang setiap bulannya.


Entahlah seperti memang sudah diatur seperti itu, bulan kemarin ada banyak yang datang dari wilayah wetan, Malam ini tidak tahu dari wilayah mana selanjutnya yang akan datang.


pak Yitno pribadi tidak pernah mengundang satu persatu tamu yang hadir lewat telpon maupun pesan singkat, begitu juga Fabiyan dan lainnya.


sebuah keyakinan sejak awal, kabeh wis ono sing ngatur..


tuan Rumah juga tidak pernah belanja berlebih ataupun kurang, setiap bulan dana yang dipakai untuk belanja ubo rampe pokok tetap sama, kecuali


ada yang sedang punya hajat khusus dan ingin digabungkan dengan ritual doa bersama,


Itupun keluarga pak Yitno sebagai tuan rumah tidak pernah meminta "upah / pajak" , Karena ritual doa bersama adalah untuk kepentingan bersama.


tidak membedakan si A si B mana yang lebih banyak mengeluarkan dana, tidak mebedakan setiap tamu yang hadir semua sama, duduk pun tidak ada yang lebih tinggi, termasuk tuan rumah yang ikut duduk lesehan sama seperti para tamu.


Saat ini Ratih prameswari tampak membantu menyapu ruangan dan teras, hanya sedikit membantu karena menjelang hari persalinan ibu hamil dianjurkan untuk tetap beraktivitas tapi juga tidak boleh kelelahan.


usai menyapu tampak Ratih prameswari dibantu dek Gendhis menggelar beberapa karpet yang akan digunakan sebagai alas.


"Pinternya mbak Gendhis... makasih sudah membantu ibu.. " mengusap lembut pucuk kepala putrinya.


"iya buk.. kan aku mau jadi kakak jadi harus rajin dan pintar.. " mulut kecil dek gendhis berucap polos.


Kemarin Ratih prameswari baru saja mengunjungi dokter kandungan, Semua sudah normal tekanan darah normal, stress juga berkurang, secara fisik ibu hamil siap untuk melakukan persalinan normal yang bisa terjadi sewaktu waktu.


Usia kandungan sudah menginjak 36 minggu, sewaktu waktu bisa saja terjadi rembesan air ketuban atau kontraksi teratur yang semakin kuat.

__ADS_1


semua pemahaman tentang proses persalinan sudah Ratih pelajari dan saat ini dirinya hanya tinggal menunggu saat yang tepat.


Pasrah terhadap Gusti ingkang maha kuasa, tetap berpikir positif dan jaga kesehatan.


Sementara para wanita sibuk di dapur, Bapak Yitno tampak dibantu oleh Fabiyan yang baru saja tiba menata buah buahan kedalam tampah (terbuat dari anyaman bambu dan berbentuk bundar).


Dengan sigap dan telaten para lelaki itu menata ubo rampe buah buahan menjadi tujuh wadah, setelah selesai menata buah Selanjutnya menata aneka sayuran dan hasil bumi lainnya menjadi dua wadah.


Tata menata kedalam tampah selesai saat sore Hari, istirahat sebentar sembari menunggu olahan dari dapur matang semua baru di tata dalam bentuk format ritual seperti yang dikehendaki para leluhur terdahulu.


"Jangan cape capek Tih, istirahatlah.. " kata Fabiyan saat melihat garwo kinasihnya masih bergerak kesana kemari menyiapkan makan untuk bapak Dan Fabiyan.


"ah ini tidak apa kok, justru sama dokter makin banyak gerak menjelang hari persalinan semakin bagus buat jalan lahir nantinya.. "


"baiklah.. jika butuh sesuatu atau merasakan kontraksi bilang ya.. biar aku bantu.. " tentu saja sebelumnya Fabiyan sering mendapati Ratih prameswari meringis menahan sakit saat janin dalam perutnya bergerak terlalu aktif.


Rasanya ingin menyentuh meredakan sakit itu, tapi apa daya tidak berani jika tanpa seijin garwo kinasihnya..


Dek Gendhis saat ini sudah mandi, berpakaian rapih ikut duduk bersama mbah kakung dan om Fabiyan dipendopo belakang.


"nasi sama ayam kung.. " bahkan Gendhis ikut duduk bersila disamping om Fabiyannya.


"Mau makan sendiri atau om suapi ?" tanya om Fabiyan saat mengulurkan sepiring nasi hangat dengan lauk ayam goreng upin ipin.


entah bagaimana dulu ceritanya paha ayam goreng mendapat julukan ayam upin ipin, apa karena paha ayam goreng identik dengan makanan kesukaan anak kembar seiras dari negeri jiran ?? hhmmm 😂


"Makan sendiri dong om, kan aku sudah besar mau jadi kakak, gak boleh manja.. " perkataan polos dek Gendhis membuat om Fabiyan dan mbah kakungnya tertawa nyaring.


"ya sudah.. ayo makan bareng bareng , habiskan apa yang sudah ada di piring kalian.. " ucap mbah kakung


makan secukupnya, ambil apa yang ingin dimakan tapi harus dihabiskan, tidak boleh menyisakan makanan.. tidak boleh mubazir dan makan harus penuh rasa syukur terhadap Gusti yang sudah melimpahkan rejeki..

__ADS_1


tepat pukul tujuh malam hari, semua sudah siap tertata dengan rapih.


Dibagian tengah ada nasi tumpeng (nasi berbentuk kerucut) dengan lauk gudangan, ikan asin, telur rebus, tahu tempe, dibagian ujungnya ditusuk cabai dan bawang merah lanang, sebagai wujud simbol tolak bala, disamping nasi tumpeng ada ayam ingkung dengan tujuh butir telur asin disekelilingnya, kemudian disebelahnya ada empat gelas minuman panas berupa teh, kopi, susu putih, susu Coklat .


kemudian lauk pauk yang diletakkan dalam wadah seperti mangkuk besar, ada 5 wadah lauk pauk dibagian kiri dekat nasi tumpeng.


lalu tampah berisi buah buahan juga diletakkan mengelilingi tengah ruangan, lalu aneka minuman beraneka warna yang melambangkan warna warni kekuatan roh suci para leuhur juga ditata dengan rapih.


Bagian depan ditelakkan sebuah wadah besar mirip baskom yang berisi air kembang setaman, dibagian kiri dan kanan diletakkan degan (kelapa muda) dengan setangkep gula aren diatasnya.


Lilin dijadikan sebagai penerangan utama, bukan Lilin lilin kecil namun lilin lilin besar yang bisa kita jumpai di klenteng, lilin berukuran tinggi 50 centimeter dengan diameter 10 centimeter, sebanyak 8 buah dinyalakan mengelilingi sajian ubo rampe yang berada ditengah ruangan.


Dibagian samping kanan diletakkan vas berisi bunga sedap malam lalu wadah untuk menancapkan dupa, Raymond lah yang ketiban sampur (kebagian tugas) membeli dan menyalakan dupa selama proses ritual berlangsung.


Semua Persiapan sudah beres, setiap orang sudah berganti pakaian, tinggal menunggu para tamu berdatangan.


saat sedang duduk, Fabiyan menceritakan tentang benda yang berhasil dia dapatkan di sendang mudhal.


"Menurut petunjuk yang saya peroleh, benda ini harus berada ditengah meja ritual pak, tapi sebaiknya taruh dimana ya.. " tanya Fabiyan.


"Coba minta sama ibuk dibelakang sana, mangkuk kecil berisi air kembang setaman, letakkan diantara nasi tumpeng dan ayam ingkung.. Jangan lupa kamu jawab sendiri ngger, apa yang menjadi tujuan kamu dan apa pengharapanmu.. semoga kabul.. "


mengikuti penuturan bapak Yitno Gegas Fabiyan meminta mangkuk kecil lalu diisi air kembang dan meletakkan benda chempaka emas didalamnya lalu menaruh mangkok tersebut ditempat yang dikatakan bapak Yitno.


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2