Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 92 Apakah ini, cinta ?


__ADS_3

"Doakan saja ya Kinan.. om.. semoga kami bisa ke jenjang yang lebih serius.. " kata Putra sembari mengangkat tautan tangan mereka keatas meja.


seolah olah meyakinkan jika dirinya dan Ratih memang ada hubungan..


Mampus.. kenapa kak Putra memperkeruh situasi ????


Fabiyan auto mendelik kaget, Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi dalam kisah asmaranya..


sementara Kinan ? menatap tidak suka cenderung menatap berapi api seolah hendak membakar Ratih prameswari. Biar bagaimanapun juga Kinan masih berharap bisa mendapatkan Putra.


eghem...


"Ratih, bisa kita bicara berdua ? penting.. " kata Fabiyan dengan tatapan lebih serius.


"Hhmm... diluar saja !" jawab Ratih prameswari.


Melepaskan genggaman tangan kak Putra yang sepertinya enggan melepaskan..


"Aku keluar sebentar ya kak.. nanti kita ketemu disini lagi.. "


"Hhmm.. jangan lama lama ya Tih.. "


ucap Putra menatap punggung Ratih dan Fabiyan menjauh keluar dari ruangan.


"Jadi.. kamu beneran mau ngajak si cupu itu buat serius Put ?" tanya Kinan yang duduk didekat Putra dengan kegelisahan yang berhasil ditutupi.


bakat aktingnya selama bekerja di ibu kita tidak sia sia..


"Hhmm... aku udah lama banget nungguin dia Kin, sekarang dia hadir dengan lebih dewasa dan mempesona, hatiku rasanya seneng banget hehe.. "


Putra sengaja memanas manasi Kinan seolah olah hubungan nya dengan Ratih adalah nyata.


"Apa kamu yakin Put ? dia kan seleranya om om.. "


cengir mengejek khas seorang Kinan.


"inget kan kamu pas kita masih kuliah dulu dia godain om aku, om Raymond.. demi apa coba kamu pikir ? om Raymond sampai kasih perlindungan khusus, yang bikin si cupu itu besar kepala ish !!"


Kinan selalu benci jika kembali teringat bagaimana dulu om Raymond sampai tega menampar bahkan melaporkan kenakalannya pada mama dan papa yang ada diluar negeri, bahkan orang tua Kinan sampai pulang ke indonesia untuk memastikan langsung dan adalah hal yang paling memalukan disepanjang hidup Kinan.


"Dia bukan si cupu Kinan, dia punya nama, Ratih prameswari !"


Putra tidak suka jika ada orang yang menjelek jelekkan wanita yang menjadi pujaan hatinya selama menyelsaikan pendidikan di kampus dulu hingga sekarang.


Sementara Kinan dan Putra ngobrol didalam, Ratih dan Fabiyan kini berada di sebuah taman.


"Katakan kalau yang yang tadi itu tidak benar.. " kata Fabiyan to the point


"Apanya yang tidak benar Biyan ? kak Putra itu temenku kuliah dulu, dia baik kok gak ada yang perlu di khawatirkan.." kata Ratih sambil bersedekap tangan.


suasana malam ini terasa lebih dingin..


"Tapi kan.. waktu itu kita udah sepakat untuk memulai semua dari awal lagi.. "


Fabiyan menatap Ratih penuh rasa penasaran.

__ADS_1


"Apa kamu pikir aku main main Tih ?"


"Dari awal aku tidak pernah mempermainkan apa yang aku rasakan padamu.. "


Netra Fabiyan sendu..


"Bukan begitu Biyan.. kita memang memulai dari awal kan, aku menganggap kamu temanku.. hanya saja pintu hatiku belum mau menerima kamu masuk.. "


Banyak pertimbangan saat Ratih memutuskan menerima tuan muda Atmaja menjadi temannya,


Ratih prameswari tahu tuan muda Fabiyan Atmaja adalah reinkarnasi suami pertama nya, Suami yang sedari awal mengikat dirinya melalui kalung yang masih tersemat kuat sampai detik ini.


Tapi.. Ratih pribadi juga masih punya akal sehat dan logika. Ratih tidak mau sisa hidupnya harus takluk pada karma, sementara dia bisa mencegah semua karma sebelum benar benar terjadi.


"Ratih.. kamu adalah belahan jiwaku, kamu yang selama ini aku cari.. kamu garwo kinasihku Ratih.. "


Fabiyan semakin sendu menatap netra Ratih prameswari yang sedikitpun tidak goyah,


"Apa hatimu tidak merasakan hal yang sama padaku Ratih ?"


"Biyan.. aku mengetahui semuanya lebih dari yang kamu ucapkan.."


"Aku bisa saja menikah denganmu tapi.. "


Ratih prameswari menjeda perkataannya,


"Tapi aku pribadi sebagai seorang Ratih prameswari juga memiliki akal dan logika yang berhak menolak semua yang dirancang untuk kita Biyan.. "


"Sekali lagi maaf, hatiku masih menutup belum ada keiinginan untuk memilih pria mana yang akan jadi suamiku.. "


"Fabiyan... tolong jangan terlalu mengikat perasaanmu padaku, aku tidak bisa memberikan lebih dari sebuah pertemanan.. "


Tanpa menunggu jawaban Fabiyan, Ratih prameswari kembali masuk kedalam gedung acara, moodnya hilang dan sekarang hanya ingin pulang ke penginapannya.


Ratih dan Putra pulang lebih awal meninggalkan acara amal yang bahkan baru saja dimulai, di dalam mobil sepanjang perjalanan keduanya lebih banyak diam.


"Kak Putra.. bisa kah kita menepi sebentar ? aku ingin menikmati angin didekat pantai. "


"tentu saja, kita akan ke pantai kutha dekat penginapan.."


tanpa penolakan Putra melajukan mobilnya kearah pantai.


"Ratih.. aku beneran minta maaf ya soal tadi itu.. "


"Aahh Sudah lah kak, santai aja, aku bisa atasi kok.. "


Selanjutnya mereka berdua tidak membahas kejadian di hotel tadi.


hampir satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di pesisir pantai kutha, Suasana malam yang tidak pernah mati, semakin malam semakin banyak pengunjung yang datang..


Ratih dan Putra duduk diatas pasir dengan menikmati minuman soda kalengan yang mereka beli dalam perjalanan tadi,


"outfit kita terlalu formal gak sih buat main kesini hahahaaa... "


canda Kak Putra

__ADS_1


"Kita udah kayak orang mau kondangan tapi kesasar di pantai hahaaa.. "


Memang aneh sih jika orang melihat pasti akan membatin hal hal yang seperti itu.


"Ayo kita jalan didekat bibir pantai sana kak.. "


menarik lengan Putra setelah sebelumnya menepuk nepuk kain jarit yang banyak pasir menempel


"Tenang banget ya kak disini.. " memainkan ombak kecil yang menyapa kaki telanjang mereka


sepatu dan sandal heels sengaja mereka tinggalkan didalam mobil.


"Kamu gak takut ? jalan di kegelapan kayak gini ?"


"terkadang gelap itu juga menenangkan kok.. aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini.. "


tiba tiba kak Putra menahan lengan Ratih, hingga kini keduanya berdiri berhadapan..


"Ratih.. apa kamu mau mencoba menjalani hubungan yang lebih serius denganku ?"


menggenggam tangan Ratih, hangat..


"Kak putra... apa Maksud nya ? jangan bilang kalau kak Putra serius waktu mgomong di hotel tadi ? di depan Kinan dan om nya ?"


"Apa aku terlihat bercanda saat ini "


hening...


hanya netra keduanya yang saling beradu, ada rasa nyaman tersendiri saat Ratih bersama kak Putra. Seolah olah semua beban hidup didunia ini menguap begitu saja.


Seperti jutaaan kupu kupu yang berterbangan mengelilingi mereka ditengah hamparan bunga warna warni nan wangi.


Mungkin ini saatnya aku ambil keputusan diluar jalur... Gusti.. semoga hambamu ini tidak salah memilih..


"Ayo kita coba kak.. aku mau mencoba jenjang yang lebih serius dengan kak Putra.. "


tersenyum manis melebih madu..


"Makasih Ratih.. setelah sekian lama akhirnya perasaan ku ke kamu benar benar terbalas.. "


Mengangkat kedua tangan Ratih dalam genggaman lalu mencium punggung tangannya dengan lembut dan penuh rasa..


cinta... apakah ini yang dinamakan cinta ??


Sebuah perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata kata, hanya bahagia dan nyaman yang ada saat bersamanya...


...****************...


bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya

__ADS_1


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2