
Pada perayaaan selapanan yang dibarengkan dengan acara ritual malam. purnama, Raymond dan Tamara tampak hadir, mereka duduk di tempat biasanya Raymond menyalakan dupa.
Sebelumnya Raymond memperkenalkan Tamara kepada bapak Yitno dan juga ibu Astutik.
"Nak Raymond itu sudah seperti anak kami sendiri nduk, jadi jangan sungkan ya kalau ada apa apa bilang saja.. " kata ibu Astuti diiringi anggukan manis Tamara.
Tamara memperhatikan satu persatu tamu yang hadir, tidak luput dirinya memperhatikan si empunya rumah yang tampak menata tumpukan kardus berisi roti,
"Siapa wanita itu Ray.. " bertanya berbisik
"itu Ratih prameswari putri tunggal bapak sama ibuk, " jawab Raymond sekenanya.
Ada sebuah perasaan tidak suka padahal baru pertama kali melihatnya, Tamara yang sedari tadi memasang wajah manis tiba tiba saja berubah masam saat melihat sosok Ratih prameswari.
Ratih prameswari pun hanya menatap sekilas sembari tersenyum mempersilakan, setelahnya Ratih prameswari lebih memilih tidak memperdulikan hal hal lain selain tujuan hajatnya malam ini.
Ratih duduk dengan elegan ditempat biasanya, tampak dek Gendhis juga duduk disebelahnya, lalu sinang juga tidur dalam pangkuan.
"Nanti kita berdoa, mbak Gendhis juga ikut berdoa supaya dek sinang diberi kesehatan dan bisa tumbuh dengan sehat , ya ?" kata Ratih prameswari sembari mengusap halus pucuk kepala dek Gendhis.
"Iya buk.. Gendhis akan berdoa meminta semua hal hal yang baik untuk kita, dan hhmmm Gendhis juga akan mendoakan ayah supaya bahagia di atas sana.. " tangan kecilnya menunjuk ke atas seolah olah merasa jika sang ayah tengah berada di surga dan sedang memperhatikannya.
Semua ubo rampe sudah tertata dengan rapih ditengah ruangan seperti biasanya, Bapak Yitno duduk menjadi yang memimpin jalannya acara, sedangkan Fabiyan juga memasuki ruangan lalu duduk ditempat biasanya.
"Maaf tapi bisakah kamu pindah duduk dengan para wanita disebelah sana nona Tamara ?" suara merdu Fabiyan membuat Tamara tertegun.
"Apakah itu keharusan ? apa wanita dan laki laki tidak boleh duduk bersama ? " Tamara tidak mau berjauhan dari Raymond.
"Bukan begitu, hanya saja dari awal memang seperti itu posisi duduknya, kalau gak mau ya terserah sih, Ray.. " Raymond menoleh saat mendengar Fabiyan menyebut namanya.
"Apa Fab ? "
"bilangin gih cewek lu !" Lalu Fabiyan memilih duduk agak bergeser,
"gak apa kalau kamu mau duduk didekatku Tam, tenang saja oke.. " Suara Raymond menenangkan Tamara.
Tamara bukannya tidak mau duduk bersama para wanita tapi sesuatu dalam dirinya menolak jika harus berdekatan dengan Ratih prameswari.
Acara doa pembuka berlangsung selama setengah jam setelah Sebelumnya bapak Yitno meminta tamu yang hadir turut memberikan doa selapanan atas kelahiran cucu keduanya.
Tamara tidak bisa duduk dengan tenang, salah besar jika dia tidak menuruti Fabiyan karena saat ini dirinya yang belum bisa ikut berbahasa roh semakin nggeliyut (mengantuk tak tertahankan).
Biasanya hal itu terjadi karena energi yang dimiliki dalam diri masih kalah jauh dibandingkan sekelilingnya. Apalagi Tamara yang duduk diantara Fabiyan dan Raymond.
Merasakan energi tersedot, bahkan untuk mempertahankan membuka mata saja sangat susah.
Aroma dan asap dupa yang mengepul membuat mata semakin pedih, Tamara benar benar tidak merasa nyaman, Namun saat melirik Raymond sang pria idaman tampak fokus sembahyang bahkan sedikitpun tidak menyadari jika dirinya tengah tersiksa.
__ADS_1
Fabiyan sendiri tidak sembarangan memperingatkan, karena energi dari pria yang duduk disebelah kanan Bapak Yitno saling memiliki energi kuat yang saling tarik menarik menciptakan daya energi bahasa roh suci yang memancar paling kuat dan terang.
Sedangkan para Wanita duduk disebelah kiri tuan rumah karena meskipun daya energi mereka juga besar dan tak kalah memancar terang namun masih lebih rendah dari para pria.
Jika tidak kuat daya dalam diri pribadi, akan seperti Tamara yang bukannya bisa fokus justru energinya yang terkuras.
Setengah jam terasa sangat lama bagi Tamara, matanya masih merasakan perih meskipun sudah menutup mata tapi asap dari dupa seperti ikut menyusup kedalam matanya.
Kapan ini selesai, duhh perih.. mana ini mata gak bisa dikondisikan pula, huhuhuuu...
Acara malam hari itu berakhir pada pukul setengah satu dini hari, satu persatu para tamu undur diri usai menyantap aneka sajian ubo rambe serta tidak lupa sebuah tas berisi cangkingan atas perayaan selapanan putra kedua Ratih prameswari.
Raymond juga ikut pamit pulang lebih awal, Mobil Raymond melaju keluar dari perkarangan rumah bapak Yitno.
Mobil tidak menuju rumah kontrakan Tamara melainkan menuju ke rumah Raymond.
"Maaf jika kamu merasa kurang nyaman selama acara tadi.. " kata Raymond tersenyum
"ini baru pertama kali aku ikut acara seperti itu, agak canggung sih tapi aku yakin selanjutnya pasti bisa menyesuaikan.. "respon Tamara dengan suara merdu nya.
Mobil terparkir di garasi rumah Raymond, Raymond mengajak Tamara masuk kedalam kamarnya..
Entah apa yang dipikirkan keduanya tapi saat ini Tamara hanya menuruti keinginan Raymond, tidak bisa menolak saat Raymond mencumbu bibirnya dengan lembut.
sentuhan demi sentuhan membuai keduanya hingga bisikan nafsu menguasai akal sehat mereka.
Tubuhnya meremang saat merasakan Raymond melucuti satu persatu kaim ditubuhnya, anehnya Tamara. masih bisa menolak tapi dia justru menikmati buaian hasrat.
"ahhh... Ray... " lenguh Tamara saat merasakan Raymond menikmati pucuk payu dara nya.
posisi keduanya rebahan di ranjang king size, Raymond yang mengendalikan permainan.
Kembali menciumi wajah ayu Tamara, membuai wanita dibawahnya dengan kenikmatan duniawi,
Tamara menahan saat tangan Raymond mulai menjamah bagian bawahnya,
"Ray.. " Saling menatap seakan ingin mempertegas sesuatu.
"Kita akan menikah, panggil aku sayang.. aku menginginkan kamu.. "
Selanjutnya Raymond bermain cukup lihai dalam membuai Tamara kedalam gejolak hasrat.
Puas menciumi wajah dan leher, Raymond bergerak semakin kebawah, memainkan pu ting yang semakin keras, menyesap seperti bayi sesekali menggigit kecil ujungnya.
Tangan tidak tinggal diam, membelah celah lembah yang sudah terasa basah, tidak memasukkan jarinya hanya bermain pada bagian kli to ris, Tangan menari dengan lihai membuai Tamara hingga menginginkan lebih.
"Ahh.. Ray sshhh.. "
__ADS_1
Mulai meracau saat Raymond semakin turun kebawah, membuka kedua kaki Tamara dan mengangkat satu kaki lalu menenggelamkan wajahnya.
meniupi permukaan yang tertutup rambut rambut halus yang sudah bercampur cairan saat jemarinya bermain tadi.
"Ray.. a.. aku malu... " berusaha menutup i namun Raymond menahannya.
"Kita tidak akan tidur sampai matahari meninggi sayang, nikmatilah pelayanan perdanaku pada tubuhmu.. "
Tanpa melanjutkan perkataan Raymond mulai menciumi bibir bagian bawah itu dengan lembut, beberapa kali lidahnya membelah celah basah lalu memainkan ujung lidah pada kli to ris nya.
Merasakan Tamara sudah hanyut menikmati Raymond memberanikan menusuk nusuk liang dengan lidah hangatnya dan itu cukup membuat Tamara menggila.
Semakin membuka lebar kedua paha, Raymond masih menikmati bermain di lembah itu, Tangan tidak tinggal diam, bergerak naik keatas merengkuh bongkahan payu dara sintal yang menantang.
remas remas lalu memilir ujung nya, menarik narik gemas lalu mere mas lagi.
"A.. aku tidak tahan sayang ahh.. rasanya ada yang ingin meledak didalam sana.. "
"Keluarkan semua apa yang kamu rasakan sayang, jangan ditahan.. "
aahhh iya seperti itu.. jangan berhenti ini terlalu nikmat, ahhh...
Tamara meremas rambut dan kepala Raymond sembari menggerakkan pinggulnya mengejar sebuah pelepasan.
hampir satu jam Raymond memainkan lembah basah Tamara, selama itu juga Tanara sudah merasakan pelepasan beberapa kali.
tatap mata keduanya sama sama sayu..
Raymond membuka lagi kedua kaki lebar lalu mengangkat membentuk huruf M.
menggesek gesekkan ujung kepala ju ni or nya pada celah bibir basah Tamara,
gerakan pelan yang membuat gila, beberapa kali hentakan sebelum akhirnya milik Raymond bersarang sempurna di dalam Tamara.
Membiarkan satu sama lain saling menyesuaikan barulah mulai bergerak, awalnya pelan.. pelan.. semakin lama semakin laju.. cepat.. dan kuat..
Peluh keduanya bercampur jadi satu diatas ranjang panas, percintaan penuh hasrat berakhir saat matahari meninggi jam dinding menunjuk pada pukul delapan.
Merasa tubuh remuk redam, Raymond dan Tamara memutuskan untuk tidur berpelukan tanpa melepaskan tautan pusaka pada sarangnya..
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..
jangan lupa dukungan nya
__ADS_1
Rahayu 🙏