Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
145 Kendi yang kosong


__ADS_3

Fabiyan hendak berpamitan saat bersamaan dengan bapak dan ibuk yang baru saja pulang dari ladang,


"Jangan pulang dulu, nanti aja sekalian makan siang bareng nak.. " ucap ibu astuti mengharap Fabiyan untuk tinggal lebih lama.


"Saya sudah dari tadi pagi pak.. buk.. hhmmm kebetulan ada urusan lain jadi saya pamit dulu saja njih.. " kata Fabiyan sopan.


Gagal membujuk Akhir nya Fabiyan tetap pamit dari rumah Bapak Yitno.


Mobil melaju pergi dari pekarangan rumah, kemudian bapak mengajak ibuk masuk kedalam.


"Ayo buk kita masuk dulu, sudah mau tengah hari ini.. " kata bapak Yitno yang sudah nampak kelelahan usai bekerja di ladang.


"iya pak, ayo... habis ini ibuk juga mau masak buat makan siang.. " balas ibu Astuti.


Masuk kedalam rumah disambut oleh Gendhis yang sedari tadi menonton tv, sedangkan Ratih prameswari berada didalam kamar dengan putra kecilnya.


Bapak dan ibu masing masing membersihkan diri sebelum duduk bergabung dengan Gendhis, Ibuk sedang membuatkan minuman teh tawar untuk Bapak saat mendengar sinang putra tiba tiba menangis lagi.


"Sudah dikasih obat ndukk ?" tanya ibuk,


"Sudah buk.. habis minum obat dia tenang mau tidur sama keringat nya keluar banyak.. tapi saat efek obat menghilang sinang kembali rewel.. " Saat ini ratih prameswari sedang menggendong bayinya.


"Aduh.. kenapa to sinang... ayo cah bagus lekas sehat pulih yaa.. " ibu ikut menunggui sebentar sebelum melanjutkan aktifitas memasak di dapur.


Bapak Yitno yang mendengar suara tangis bayi ikut merasa sedih, kemudian mendekati Ratih prameswari dan bayinya yang kini berada didalam kamar.


"Nduk.. kalau sudah minum obat tapi kok masih rewel artinya ada sesuatu.. coba diingat ingat ini hari apa ? lalu kendi.. kendinya sinang coba dibersihkan lalu diisi dengan air matang yang baru.. "


Hanya mengatakan hal itu sambil mengusap kening sang bayi, lalu bapak Yitno kembali keluar menemani Gendhis.


Ratih prameswari mengingat ingat ini hari apa... dan dia tidak mengingat jika ini adalah hari netu sinang, karena sinang Putra lahir pada hari minggu usai ritual prunama,

__ADS_1


"sekarang hari senin.. bukan netu sinang sih.. lalu apa ya hhmmm... "


Berusaha kembali mengingat apa apa saja yang mungkin terlewat sambil mencoba menyusui sinang.


Saat sinang cukup menyusu, Ratih meletakkan bayinya diatas kasur, lalu mengambil sebuah meja kecil untuk ancik ancik,


Benar saja kata bapak tadi, jika air kendi Sinang sudah kering tidak ada isinya..


Ratih memgambil kendi kecil yang terletak disamping kendil wadah ari ari sinang, membawa nya turun lalu kebelakang rumah bermaksud membersihkan.


saat melewati dapur terlihat ibuk sedang memasak lauk..


"Maaf ya buk, Ratih bahkan tidak sempat membantu apapun hari ini, biasanya kan Ratih yang masak.. " nada suara sedih lantaran tidak bisa membantu


"Tidak apa nduk.. anak anakmu lebih utama, ibuk sebentar lagi juga selesai kok.. " tersenyum teduh seperti biasanya,


Ratih lanjut kebelakang, tepatnya disebuah gentong yang dijadikan pancuran,


Mengisi separuh kendi dengan air lalu dikocok dan dibuang, melakukan lagi hal yang sama beberapa kali memastikan kendi benar benar bersih.


Kemudian mencuci bagian luar kendi, tidak ada kotoran membandel hanya debu saja karena kendi terakhir diisi saat sinang selapanan waktu itu.


Kendi benar benar sudah bersih, Ratih kembali masuk kedalam rumah, mengambil lap bersih untuk mengeringkan bagian luar kendi, setelah itu barulah kendi diisi air bening matang sampai penuh tapi tidak luber.


Saat ini sinang digendong mbah kakungnya karena sempat menangis saat Ratih dibelakang rumah,


"Selesaikan dulu nduk, biar sinang sama bapak.. anteng kok dia... " Bapak Yitno memangku bayi mungil itu sembari duduk dikursi goyang miliknya,


Mungkin merasa seperti diayun ayun, sinang merasa tenang dan sorot matanya menatap mbah kakung yang terdengar menenangkan lewat kekidungan sukma yang dilantunkan.


Ratih prameswari meletakkan kendi berisi air dengan hati hati, bahkan dia juga membersihkan bagian luar kendil ari ari, sambil dalam hati melantunkan doa supaya sinang Putra diberikan kesehatan, tidak rewel terus.

__ADS_1


Selesai dengan urusan perkendian, Ratih prameswari membantu ibuk Astuti menyiapkan makan siang,


Dek Gendhis masih asik tiduran sambil nonton tv, kartun si kembar botak disalah satu saluran televisi nasional. Jika tidak nonton si kembar botak pasti dek Gendhis nonton kartus spons kuning dan teman temannya di bawah laut.


Makan siang sederhana sudah siap,


nasi putih hangat, sayur bobor, sambal bawang tahu serta tempe goreng.


Sementara Ratih prameswari menyiapkan piring dan sendok untuk sejumlah anggota keluarga, ibuk Astuti menghampiri Bapak Yitno untuk mengajak makan saing bersama.


"Mbah kakung... dek Gendhis.. ayo kita makan siang dulu.. mbah Uti masak enak lho.. ayo.. "


Bapak Yitno meletakkan sinang yang tertidur didalam kamar lalu menyusul keruang makan.


Mereka makan bersama dengan tenang, hampir tidak ada satupun suara berbicara, kecuali dek Gendhis yang sudah hampur habis..


"ibuk.. mbah.. Gendhis udah selesai makannya, Gendhis mau temani dek Putra dulu, ibuk makan yang banyak ya biar gak ikut sakit.. " Meletakkan piring kotor lalu gegas menemani sang adik yang tidur lelap didalam kamar.


"Cucu satu itu memang temuwo ya.. pikirannya dewasa.. " kata ibuk Astuti tersenyum.


"Namanya juga anak pertama, bahunya harus sekuat karang.. " sahut Bapak Yitno.


Lalu tidak ada suara lagi, masing masing fokus membersihkan makanan dalam piring .


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2