Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 109 Bebas sementara


__ADS_3

"ngger buyutku Dyah Balitung.." suara jelas berwibawa Rakai pikatan menuntun Dyah Balitung masuk dalam pelukannya.


air mata haru menetes dari keduanya...


Perasaan apakah ini wahai gusti pemilik alam semesta..


rasa haru nan hangat menjalar ditubuh kedua insan beda generasi.


"Ikutlah dengan kami pulang kakek buyut.. " kata Dyah Balitung dalam pelukan Rakai pikatan.


"Kita sudah beda alam ngger.. Kita bisa bertemu karena restu dewi alam semesta dan kuasa nini buyutmu Sanjivani.. "


ucap Rakai pikatan seraya melepaskan pelukan.


nini buyut Sanjivani ikut tersenyum simpul lalu mengajak mereka berbincang didekat pondok karena hari sudah hampir malam.


mereka duduk bersama, sedangkan Ratih prameswari duduk berada tak jauh dari nini buyut Sanjivani,


disini Ratih hanya ikut duduk dan mendengarkan,


"Ngger.. tetaplah teguh menekuni sifat sri kaluhunan seperti nenek buyutmu sri pramodhawardhani dahulu.. "


"saya belum menemukan makam nenek buyut hingga saat ini kek.. " ucap Dyah Balitung


"Apakah suara hatimu tidak memberitahu jika yang kamu cari tidak jauh dari jangkauan matamu ?" tanya Rakai pikatan.


sekilas merlirik kearah Sanjivani.


"Saya sebenarnya juga merasa jika nenek buyut selalu ada disekitar saya kakek, tapi jejak penelusuran masih tetap nihil.. "


Nini buyut Sanjivani menatap Rakai pikatan seolah berkata, jangan katakan apapun.. jangan bilang jika aku adalah yang dia cari selama ini..


Rakai pikatan mengangguk mengerti, lalu mengalihkan pembicaraan ke arah lain.


"Kakek buyut.. saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan kakek buyut, selama ini saya mengurai benang merah para leluhur untuk menemukan garis keturunan diatas saya, saya sangat bersyukur memiliki darah murni keturunan dua dinasty besar , sang hyang Widi sangat mentresnani raga ini hiks... "


Dyah balitung tersedu, dia adalah satu satunya garis terakhir keturunan murni yang masih hidup, dia bertekad membuat buku catatan khusus tentang trah murni dua dinasty besar beserta peninggalan nya.

__ADS_1


(buku inilah yang dimiliki oleh Raymond..)


Dyah Balitung memang terkenal sangat suka membuat tapak sejarah lewat catatan, prasasti, tugu, dan lain sebagai nya sebagai rekam jejak untuk era Selanjutnya.


hari sudah gelap..


usai memberikan wejangan tentang pemerintahan dan kerakyatan Tiba saatnya Dyah Balitung kembali turun bukit bersama nini buyut Sanjivani..


untuk terakhir kali mereka berpelukan,


"Saya akan senantiasa mendoakan kakek buyut supaya bahagia dialam kelanggengan.. "


"Sih tresna lan pangestu senantiasa melimpah untukmu ngger.. " telapak tangan kanan Rakai pikatan terangkat memberi restu.


Dan Dyah Balitung memberikan sedikit waktu untuk kakek buyut berpamitan dengan nini buyut Sanjivani.


"Saya tunggu di dekat jalan pulang ya nini buyut.. "


dijawab dengan anggukan dan kini hanya ada nini buyut Sanjivani dan kakek buyut Rakai pikatan.


ucap Nini buyut Sanjivani sekilas melirik kearah Ratih prameswari.


yang dilirik hanya membalas dengan senyum tipis yang sopan.


"Satu keinginan akan berbalas satu keinginan adinda.. aku akan memenuhi janjiku pada Ratih prameswari tapi aku tidak berjanji bisa sampai kapan karena jika sudah saatnya takdir berkehendak maka titisanku dan titisanmu akan kembali terjerat benang takdir yang semakin kuat.. "


Sama sama memaklumi konsekuensi dari permainan takdir.


Nini buyut Sanjivani akan turun bukit bersama Dyah Balitung, Rakai pikatan ikut mengantar sampai ke perbatasan gaib sebelum dirinya kembali ke wujud roh seperti Ratih prameswari yang menunggu di dekat pondok.


memastikan kedua raga kesayangannya Menjauh pulang dengan selamat, Rakai pikatan kembali terduduk didekat pondok, dengan Ratih prameswari disebelahnya..


"Adinda Ratih prameswari.. "


menatap dengan kesungguhan..


"Sesungguhnya aku tidak rela ragamu bersama pria lain namun, karena kamu sudah membantu aku bertemu sanjivaniku maka.. Aku akan mengambil kalung dari tubuhmu.. "

__ADS_1


"Suatu saat nanti jika masa takdir kembali berlaku maka kalung ini akan kembali pada dirimu dan berjanjilah Adinda Ratih prameswari, kamu akan siap dan tidak akan menolak lagi.. "


menatap bersungguh sungguh..


"Aku berjanji.. jika tiba saatnya nanti, aku akan lebih siap menerima takdir terakhir kita.. "


Ratih prameswari menjawab lirih..


hanya itu yang bisa dia lakukan sampai saat ini, berkompromi dengan permainan takdir..


mengambil jalan lain yang berliku meskipun pada Akhirnya tetap berlaku takdir yang sama


Namun setidaknya Ratih prameswari akan menjadi lebih dewasa matang dan siap saat sewaktu waktu takdir kembali menjemputnya masuk kedalam roda kehidupan bernama hukum karma.


Sama sama merasa lega setelah mencapai kesepakatan, Rakai pikatan mengajak Ratih prameswari kembali ke jaman nya,


era tahun 2012 saat dimana dirinya memutuskan untuk menerima pinangan kak Putra pratama, saat dimana babak baru fase selanjutnya akan menunggu untuk dijalani yaitu berumah tangga.


Jadi, saat menikah dengan pilihannya, Ratih sudah terbebas "sementara " dari jerat belenggu karma masa lalu, Ratih prameswari menjalani bahtera rumah tangga sebagai seorang wanita bebas,


meskipun bisa dibilang jika selama menjalani rumah tangga dengan Putra pratama sendiri adalah masa dimana Ratih prameswari menjadi bagian dari karma seorang pria pecinta sejati bernama idhyang.


Idhyang yang seusai terjadinya letusan gunung berapi suci selalu berdoa supaya kelak dia bisa bertemu lagi dengan sri pramodhawardani dikehidupan yang akan datang,


ketulusan doa seorang idhyang memberikan limpahan cinta dan kasih sayangnya untuk seorang wanita dinasty yang tak tergapai,


dan kini roda hukum karma sedang berlaku untuk fasa kehidupan seorang idhyang..


hidup bersama sang pujaan hati, sebagai Putra pratama dengan Ratih prameswari..


...****************...


bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah .. vote dan favoritkan untuk update selanjutnya Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2