Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.104 Hilang


__ADS_3

Di tengah kepanikan yg terjadi di rumah sakit, serta dokter dan perawat yg sedang berjuang untuk menyelamatkan pasiennya. Pihak keluarga pun berdoa tiada henti dan berharap anak mereka selamat.


"Sammy pasti selamat dia anak yg kuat.." ucap Kenzo.


"Iya.." ucap Daphny tak mampu berkata apa-apa lagi.


"Papa.." ucap Vio juga ikut menangis karena khawatir pada kondisi kakaknya.


"Iya sayang.. kita hanya bisa berdoa.." ucap Kenzo memeluk keduanya.


Sementara itu Mona pun tak kalah khawatir, dirinya pun terdiam ditemani oleh putra bungsunya. Tak banyak yg bisa ia katakan, apalagi putranya yg juga terkejut saat tahu kakaknya mengalami kecelakaan.


"Mom.. kakak akan sembuh kan?" tanya Cio.


"Iya, dia harus sembuh nak." ucap Mona.


Harapan dan doa semua orang pun tak mampu mengalahkan takdir. Karena takdir berkata lain, dimana Alice harus menghembuskan nafas terakhirnya karena kondisinya terlalu parah.


Dokter yg melakukan operasi pada Alice pun keluar dan menundukkan kepala serta meminta maaf pada nyonya Monalisa.


"Maafkan kami nyonya.. kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi takdir berkata lain.." ucap dokter tersebut mewakili timnya.


Dokter pun membungkuk dan meminta maaf karena gagal menyelamatkan pasiennya. Tentu saja ibu dari Alice histeris dan menangis.


"Tidaakkkkkk..!! Alice ku.. dokter kenapa kalian berkata begitu.." ucapnya.


"Dok, apakah kakaku tak bisa diselamatkan?" tanya Cio.


"Maaf nyonya.. nak.. kami sudah herusaha, tapi takdir berkata lain.. maafkan kami." ucap sang dokter.


"Alicee..." tangis Monalisa pun pecah disana.


"Kak Alice.." ucap Cio sembari memegangi ibunya agar tenang.


Sontak, Kenzo dan keluarganya pun mendekat. Mereka pun turut sedih karena gadis yg baru mereka kenal hari ini meninggal dunia.


"Nyonya.. kasus ini tak bisa dibiarkan.. kami akan mencari sopir truk yg menyebabkan ini semua." ucap Kenzo.


"Kau benar, aku akan mengerahkan segalanya.." ucap Mona.


"Bagaimana dengan putra kalian?" tanya Mona.


"Masih di dalam, kondisinya pun sama parahnya karena mobil mereka terjepit di tengah-tengah." ucap Kenzo menitihkan air mata.


"Semoga putra kalian selamat.. Aku tahu putra kalian begitu menyayangi Alice." ucap Mona.

__ADS_1


"Semoga nyonya.. kita harus tabah dan kuat." ucap Daphny.


Dengan langkah yg lemas, Monalisa berusaha menenangkan dirinya. Putranya itupun selalu menemani ibunya tersebut. Mereka pun mengurus beberapa administrasi. Daphny juga meminta nyonya Mona untuk mengabari tentang pemakaman Alice, karena mereka juga akan hadir.


.


.


Beberapa menit kemudian, tim dokter pun keluar dari ruang operasi Sammy dan berkata pada wali dari Sammy.


"Wali tuan Samuel Ivander?" tanya Sang dokter.


"Kami dok.. bagaimana putra kami?" tanya Daphny.


"Lukanya cukup parah, tapi pasien berhasil selamat." ucap dokter tersebut.


"Syukurlah.." ucap Daphny.


"Tapi.. berita buruknya putra kalian mengalami koma.. dan tak tahu kapan bisa sadar." ucap dokter membuat Daphny lemas.


"Bagaimana bisa??" Daphny pun menangis, begitu juga dengan Kenzo dan Vio.


Ketiganya pun tak tahu kenapa begitu berat cobaan yg harus mereka lalui. Sammy putra mereka satu-satunya sekaligus sang kakak yg selalu ceria tiba-tiba harus mengalami ini semua. Walaupun begitu, Kenzo pun akan mengusahakan segalanya. Kalau perlu memindahkannya ke rumah sakit kakaknya.


"Baiklah dok terimakasih.. kabari kami saat putra kami sudah bisa dijenguk." ucap Kenzo.


Nyonya Mona pun kembali ke tempat tersebut karena ingin tahu kondisi Sammy.


"Bagaimana tuan nyonya? bagaimana kondisi putra kalian?" tanya Mona.


"Dia selamat tapi mengalami koma.. " jawab Kenzo karena Daphny sudah tak bisa mengatakan apapun.


"Ya tuhan.. Aku berharap Sammy bisa cepat sadar, dan bisa hadir di pemakaman Alice." ucap Mona menangis.


"Kami harap juga begitu nyonya." ucap Kenzo.


Ketiga orang tua itu pun menangis, mereka tak tahu lagi kondisi macam apa yg sedang mereka lalui. Yg satu sudah pergi meninggalkan dunia, dan yg satu lagi sedang berjuang antara hidup dan mati. Ketiganya pun berbagi kesedihan dan berusaha untuk saling menguatkan.


Sementara Vio dia pergi ke taman meninggalkan orangtuanya dan menangis sendirian. Dirinya tak tahu lagi harus berbuat apa. Ditambah jika terjadi sesuatu pada kakaknya, dirinya pasti akan merasa sedih dan juga kesepian. Karena hanya tingkah jahil kakaknya yg membuat suasana rumah mereka menjadi hidup.


"Kau anak yg di ruangan tadi?" tanya Cio.


"Iya.. aku turut berduka untuk kakakmu." ucap Vio.


"Aku juga, tapi bukankah kakakmu selamat?" tanya Cio.

__ADS_1


"Iya benar, tapi kondisinya koma. Dan tak tahu kapan bisa sadar, tak ada yg lebih baik." ucap Vio.


"Hari ini kita sama-sama mengalami hal buruk tentang kakak kita." ucap Cio.


"Iya.. kau sendiri tidak sedih?" tanya Vio.


"Kalau aku sedih, siapa yg menghibur ibuku? ayah kami sudah tiada." jawab Cio bergetar.


"Menangislah, kita bisa menangis disini bersama.. Lalu kembali ke dalam saat kita siap." ucap Vio.


"Kau benar.. disini takkan ada yg melihat." ucap Cio.


Mereka pun menangis berdua di taman. Tak ada kata lain selain suara isak tangis. Keduanya sama-sama dekat dengan kakak mereka, terutama Cio yg kakaknya sudah tiada. Tiada lagi yg akan mengomelinya atau memarahinya jika dirinya membuat rumah berantakan.


"Kau tahu, kakaku suka sekali memarahiku jika aku membuat rumah berantakan.. sekarang sudah tak ada lagi yg memarahiku." ucap Cio.


"Kakakku adalah orang yg paling menyayangiku setelah kedua orangtuaku.. Dia kerap menjahiliku seharian, kalau dia tak ada hidupku akan sepi dan aku bahkan akan merindukan kejahilannya yg menyebalkan." ucap Vio.


"Kenapa mereka harus mengalami ini???!!" ucap mereka berdua bersamaan.


Isak tangis mereka di taman pun tak ada yg mendengar karena sedang sepi sekali saat itu. Bahkan hujan pun turun seperti tahu kalau ada dua keluarga yg tengah berduka.


"Kenapa harus hujan?? aku masih ingin menangis??" isak Vio.


"Justru bagus, jadi tak ada yg tahu kita habis menangis." balas Cio.


Mereka pun terus menangis tanpa peduli baju mereka basah. Sementara Kenzo panik saat tahu Vio menghilang. Dirinya juga tak bisa bicara jujur pada Daphny agar istrinya tak tambah cemas dan sedih.


Kenzo pun menyuruh beberapa orang menyusuri rumah sakit dan mencari keberadaan Vio. Apalagi cuacanya sedang hujan. Bahkan beberapa kali petir menyambar membuat Kenzo semakin cemas.


Kenzo pun mencari di taman karena tak mungkin Vio kabur begitu saja.


"Vio.." panggil Kenzo.


"Itu pasti papaku." ucap Vio mendengar suara Kenzo.


"Kita harus kembali.." ucap Cio.


Lalu Kenzo datang menghampiri keduanya.


"Ya ampun nak, kalian berdua bisa sakit.. cepat masuk ke dalam." ucap Kenzo.


"Papa.." ucap Vio memeluk ayahnya.


"Iya, ayo kita berteduh dulu.. dan kau juga masuk nanti kalian bisa sakit jika hujan-hujanan." ucap Kenzo.

__ADS_1


Keduanya pun menuruti Kenzo, hingga akhirnya keduanya pulang karena baju mereka basah. Vio pun diantar oleh sopir karena Kenzo harus menemani istrinya. Sementara Cio pergi naik taksi karena tak ingin merepotkan, dirinya juga sudah bilang pada ibunya yg berada di rumah sakit tersebut. Entah apa yg dilakukan ibunya karena kakaknya sudah sejak tadi dikabarkan meninggal dunia.


__ADS_2