Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.60 Sidang Mediasi


__ADS_3

Setelah mengajukan surat perceraian, James yg tak terima pun menginginkan sidang mediasi digelar secepatnya. Dirinya juga kini tak tahu Lyra ada dimana dan sulit untuk dihubungi.


Permohonannya pun dikabulkan dan 1 minggu lagi akan diadakan sidang mediasi. Dirinya ingin agar Lyra tidak meninggalkannya setelah apa yg telah ia lakukan. Tak peduli orang berkata dirinya egois, tapi James memang mencintai Lyra, walau dengan cara yg salah dan menyiksa.


Lyra pun tenang dan santai menghadapinya. Pengacara yg disewa Dion pun cukup baik dan menyampaikan keinginan Lyra dengan benar. Hingga sudah dipastikan sidang mediasinya gagal. James pun kesal dan marah-marah pada pengacara yg sudah ia bayar mahal.


"Kenapa kau diam saja?? aku tak ingin bercerai." ucap James kesal.


"Maaf tuan, tapi bukti yg dimiliki istri anda tak bisa dipatahkan." ucap pengacara tersebut.


Akhirnya James pun memecat pengacara tersebut dan menggantinya dengan pengacara baru. Ben pun melihat James yg sedang frustasi itu sangat kasihan. Sudah ditekan oleh Bella, kini dirinya harus menanggung segala konsekuensi dari perbuatannya. Dan wajar jika Lyra menceraikannya.


"James, hentikan.." ucap Ben tak tahan.


"Tapi aku mencintainya.." ucap James.


"Apa dia bahagia hidup bersamamu? " tanya Ben.


"Tentu saja.." balas James.


"Kalau dia bahagia tak mungkin dia menceraikanmu.. dia bahkan tahu kau berselingkuh dengan menikahi Bella." ucap Ben.


"Ben kau tahu alasanku menikahinya." ucap James.


"Ya aku tahu, tapi setidaknya kau harus jujur pada Lyra. Dan jarang ada wanita yg mau dimadu." ucap Ben.


"Kau lama-lama menyebalkan." ucap James.


"Kau juga lama-lama semakin arogan, jika kau mencintai Lyra kau harus membuatnya bahagia bukan menyakitinya..!" ucap Ben tegas lalu meninggalkannya.


"Ben.. kau keterlaluan..!" teriak James.


"Kenapa? mau memecatku? kau lupa hari ini hari terakhirku.." balas Ben.


"Apa kau menyukai Lyra istriku? jadi kau ingin agar dirinya cepat bercerai dariku supaya kau bisa mendekatinya? begitu?" tanya James yg mulai kacau.


"Berhentilah bersikap tak rasional, aku hanya simpati padanya yg menikah dengan lelaki bodoh sepertimu. Aku sangat setuju dia menceraikanmu agar bisa hidup bahagia dan melupakan kesedihannya. Aku tidak mencintainya, lebih tepatnya mengaguminya yg mau bertahan dengan orang sepertimu selama 8 tahun." balas Ben lalu pergi meninggalkan James.


"Dasar Ben bre***ek..!" umpat James.


James pun sangat kacau hari itu, usahanya untuk melakukan mediasi dengan Lyra gagal total, apalagi Lyra tak mau bicara berdua dengannya. Dirinya yg sedang kacau pun memilih pulang dan menghabiskan waktu sendirian di dalam kamar pribadinya. Dirinya hanya menyesali perbuatannya dan menenggak alkohol untuk melupakan masalahnya.


.


.


.

__ADS_1


Ditengah James yg sedang frustasi tersebut, Bella memanfaatkannya. Dirinya menggeret kopernya menuju ke rumah James. Karena bagaimanapun dirinya adalah istrinya juga. Dan Bella berhak atas rumah suaminya.


Bella pun masuk dan disambut dengan baik oleh pelayan disana walaupun mereka sangat bingung. Terlebih Bella mengaku kalau dirinya istri James yg kedua. Pelayan pun tak berani menolak Bella dan mempersilahkannya menuju ke kamar James.


Namun, kamarnya nampak kosong dan James tak berada disana. Bella pun melihat kamar yg pernah ditempati oleh Lyra dan James. Kemudian dirinya juga melihat barang-barang milik Lyra yg masih ada disana. Rata-rata barang yg ditinggalkan Lyra adalah barang mahal yg dibeli menggunakan uang James. Bella hanya tersenyum dan menganggap kalau Lyra itu sangat bodoh.


"Wanita bodoh." gumam Bella.


Bella pun menaruh kopernya sembarang dan merebahkan tubuhnya di kasur nyaman tersebut. Dirinya sedang membayangkan bagaimana jika setiap malam menghabiskan waktu dengan James. Hingga sebuah pintu pun terbuka dan muncullah James.


"Sayang.. kau darimana?" tanya Bella.


"Lyra kau kembali?" ucap James yg mabuk dan mengira kalau Bella itu Lyra.


"Ck.. Lyra lagi.." gumam Bella.


"Akhirnya kau kembali sayang.." ucap James memeluknya.


"Iya aku kembali, kau baik-baik saja?" tanya Bella memanfaatkan situasi.


"Aku merindukanmu." ucap James kemudian mendekati Bella.


"Aku merindukan sentuhanmu James." ucap Bella membuat James terpancing hingga keduanya menikmati kenikmatan surga dunia.


Cukup lama hingga keduanya lelah dan tertidur. Dan saat terbangun, James sadar kalau wanita yg ada disebelahnya Bella bukan Lyra.


"Ya.. aku tahu kau kesepian dan terluka.. jadi aku akan mengobati luka hatimu." ucap Bella.


"Ya kau benar.. Terimakasih Bella." ucap James.


Bukannya marah James justru menikmatinya. Rasanya otak James sudah tidak bisa berpikir normal lagi. Karena dirinya kini begitu kesal pada Lyra. Bella juga selalu memanas-manasinya dan memprovokasinya agar cepat menceraikan Lyra.


"Lyra itu wanita cantik, pintar dan juga seorang dokter.. jadi wajar jika ia menginginkan lebih." ucap Bella.


"Jadi menurutmu ada laki-laki lain?" tanya James.


"Tidak ada yg tak mungkin sayang di dunia ini.. " ucap Bella.


"Jadi maksudmu aku harus meninggalkannya?" tanya James.


"Iya sayang, bisa bayangkan kan jika dia berselingkuh dengan laki-laki lain, lalu hamil dan berpura-pura kalau anak itu anakmu.." ucap Bella memanas-manasi James.


"Kau benar, dia memang cantik dan hanya karena aku menikahimu dirinya jadi tak terima." ucap James yg terpengaruh oleh Bella.


"Daripada kau lebih dirugikan lagi, lepaskan saja dan lihat apakah dia bisa bahagia tanpamu? selama ini kan dia selalu menikmati kemewahan darimu." tambah Bella.


"Kau benar, hanya karena sekarang dia menjadi dokter dia merasa mampu hidup tanpaku bahkan meninggalkan kartu hitam pemberianku." ucap James.

__ADS_1


"Itu namanya tahu diri sayang, dia ingin kau yg mengejarnya sampai membuang kartumu." balas Bella.


"Dasar.. kukira dia itu wanita polos yg baik hatinya ternyata.." ucap James.


"Jaman sekarang wanita seperti itu ada banyak James, jangan mudah percaya pada wajah polosnya." ucap Bella semakin meracuni otak James.


.


.


.


Sementara Lyra, walaupun menceraikan James tetap saja hatinya masih terluka. Sesekali kadang dirinya menangis sendirian. Dan hal itu dilihat oleh Kenzo yg sedang berkeliling.


"Lyra kau baik-baik saja?" tanya Kenzo.


"Eh.. prof.. aku baik-baik saja." ucap Lyra cepat-cepat menghapus air matanya.


"Ini saputanganku.. pakai ini saja." ucap Kenzo memberikannya.


"Terimakasih prof.. maaf aku jadi tidak profesional di lingkungan kerja." ucap Lyra.


"Aku tahu kau sedang mengalami masa sulit." ucap Kenzo.


"Pasti Santi atau Dion sudah bercerita." ucap Lyra.


"Mereka menitipkanmu padaku karena kita tetangga. Mereka tahu kau tinggal sendirian dan tak punya siapapun." ucap Kenzo.


"Mereka selalu begitu." ucap Lyra tersenyum.


"Aku tak pernah ada diposisimu, tapi jadilah kuat agar kau mampu berdiri di atas kakimu sendiri." ucap Kenzo.


"Aku akan selalu mengingatnya prof, terimakasih." ucap Lyra.


"Jangan bersedih, habis ini kita akan memeriksa pasien anak-anak.. kalau mereka melihatmu sedih kan tidak enak." ucap Kenzo.


"Baiklah, lebih baik aku cuci muka dulu." ucap Lyra.


Seharian pun Kenzo memantau pekerjaan Lyra sebagai seniornya. Sembari dirinya juga menghiburnya dengan anak-anak yg sedang mereka rawat di rumah sakit tersebut. Lyra pun sedikit terhibur dan melupakan rasa sakitnya.


"Melihat mereka tertawa bahagia, aku jadi merasa malu prof." ucap Lyra.


"Ya.. mereka saja sanggup menjalani kehidupan yg berat. Kau juga harus bisa.." ucap Kenzo.


"Aku akan berusaha prof, ini bukan akhir dari dunia." ucap Lyra tersenyum.


"Akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum. Kau tak boleh sakit karena kita ada jadwal operasi beberapa hari kedepan." ucap Kenzo.

__ADS_1


"Baiklah." balas Lyra.


__ADS_2