Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.146 Bantuan


__ADS_3

Devi pun tiba di bandara Singapura dan langsung disambut oleh orang-orang kakeknya. Dirinya juga harus menemui beberapa klien dan mengadakan rapat. Sementara Boby ia tugaskan mengurus perusahaan di Indonesia selama dirinya di Singapura.


Devi pun sangat berhati-hati kali ini dan menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orang tuanya. Setelah rapat usai, dirinya pun minta diantarkan ke rumah orang tuanya dan mereka yg mengawalnya pun tak menaruh curiga apapun.


Sesampainya dirumah, nampak Dion sudah menunggunya di depan dan langsung mengusir pada pengawal tersebut.


"Tugas kalian selesai.. pulanglah ke hotel, sekarang aku yg akan menjaga putriku..!" usir Dion dengan tatapan tajam.


"Tapi tuan.." ucap pengawal tersebut berusaha mengelak.


"Kau lupa siapa aku?? mau kutunjukkan??" ucap Dion.


Dion pun mengambil walkie talkie dan memanggil penjaga yg ada di rumahnya. Seketika sekelompok pengawal pun berbaris di hadapan mereka.


"Sudah lihat?? kalian pikir aku orang biasa?" ucap Dion kesal.


"Maaf tuan.." balas mereka lalu pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Sudah sana pergi, jangan ganggu privasi kami.." ucap Dion tegas.


"Ayo sayang masuk." ucap Dion menarik tangan Devi.


Devi pun dibawa masuk dan bertemu dengan momnya. Devi pun berhambur ke pelukan Santi karena beberapa hari ini dirinya cukup tertekan oleh kelakuan kakeknya. Kedua orangtuanya pun sudah tahu kabar ini dari Davi setelah Sammy mengunjungi mereka. Dan Davi tak tinggal diam, lalu segera mengabari dadnya.


"Sudahlah sayang.. sekarang kau aman." ucap Santi.


"Iya mom." ucap Devi menitihkan air mata.


"Kakek tua itu keterlaluan..!" umpat Dion kesal mengetahui nasib putrinya dipertaruhkan oleh keinginan tuan Tian.


"Davi sudah menceritakan semuanya pada kami.. kau sekarang istirahat saja nanti baru cerita." ucap Santi mengantarkan Devi ke kamarnya.


.


.


.


Lalu pada malam harinya, barulah Devi mengajak bicara kedua orangtuanya.


"Mom.. dad.. ada yg ingin kusampaikan." ucap Devi.


"Katakanlah sayang.." ucap Dion.


"Kalian sudah mendengar keinginan Sammy dan aku juga menyukainya.. jika kalian mengijinkan aku akan menerima lamarannya." ucap Devi.


"Mom tak keberatan sayang.. Sammy juga pria yg baik." ucap Santi.


"Dad juga, dia bahkan terang-terangan menemui kami dan bicara apa adanya." ucap Dion.


"Masalahnya hanya kakek.. bagaimana caraku mengatasinya." ucap Devi.


"Tinggalkan perusahaan itu." ucap Dion membuat Santi terkejut.


"Sayang kau tak salah bicara? cita-cita Devi hampir terwujud." ucap Santi.


"Aku juga berpikiran begitu mom.. jika perlu setelah menikah dengan Sammy aku akan pindah kemari dan membuat perusahaan milikku sendiri." ucap Devi.

__ADS_1


"Itu baru putriku." ucap Dion.


"Berarti kakekmu akan kehilangan satu-satunya penerusnya." ucap Santi sedih karena dirinya juga mundur dari penerus ayahnya.


"Santi, kebahagiaan Devi yg utama.. biarkan saja kakek tua yg angkuh itu.." ucap Dion.


"Mom.. tak apa kan aku meninggalkan perusahaan kakek." ucap Devi.


"Iya.. lakukan saja, dan kita lihat apa yg akan diperbuat kakekmu." ucap Santi.


"Bagus sayang.. kau lupa siapa aku? aku bisa masih bisa membantu Devi." ucap Dion.


"Terimakasih dad." ucap Devi tersenyum.


"Ya sayang.. mulai sekarang kau harus terbuka pada kami." ucap Dion.


Setelah pembicaraan itu, hati Devi pun tenang dan semakin mantap untuk melangkah. Bantuan dan dukungan orang tuanya pun cukup membuatnya kuat. Serta Devi siap melepas segalanya tentang perusahan milik kakeknya. Devi tak masalah kehilangan segalanya karena dirinya masih punya orang tua yg menyayanginya serta Sammy orang yg mencintainya.


Dan setelah pulang nanti, Devi akan mengundurkan diri dari perusahaan serta mengembalikan semua milik kakeknya. Langkahnya sudah sangat mantap dan takkan goyah. Walaupun pasti kakek tua itu kecewa padanya.


.


.


.


Keesokannya Devi pun kembali ke Indonesia. Dirinya sudah siap dengan segala resiko atas rencananya. Dan pengawalnya pun kembali menemaninya sampai di pesawat. Dan saat dirinya tiba di bandara Indonesia, Devi pun langsung pulang ke rumahnya.


Devi pun merapikan semua barangnya dan mengumpulkan segala fasilitas yg diberikan oleh kakeknya. Lalu dijadikan dalam satu amplop besar. Dan Devi bersiap mengunjungi kakeknya.


"Bagaimana projectnya?" tanya tuan Tian.


"Berjalan lancar.. dan aku punya sesuatu untuk kakek." ucap Devi menyodorkan surat pengunduran dirinya.


"Apa-apaan ini?? Apa maumu??" tanya pria tua itu.


"Aku sudah muak dengan perjodohan dan aku ingin menikah dengan orang yg juga mencintaiku." ucap Devi.


"Karena pria itu kau rela meninggalkan semua yg sudah kau bangun dari nol?? tingkahmu sungguh konyoll." ucap tuan Tian.


"Lebih baik dari pada aku menderita.. Dan ini berkas-berkas mengenai calon yg kakek jodohkan denganku.. sebagian besar pria bre**sek.." ucap Devi menyodorkan sebuah amplop lain hasil investigasi Boby.


"Apa-apaan ini??" umpat kakeknya terkejut.


"Devi pikirkanlah dulu.. dokter itu ayahnya tukang selingkuh.." ucap tuan Tian.


"Tapi aku akan menikahi anaknya bukan ayahnya kek." ucap Devi.


"Cih.. jika kau ingin keluar dari perusahaanku lakukan saja tapi kembalikan semua fasilitas yg kuberikan.." ucap tuan Tian.


"Aku sudah mempersiapkannya kek." ucap Devi menyodorkan sebuah map.


"Ck.. kau sudah siap rupanya." ucap tuan Tian menatap tajam pada cucunya.


"Terimakasih kek atas kebaikannya selama ini.. aku tak sanggup bermain rumah-rumahan dengan orang pilihan kakek." ucap Devi lalu meninggalkan ruangan kakeknya.


Devi pun melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut. Sedih rasanya meninggalkan karir yg sudah ia bangun. Tapi Devi juga tak sanggup jika harus tersiksa dengan perjodohan kakeknya serta larangan untuk menjauhi orang yg dicintainya.

__ADS_1


Davi saudara kembarnya pun mendukung keputusannya dan meninggalkan rumah kakek mereka. Davi bahkan menjemput Devi dari villa tersebut.


Tiinn..


"Sister.. masuklah.." ucap Davi membuka kaca jendepa dan tersenyum.


"Terimakasih Dav.." ucap Devi.


"Tentu saja, deritamu deritaku juga kau tahu itu kan." ucap Davi.


"Kita mau kemana?? kau sudah membawa barang-barangku juga?" tanya Devi terkejut.


"Tenang dulu sister.. kopermu ada di belakang." ucap Davi.


"Akh syukurlah." ucap Devi setelah melihatnya.


"Kau yakin hanya itu barangmu?" tanya Davi.


"Iya.. aku harus meninggalkan semuanya." ucap Devi.


"Oke.. sekarang kita akan menuju apartemen milik dad." ucap Davi.


Mereka berdua pun menuju ke apartemen milik ayah mereka untuk tempat tinggal sementara. Dan Davi sudah menyuruh orang untuk membersihkannya kemarin. Saat tiba, apartemen pun sudah bersih dan rapi. Apartemen yg cukup untuk mereka berdua.


"Inilah tempat tinggal kita sister.. tak lebih besar dari rumah kakek tapi kuyakin pasti nyaman." ucap Davi.


"Kau benar." ucap Devi.


"Kamarmu diujung.." tunjuk Davi.


"Oke.. terimakasih Dav.." ucap Devi menggeret kopernya menuju ke kamarnya.


.


.


Beberapa menit kemudian bel pun berbunyi dan Davi melihat siapa yg datang. Ternyata Sammy dan langsung membukakannya.


"Sammy.." ucap Davi senang.


"Kalian baru pindahan, tak mungkin aku diam saja." ucap Sammy membawakan makanan.


"Kebetulan sekali aku belum memesan makanan." ucap Davi.


"Ayo masuk.." ajak Davi.


"Dev.. Sammy datang.." teriak Davi.


"Iya.." balas Devi.


"Dia sebentar lagi keluar, duduklah.." ucap Davi.


"Terimakasih Dav." ucap Sammy.


Devi pun keluar dari kamarnya dan menemui Sammy. Dirinya senang bisa bertemu dengan Sammy tanpa adanya gangguan dari pengawal kakeknya. Dan kini dirinya telah bebas walaupun harus jadi pengangguran.


Ternyata tak buruk meninggalkan kakeknya dan perusahaan kakeknya. Karena Devi memiliki support sistem yg bisa membantunya. Ada Davi saudara kembarnya yg paling mengerti dirinya, ada orangtuanya yg selalu bisa membantunya, serta ada Sammy orang yg bisa ia percayai. Walaupun bayarannya cukup mahal karena Devi harus kehilangan karir cemerlangnya.

__ADS_1


__ADS_2