Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.61 Resmi bercerai


__ADS_3

Setelah menghadapi beberapa cobaan dalam hidupnya, Lyra pun semakin tegar. Dirinya sudah jarang menangisi hidupnya karena Kenzo memperlihatkannya bahwa masih ada orang yg jauh lebih menderita dari dirinya. Ya, Kenzo menyadarkan Lyra melalui anak-anak yg menderita penyakit jantung yg bahkan waktunya tak lama lagi, tapi mereka masih mampu bertahan dan menghadapinya dengan senyuman.


Sebuah tamparan yg tepat mengenai hati Lyra. Rasanya dirinya sangat bodoh jika menangisi James yg sudah jelas-jelas tak setia dan menyakitinya. Lyra pun semakin mantap untuk bercerai dan menunggu sidang terakhir yg akan menentukan statusnya. Tak masalah hidup sebagai janda asalkan tak tersakiti, begitulah yang Lyra pikirkan.


Setiap harinya Lyra bersemangat bekerja dan menikmati pekerjaannya. Hingga suatu hari bunda Jasmine yg sudah tahu segalanya datang mengunjunginya. Jasmine merasa bersalah karena sudah menjodohkan Lyra pada James.


"Bunda sudah, ini bukan salah bunda.. semua terjadi karena keinginanku." ucap Lyra.


"Tapi tetap saja, harusnya bunda mencegahmu." ucap Jasmine.


"Apapun itu aku sudah ikhlas.. jadi jangan disesali." ucap Lyra.


"Bunda harap kau bahagia setelah ini." ucap Jasmine.


"Amin bun.. bunda juga ya.. jangan memikirkan aku, aku sudah dewasa dan bisa mandiri sekarang." ucap Lyra.


"Baguslah Lyra.. bunda senang mendengarnya." ucap Jasmine.


Jasmine pun lega setelah mendengar pendapat Lyra, ternyata gadis itu lebih tegar dari perkiraannya. Dan Jasmine berharap Lyra bisa mengatasi segala masalahnya serta mampu hidup mandiri tanpa keluarga Clinton.


.


.


.


Lyra pun tak merasakan kesepian, karena sudah terbiasa bekerja. Dan dirinya juga memiliki sahabat seperti Dion dan Santi. Keduanya selalu mengajaknya pergi untuk menghibur diri dari penatnya aktivitas mereka. Entah hanya sekedar nongkrong di cafe sembari mendengarkan lagu-lagu akustik, atau ke pantai melihat laut dan pemandangan indah lainnya.


Bahkan setelah ini, mereka berencana ke Bali untuk membantu Dion dan Santi foto prawed.


"Lyra, kau harus ikut kami." ucap Santi.


"Iya.. aku akan ikut kalian." ucap Lyra.


"Ya.. jika kau ikut mamanya Santi jadi tenang, dia takut aku macam-macam soalnya." ucap Dion.


"Oke.. aku mengerti kawan." ucap Lyra.


Dari kejauhan Kenzo pun melihat Lyra yang sudah mulai ceria kembali. Dirinya senang, karena Lyra sudah bisa menerima kondisinya. Walau Kenzo tak yakin mendekati Lyra yg baru saja terluka. Dirinya pun hanya bisa menjaganya dari kejauhan dan menghiburnya saat dibutuhkan.


"Aku tak boleh egois, Lyra masih masa penyembuhan hatinya." gumam Kenzo dalam hati.


.


.


.


Hingga suatu hari, Lyra dan Kenzo pun terlibat suatu operasi. Operasi yg sudah dijadwalkan sejak awal. Dan semua persiapan sudah siap dan matang. Lyra dan Kenzo, beserta tim pun masuk ke ruang operasi. Dan perawat serta dokter lain sudah mempersiapkan pasien di meja operasi.


"Semuanya sudah siap prof." ucap perawat.


"Bagus.. mari kita mulai." ucap Kenzo.


Operasi pun dimulai dengan tenang, semua nampak fokus dan tak boleh teralihkan. Lyra pun membantu Kenzo dengan cekatan, hingga semuanya bisa teratasi berkat kerjasama tim dokter.


Operasi berjalan lancar dan sukses. Kondisi vital pasien stabil dan mereka bisa bernafas lega setelah menyelamatkan satu nyawa. Tapi Lyra merasa pusing setelahnya, terutama saat dirinya melihat banyak darah.

__ADS_1


Lyra pun berlari ke toilet setelah operasi membuat semua rekannya heran.


"Lyra kenapa ya? apa dia sakit?" tanya mereka.


"Wajahnya sampai pucat begitu, nanti kalian tanyakan ada apa dengannya.. sebagai rekan kalian harus peduli." ucap Kenzo.


"Baik prof. Kami juga berniat begitu." ucap mereka.


.


.


.


Setelah itu, Santi datang menemui Lyra setelah mendapat kabar kalau sahabatnya itu sedang sakit.


"Lyra kau baik-baik saja?" tanya Santi di ruangan Lyra.


"Iya aku baik-baik saja." balas Lyra.


"Ehmm.. maaf San." ucap Lyra menahan rasa mualnya hingga ia kembali ke toilet.


Santi pun menunggu Lyra di depan toilet. Dirinya juga memaksa Lyra untuk memeriksa tubuhnya.


"Kau habis makan apa?" tanya Santi.


"Tak ada yg aneh dengan makananku." ucap Lyra.


"Biar aku periksa." ucap Santi memeriksanya di ruangan Lyra.


Santi pun memegang perut Lyra, dan merasa curiga. Santi berharap kecurigaanya salah, walau sebagai dokter ia jarang begitu.


"Bulan lalu.." ucap Lyra.


"Sekarang bulan 3.. bulan lalu itu bulan apa?" tanya Santi.


"Bulan Ferbruari awal." ucap Lyra.


"Lyra kau melakukannya dengan si breng**k itu?" tanya Santi.


"Iya benar, apa jangan-jangan.." ucap Lyra menutup mulutnya.


"Kau harus dicek dulu.. aku akan ambil sesuatu." ucap Santi.


Sanri pun berlari ke ruangannya dan mengambil beberapa peralatan serta tespack. Dirinya memaksa Lyra untuk mengeceknya. Lyra pun akhirnya melakukannya dan hasilnya garis dua yg menandakan dirinya tengah hamil.


Lyra pun menangis tak tahu harus berkata apalagi.


"Lyra.. Lyra tenang dulu.." ucap Santi.


"Bagaimana ini San? 3 hari lagi sidang putusannya." ucap Lyra.


"Kita tes darahmu dulu.. jangan panik.." ucap Santi kemudian mengambil sampel darah Lyra untuk dicek di lab.


Lyra pun diminta untuk menunggu beberapa jam kedepan dengan sabar sambil memikirkan langkah berikutnya. Dan Santi menunggu hasil dari lab dengan cemas. Karena bagaimanapun, jika benar Lyra hamil otomatis mereka tak bisa bercerai.


Setelah mendapat kabar kalau hasilnya telah keluar Santi pun bergegas mengambilnya. Dan dirinya benar-benar mengetahui fakta kalau Lyra benar telah mengandung anak dari James. Dirinya pun gugup dan mondar-mandir bagaimana cara menyampaikannya dengan Lyra. Hingga tanpa sadar menabrak Kenzo yg sedang berjalan.

__ADS_1


bughh..


"Maaf prof.. aku sedang buru-buru.." ucap Santi dan berkas berisi hasil lab Lyra pun jatuh.


Tanpa sengaja Kenzo melihatnya, lalu secepatnya dirinya meraihnya sebelum orang lain yg membantunya tahu. Lalu Kenzo menarik Santi untuk mengajaknya bicara.


"Santi apa benar ini milik Lyra?" tanya Kenzo.


"Benar prof.. tapi kumohon rahasiakan ini." ucap Santi.


"Baiklah, tapi bukankah Lyra sedang proses perceraian.?" tanya Kenzo.


"Aku tak tahu prof, aku juga cemas dan tak ingin Lyra pergi ke rumah pria itu lagi." ucap Santi.


"Lebih baik kau sampaikan dan bicara baik-baik pada Lyra." ucap Kenzo.


Santi pun menemui Lyra dan membicarakannya baik-baik. Tangis Lyra pun pecah malam itu. Bagaimana bisa dirinya bercerai jika sedang mengandung. Tapi Santi memintanya berfikir dengan matang, karena sepengetahuannya Bella adalah wanita yg licik. Lyra pun merenungi hidupnya malam itu. Hingga ia mengambil langkah ekstrem yg mungkin jarang diambil wanita pada umumnya.


Santi sampai Dion, pun tak bisa berkata-kata lagi akan keputusan Lyra. Tapi mereka mendukungnya serta mendoakan kesehatannya.


.


.


.


Hari sidang perceraian pun tiba. James datang bersama Bella dengan mesra. Sementara Lyra ditemani Dion dan Santi beserta pengacara mereka. Saat sidang dimulai, pengacara James pun menunjukkan foto-foto Lyra bersama Kenzo. Foto-foto mereka saat bekerja di rumah sakit, yg bahkan jauh dari kata mesra.


Tapi pengacara Lyra balik menyerang. Dirinya mengatakan kalau itu adalah bentuk hubungan rekan kerja bukan sebuah keromantisan dan menyindir James yg mesra dengan Bella saat ini. Hakim pun bingung siapa yg berselingkuh?? jika keduanya saling menuduh. Hingga muncul Ben membawa bukti akurat tentang perselingkuhan James dan Bella.


Ben tak takut dan membongkar semuanya, dan foto-foto dimana James dijebak bersama Bella hingga pernikahan sirinya bersama Bella dijadikan bukti persidangan untuk membantu Lyra. Lyra pun terkejut, tiba-tiba Ben yg seorang asisten James memihaknya padahal atasannya berusaha memutarbalikan fakta.


Hingga hakim pun percaya dan memutuskan kalau Lyra dan James resmi bercerai. Lyra pun merasa sangat lega akan hal itu. Tapi James beserta Bella mendapatkan hukuman karena telah berbuat zinah. Mereka akan mendapatkan denda sesuai hukuman yg berlaku.


Setelah keputusan hakim, nampak James sangat kesal pada Ben dan hendak memukulnya. Namun, tiba-tiba Dimas dan anak buahnya atau lebih tepatnya mantan pengawalnya menghadangnya.


"Maaf tuan, sekarang tuan Ben atasan kami." ucap Dimas.


James pun kesal bukan main, tapi Bella menariknya untuk menenangkan diri.


Dan Lyra menghampiri Ben untuk bertanya kenapa dirinya membantu Lyra.


"Ben, terimakasih sebelumnya.. tapi kenapa kau membantuku? kau kan sekertaris James.." ucap Lyra.


"Aku sudah berhenti, dan aku tak tahan melihat kau diperlakukan tak adil oleh James. Anggap ini bentuk permintaan maafku karena sudah membohongimu dan membantu James berselingkuh." ucap Ben.


"Baiklah.. aku terima.. Sekali lagi terimakasih." ucap Lyra.


"Ya.. sekarang kau bebas, lakukanlah segala yang kau mau.. keluarga Clinton takkan mengusikmu. Kau bisa minta bantuanku jika kesulitan." ucap Ben.


"Ya terimakasih Ben." ucap Lyra.


"Nona, selamat anda telah bercerai, semoga hidup anda selalu bahagia." ucap Dimas datang.


"Iya terimakasih." balas Lyra.


"Sekarang aku bekerja pada tuan Ben, jadi anda jangan khawatirkan kami." ucap Dimas.

__ADS_1


"Syukurlah." ucap Lyra. Kemudian mereka pun berpisah.


__ADS_2