
Daphny pun memilih kabur daripada kesal melihat kedua pria itu bertengkar. Yang satu ingin yg terbaik dan yg satu lagi adalah seorang yg mengutamakan keamanan.
"Daphny tunggu kami." ucap Ben.
"Daphny." ucap Kenzo.
"Aku haus." balas Daphny kemudian dirinya pergi ke toko yg menjual minuman segar.
Ben dan Kenzo pun mengikutinya, dan kini keduanya tengah ditatap tajam oleh Daphny.
"Ini peringatan untuk kalian berdua.. Ini anakku bukan anak kalian, terimakasih untuk segala perhatiannya tapi biar aku yg memilih sendiri apa yg anakku butuhkan." ucap Daphny dengan penuh penekanan.
"Oke." ucap Kenzo mengalah.
"Baik Daphny." balas Ben.
"Ini gara-gara kau.." ucap Ben.
"Kau juga sama saja.. Daphny jadi marah." ucap Kenzo.
Brakkk..
Daphny pun menggebrak meja dan membuat keduanya terkejut.
"Sudah belum bertengkarnya? tapi nampaknya kurang seru, apa kalian harus buka baju dan berada di area tanding sesungguhnya?" tanya Daphny.
"Ti-tidak Daphny.. aku seorang dokter dan kau tahu kan tanganku berharga." ucap Kenzo.
"Aku juga Daphny, tanganku begitu penting untuk membuat tanda tangan." ucap Ben.
"Bagus kalau kalian paham." ucap Daphny.
Tiba-tiba sebuah panggilan pun muncul di ponsel Ben dan Kenzo. Keduanya pun harus kembali bekerja dan hal itu membuat Daphny senang.
"Yasudah kalian pergi saja, ada Dimas yg akan menemaniku belanja." ucap Daphny.
"Tapi.." ucap Ben.
"Kak.. pergilah perusahaan membutuhkanmu." ucap Daphny.
"Maaf Daphny, aku harus segera pergi." ucap Kenzo pergi lebih dulu.
"Oke.. selamat bertugas." ucap Daphny.
"Baiklah.. hati-hati dan kabari aku." ucap Ben.
"Dimas awasi adikku." perintah Ben dan Dimas hanya mengangguk dari meja sebelahnya.
"Oke kak.." ucap Daphny senang.
Akhirnya keduanya pun pergi bekerja dan hal itu membuat Daphny bisa leluasa berbelanja.
"Akhirnya mereka pergi juga.. Dimas kau sudah siap kan bersama anak buahmu?" tanya Daphny.
__ADS_1
"Tentu nona." ucap Dimas.
"Lets go.. ayo kita kembali ke toko tadi." ucap Daphny.
Daphny pun akhirnya pergi bersama Dimas dan anak buahnya. Dirinya kini bisa leluasa berbelanja setelah drama panjang antara Ben dan Kenzo yg membuatnya sakit kepala. Bagaimana tidak, mereka memperebutkan barang-barang aneh dengan harga tak masuk akal.
Sementara Daphny dirinya membeli beberapa barang yg direkomendasikan oleh Santi. Dan dirinya juga membeli pakaian secukupnya. Serta beberapa peralatan bayi yg cukup berguna. Dimas dan anak buahnya pun telah siap membawakannya.
Setelah membeli semua kebutuhannya, Daphny pun pulang bersama Dimas dan yg lainnya. Dirinya lega karena tak harus mendengarkan kakaknya dan juga Kenzo yg merekomendasikan barang-barang yg kurang dibutuhkan. Belum lagi jika ditambah dengan perdebatan mereka.
Dan menjelang Daphny melahirkan, Ben akan menetap di Singapura. Dia akan menemani adiknya itu melahirkan dan mulai bekerja di cabang perusahaannya.
Sementara Kenzo dirinya juga sudah menyiapkan tim dokter yg akan menangani Daphny melahirkan. Serta Kenzo sudah memastikan bahwa mereka tak ada yg memiliki hubungan dengan keluarga Clinton.
.
.
.
Daphny pun menjalani hari-hari menjelang kelahirannya dengan tenang. Dirinya hanya merawat tanaman dan membaca buku. Ben sama sekali tak mengijinkannya bekerja sampai anaknya lahir. Dan Daphny hanya menuruti kakaknya tersebut karena sangat mengkhawatirkannya bahkan sudah mencarinya selama lebih dari 20 tahun.
Pagi itu, Daphny pun menikmati sarapannya bersama Ben. Dirinya merasa baik-baik saja hingga perutnya mulai terasa sakit. Ben pun mengkhawatirkannya dan segera membawanya ke rumah sakit. Dirinya juga melupakan meetingnya dan memilih menemani adiknya tersebut.
Setelah diperiksa dokter, ternyata Daphny hendak melahirkan. Daphny pun akhirnya melahirkan hari itu juga ditemani oleh Ben. Ben pun terus menemaninya, hingga banyak yg salah mengira kalau Ben itu suaminya. Tapi Ben menepisnya dan berkata kalau dia hanyalah kakak dan suami adiknya itu sudah meninggal.
Setelah beberapa menit melalui proses kelahiran, lahirlah seorang putra yg tampan. Ben pun bahagia keponakannya telah lahir, begitu juga dengan Kenzo yg menunggunya di ruang tunggu. Suasana haru pun begitu terasa saat Daphny melihat putranya telah lahir kedunia. Seorang bayi tangguh yg mempu bertahan saat ibunya melalui banyak hal berat dalam hidupnya.
"Terimakasih sayang kau telah lahir kedunia.." ucap Daphny menangis.
.
.
.
Setelah melahirkan, Daphny pun dipindahkan ke ruang perawatan. Disana dirinya beristirahat memulihkan tenaganya pasca melahirkan. Dan Kenzo datang menemuinya untuk mengucapkan selamat.
"Selamat Daphny.." ucap Kenzo seraya membawa sebuket bunga.
"Terimakasih Kenzo, aku bisa sampai disini berkatmu." ucap Daphny.
"Tidak, itu juga karena kau adalah seorang wanita yg hebat." ucap Kenzo.
"Terimakasih." ucap Daphny.
"Permisi.." ucap Santi di depan pintu.
"Santii..." panggil Daphny.
"Selamat ibu Daphny.. " ucap Santi.
"Terimakasih.." ucap Daphny.
__ADS_1
"Kapan kau datang?" tanya Daphny.
"Tadi pagi. Dion sedang melihat bayinya katanya dia mau belajar jadi ayah.. " ucap Santi.
"Oo.. apakah sudah ada tanda-tanda..?" tanya Daphny.
"Sudah.. sekarang baru 20 minggu." ucap Santi.
"Selamat Santi.. semoga lancar sampai kelahiran.." ucap Daphny.
"Terimakasih." ucap Santi.
Kenzo pun memberi ruang untuk Daphny dan Santi berbincang karena sudah lama mereka tak bertemu. Dan Kenzo memilih untuk mengunjungi ruang bayi dimana bayi Daphny berada. Disana ada Dion juga yg telah datang lebih dulu.
"Lihat keponakanku yg tampan.." ucap Ben sedang memamerkannya.
"Tentu saja karena dia mirip ibunya." balas Kenzo.
"Dia juga sedikit mirip denganku." ucap Ben tak mau kalah.
"Bolehkah aku menggengdongnya.?" tanya Dion.
"Boleh, hati-hati caranya begini.." ucap Ben mengajari Dion.
"Terimakasih." ucap Dion.
Dion menggendong bayi tersebut sambil membayangkan jika anaknya lahir kelak. Sementara Ben terus menyombongkan diri pada Kenzo. Entah apa yg diperebutkan keduanya hingga terus berdebat.
"Kelak anak itu akan menjadi penerusku.." ucap Ben.
"Dia juga bisa jadi dokter seperti ibunya." ucap Kenzo.
"Tapi jadi penerusku lebih baik, karena dia akan hidup dengan nyaman." ucap Ben.
"Dokter juga penghasilannya tak sedikit." ucap Kenzo.
"Ckk.. pokoknya pengusaha sepertiku." ucap Ben.
"Belum tentu, lebih baik kau menikah saja dan anakmu yg menjadi penerusmu." ucap Kenzo.
"Oeeeeee..." si bayi pun menangis karena perdebatan Ben dan Kenzo.
"Kalian ini bisa diam tidak, menangis kan bayinya." ucap Dion menimang-nimang perlahan.
Tak berapa lama bayi tersebut pun diam begitu juga dengan Kenzo dan Ben. Lalu perawat datang dan meminta bayi tersebut dibawa ke ruang ibunya untuk diberi asi. Ketiga pria itu pun diusir karena bayinya akan diberi asi oleh ibunya.
Sementara Daphny, dirinya diajari Santi cara memberi asi yg benar agar bayinya nyaman. Dan juga Santi mengajari Daphny cara memegang bayi yg baru lahir karena sangat membutuhkan kehati-hatian.
"Terimakasih San.. berkatmu aku jadi tahu." ucap Daphny.
"Sama-sama.. semua wanita yg baru jadi ibu juga begitu." ucap Santi.
"Dan kau ingin memberi nama apa pada anakmu?" tanya Santi.
__ADS_1
"Ada beberapa pilihan, aku masih memikirkannya." ucap Daphny.
"Bagus, dia harus punya nama yg bagus.. lihatlah bayi mungil ini sangat tampan." ucap Santi menatap bayi tersebut.