Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.110 Devina Clinton


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya yg masih terlihat modis dan cantik pun duduk di sebuah meja kerjanya. Entah sampai kapan dirinya terus bekerja, karena putranya tidak memiliki anak laki-laki ditambah putrinya atau cucunya itu penyakitan membuatnya gundah. Kegundahannya terjadi karena dirinya tak tahu sampai kapan bisa terus bekerja.


"Apa aku seorang ibu bodoh yg tak mempercayai putranya sendiri.. dan sekarang wanita ular itu sudah keluar dari penjara.. pasti dirinya masih memiliki niatan buruk." gumam Vina dalam hati.


Hingga sebuah ketukan pun membuyarkan lamunannya.


"Permisi nyonya, diluar ada tuan Simon.." ucap sekertarisnya dari depan pintu.


"Iya suruh masuk." ucap Vina.


"Maaf mengganggu anda nyonya.. aku datang tanpa ada janji terlebih dahulu." ucap Simon membungkuk.


"Iya tak apa, kami banyk berhutang atas jasamu pada ayah mertuaku. Bagaimana kabarmu Simon?" tanya Vina.


"Aku baik nyonya.. anda sendiri terlihat lelah." ucap Simon.


"Iya disinilah aku tanpa tahu harus sampai kapan bekerja." ucap Vina.


"Bukankah ada tuan James?" tanya Simon.


"Dia.. aku tak bisa mempercayainya.. apalagi cucuku perempuan.. kalau saja Lyra punya seorang putra." ucap Vina.


"Sebenarnya.. ada hal yg ingin aku sampaikan nyonya." ucap Simon.


"Katakanlah Simon."


"Jadi dulu sebelum nona Lyra tewas dirinya tengah hamil cucu anda." ucap Simon.


"A-aapa??" Vina pun terkejut dan langsung lemas.


"Anda baik-baik saja nyonya?" tanya Simon khawatir.


"Ya.. aku baik-baik saja.. " Vina pun memegangi dadanya yg sesak karena harusnya dia memang memiliki cucu lain selain Wendy.


"Aku sudah lama mengetahuinya saat tuan Robert memberikan warisannya pada nona Lyra. Aku datang ke rumah sakitnya dan bertemu dengannya, disanalah aku tahu kalau nona tengah hamil." ucap Simon.


"Kenapa Lyra sampai merahasiakan ini?"


"Karena nona Bella berbahaya, kemungkinan alasan kematian nona Lyra adalah karena nona Bella sudah mengetahui kehamilannya." ucap Simon.


"Apa?? Wanita ular itu benar-benar tamak..!" umpat Vina.


"Baru-baru ini aku mengurus warisan milik nona Lyra di Singapura, dan aku melihat seorang wanita yg begitu mirip dengan nona Lyra." ucap Simon menunjukkan sebuah foto.


"Ini.. dia sangat mirip Lyra." ucap Vina.


Setelahnya Simon memberitahukan kalau identitas wanita tersebut adalah Daphny Ivander, yg juga adik dari Ben mantan sekertaris James. Vina pun tak kalah terkejutnya. Ternyata selama ini Ben memiliki adik kandung.


Dan setelah diperhatikan baik-baik wanita tersebut memang sangat mirip Lyra dari sisi manapun. Sekalipun gaya rambutnya sudah diubah tapi tetap saja wajahnya tak berubah.


Kabar yg didapat Simon ternyata wanita itu sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Anehnya anak pertamanya bukan anak dari suaminya karena usia pernikahan dan kelahirannya cukup jauh.


"Nyonya jika firasatku benar, dia adalah nona Lyra." ucap Simon.


"Berarti anak pertamanya cucuku?" tanya Vina.


"Jika benar itu nona Lyra. Tapi rasanya sangat sulit untuk tetap hidup setelah melompat dari tebing lautan tersebut." ucap Simon.

__ADS_1


"Aku pernah memintanya mengikuti kelas menyelam, dan Lyra mampu menahan nafas di dalam air selama beberapa menit. " ucap Vina masih mengingat segalanya.


"Kalau begitu masuk akal, dan sekarang putra pertamanya berusia 22 tahun." ucap Simon.


"Dimana mereka aku akan menemuinya." ucap Vina.


"Ini alamatnya aku akan ikut anda sebagai petunjuk jalan." ucap Simon.


Akhirnya Vina menemukan secercah harapan meski itu kebenarannya kurang dari 50%. Bagaimanapun jika wanita itu Lyra dan putranya adalah cucunya, Vina bisa mati dengan tenang karena telah mewariskan hartanya pada cucu laki-laki.


Mereka pun terbang menuju Singapura keesokan harinya. Dan Vina sangat berharap kalau cucunya dan Lyra masih hidup.


.


.


.


Setelah tiba, Vina pun langsung meminta Simon untuk menunjukkan dimana Lyra bekerja dan tinggal. Meskipun Simon hanya tahu tempat bekerjanya, sebuah klinik kecil yg nampak ramai pengunjung.


"Dia juga seorang dokter.." gumam Vina melihat klinik tersebut.


Mobil mereka pun terparkir di halaman dan melihat situasinya. Lalu Simon turun lebih dahulu untuk mengecek apakah Lyra ada di tempat. Tak lama berselang, Simon kembali setelah mendapatkan jadwal Daphny.


"Nyonya aku sudah dapat jadwalnya, wanita itu benar-benar nona Lyra karena profesi mereka sama." ucap Simon.


"Kerja bagus." ucap Vina.


"Kita kembali ke hotel, besok saja kita kemari." ucap Simon.


"Kenapa? sekarang saja." ucap Vina tak sabar.


"Oke." balas Vina.


.


.


.


Keesokannya Simon dan Vina pun kembali. Mereka menyamar sebagai pasien dan ingin berobat. Setelah membuat janji kemarin dan mereka menunggu, akhirnya mereka bisa masuk ke ruangan Daphny.


"Silahkan nyonya.. tuan.." sapa Daphny.


"Bahkan suaranya saja sangat mirip.." gumam Vina dalam hati.


Saat itu Vina memakai kacamata hitam hingga sulit dikenali oleh Daphny. Hingga Vina duduk dan membuka kacamatanya, Daphny pun melihat sosok tak asing dihadapannya. Di posisi itu Daphny pun mencoba tenang dan melihat apakah keduanya mengenalinya atau memang sengaja mendatangainya.


"Kau memang benar Lyra.." ucap Vina.


"Ya benar, lama tak bertemu nyonya Vina.. jadi anda ingin periksa atau hanya bicara.?" tanya Daphny tersenyum.


"Kau langsung mengakuinya rupanya." balas Vina tersenyum.


"Untuk apa berbohong jika kalian memang mengenaliku, wajahku tak pernah berubah bukan." balas Daphny.


"Nona Lyr.. maksudnya dokter Daphny kami memang tidak datang untuk memeriksakan diri." ucap Simon.

__ADS_1


"Baguslah artinya kabar kalian baik selama ini.. jadi katakan ada apa?" tanya Daphny dengan tenang.


"Apapun itu aku harus tenang karena aku sudah punya kehidupan baru disini dan mereka bukan orang jahat." gumam Daphny dalam hati.


"Nona, mengenai kehamilan anda waktu itu.. bagaimana anak anda?" tanya Simon.


"Bayi itu tak selamat. " balas Daphny yg tahu maksud dan tujuan keduanya.


"Anda tidak berbohong?" tanya Simon.


"Begitulah adanya.." ucap Daphny. "Aku tak ingin anakku hidup dengan harta keluarga Clinton ataupun dengan nama Clinton. " gumam Daphny dalam hati.


"Lantas pemuda ini bagaimana??" tanya Simon menyodorkan foto Sammy.


"Sejauh mana kalian tahu?" tanya Daphny.


"Kami hanya butuh konfirmasi kalau cucuku masih hidup." ucap Vina.


"Untuk apa?? untuk mewarisi harta keluarga Clinton? tidak akan pernah." ucap Daphny.


"Daphny.. kau tahu kan putrinya James bagaimana." ucap Vina.


"Maaf nyonya, itu urusan kalian.. aku tak ingin menyeret putraku dalam bahaya." ucap Daphny.


"Daphnya kumohon, aku sudah tak muda lagi.. aku ingin memberikan segala yg kupunya pada cucu laki-laki." ucap Vina.


"Kenapa harus putraku?? disini dia hidup berkecukupan dan cita-citanya menjadi dokter bukan seorang pebisnis." ucap Daphny penuh penekanan.


"Kalau begitu ijinkan aku menemuinya." ucap Vina.


"Tidak, aku tidak akan mengijinkannya." ucap Daphny.


"Daphny, kau tahu siapa aku kan? dengan atau tanpa ijinmu kami bisa menemuinya kapanpun." ucap Simon.


"Silahkan saja, aku juga penasaran reaksi putraku." ucap Daphny tersenyum.


"Daphny kau banyak berubah." ucap Vina.


"Tentu nyonya, banyak hal mengerikan yg sudah kulalui bersama keluarga Clinton." ucap Daphny.


"Maaf, aku tak bisa melindungimu saat itu akupun ada dalam bahaya." ucap Vina.


"Itu bukan salah anda nyonya.. itu salah putra anda yg tak bisa membedakan yg baik dan buruk." ucap Daphny.


"Kurasa konsultasi hari ini cukup, kalian tak memeriksakan kesehatan kan?" tanya Daphny tersenyum memberi kode kalau mereka harus segera pergi.


"Baiklah kami mengerti.." ucap Simon.


"Terimakasih Daphny sudah menjawab segalanya." ucap Vina.


"Iya, aku tak bermaksud jahat pada anda nyonya.. temuilah putraku tapi bukan berarti aku ingin seluruh dunia tahu tentangnya termasuk ayah kandungnya." ucap Daphny.


"Silahkan saya antar ke depan pintu." ucap Daphny.


Mereka pun keluar dari ruangan dan Daphny langsung mengecek cctv kliniknya. Dirinya melihat Vina dan Simon mengendarai mobil putih dan mencatat plat kendaraannya untuk berjaga-jaga.


Tak kehilangan akal, Daphny pun segera mengabari Kenzo dan Sammy. Terutama Sammy karena neneknya hendak mengunjunginya. Sammy pun hanya tersenyum menatap pesan dari ibunya.

__ADS_1


..."Nenek?? jadi aku juga punya nenek." gumam Sammy dalam hati terlebih dirinya sudah membaca tujuan neneknya tersebut. ...


__ADS_2