
Lyra pun terbangun di pagi hari, namun tubuhnya sakit semua seperti habis berlatih bela diri yg hendak mengikuti turnamen. Dan yg paling sakit adalah bagian vitalnya, lalu Lyra merasa sangat kedinginan. Saat membuka mata, dirinya tersadar sudah disebuah ruangan bersama seorang pria yg memeluknya dari belakang.
Tapi bau pria tersebut pun nampak tak asing, hingga Lyra menyadari dirinya sedang tidak memakai apapun. Setelah menengok, tampak wajah tampan James dibelakangnya. Lyra pun terkejut bukan main walaupun hal yg mungkin mereka lakukan adalah hal wajar bagi pasangan suami istri.
"James..!" panggil Lyra.
"Iya.. ada apa?" tanya James terkejut.
"Apa yg kita lakukan?" tanya Lyra.
"Kau pasti mengerti, dan merasakan sesuatu bukan.?" tanya James tersenyum.
Bukannya mendapat jawaban justru Lyra melempar bantal ke wajahnya. Lyra pun dengan cepat mengambil jubah mandi dan memakainya.
"Kenapa kau tega sekali padaku.?" tanya Lyra.
"Sayang.. kita sudah menikah jadi tak ada yg salah." ucap James.
"Aku tahu, tapi kenapa tak bilang dulu." ucap Lyra.
"Semalam, kita terbawa suasana dan kau tak menolak sama sekali. Jadi bukan sepenuhnya salahku, ini yg namanya naluri." ucap James.
"Naluri?" gumam Lyra dalam hati.
"Sudahlah, tak perlu memperpanjangnya.. kita sudah menikah dan akan terus bersama. Dan tentu aku akan bertanggungjawab sebagai suamimu." ucap James.
Lyra pun terdiam dan memilih duduk untuk menenangkan dirinya. Lalu James bangkit dan mengambil handuk untuk melilit tubuh bagian bawahnya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja.. " ucap James mendekat.
"Aku tak tahu harus berkata apa.. aku ingin sendiri." ucap Lyra.
"Baiklah, mau mandi duluan?" tanya James.
"Kau duluan saja." ucap Lyra.
"Oke.. aku sudah meminta orang untuk mengantar pakaian." ucap James.
James pun masuk ke kamar mandi dan masih segar dalam ingatannya bagaimana dirinya menikmati malam ini. Dan dirinya juga tahu kalau Lyra masih suci dan belum tersentuh, hingga dirinya merasa bangga bisa menikahinya. Padahal dulu dirinya sering melakukannya dengan Bella, dan James merasa sungguh beruntung sekaligus malu.
Sementara Lyra, dirinya mulai mengingat kejadian semalam. Menutup wajahnya dengan rasa malu, tapi dirinya juga menyukainya. Hal pertama yg wajar dialami oleh wanita yg pertama kali melakukannya. Mau marah pun percuma, karena dirinya melakukannya dengan James suaminya. Namun, apakah pernikahannya bisa bertahan dengan Bella yg meminta pertanggungjawaban dari James?? Lyra pun tak tahu harus berbuat apalagi.
Setelah James keluar, Lyra pun gantian untuk mandi. Kecanggungan pun terjadi diantara mereka. Dan Lyra yg merasakan hal itu paling kuat.
Saat sedang di dalam, James mengetuk pintu dan berkata sesuatu pada Lyra.
"Pakaianmu di depan pintu." ucap James.
Lyra pun mengerti dan James sudah menyiapkan pakaiannya karena tak mungkin mereka menggunakan pakaian semalam. Setelah semuanya rapi dan berpakaian, Lyra pun terdiam tanpa kata.
"Lyra kau baik-baik saja?" tanya James.
__ADS_1
"Aku tidak baik-baik saja.." ucap Lyra dengan sorot mata tajam.
"Maafkan aku, tapi semuanya terjadi begitu saja dan kau tak menolaknya." ucap James.
"Hmm.. sekarang aku pusing." ucap Lyra.
"Sudah lebih baik kita sarapan diluar.." ajak James.
Lyra pun menurut saja dan akhirnya mereka sarapan di cafe terdekat. Tak banyak yg bisa dimakan Lyra, dan mereka hanya diam.
"Aku harus bekerja, kau mau ke rumah sakit?" tanya James.
"Aku libur hari ini." ucap Lyra.
"Aku akan mengantarkanmu pulang." ucap James.
"Aku akan naik taksi saja." ucap Lyra.
"Tidak, aku akan pastikan kau sampai dengan selamat di rumah." ucap James.
"Hmm.." balas Lyra.
James pun memegang tangan Lyra dan berkata kalau dirinya akan selalu setia padanya.
"Lyra, maaf sudah membuatmu kecewa.. tapi percayalah sekalipun bayi itu anakku, hanya anak itu yg kuterima bukan ibunya." ucap James.
"Apa kau tak terlalu egois.?" tanya Lyra.
"Aku memang harus egois menghadapi Bella." ucap James.
"Apakah semuanya akan baik-baik saja?" tanya Lyra.
"Iya.. semua akan baik-baik saja.. jadi jangan pikirkan apapun dan jangan percaya siapapun sebelum kau melihat dengan kedua matamu." ucap James mengecup punggung tangan Lyra.
"Baiklah, ini kesempatan terakhirmu." ucap Lyra.
"Terimakasih.." ucap James.
Setelah sarapan Lyra pun diantarkan pulang oleh James. Dan mereka terkejut karena Vina sudah kembali dan mengurus perusahaannya. James juga harus kembali ke kantornya karena Ben sudah menunggunya.
Sementara itu, Bella sudah menyiapkan perangkap untuk James. Dirinya yg kini sudah tahu keberadaan Robert pun mulai melancarkan aksinya. Aksi yg akan membuat James berlari kesana kemari. Sementara Vina dirinya mendapat pergerakan dari Ronaldo yg mulai menyerang perusahaan James, dan Vina langsung membentuk tim untuk menghindari peretasan dan penyusup di perusahaannya.
Beberapa hari kemudian, Lyra mendapat telepon dari Simon sekertaris pribadi kakeknya.
"Ada apa paman Simon??" tanya Lyra.
"Nona, apakah situasi disana baik-baik saja?" tanya Simon.
"Ya.. sementara aku baik-baik saja.. dan semoga James juga begitu di perusahaannya." ucap Lyra membuat Simon curiga.
"Nona, apakah ada dokter spesialis jantung terbaik di sana?" tanya Simon.
__ADS_1
"Ada paman, kebetulan dia seniorku." ucap Lyra.
"Baiklah, dengarkan aku dan rahasiakan ini dari siapapun.." ucap Simon kemudian menerangkan lewat telepon.
Lyra pun mengerti dan mengikuti instruksi dari Simon. Dirinya juga sudah meminta bantuan seniornya, prof. Kenzo untuk menangani hal ini. Kemungkinan Simon akan datang pada malam hari lewat jalur udara dengan helikopter pribadi di atap rumah sakit.
"Lyra, aku akan berusaha membantu kakekmu." ucap Kenzo.
"Tolong aku prof.. dan rahasiakan hal ini karena dia tamu VVIP.." ucap Lyra.
"Aku mengerti, kapan mereka tiba?" tanya Kenzo.
"Jam 9 malam." ucap Lyra.
"Baiklah aku akan menunggu di rumah sakit." ucap Kenzo.
Sementara itu, kini James dan Ben sedang berjuang dengan mengurus masalah yg dibuat oleh Ronaldo. Dirinya mendapat peretasan di perusahannya, sesuai informasi dari Vina yg lebih dahulu mengetahuinya dan menghindarinya. Vina pun kesal karena James sama sekali tidak waspada. Beruntung, Ben memiliki orang-orang yg bisa dipercaya. Hingga akhirnya mereka tidak bisa melihat keseluruhan data perusahaan.
"Kita beruntung James.." ucap Ben.
"Iya.. ini sangat gila.. apa yg dipikirkan kedua orang itu?" ucap James memijat keningnya.
Sementara tim IT nya bekerja keras menyelamatkan semua data perusahaan. Ronaldo yg tahu kalau James berhasil selamat dari aksi peretasnya pun mengepal geram.
"Kalian ini bodoh sekali..!" ucapnya.
"Maaf tuan." ucap hacker andalannya.
"Kami hanya bisa mengambil sebagian data." ucap salah seorang.
"Bagus, aku akan menggunakannya untuk menekan James." ucap Ronaldo.
Hingga malam pun tiba, belum cukup dengan hacker dan peretasan, kini Ben mendapat panggilan dari Simon untuk berhati-hati dan menaruh penjagaan di rumah sakit Lyra.
"Tuan Robert 1 jam lagi akan tiba tuan." ucap Ben.
"Apa?? secepat ini dan tanpa pemberitahuan?" tanya James.
"Ini darurat kata Simon. Dan aku harus menyiapkan penjagaan di rumah sakit tempat Lyra bekerja." ucap Ben.
"Baiklah, lakukan yg terbaik." ucap James.
Sementara itu, Lyra dan Kenzo tengah menunggu helikopter Robert datang. Mereka berjaga di atap untuk memastikan kedatangannya dan mempersiapkan tim.
Sebuah panggilan telepon pun muncul di ponsel Lyra. Simon mengabari kalau dirinya akan tiba dalam 5 menit. Lyra dan Tim pun bersiap untuk penjemputan. Dan mereka sama sekali tidak tahu kondisi pasiennya.
Hingga bunyi baling-baling helikopter pun terdengar dan mereka bersiap di posisi. Saat helikopter berhasil mendarat mereka pun langsung menjemput pasiennya.
Robert pun dalam kondisi tak sadarkan diri, dan Simon menjelaskan semua kondisinya pada Lyra dan Kenzo.
"Baiklah tuan, terimakasih sudah membawanya kemari. Aku akan memeriksanya dulu." ucap Kenzo.
__ADS_1
Setelah diperiksa kondisi Robert pun harus segera mendapatkan penanganan operasi. Dan James tiba sebagai wali untuk persetujuan operasi tersebut. Setelah semua disiapkan, Kenzo, Lyra dan tim sudah bersiap untuk menjalankan operasi. Dan operasi ini harus dilakukan dengan cepat agar pasien tetap selamat.
Kini Kenzo, Lyra dan tim sedang dikejar oleh waktu dan berusaha untuk tetap fokus agar tak membuat kesalahan saat operasi. Detik demi detik pun terlewati, dan mereka harus tetap fokus walaupun waktunya berjalan dengan cepat.