
Santi dan Dion yg khawatir pun mengantarkan Lyra ke tempat pemakaman Robert. Mereka takut kalau tiba-tiba ada seseorang yg mencelakai Lyra walaupun statusnya kini sudah bercerai dari James.
"Tempat ini sepi, kalian berdua turunlah.. aku akan mengawasi." ucap Dion.
"Oke.. kabari jika ada yg datang." ucap Santi.
"Tolong ya Dion." ucap Lyra.
"Oke.. " ucap Dion.
Santi dan Lyra pun menuju ke tempat peristirahatan Robert yg terakhir. Butuh beberapa menit mencari lokasinya, hingga mereke menemukannya.
"Disini San." ucap Lyra.
"Aku akan kesana." ucap Santi lalu mendekat.
Lyra pun nampak berdiri di makan tersebut dan menangis. Ia ingat bagaimana Robert sangat bahagia memiliki cucu perempuan seperti dirinya. Belum lagi saat-saat Lyra yg selalu menghiburnya selalu terbayang-bayang dalam ingatannya.
"Kakek.. maafkan aku.. aku harus meninggalkan James karena sudah tak sanggup lagi. Dan aku harus membawa keturunan Clinton jauh-jauh dari keluarganya agar selamat." gumam Lyra dalam hati.
Lyra pun berdoa disana, sambil sesekali dirinya sesenggukan dan menitihkan air mata. Santi juga ikut berdoa karena kakek itu sudah banyak membantu sahabatnya. Setelah itu, Lyra menaburkan bunga dan berpamitan dalam hati.
"Aku pergi ya kek.. nanti mungkin aku mampir lagi kalau sempat sebelum aku pergi." gumam Lyra dalam hati.
Mereka pun melangkahkan kakinya menjauhi makam, dan nampak Dion mengabari kalau James datang ke sana juga.
"Lyra ayo pergi, James ada disini.." ucap Santi.
"Ayo cepat." ucap Lyra.
Belum sampai di mobil, James pun berpapasan dengan mereka. Padahal Lyra sudah memakai kerudung di kepalanya dan menutupi sebagian wajahnya. Tapi entah bagaimana James mengenali wangi parfum Lyra.
"Lyra.." ucap James.
Lyra dan Santi pun tetap berjalan, hingga James menarik tangannya.
"Lyra.." ucap James kemudian menarik kerudung yg hanya menempel di kepalanya.
"Ck.. ternyata benar kau.. bagaimana kau tahu tempat ini?" tanya James.
"Bukan hal sulit James, dan aku sudah selesai, jadi aku permisi." ucap Lyra.
"Tunggu, aku belum selesai bicara." ucap James.
"Semuanya sudah selesai, dan tak ada yg bisa kita bicarakan lagi." ucap Lyra.
"Ambil semua barangmu yg ada di kamarku.." ucap James mencari alasan.
"Kau bisa menyuruh orang untuk menjualnya." ucap Lyra.
__ADS_1
"Wah.. ternyata masih berani juga ya muncul di keluarga Clinton.." ucap Bella yg muncul dari dalam mobilnya.
"Yah, aku juga mengenal kakek Robert aku lupa, maksudku tuan Robert." ucap Lyra tersenyum.
"Dan untuk sisa barangku, nampaknya istrimu menyukainya.. tentu saja barang itu limited edition dan hanya ada satu di negara ini.." ucap Lyra pada tas yg dikenakan Bella.
Secepat mungkin Bella menutupinya dari James.
"Aapa maksudmu? ini milikku." ucap Bella.
"Iya.. ambil saja dan jadikan milikku. Kau memang suka barang bekasku, apalagi mantan suamiku." ucap Lyra tersenyum.
"Kau..!" ucap James tersinggung dan hendak menampar Lyra.
Tapi tangan Lyra cepat menangkapnya, dan bahkan menguncinya.
"Kau lupa James? kalau aku takkan kalah jika beradu fisik denganmu." ucap Lyra.
Beberapa pengawal pun mendekat dan Lyra pun tersenyum.
"Lyra lepaskan, kau mau mati?" ucap Bella.
"Wah, aku barusan mengambil gambar yg bagus, lihat suamimu hendak memukul temanku." ucap Santi menunjukkan foto tersebut membuat pengawal mundur.
"Wah harga dirimu yg tinggi itu terjun bebas ya, karena kini pengawalmu melihatmu kalah melawanku." ucap Lyra setelah melihat James tak bisa bergerak atas kunciannya.
Lyra pun mendorong James dan melepaskannya.
"Aku kemari hanya untuk memberikan penghormatan terakhir pada tuan Robert, tapi tuan James justru mengajakku berdebat tentang hal sepele. Bahkan parahnya dirinya hampir memukulku, padahal aku wanita." ucap Lyra.
"James, daripada kau mempermasalahkan tas dan sisa pakaianku di lemarimu, lebih baik berikan pada pengawalmu, mungkin istri mereka akan senang. Jangankan mereka Bella juga bahkan sampai memakainya." ucap Lyra tersenyum.
"Baiklah aku terlalu banyak bicara hari ini.. aku permisi pasienku sudah menungguku." ucap Lyra tersenyum kemudian memakai kembali kerudungnya.
Santi pun tersenyum menatap temannya yg tetap tenang menghadapi James dan beberapa pengawal lainnya.
Ya, Lyra tak kehilangan kemampuannya membuat James tak berkutik. Bahkan dipermalukan di hadapan pengawalnya. Lyra yg tampil cemerlang menghadapi James dan Bella, bahkan membuat pengawalnya terdiam oleh video yg diambil Santi.
Sementara Dion, menunggu mereka berdua dengan panik. Apalagi keduanya tak kunjung menampakkan batang hidungnya padahal sudah dikabari. Dion pun keluar dari mobil dan melihat keduanya sedang berjalan ke arahnya. Dirinya pun lega dan meminta mereka untuk segera masuk.
Santi pun menceritakan semuanya pada Dion. Dan Dion sangat senang Lyra mampu mengalahkan James dan Bella. Mereka pun sampai tertawa saat Santi bercerita tentang dirinya yg sempat mengambil video saat James hendak memukul Lyra.
"Kalau di upload di medsos pasti viral .." ucap Dion setelah melihat videonya sekilas.
"Hahaha.. Ternyata teman kita ini memang tak berubah kemampuannya." ucap Santi.
"Kalian berlebihan, tapi aku tadi sangat ingin membantingnya, haruskah tadi aku membantingnya agar aku puas?." ucap Lyra.
"Oo..ow.. nampak anakmu dendam pada ayahnya." ucap Santi tersenyum kecut.
__ADS_1
"Itu wajar san.. Lyra kan sedang hamil dan hormonnya naik turun." ucap Dion.
"Benarkah? apakah kau begitu kesal pada ayahmu nak?" tanya Lyra sambil megelus perut ratanya.
"Jika ingin membantingnya kau harus menunggu anak itu lahir.." ucap Dion menambahkan.
"Ckk.. yg ada aku ditangkap polisi." ucap Lyra.
"Lyra kau tak ada nyidam yg aneh-aneh kan?" tanya Santi.
"Tidak, hanya kadang mual saja di pagi hari seperti katamu." ucap Lyra.
"Kau rutin minum vitaminnya kan?" tanya Santi.
"Iya aku rutin meminumnya." ucap Lyra.
Mereka pun kembali ke rumah sakit, karena ada shift malam. Jadi mereka bisa meluangkan waktu sore itu.
.
.
.
Sementara James nampak kesal, dan menatap Bella dengan tajam.
"Barang apa yg kau pakai?" tanya James.
"T-tas ini." ucap Bella.
"Memangnya kau tak bis beli lagi pakai uangku?" tanya James.
"Tas ini limited edition dan hanya ada 1 di setiap negara." ucap Bella.
"Ckk.. gara-gara gengsimu aku dipermalukan olehnya." ucap James.
"Kenapa kau tidak membuang barang-barangnya kalau begitu?" tanya Bella kesal.
"Karena aku tak ingin melihatnya." ucap James.
"Kalau begitu aku yg akan mengurusnya." ucap Bella.
"Ya.. keluarkan semua barangnya, kalau perlu dibuang." ucap James.
"Oke." balas Bella. "James kau itu bodoh ya?? itu semua barang mahal, dan lebih baik aku jual karena beberapa produk langka.." gumam Bella dalam hati.
Mereka pun akhirnya mengunjungi makam Robert, dan nampak James merasa bersalah karena ulahnya kakeknya sampai meninggal. Dirinya tahu betul kalau kekaknya sebelum meninggal marah besar terhadapnya yg menikahi Bella dan membuat Lyra menceraikannya. Masih teringat dalam ingatannya dimana Robert begitu marah padanya.
"Maaf kek.. maaaf." gumam James dalam hati.
__ADS_1