Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.134 Sebuah Karma


__ADS_3

Belum cukup masalah yg kini ia alami di Indonesia, lagi-lagi Wendy mendapat kabar kalau ibunya sudah tiada di sebuah penjara di negeri orang. Wendy pun terkejut akan hal itu, setelah sekian lama tak ada kabar dari ibunya. Masalah demi masalah datang bertubi-tubi di hidupnya seakan tak ada jeda.


Wendy yg kini malu menampakkan diri di depan umum hanya bisa berdiam diri di rumahnya. Dan untuk mengurus kematian ibunya Wendy harus meminta ijin pada nenek dan ayahnya.


Malam itu, Wendy pun datang ke ruangan Vina.


"Masuk.." ucap Vina.


"Nek.. bisa kita bicara." ucap Wendy.


"Ya tentu, pasti ini masalah ibumu." ucap Vina.


"Benar, tak mungkin nenek tidak tahu." ucap Wendy.


"Pergilah, aku akan menyiapkan segalanya dan penjagaan. Ingat selalu hati-hati dan jangan percaya pada siapapun." ucap Vina.


"Baik." ucap Wendy mengerti.


Lalu esoknya Wendy mengunjungi James untuk berpamitan. James pun mengerti dan mengijinkannya.


"Pergilah sayang.. " ucap James.


"Terimakasih dad." ucap Wendy menangis.


"Jangan buat masalah yg akan membuat hidupmu lebih menderita lagi dari ini." ucap James.


"Aku mengerti dad." ucap Wendy menghapus air matanya.


"Apa kakak sudah mengunjungi dad disini?" tanya Wendy.


"Jangan berharap banyak, aku tahu kesalahanku fatal.." ucap James tersenyum.


"Baiklah.. " ucap Wendy lalu mengganti topik pembicaraan, lalu pergi karena jam besuknya habis.


Setelah dari penjara, Wendy pergi ke rumah sakit tempat dimana kakaknya itu sudah kembali bekerja. Sammy pun menghampirinya.


"Wendy, ada apa?" tanya Sammy.


"Kak, ibuku sudah tiada.. " ucap Wendy.


"Aku sudah tahu, karena dia menyerahkan diri beberapa waktu lalu." ucap Sammy.


"Kau sudah tahu.." ucap Sammy.


"Ya.. dan aku yg membuatnya menyerahkan diri." ucap Sammy.


"Haruskah kau sejahat itu?" tanya Wendy.


"Dia telah membunuh seseorang dan aku hanya mengirimnya ke penjara, apakah itu sebuah kejahatan juga??" balas Sammy membuat Wendy terdiam.


"Ya.. baiklah aku tahu dia harus menebus dosanya.. dan aku akan mengurus kematiannya disana." ucap Wendy.


"Ya.. lakukanlah tugasmu. Ada lagi yg ingin kau katakan?" tanya Sammy.


"Kak, kunjungilah dad." ucap Wendy.


"Aku akan memikirkannya. " ucap Sammy.

__ADS_1


"Jangan terlalu membencinya dia tak tahu apapun." ucap Wendy.


"Jangan terlalu cepat membuat penilaian, kau juga tak tahu apapun." ucap Sammy tersenyum.


"Semoga perjalananmu aman dan nyaman, aku permisi." ucap Sammy lalu pergi.


Wendy pun tak menyangka kalau kakak tirinya tersebut sangat tak ingin bertemu dengan dadnya. Setidaknya Wendy sudah memintanya dan mungkin kakaknya itu akan berubah pikiran.


Esoknya Wendy pun terbang ke Singapura dan mengurus segalanya. Ternyata kematian ibunya begitu menyedihkan. Dan Wendy sampai tak tahan melihatnya. Dirinya hanya bisa menangis di depan pemakamannya.


"Mom.. sejak kapan ini dimulai?? dan sampai kapan kesialan ini berakhir??" gumam Wendy sambil menangis.


"Aku ingin kembali hidup normal.. tapi terlalu banyak kesalahan yg kuperbuat." gumam Wendy.


"Masa depanku yg kuhancurkan sendiri, lalu dad yg ada di dalam penjara, sampai kapan aku bisa bertahan?? bahkan mom meninggalkanku.." gumam Wendy.


Wendy pun menangis sepuasnya disana, menyadari beberapa hal jahat dalam hidupnya dan momnya. Mungkin kini Tuhan sedang menghukumnya, dan Wendy harus menerima karma atas perbuatannya dan momnya.


Setelah dari pemakaman, Wendy pun jatuh pingsan. Beruntung Vina menaruh pengawal di sekitarnya untuk menjaganya. Wendy pun dibawa ke rumah sakit terdekat dan mendapat perawatan.


Dokter pun bicara pada pengawalnya, kalau nona mudanya tengah hamil. Sontak pengawalnya pun terkejut akan berita tersebut dan langsung mengabari Vina. Vina pun sudah bersiap untuk hal buruk tersebut.


Saat sadar, Wendy langsung diminta untuk pulang secepatnya. Dan dokter menjelaskan kondisinya. Wendy pun tak percaya pada kenyataan pahit tersebut. Hamil setelah dilecehkan?? sanggupkah dirinya hidup??


Rasa frustasi itupun tak bisa ditutupinya. Dirinya yg bahkan belum menikah harus hamil karena kasus pelecehan. Siapa yg akan bertanggungjawab selain keluarganya?? bukan hanya bertanggungjawab atas dirinya dan calon anaknya tapi juga menanggung malu atas ulahnya tersebut.


"Apa ini karma yg harus kuterima?? bodohnya aku.." gumam Wendy menangis.


Setelah keluar dari rumah sakit, Wendy pun berkata ingin mengunjungi suatu tempat. Dan ternyata itu merupakan pemakan Alice. Disanalah Wendy berterimakasih dan meminta maaf.


Kejadian itupun dilihat oleh Monalisa yg kebetulan juga ingin mengunjungi putrinya.


"Aku, aku orang yg mendapatkan jantung nona Alice." ucap Wendy.


"Jadi kau orangnya?? kau tahu apa yg terjadi agar kau tetap hidup?" tanya Monalisa kesal.


"Maaf, aku tak tahu apapun nyonya." ucap Wendy.


Plakk.. plakk..


Dua tamparan pun mendarat di pipi Wendy hingga memerah dan terjadi ketegangan di antara para pengawal keduanya.


"Aku pantas menerimanya.." ucap Wendy menghentikan pengawalnya.


"Kuharap aku tak pernah melihat wajahmu lagi." ucap Monalisa.


"Aku minta maaf.." ucap Wendy membungkuk kemudian pergi.


Sungguh berat hidup Wendy, menanggung rasa bersalah yg dibuat oleh momnya. Tergoda cinta sesaat dan termakan ucapan momnya hingga berakhir dengan pelecehan sampai hamil. Kini berat rasanya Wendy melangkah untuk kembali. Tapi dirinya tetap harus kembali.


.


.


.


Setelah tiba di Indonesia, Vina pun bicara empat mata dengannya.

__ADS_1


"Bagaimana? langkah apa yg akan kau ambil?" tanya Vina.


"Aku tak tahu nek.. hidupku sudah hancur." ucap Wendy.


"Itu ulahmu sendiri, kau yg menghancurkan hidupmu sendiri dengan tingkahmu yg meniru ibumu." ucap Vina.


"Apa yg harus kulakukan?" ucap Wendy menangis.


"Kalau kau tak sanggup gugurkan saja.." ucap Vina.


"Digugurkan?" tanya Wendy.


"Benar, untuk kasusmu sepertinya tak masalah.. walaupun janin itu tak bersalah." ucap Vina.


"Apa dad sudah tahu?" tanya Wendy.


"Kemungkinan belum." ucap Vina.


"Aku akan memikirkannya nek." ucap Wendy.


Wendy menyadari satu hal bahwa hidupnya tak berguna dan hanya menyusahkan keluarganya. Sejak kecil sakit-sakitan, dan setelah kondisinya membaik justru dia membuat masalah lain sampai hamil diluar pernikahan.


Ibunya meninggal dan ayahnya masuk penjara, nama baiknya hancur di kantor dan orang sekitarnya. Lalu sekarang hamil?? karma atas perbuatannya begitu besar sampai rasanya Wendy tak sanggup hidup. Dirinya hanya bisa menangis di kamarnya dan menutup diri.


Rasa frustasi akan hancurnya masa depannya pun mengganggu mentalnya. Sementara Vina tak terlalu memperhatikannya karena terlalu sibuk membereskan masalah kantor karena ulah putra dan cucunya.


Wendy pun tak keluar kamar selama berhari-hari dan hampir tak menyentuh makanannya. Vina pun sesekali menanyakan kabarnya dan tak terkejut. Lalu dirinya masuk ke kamar Wendy dan mengajaknya bicara.


Sreekkkk.. brakkk..


"Wendy bangun.." ucap Vina seraya membuka gorden kamarnya.


"Iya." ucapnya dengan pandangan kosong.


Vina pun melihat Wendy begitu menyedihkan karena hasil perbuatannya sendiri.


"Sampai kapan kau akan begini?" tanya Vina.


"Sampai aku mati.. tak ada gunanya aku hidup." ucap Wendy.


Plakk..


Vina pun menampar Wendy karena kesal hingga wanita itu meringis.


"Sakit?? kalau mau mati jangan menyusahkanku, memang siapa yg akan mengurus kematianmu kalau bukan aku?" tanya Vina kesal.


"Maaf.."


"Sadarlah.. pergi ke dokter psikolog.. nampaknya mentalmu bermasalah.." ucap Vina.


"Nanti sore jam 5 kau akan pergi dengan sopir." ucap Vina.


Wendy pun hanya diam saja bak mayat hidup.


Sorenya dirinya pergi dengan pengawal dan sopir untuk memeriksakan dirinya. Dan menurut dokter mentalnya benar-benar terganggu. Semua masalah di hidupnya pun tak sanggup ia tanggung hingga membuatnya depresi berat. Belum lagi masalah kehamilannya yg tanpa tahu siapa ayahnya.


Wendy kini hidup bak mayat hidup. Tak ada yg dapat ia lakukan selain makan dan tidur. Pengobatan pun rasanya percuma. Bahkan Vina sampai bingung dengan nasib janin dikandungannya.

__ADS_1


James yg tahu semuanya pun sedih di dalam penjara. Harusnya dia lebih berhati-hati dan tak berbuat hal buruk hingga harus mendekam di penjara dan tak bisa menjaga putrinya.


__ADS_2