
Sammy yg baru menyelesaikan kelasnya pun membuka ponselnya dan tersenyum. Ia tahu cepat atau lambat pasti keluarga dari ayah kandungnya mengetahui keberadaannya karena mereka bukan keluarga sembarangan. Sammy pun tak takut akan hal itu dan langsung menemui mereka untuk melihat reaksi nenek yg belum pernah ia jumpai.
"Nenek? menarik juga." gumam Sammy.
"Ada apa Samm..?" tanya Davi.
"Aku harus menemui Ibuku, jadi maaf aku tak bisa ikut kalian.." ucap Sammy.
"Oke.." ucap Davi.
Sammy pun pergi dengan taksi karena masih belum sanggup menyetir sendiri setelah tragedi menyeramkan tersebut. Dirinya menemui ibunya untuk bicara 4 mata.
Sesampainya di klinik, Sammy pun langsung ke ruangannya.
"Sammy.. kau langsung kemari rupanya."
"Iya ma, jadi nenek dari ayah kandungku sudah tahu?" tanya Sammy.
"Iya, sementara hanya ada 2 orang.. nenekmu dan sekertaris dari kakek buyutmu." ucap Daphny.
"Baiklah, tapi apa mereka membahayakan mama?" tanya Sammy.
"Tidak, mereka orang baik.. tapi kau harus waspada pada wanita bernama Bella." ucap Daphny.
"Siapa lagi dia?" tanya Sammy.
"Wanita yg membuatku harus lompat ke lautan dan meninggalkan segalanya di Indonesia." ucap Daphny.
"Dia pelakunya? bukankah dia dipenjara?" tanya Sammy.
"Dia sudah bebas nak, dan sekarang dia bisa berkeliaran.." ucap Daphny.
"Mama tenang saja, aku akan melindungi mama.. " ucap Sammy.
"Iya mama tahu, ada kau dan papa yg selalu siaga." ucap Daphny menepuk punggung putranya.
"Lalu apa yg ingin kau ketahui?" tanya Daphny.
"Tujuan nenekku.." ucap Sammy.
Daphny pun berbagi semua informasi yg ia tahu pada putranya. Dan Sammy mendengarkan dengan seksama. Kini Sammy paham, dan ingin melihat bagaimana kondisi neneknya. Apakah wanita tua itu menyayanginya dan melindungi ibunya atau tidak, karena yg paling penting baginya adalah keselamatan ibunya.
"Oke.. aku paham ma.. terimakasih infonya." ucap Sammy.
"Ya.. mama tidak akan memaksamu, kau boleh mengenal keluargamu dan memilih jalan hidupmu.. lakukan semua yg kau mau dan sukai Sammy, selagi itu masih wajar." ucap Daphny.
"Baik ma, aku mengerti." ucap Sammy tersenyum.
Sammy pun lalu pergi dari klinik ibunya. Dirinya pun yakin saat ini mereka tengah mencari info tentang dirinya. Tapi Sammy memilih pulang ke rumah dan melihat bagaimana tindakan neneknya.
.
.
.
Esoknya, saat Sammy keluar dari kelasnya bersama Davi mereka jalan berdua seperti biasa, dan Davi sebagai sahabat memberikan tumpangan pada Sammy yg masih belum bisa menghadapi traumanya mengendarai mobil.
"Hari ini kita mau kemana bro?" tanya Davi.
"Kita cari tempat makan yg sepi untuk belajar.." ucap Sammy.
"Belajar?? oh tidak, kau tidak asik.." ucap Davi kecewa.
"Kalau tidak mau aku pergi sendiri." ucap Sammy.
__ADS_1
"Oke.. oke.." ucap Davi mau tak mau setuju.
Mereka pun berjalan menuju ke mobil Davi, hingga tiba-tiba beberapa orang mendekati mereka.
"Tuan Sammuel??"
"Iya, ada apa? aku tak punya masalah dengan kalian." ucap Sammy.
"Tolong ikut dengan kami."
"Iya, tapi kalian siapa? main bawa-bawa saja tanpa tujuan yg jelas." ucap Sammy.
"Ini perintah dari nyonya Devina.." ucap mereka.
"Nyonya Devina? bisa jadi itu nenekku." gumam Sammy dalam hati.
"Kau kenal Samm?" tanya Davi.
"Tidak tahu, tapi aku akan ikuti mereka." ucap Sammy.
"Aku ikut, kalau kalian macam-macam aku akan melaporkan kalian." ucap Davi.
"Maaf, hanya tuan Sammuel yg diminta datang."
"Dav, tenanglah.. aku baik-baik saja." ucap Sammy menenangkan situasi.
"Hubungi aku jika ada masalah." ucap Davi.
"Ya.. kau tenang saja.." ucap Sammy.
"Baiklah, aku ikut kalian." ucap Sammy secara sukarela.
Sementara Davi melihat mereka dari kejauhan, nampak Sammy diperlakukan baik tapi tak tahu di belakangnya. Davi hanya berharap Sammy bukan berurusan dengan orang jahat.
.
.
.
Sementara itu, Sammy pun duduk dengan tenang di dalam mobil mereka. Nampak tak ada rasa takut atau tegang di wajahnya. Justru dirinya memainkan ponselnya dan memasang headset di telinganya untuk mendengarkan musik tanpa banyak bicara ataupun bertanya. Sammy sudah benar-benar siap akan segalanya.
Dan mereka telah sampai di sebuah villa. Sammy pun diminta turun dan diarahkan untuk menuju ke suatu tempat. Sepanjang jalan Sammy masih tak bergeming dan hanya menuruti mereka tanpa banyak bertanya.
Bahkan para pengawal itu sampai bingung, karena tak ada perlawanan ataupun pertanyaan dari orang yg tengah mereka kawal.
"Silahkan duduk, nyonya akan datang." ucap salah seorang.
Sammy pun duduk dengan tenang sembari mendengarkan musik. Dirinya juga tak bodoh dan melihat sekitar. Tak ada yg aneh, disana ada beberapa cctv yg lengkap dan juga villa tersebut nampak normal seperti bangunan pada umumnya.
Hingga muncullah seorang wanita tua dengan tampilan modisnya. Dengan tampilan tersebut dan perawatan hidupnya, wanita itu tak terlihat seperti nenek-nenek pada umumnya.
"Akhirnya kau sudah datang.." ucap Vina.
Sammy pun hanya memberikan senyuman, seraya bicara dalam hati. "Tepat seperti apa yg dibicarakan mama, dia masih terlihat awet muda dengan tampilan modis."
"Kalian pergi.." usir Vina pada pengawalnya.
"Baik nyonya." lalu semuanya pun pergi dan menjaga di pintu masuk.
"Kau nampak tak terkejut.. atau ibumu sudah bercerita?" tanya Vina.
"Benar.. tak ada rahasia antara aku dan ibuku.. Hallo nek.. akhirnya kita bisa bertemu." ucap Sammy tersenyum seraya membungkukkan badan.
"Wah kau pemuda yg sangat santun., persis seperti ibumu." puji Vina.
__ADS_1
"Duduklah nak." pinta Vina dan keduanya pun duduk.
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Vina.
"Baik.. nenek sendiri?" tanya Sammy.
"Nenek juga baik, walaupun nenek selalu merasa tak tenang." ucap Vina.
"Ada yg mengganggu?" tanya Sammy bingung.
"Ayahmu terlalu bodoh.. itu yg mengganggu pikiran nenek." ucap Vina.
"Wow.. nenek sangat jujur." ucap Sammy tersenyum.
"Itu fakta nak, makanya nenek senang bertemu denganmu." ucap Vina.
"Kenapa? kupikir sekalipun keluarga Clinton tahu tentangku, kalian takkan bergeming." ucap Sammy mengetes neneknya tersebut.
"Kau baru bertemu saja sudah membuatku kesal, bagaimana bisa aku mengabaikanmu.. Wendy yg berasal dari wanita ular itu saja masih kuanggap cucu." ucap Vina.
"Maaf jika nenek tersinggung.. jadi maksud nenek ayahku tak bisa dipercaya?" tanya Sammy to the point.
"Ya.. aku memegang 55% warisan dari ayah mertuaku robert Clinton dan ayahmu 40%.. sisanya 5% dipegang oleh saudara tiri ayahmu." ucap Vina.
"Lalu hubungannya denganku apa?" tanya Sammy kembali menarik ulur.
"Ck.. kau itu.." ucap Vina agak kesal.
"Nak dengarkan nenek, nenek bisa memberikan segalanya padamu, saham perusahaanku dan segala kemewahannya." ucap Vina.
"Lalu ibuku?" tanya Sammy.
"Maksudmu..?" tanya Vina tak mengerti.
"Bagaimana keselamatan ibuku? nenek pasti tahu kan alasan ibuku bersembunyi disini sampai mengganti namanya." ucap Sammy.
"Kau memang pintar. Kita bisa pikirkan cara itu." ucap Vina.
"Maaf nek, jika kemewahan yg nenek tawarkan mengancam nyawa ibuku aku memilih untuk menjadi diriku sendiri.. lagipula kami tak kekurangan apapun." ucap Sammy.
"Nenek bisa pahami, tapi pikirkanlah lagi nak.. usia nenek bukan usia produktif lagi." ucap Vina.
"Tapi masalahnya cita-citaku menjadi seorang dokter dan aku tak ingin meninggalkannya." ucap Sammy tersenyum.
"Kau mewarisi darah ibumu, nenek suka pemikiranmu.. tapi jika kau berubah pikiran hubungi nenek kapan saja." ucap Vina memberikan kartu namanya.
"Baiklah.. dan kita bisa bertemu kapan saja nek, asalkan nenek menjaga rahasia ibuku." ucap Sammy.
"Kau memang anak yg baik, pasti ibumu mendidikmu dengan baik." ucap Vina.
Keduanya pun berbincang dan makan bersama. Tanpa terasa waktu berjalan cepat, dan Sammy harus pergi. Vina nampak nyaman bicara dengan Sammy yg baru ia temui ketimbang anak kandungnya yg ia lahirkan. Andai saja, saat itu Vina menemukan Daphny, pasti Sammy bisa menggantikannya meneruskan perusahaannya.
Setelah Sammy pergi, Simon pun datang.
"Bagaimana nyonya?" tanya Simon.
"Dia menolak Simon, dia lebih memilih keselamatan ibunya, sungguh anak yg berbakti." ucap Vina kagum.
"Dia memang terlihat seperti anak baik-baik." ucap Simon.
"Lalu apa rencana anda?" tanya Simon.
"Aku tetap akan mewariskan segala hartaku padanya.. Dia bisa memiliki saham tanpa harus bekerja di perusahaan. Setidaknya dia tidak menolakku sebagai neneknya." ucap Vina.
"Baiklah, jika itu keputusan anda." ucap Simon.
__ADS_1