Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.35 Perjalanan Dinas


__ADS_3

Pagi itu, James dan Lyra pun seperti biasa bersiap untuk aktivitas mereka. Dan saat hendak turun, James memberitahu Lyra mengenai keberangkatannya ke luar negeri.


"Lyra, ada yg ingin kusampaikan.." ucap James.


"Katakan saja." balas Lyra.


"Aku akan ke luar negeri selama beberapa bulan karena persiapan cabang kantor di luar negeri." ucap James.


"Kira-kira berapa bulan?" tanya Lyra.


"Mungkin 2-3 bulan, dan paling lama 6 bulan." ucap James.


"Oke.. pergilah.." ucap Lyra.


"Baiklah.. kalau ada sesuatu, laporkan saja pada pimpinan pengawal bernama Dimas." ucap James.


"Oke.. aku mengerti." ucap Lyra.


"Sudah begitu saja, tak ada sesuatu untuk dikatakan?" tanya James.


"Kau itu bagaimana sih, katanya kau yg akan bicara.. aku sih hanya mendengarkan saja." ucap Lyra.


"Kau berharap apa? aku melarangmu?" tambah Lyra.


"Tidak ada.. ayo turun dan sarapan." ucap James.


Lyra pun menatap punggung James dengan heran. Apa yg terjadi pada orang satu ini?? kan dirinya sendiri yg ingin pergi dan harus pergi karena kewajibannya. Namun apa salah Lyra?? bukankah James tak perlu ijin darinya untuk pergi?? Pikiran Lyra pun bercabang memikirkan tingkah aneh James. Tak cinta tapi seperti berat meninggalkan tempat ini, dan entah apa alasannya sampai begitu.


.


.


.


Hingga James pun berangkat ke luar negeri. Dan Lyra bersama Vina mengantarnya dibandara. James pun berpamitan pada kedua wanita itu lalu masuk ke area dalam bandara. Vina pun berjanji akan menjaga Lyra selama James tak ada begitu juga Lyra yg sebaliknya pada Vina.


Dan orang kepercayaan Ben bernama Dimas pun ditugaskan untuk menjaga Lyra dan Vina. James ingin agar Vina dan Lyra diawasi saat sedang berada di luar rumah.


.


.


Tanpa disadari kini hubungan Vina dan Lyra semakin akrab sejak insiden penyerangan di mall kemarin. Mereka nampak seperti ibu dan anak pada umumnya. Apalagi Vina yg senang mengajak Lyra belanja karena Lyra jarang mengeluh walaupun ia ajak seharian.


"Lyra hari ini kita ke toko biasanya.." ucap Vina.


"Baik mom." balas Lyra.


"Bagaimana kelas bahasa asingmu?" tanya Vina.


"Ya begitulah, aku masih banyak yg harus dipelajari dan dihafal." ucap Lyra.


"Berusahalah nak, mom yakin itu pasti berguna." ucap Vina.


"Baik mom." balas Lyra tersenyum.


Disaat mereka tengah berbelanja, Candy dan ibunya juga belanja di toko tersebut. Dan tanpa sengaja keduanya berpapasan. Lyra pun hanya diam saja dan enggan menyapa Candy yg selalu mengganggunya. Dan sebuah fakta terungkap kalau ibu Jeny adalah ibu dari Candy. Pantas saja Candy jarang dihukum meski perbuatannya salah di kampus.


"Ups.. ada pelayan disini.." ucap Candy.


"Ups.. ternyata kau anak ibu Jeny.. " balas Lyra tak mau kalah.


"Apa masalahmu?" tanya Candy sewot.

__ADS_1


"Tidak ada, tapi menarik juga ya.." balas Lyra.


"Ck.. lagipula kau disini mau apa? memangnya kau sanggup membeli barang disini?" tanya Candy sombong.


"Hmm.. ah dres itu cantik sekali." ucap Lyra meninggalkan Candy begitu saja.


"Ckk.. dasar gadis gila." umpat Candy.


Lyra pun malas meladeni Candy karena hanya akan memperpanjang urusannya. Dan dirinya kini tengah menatap dress cantik di hadapannya. Langsung saja ia ambil dan melihatnya dicermin.


"Taruh lagi kalau tak mampu beli." cibir Candy.


"Nice.." ucap Lyra pada dirinya di cermin.


"Mbak.. aku mau yg ini.." ucap Lyra memberikannya pada pegawai toko.


"Baik nona." ucapnya.


"Nona?? kau itu tidak tahu gadis miskin ini siapa? nanti juga dirinya takkan mampu membayar." ucap Candy tapi pelayan itu hanya tersenyum.


Sementara Lyra, beralih ke bagian celana panjang dan membeli beberapa item lain di toko tersebut. Candy dan momnya pun juga tak mau kalah dan memilih beberapa item. Hingga Vina pun memanggil Lyra.


"Lyra.. bagaimana menurutmu?" tanya Vina untuk sepatu yg ingin ia beli.


"Bagus mom.. cocok sekali dengan mom." ucap Lyra.


"Baiklah, mom akan ambil ini juga." ucap Vina.


"Kau membeli apa saja sayang?" tanya Vina.


"Ada dres, beberapa celana panjang dan sepatu." ucap Lyra.


"Baguslah, kau harus sering belanja agar pakaianmu tidak itu-itu saja. " ucap Vina.


Lyra pun ke kasir dan menyerahkan kartunya untuk membayar tagihannya.


"Bayar pakai ini mbak.." ucap Lyra menyodorkan kartu.


"Ckk.. habis dapat jatah dari si om ya.. hahaha.." cibir Candy.


Brakk..!!


"Apa maksudmu??" tanya Vina menggebrak meja dengan barang belanjaannya.


"Tante, aku hanya bicara fakta kalau gadis ini memang simpanan om-om.. " tuduh Candy.


"Dia putriku.. berani sekali kau menyebutnya simpanan.. kau mau masuk penjara??" tanya Vina dengan tatapan tajam.


"Tante jangan membantunya, yg kutahu dia itu hanya anak dari panti asuhan." ucap Candy.


"Jaga mulutmu itu..! aku ibu angkatnya sekarang." ucap Vina.


"Pengawal.. tangkap wanita ini dan bawa ke kantor polisi.." perintah Vina.


"Pengawal?? kantor polisi?? " ucap Candy tersenyum kemudian senyumnya hilang saat beberapa pengawal benar-benar datang dan menariknya.


"Mom.. sudahlah biarkan saja." ucap Lyra.


"Dia itu sudah memfitnahmu." ucap Vina.


"Mom.. tolong aku... " ucap Candy pada Jeny.


"Apa-apaan ini?? kenapa putriku ditangkap." ucap Jeny.

__ADS_1


"Ibu Jeny, Candy sudah keterlaluan dan menghinaku dihadapan ibu angkatku.. "ucap Lyra.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Jeny tak terima.


"APA MASALAHNYA??? kau belajar etika tidak?? oh kalian memang benar-benar harus dilaporkan.." ucap Vina semakin kesal.


"Mbak.. aku minta cctv toko ini dan untuk kepentingan penyelidikan karena gadis itu sudah menghina putriku." ucap Vina.


"Coba saja kalau kau bisa." ucap Jeny dengan angkuhnya.


Setelah cctv didapatkan, terlihatlah perbuatan tercela Candy yg memfintah Lyra dengan jelas. Dan hal itu membuat Candy maupun Jeny ketakutan karena Vina terlihat punya kekuasaan. Akhirnya Jeny pun meminta maaf dan ingin berdamai dengan Lyra dan Vina.


"Sudah begini baru minta maaf kebiasaan.." ucap Vina.


"Maaf nyonya.. kami benar-benar tidak tahu siapa anda." ucap Jeny.


"Lyra ampuni aku.. kumohon.." ucap Candy.


"Bagaimana Lyra?" tanya Vina tersenyum.


"Oke.. mari kita buat perjanjiannya." ucap Lyra tersenyum licik.


Dirinya pun membuat perjanjian damai dengan Candy dan Jeny dengan syarat-syarat yg diminta oleh Lyra. Mau tak mau, suka tak suka baik Jeny maupun Candy harus terima konsekuensinya.


"Oke.. patuhi perjanjiannya." ucap Lyra.


"Baiklah." ucap Candy dan Jeny lalu mereka tanda tangan.


"Bagus.." ucap Vina tersenyum melihat kepintaran Lyra mengatasi kedua nyamuk menyebalkan itu.


.


.


.


Sementara James setiap hari mendengar kabar baik dari momnya dan Lyra. Menurut laporan keduanya semakin akrab dan sudah seperti ibu dan anak yg kemana-mana selalu berdua. Lalu mengenai insiden penghinaan terhadap Lyra pun James juga tahu. Tapi dirinya hanya tersenyum karena Lyra mampu menyelesaikannya tanpa kekerasan ataupun satu laporan.


"Sepertinya nona Lyra sangat pintar tuan." ucap Ben.


"Ya.. kakek memang tak salah menilai seseorang." ucap James.


"Jadwal kita nanti malam adalah makan malam dengan beberapa pemegang saham." ucap Ben.


"Oke.. lakukan saja Ben." ucap James.


"Dan mengenai pencarian saudarimu bagaimana?" tanya James.


"Masih dalam penyelidikan tuan.. rasanya memang sulit sekali karena sudah 20 tahun berlalu." ucap Ben.


"Semoga pencarianmu tidak sia-sia kawan." ucap James menepuk bahu Ben.


Tanpa disadari oleh James dan Ben, ternyata Camila juga sedang berada di negara tersebut. Dan mereka bertemu di resto tempat mereka akan makan malam bersama para pemegang saham.


Ben yg mengetahuinya segera memasang bodyguard di sekitar resto dan memantau pergerakan wanita ular tersebut. "Jangan ganggu urusan tuan dengan perusahaan.. awas saja kau wanita ular.." gumam Ben dalam hati.


Dan berkat hal itu, Camila tak bisa mendekati James karena para bodyguard menghalaunya bahkan mengusirnya.


"Aku mau bertemu James kekasihku." ucap Camila.


"Maaf nona, bohong pun ada batasannya.. tuan kami sudah menikah dengan wanita lain." ucap bodyguard tersebut dan mengusir Camila.


"Ckk.. awas kalian.. aku pasti akan menghukum kalian suatu saat nanti." ucap Camila lalu pergi.

__ADS_1


Ben pun tersenyum melirik kejadian tersebut. Dan James pun juga sama, karena akhirnya momen penting bagi perusahaan tidak diganggu oleh Camila yg masih mengejar-ngejar James.


__ADS_2