
Saat pesawat mendarat, Sammy pun tersenyum karena akhirnya bisa bebas dari James si ayah kandungnya. Walaupun duduk bersebelahan entah mengapa Sammy tak tertarik memulai obrolan dengannya, apalagi harus merasa penasaran pada ayah kandungnya tersebut. Sammy pun hanya menyapanya dengan senyum kemudian diikuti oleh Dava dan Devi.
Dengan cepat pula mereka mengambil langkah seribu, ditambah lagi dengan orang suruhan Ben sudah menghubungi Sammy. Mereka pun langsung naik mobil jemputan menuju ke villa yg dipinjamkan Ben.
Setelah tiba, mereka pun melihat villa yg besar dan nyaman. Dilengkapi dengan kolam renang dan juga beberapa ruangan lain.
"Uncle Ben memang tak main-main.." ucap Sammy.
"Kita beruntung Samm." ucap Davi tersenyum.
"Haruskah kita ke pantai dulu?" tanya Devi.
"Hmm.. Dev jangan bilang kau mau pakai bikini di pantai?" tanya Davi.
"Memangnya kenapa? bukankah kalian juga sering lihat di negara kalian." balas Devi.
"Aurat Dev.." ucap Sammy.
"Pokoknya tidak boleh." protes Davi.
"Suka-suka aku.. " balas Devi.
Sammy dan Davi pun saling pandang, mereka paham sifat Devi yg sulit dilarang. Kemudian mereka menaruh barang di kamar dan langsung menunggu Devi keluar kamar.
Saat Devi keluar kamar, mereka pun tak terkejut dengan tampilannya yg terbuka. Langsung saja, mereka membentangkan selimut yg sudah mereka siapkan dan membungkus tubuh Devi.
"Hei.. aku mau diapakan ini?" tanya Devi.
"Karena selimutnya hijau mirip lemper.." ucap Sammy.
"Saamm..!!" protes Devi.
"Devi, kau bagus seperti ini.. seperti putri duyung." ucap Davi.
"Davi.. !! Sammy...!!! " teriak Devi.
"Sssttt.. Dav, handuknya." pinta Sammy.
"Samm.. noo.." ucap Devi.
"Ssttt.." ucap Davi.
"Hmmmm..." Devi pun tak bisa bicara dan meronta-ronta setelah handuk kecil menutup mulutnya.
Sementara Sammy dan Davi menatapnya dengan tajam. Devi pun sedikit terintimidasi dan diam.
"Devi, jika kau masih memakai baju haram begitu kami takkan mengajakmu ke pantai lagi." ucap Sammy lalu membuka penutup mulut.
"Sammy, baju haram itu baju yg tipis dan menerawang." balas Devi membuat Sammy terdiam.
"Dev, sebagai saudaramu aku tak bisa melihat tubuhmu jadi pemandangan gratis pria-pria diluar sana." ucap Davi.
"Baiklah.. tapi lepaskan." ucap Devi.
"Aku belum percaya, dia bisa kabur." ucap Sammy.
"Samm.. percayalah padaku." ucap Devi.
"Baiklah, Samm bawa ke kamarnya.." ucap Davi.
"Oke." ucap Sammy.
Mereka pun menggotong Devi menuju ke kamarnya dan meninggalkannya.
__ADS_1
"Dev, ganti baju yg sopan atau kau akan kami kunci di dalam kamar." ucap Davi.
"Baiklah aku akan menurut." ucap Devi dari dalam kamar.
"Kami tunggu.." ucap Sammy dari luar.
Sementara Devi pun mau tak mau mengganti pakaiannya. Padahal niatnya ke bali ingin memakai pakaian seksi tersebut. Pupus sudah niatannya untuk memakai pakaian tersebut dan menggantinya dengan dres selutut.
Kemudian Devi pun keluar kamar dan kedua pria tersebut menatapnya.
"Lebih baik." balas Sammy.
"Ya.. aku setuju, kau baru boleh ikut kami." ucap Davi.
"Ck.. harusnya aku cari pacar disini." ucap Devi.
"Dev, pria baik-baik takkan suka melihat wanita dengan pakaian terbuka." ucap Sammy.
"Dengar tuh Dev.. Kami bukannya jahat tapi ingin melindungimu dari pria-pria kurang ajar." ucap Davi.
"Baiklah." ucap Devi mengalah setelah diceramahi.
Mereka pun pergi keluar dan mencari makanan di dekat pantai. Ya, mereka langsung ke pantai untuk berjalan-jalan dan melihat pemandangannya.
.
.
.
Sementara itu, Ben pun mendapat laporan kalau James juga pergi ke Bali. Kemudian dirinya menghubungi Kenzo untuk memberi kabar. Dan jawaban Kenzo pun membuatnya terkejut, karena Sammy sudah tahu tentang ayah kandungnya. Serta respon Sammy yg sama sekali tak tertarik pada ayahnya itu.
Setelah berbincang dengan Kenzo, Ben pun menghubungi keponakannya. Dirinya ingin bicara dan menanyakannya langsung mengenai James. Respon Sammy pun santai bahkan acuh.
"Yah, itu hakmu Samm, aku hanya memberitahumu." ucap Ben.
"Aku sudah bertemu langsung dengannya walaupun tak sengaja.. tapi maaf aku tak tertarik." ucap Sammy.
"Yah, bagus Sammy aku juga tak ingin dirinya tahu.. " ucap Ben.
"Iya uncle aku mengerti." ucap Sammy.
"Baiklah, selamat menikmati liburanmu.." ucap Ben kemudian mematikan telepon.
.
.
.
Sementara itu, Devi dan Dava pun sudah menghilang. Ternyata mereka sedang belajar berselancar. Tapi Sammy hanya melihatnya dan enggan mencobanya.
"Samm.. ayo main.." ucap Devi.
"Tidak.. kalian saja." ucap Sammy.
"Ckk.. Come on Sammy. " ucap Davi menyeret Sammy.
Sammy pun mengikuti sahabatnya itu dan mereka pun bersiap untuk berselancar. Dengan dibantu oleh profesional mereka pun mencobanya perlahan. Berbeda dengan Sammy yg langsung lancar dan menguasainya, sementara Devi tercebur ke air dan Davi juga jatuh.
"Sammy.. bocah itu sejak kapan?" ucap Davi tak percaya.
Bahkan orang yg mengawasi mereka pun memuji Sammy dan berkata kalau pria itu sudah mahir. Sammy pun kembali ke daratan dan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Bagaimana??" tanya Sammy sambil tersenyum.
"Bagus, kau belajar dimana?" tanya Devi.
"Ya, kadang aku diajak oleh papaku.." ucap Sammy.
"Ck.. pantas saja kau tak mau ikut ternyata kau sudah mahir." ucap Davi.
"Ya begitulah.. jadi aku tak perlu belajar lagi dari awal." ucap Sammy.
"Akh kaosku jadi basah." ucap Sammy lalu melepasnya dan memperlihatkan roti sobeknya yg membuat Devi tanpa sadar menatapnya.
"Ck.. tutup matamu sister.." ucap Davi lalu menutup matanya.
"Samm.. pakai baju..! jangan pamer terus..!" protes Davi.
"Em.. oke." balas Sammy lalu memakai lagi kaosnya yg basah.
Beberapa wanita disana pun juga menyaksikan pemandangan roti sobek milik Sammy. Dan Davi menjadi iri, karena dirinya jarang berolahraga. Ditambah lagi Devi menatapnya dan menikmati pemandangan tersebut.
Akhirnya Sammy pun mengganti kaosnya dan membeli kaos yg dijual di sekitar. Sementara Davi dan Devi pun masih belajar berselancar. Sammy pun hanya memandangi mereka dan memberi masukan pada mereka sembari menikmati es kelapa muda.
.
.
Malam harinya, mereka pun pergi ke sebuah resto untuk makan malam. Disana lagi-lagi mereka bertemu dengan James. Dan Sammy tak begitu tertarik, begitu juga kedua temannya.
Hingga James pun menyapa mereka dan mengajak mereka makan bersama. Mereka pun tak enak menolak lagi dan mengikuti saja. Mereka pun makan dengan canggung, dan Sammy juga ingin cepat-cepat keluar dari resto tersebut.
"Jadi kalian masih kuliah?" tanya James.
"Benar tuan." ucap Devi.
"Baguslah, jangan sia-siakan masa muda dengan mencari banyak ilmu." ucap James.
"Tentu tuan." balas Davi.
"Jadi kalian bertiga calon dokter?" tanya James.
"Bukan, hanya mereka berdua sementara aku jurusan bisnis." ucap Devi.
"Oh.. kau boleh meminta bantuanku jika kau mau bertanya soal bisnis.. ini kartu namaku.. " ucap James memberikan kartu namanya.
"Iya.. terimakasih tuan." ucap Devi.
Makan malam yg kaku itu pun akhirnya berakhir dan mereka pulang ke villa. Devi pun melihat lagi kartu nama yg diberikan oleh James.
"Ternyata dari keluaraga Clinton." ucap Devi.
"Memangnya kenapa?" tanya Davi.
"Pebisnis yg cukup hebat." balas Devi.
"Kau tertarik?" tanya Sammy.
"Sedikit." ucap Devi.
"Kalau aku sama sekali tak tertarik pada pria itu ataupun bisnisnya." ucap Sammy.
"Dev kau jangan mau sama om-om.. masih banyak pria muda nan tampan diluar sana." ucap Davi.
"Ya ampun.. aku juga ogah Dav." ucap Devi.
__ADS_1
"Bagus.." ucap Davi dan Sammy bersamaan.