Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.48 Penjelasan


__ADS_3

Setelah istirahat beberapa jam, Lyra pun kembali menjalani tugasnya. Ia merasa malu karena meminta bantuan seniornya, dan meminta maaf pada Kenzo atas keteledorannya.


"Maaf prof.. belakangan aku jarang makan tepat waktu.. ini takkan terjadi lagi." ucap Lyra.


"Aku mengerti, mulai sekarang aku akan mengingatkanmu makan atau mengajakmu makan sebagai hukumannya." ucap Kenzo.


"Kalau mengajak makan rasanya bukan terdengar seperti hukuman tapi pengawasan." ucap Lyra.


"Jika menurutmu begitu aku tak masalah, bagaimana kondisimu?" tanya Kenzo.


"Aku baik-baik saja setelah minum obat dan istirahat." ucap Lyra.


"Baguslah." ucap Kenzo.


"Kalau begitu sekarang gantian aku yg bekerja, prof istirahat saja." ucap Lyra lalu pergi.


"Oke." balas Kenzo.


.


.


.


Tak terasa waktu berjalan cepat, dan pagi menjelang. Dokter yg menggantikan shift malam pun sudah datang dan tengah bersiap. Lyra pun pulang setelah jam kerjanya habis. Entah terlalu lelah atau apa, Lyra melupakan James yg juga tertidur di mobilnya. Lyra pulang begitu saja dengan mobilnya setelah berpamitan dengan Santi dan Dion.


Begitu sampai di rumah, Lyra pun memilih istirahat karena tubuh dan hatinya sangat lelah. Dirinya merebahkan tubuhnya dan langsung tertidur pulas tanpa ingat James masih di parkiran rumah sakit menunggunya.


Sementara James, dirinya terbangun saat Ben menghubunginya masalah kantor.


"Hallo, ada apa Ben?" tanya James.


"Tuan, anda dimana?" tanya Ben.


"Aku masih di halaman parkir rumah sakit.. ada apa?" balas James.


"Aku mencarimu di rumah, tapi anda belum pulang.. bagaimana bisa nona Lyra sekarang ada di rumah dan anda masih ada di rumah sakit?" tanya Ben bingung karena James bilang akan menjemput Lyra.


"Apaa?? jam berapa sekarang Ben?" tanya James.


"Jam 9 pagi tuan.. dan nona sudah pulang dari jam 8 pagi." balas Ben.


"Akh.. kenapa aku ditinggalkan.." gerutu James.


"Kau kembali saja ke kantor, dan aku akan ke kantor siangan." ucap James.

__ADS_1


"Baiklah tuan. Tapi anda harus mengecek berkas yg kutinggalkan di ruang kerja." ucap Ben.


Lalu James pun memutuskan sambungan telepon dan segera menuju ke rumahnya. Dirinya berpikir Lyra sangat marah dan kesal padanya hingga pulang begitu saja padahal tahu dirinya menunggunya sejak semalam.


Bahkan James sudah tidak makan apapun sejak malam, baju pun masih pakai pakaian kantor kemarin. Tapi dirinya sudah tak memikirkan hal itu, yg ada di benaknya bagaimana bisa meyakinkan Lyra akan perasaannya, mengingat kemarin Lyra berkata kalau dirinya tidak begitu mencintainya.


James pun melajukan mobilnya di tengah keramaian. Dan sampai di rumah satu jam kemudian. Dirinya langsung berlari menuju ke kamarnya untuk melihat Lyra dan bicara dengannya. Begitu pintu kamar terbuka, James melihat Lyra tengah terbaring di kasur. Wajahnya yg pucat dan lesu pun membuatnya semakin bersalah.


James pun merebahkan tubuhnya di samping Lyra dan memeluknya dengan erat. Baru saja sebulan hubungan mereka seperti suami istri pada umumnya tapi masalah datang dan membuatnya tak tahu harus meminta pengampunan apa pada Lyra.


Lyra yg sangat lelah pun tak merasakan apapun dan terbangun dengan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Rasanya seperti mimpi, padahal tadi malam hatinya sungguh hancur. Tapi saat ini ia terbangun seperti biasanya dan tangan yg memeluknya begitu sudah terjadi sebulan ini.


"Apakah ini mimpi?" gumam Lyra.


Kemudian terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dan dirinya melepaskan tangan James dan menoleh sembari mencubit pipinya. Tapi semuanya nyata, padahal tadi malam mereka hampir bertengkar jika Lyra tak menahan diri.


Lyra pun bangkit karena emosinya kembali naik melihat suaminya yg tanpa dosa memeluknya padahal Lyra belum memaafkannya. James pun menarik tangan Lyra dan kembali dalam pelukannya. Bukannya balasan hangat yg diterima James, justru perlawanan sengit yg diterimanya. Lyra mengunci tangannya untuk melepaskan diri, setelah lepas Lyra mengunci leher James.


Amarahnya pun keluar saat melihat James seperti tak punya rasa bersalah pagi ini tidur di sampingnya.


"Lyra, apa yg kau lakukan?" tanya James.


"Mencekikmu dasar suami tukang selingkuh." ucap Lyra.


"Aku tidak selingkuh, lepaskan.." pinta James seraya mencoba membebaskan diri.


"Lyra.. aku bisa mati.. lepaskan.." ucap James.


"Lebih baik kau mati.. !" ucap Lyra emosi lalu melepaskannya setelah melihat wajah James memerah karena kekurangan oksigen.


"Argghhh.. jangan pernah sentuh aku atau tidur disampingku karena aku belum memaafkanmu." ancam Lyra lalu pergi ke kamar mandi mendinginkan amarahnya.


Ingin sekali dirinya meninggalkan James dan meminta cerai. Tapi banyak hal yg harus ia pertimbangkan terutama kesehatan kakek Robert, dan hati mom Vina yg begitu menyayanginya. Belum lagi dirinya belum mendengar cerita versi James yg sebenarnya. Dan Lyra tak ingin bertindak bodoh sebelum semuanya jelas.


Cukup lama Lyra merendam kepalanya yg pusing oleh masalah yg ditimbulkan James. Setelah puas dirinya keluar dan melihat James sudah rapi karena ada kamar mandi lagi di ruang pribadinya.


"Kau sudah selesai..?" tanya James.


"Iya.. dan sekarang aku lapar.." ucap Lyra meninggalkannya menuju ke lantai bawah untuk membuat makanan.


Dirinya pun langsung diminta untuk duduk karena pelayan telah memasakkan makanannya. Lyra pun menurut karena kini pikirannya sedang kacau. Tapi mau bagaimanapun Lyra harus tetap makan agar kesehatannya tidak terganggu.


James pun turun dan ikut makan bersamanya. Namun, Lyra masih diam seribu bahasa. Hingga setelah makan barulah Lyra mengajaknya bicara di kamar mereka.


"Katakan.. apa penjelasanmu. " ucap Lyra.

__ADS_1


"Aku dijebak oleh Bella." ucap James.


"Berarti sebulan yg lalu saat kau menghilang, begitu kejadiannya?" tanya Lyra.


"Kau benar." ucap James.


Hati Lyra pun bagai teriris sembilu, saat dirinya sudah menerima James mengapa justru luka yg ia dapatkan bukannya malah kebahagiaan. Lyra pun menarik nafas panjang dan kembali menanyakan beberapa hal.


"Lalu, apa yg akan terjadi nanti?" tanya Lyra.


"Aku akan memaksa Bella untuk melakukan tes DNA saat kandungannya cukup." ucap James.


"Itu beresiko.. jadi kau berpikir itu bukan anakmu?" tanya Lyra.


"Iya.. aku berharap begitu." ucap James.


"Berharap?? hhh.. sudahlah, jika itu anakmu ceraikan aku." ucap Lyra.


"Tidak bisa..!" ucap James tegas.


"Lalu kau mau menikahi Bella dan membuatku punya anak tiri yg memusuhiku?" tanya Lyra.


"Bukan begitu maksudku." ucap James.


"Lihatlah, hubunganmu dan adik tirimu ferdinan. Lalu mommu dengan Ferdinan, apakah mereka akur? Tidak bukan." ucap Lyra memberi contoh.


"Lyra.. kumohon jangan pergi.. aku akan menjadikanmu satu-satunya. Aku takkan menikahi Bella, kalaupun terpaksa kami akan menikah siri." ucap James.


"Hhh.. mudah bagimu mengatakannya tapi sulit bagiku menerimanya..!" ucap Lyra lantang.


"Baru 1 bulan hubungan kita berjalan normal.. tapi lihat sekarang??.." ucap Lyra emosi.


"Lyra aku tidak bisa meninggalkanmu." ucap James.


"Kenapa? cinta? jangan katakan cinta jika kau berhasil mengham**i Bella." ucap Lyra.


"Aku berjanji, takkan ada yg berubah.. dan saat hasil tes DNA itu keluar, aku yakin bayi itu bukan anakku." ucap James.


"Tapi jika dia anakmu?" tanya Lyra.


"Aku akan bertanggungjawab pada anak itu bukan pada ibunya." balas James.


"Aku tidak mau.. lebih baik kita bercerai." ucap Lyra.


"Tidak bisa dan tak akan pernah terjadi.." ucap James.

__ADS_1


Keduanya pun berdebat hebat, dan Lyra sebagai wanita takkan tahan jika suaminya menikah lagi. Apalagi punya anak dari wanita lain. Dan Ben lagi-lagi mendengar mereka berdebat hebat di depan pintu. Hingga dirinya menjauh, padahal awalnya dirinya hanya ingin menjemput tuannya. Tapi malah mendengar pertengkaran suami istri tersebut. Dan jika ingin jujur, Ben pun setuju pada Lyra untuk bercerai saja karena sulit bagi Lyra untuk menerima kenyataan pahit tersebut.


__ADS_2