
Di dalam ruangan Sammy, Wendy pun menghampirinya dan meminta maaf. Sembari menangis dan tak tahu bagaimana caranya mengembalikan keadaan.
"Maaf kak.." ucap Wendy di tengah keheningan.
"Iya.. " ucap Sammy menatapnya.
"Aku tak tahu apapun.. sekarang semuanya jadi kacau karena aku." ucap Wendy.
"Baguslah jika kau sadar, harusnya kau mendengarkan aku dan ayahmu." ucap Sammy.
"Iya.. aku mengaku salah.." ucap Wendy menangis.
"Kau sendiri, pasti tak baik-baik saja kan?" tanya Sammy.
Wendy pun menangis karena baru Sammy orang pertama yg menanyakan keadaannya. Sejak ayahnya masuk penjara hanya ada celaan yg didengar untuknya, tanpa ada yg menanyakan kondisinya.
"Mungkin ini hukuman untukku.. aku masih bisa bertahan." ucap Wendy.
"Mereka sudah ditemukan?" tanya Sammy.
"Belum.. " ucap Wendy.
"Mereka pasti belum jauh.. semoga hari ini ditemukan." ucap Sammy.
"Iya kak.. aku mohon maafkan aku, aku tak tahu kenapa aku begitu berdebar di hadapanmu.. hingga membuatku gila." ucap Wendy.
"Hanya ada satu alasan untuk kasusmu." ucap Sammy.
"Alasan?" tanya Wendy bingung.
"Karena jantung itu bukan milikmu.." ucap Sammy.
Deggg.. Wendy pun terdiam mendengar ucapan Sammy, sembari berpikir siapa pemiliknya.
"Si-siapa pemiliknya?" tanya Wendy.
"Alice Hailly.. kekasihku.." ucap Sammy.
"A-apa..??" ucap Wendy tak sadar langsung menitihkan air mata.
"Iya.. dia tewas saat kecelakaan bersamaku.. " ucap Sammy.
"Kak ini benar nyata??" tanya Wendy yg terasa begitu sesak.
"Ini nyata.. kau bisa mengeceknya langsung.. Aku pun hampir tiada saat itu." ucap Sammy.
"Ti-tidak.. " ucap Wendy dengan suara bergetar.
"Itu harga yg harus kau tebus untuk jantungnya.. dan kecelakaan itu adalah bukan sebuah kecelakaan." ucap Sammy.
"Maksudnya? siapa pelakunya kak?" tanya Wendy.
"Ibumu.." ucap Sammy.
"Apa?? tidak mungkin.." ucap Wendy menutup mulutnya.
"Ya.. itulah fakta yg kutemukan, dan apa yg kau alami tentang jantungmu adalah kutukan karena ibumu telah mengambil jantung seseorang dengan cara yang kejam." ucap Sammy.
"Ti-tidak.." ucap Wendy menangis.
"Aku mengatakan ini agar kau paham.. dan kau juga adikku." ucap Sammy.
"Dan itu yg akan kau alami seumur hidupmu.. kau harus bisa menahannya.." ucap Sammy.
"Baiklah.. aku permisi, aku harus mengunjungi dad.. kunjungilah dad juga kak." ucap Wendy.
"Aku tak bisa menjanjikan hal itu." ucap Sammy.
__ADS_1
"Dad sangat menyesal dan merasa bersalah hingga mengakui dan menerima semua hukumannya." ucap Wendy.
"Akan aku pikirkan.. lebih baik kau pikirkan dirimu dulu dan pergilah ke psikiater.." ucap Sammy.
"Aku permisi." ucap Wendy tersenyum.
Wendy pun keluar dari ruangan Sammy sambil menangis. Lalu diluar nampak adik Sammy dari luar negeri menunggunya diluar. Dan gadis berusia 20an itupun mendekati serta berbicara padanya dengan nada tak suka. Wendy pun mengerti karena ulahnya kakaknya sampai masuk rumah sakit. Tapi Wendy tak bisa menghadapinya dan memilih pergi.
Setelah kepergian Wendy, Vio pun masuk ke dalam ruangan kakaknya.
"Apa yg terjadi? dia keluar sambil menangis." ucap Vio pura-pura tak tahu.
"Vio berhenti berakting di hadapanku.. kau sudah tahu semuanya." ucap Sammy yg mengenal adiknya tersebut.
"Hanya kakak yg tahu, mama dan papa aku rasa mereka belum tahu." ucap Vio tersenyum.
"Apa kau akan berubah saat tahu faktanya..??" ucap Sammy.
"Apa alasanku berubah?? fakta tak mengubah rasa sayang kita." ucap Vio.
"Kau memang adikku.. " ucap Sammy tersenyum.
"Jangan pikirkan aku kak, sampai kapanpun kita tetap bersaudara." ucap Vio.
"Iya.. akhirnya kau jadi dewasa juga.. " ucap Sammy mengacak-acak rambut Vio.
"Memangnya aku selamanya akan jadi anak kecil??" protes Vio.
"Aku sih tak keberatan." ucap Sammy tersenyum.
"Ckk.. Masa aku main boneka terus, kapan aku berkencannya?" tanya Vio.
"Berkencan?? berani sekali kau berkencan tanpa memperkenalkan pria itu padaku.." ucap Sammy posesif.
"Oke.. nanti kukenalkan." ucap Vio.
"Kakak serius sekali, padahal aku tak punya kekasih.. " ucap Vio.
"Awas kau bohong.. akan kupatahkan tulang-tulangnya.." ancam Sammy.
"O-oke.." ucap Vio.
Tak lama setelahnya Daphny dan Kenzo pun tiba disana. Mereka menyuruh Vio pergi ke hotel untuk beristirahat dan menaruh barangnya.
"Aku harus ke hotel.. aku tak perlu diantar karena pengawal papa sudah bersiap diluar." ucap Vio.
"Ingat Vio selalu waspada.." ucap Kenzo.
"Iya pa.." ucap Vio tersenyum.
"Vio, selalu fokus.." ucap Sammy.
"Baik kak.." ucap Vio.
"Yasudah sayang, hati-hati dan istirahat saja dulu." ucap Daphny.
"Oke ma.." ucap Vio lalu keluar dari ruangan Sammy dan diantar ke hotel oleh pengawal yg disiapkan Kenzo.
Vio pun menuju ke hotel tempat dirinya akan menginap diantar oleh pengawal ayahnya. Setelah tiba Vio meminta pengawal itu kembali karena dirinya sudah tahu kamarnya.
"Pak kembalilah.." ucap Vio.
"Baik nona."
Vio pun menuju ke kamarnya dan beristirahat. Dirinya merebahkan tubuhnya dan memikirkan kakaknya yg harus berada di rumah sakit serta menyelesaikan urusan dengan ayah kandungnya. Belum lagi adik tiri kakaknya itu begitu terlihat menyebalkan dan angkuh.
"Wanita itu sangat menyebalkan.. aku tahu kakakku tampan tapi dia sangat gila.." umpat Vio di kamarnya.
__ADS_1
.
.
.
Di tempat lain Wendy pun menghubungi seseorang untuk mencaritahu siapa pemilik jantung yg kini ada di tubuhnya. Dan saat tahu kebenarannya ternyata ucapan kakaknya tersebut benar. Wendy pun semakin terdiam dan mencaritahu lagi mengenai kecelakaan yg dialami kakaknya.
Lagi-lagi kabar kecelakaan itu benar dan sangat tragis. Wendy pun terdiam dengan semua fakta yg ia temukan. Ternyata kakaknya tak membohonginya dan itulah fakta yg harus ia terima. Kutukan atas jantung yg ia terima dari kematian seorang wanita yg begitu dicintai kakaknya. Rasa berdebar yg akan ia alami seumur hidupnya serta rasa bersalah karena ulah momnya.
"Sanggupkah aku menanggung ini semua?" gumamnya.
.
.
Kemudian Wendy pun mengunjungi James di penjara. Nampak ayahnya terlihat berantakan dan kacau.
"Dad.. bagaimana kabarnya?" tanya Wendy.
"Aku tak mungkin baik-baik saja setelah tahu semua faktanya." ucap James.
"Kau sendiri?"
"Aku juga tak baik-baik saja.. aku baru mengunjunginya dad." ucap Wendy.
"Bagaimana kondisinya?" tanya James khawatir.
"Dia baik-baik saja karena bersama orang-orang yg tepat." ucap Wendy.
"Dia pasti sangat membenciku kini.. " ucap James.
"Aku tak tahu, tapi dia tak terlihat kesal saat aku memberitahukan kondisimu." ucap Wendy.
"Wendy, sekarang hiduplah dengan baik karena mungkin aku akan berada disini untuk waktu yg lama." ucap James.
"Baik dad aku mengerti." ucap Wendy.
"Dad harap, kemarahan dad kemarin bisa membuatmu sadar." ucap James.
"Iya, dad aku ingin bertanya sesuatu.." ucap Wendy.
"Katakan.."
"Apakah pendonor jantungku meninggal karena sebuah kecelakaan?" tanya Wendy.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku sudah memeriksanya.. aku akan mengunjunginya dalam waktu dekat untuk berterimakasih." ucap Wendy.
"Baguslah.. sekarang kau harus menuruti nenekmu karena hanya dia yg bisa kau percaya." ucap James.
"Baik dad." ucap Wendy.
Kemudian Wendy pun pulang ke rumahnya. Kini dirinya tak bisa keluar dan menampakkan diri lagi di hadapan umum setelah skandal pelecehan yg dibuatnya. Pelakunya juga belum ditemukan hingga kini. Rasa malu dan gunjingan orang-orang kantor padanya begitu menyiksanya.
.
.
Di tempat lain, Sammy sedang menghubungi seseorang di kamar mandinya. Dirinya mencoba menghubungi Tobi untuk tugas baru.
"Cari ketiga pelaku pelecehan adikku.." ucap Sammy.
"Baik tuan."
Begitulah Tobi menjadi anjing peliharaan milik Sammy yg harus menuruti segala keinginannya. Untungnya Sammy bukan orang jahat jadi posisi Tobi akan aman karena tak melakukan tindakan kriminal. Masalah Bella pun masih terus dipantau pergerakannya karena wanita itu terus berpindah-pindah.
__ADS_1
"Aku tak bisa mengabaikan Wendy.. dia juga adikku. Sementara ibunya sampai kapan wanita itu akan kabur?? tapi kemanapun kau kabur aku akan tetap menemukanmu." gumam Sammy.