
Sudah sebulan sejak Sammy sembuh dan keluar dari rumah sakit. Tapi sejak itu pula dirinya tak pernah lagi berhubungan dengan Devi. Dan dirinya juga terlalu sibuk mengurus Bella serta masalah lainnya. Belum lagi harus kembali bekerja.
Tak ada pembahasan apapun diantara mereka, hingga Devi menganggap sandiwara itu telah berakhir. Dan mau tak mau Devi kembali menerima perjodohan dengan dikenalkan pada banyak pria pilihan kakeknya.
"Apa?? secepat ini?" tanya Devi pada Boby.
"Benar nona, tuan ingin anda menikah dalam waktu dekat." ucap Boby.
"Bob.. sebagai orang yg telah menikah bagaimana pendapatmu tentang perjodohan?" tanya Devi.
"Seperti bertaruh di meja judi nona, kemungkinan berhasilnya 50:50.. apalagi pasti tuan mencarikan jodoh yg sepadan dengan anda." ucap Boby.
"Adakah jawaban lain yg simple bob?" tanya Devi.
"Artinya, setiap perjodohan belum tentu berhasil nona.. karena banyak dari orang-orang seperti anda menikah karena kekuasaan dan sebagainya yg berujung perselingkuhan atau perpisahan jika tak berhasil." ucap Boby.
"Jawabanmu ternyata dua-duanya mengerikan." ucap Devi.
"Keputusan ada di tangan anda nona, saya hanya bicara jujur." ucap Boby.
"Ya.. Terimakasih bob atas sarannya." ucap Devi.
"Apa hubungan anda dengan dokter tersebut benar-benar berakhir?" tanya Boby.
"Sudahlah jangan dibahas, aku malas." ucap Devi.
"Baik nona." ucap Boby lalu membahas pekerjaan mereka.
Sementara itu, nampak Davi baru bisa datang ke Indonesia setelah menyelesaikan semua tugas-tugasnya serta pasiennya. Pria itu pun datang tanpa pemberitahuan karena ingin memberikan sebuah kejutan pada Devi dan Sammy.
Davi pun datang ke kantor Devi siang itu untuk bertemu saudari kembarnya. Dengan membawakan sebuah coklat kesukaan Devi, Davi pun masuk dan meminta bantuan Boby untuk memberi kejutan pada Devi.
Devi yg saat itu tengah fokus pun tak memerhatikan keadaan. Dan mengira yg masuk ke ruangannya adalah Boby.
"Sudah selesai bob? mana berkasnya?" tanya Devi tanpa melihat.
Tiba-tiba Davi menaruh sebuah coklat di tangannya yg tengah menengadah.
"Bob, jangan bercanda? kenapa berat sekali.." ucap Devi protes.
Lalu Devi pun melihat apa yg ada di tangannya ternyata sebuah coklat besar kesukaannya.
"Coklat.. tunggu ini kan.." ucap Devi lalu menatap orang di depannya.
"Davi.." ucap Devi.
"Ckckck.. pantas saja kakek ingin kau cepat menikah.." ucap Davi.
"Maaf.. kapan kau tiba?" tanya Devi tersenyum.
"Siang ini dan aku langsung kemari.. tapi kau sangat sibuk." ucap Davi.
"Maaf, ada beberapa deadline yg harus aku selesaikan." ucap Devi.
"Jangan banyak alasan.. ikut makan denganku, kau kelihatan sangat kurus." ucap Davi.
"Ck.. 10 menit lagi." pinta Devi.
"Baiklah.." ucap Davi sembari menghela nafas.
Selagi menunggu Devi, dirinya pun menghubungi Sammy untuk bertemu karena sudah tiba di Indonesia. Sammy pun langsung merespon dan akan datang tepat waktu. Davi pun tersenyum karena akhirnya bisa berkumpul dengan keduanya.
"Oke sudah beres.. ayo pergi.." ucap Devi.
"Baiklah, nyonya Devi.." ucap Davi dan langsung mendapat sikutan dari Devi ke arah perutnya.
__ADS_1
"AUkhhh.. sakit Dev.." ucap Davi.
"Rasakan.." ucap Devi.
"Bob, kami pergi makan diluar, kalau ada hal penting kabari aku." ucap Devi.
"Baik nona." ucap Boby.
Devi pun membawa Davi menuju tempat yg ingin mereka kunjungi. Disanalah mereka akan makan siang dan bicara sejenak.
"Kau lama sekali tibanya." ucap Devi.
"Maaf, aku sebagai dokter berbakat memiliki banyak pasien yg mengantri panjang untuk disembuhkan." celotehnya.
"Dih.. sombong.." ucap Devi.
"Aku serius sister.. kau tak merindukanku?" tanya Davi.
"Tidak.." ucap Devi.
"Teganya kau padaku." goda Davi lalu Sammy datang dihadapan mereka.
"Davi.." ucap Sammy menyapa dan berpelukan dengan sahabatnya.
"Samm.. bagaimana kabarmu? kudengar ada insiden kemarin, tapi kau sepertinya sudah baik-baik saja." ucap Davi.
"Tentu saja, aku kan tak selemah itu." balas Sammy.
"Good.. ayo kita makan bersama.." ucap Davi.
Devi pun hanya diam dan tersenyum melihat kedatangan Sammy yg duduk dihadapannya. Tanpa banyak berkata apa-apa Devi hanya diam mendengarkan Davi yg berbicara pada Sammy.
Kemudian Davi sedikit curiga karena saudarinya itu hanya diam saat Sammy datang.
"Aku hanya lelah dan banyak kerjaan." balas Devi.
"Tidak ada.." balas Sammy.
"Kalian sungguh tak ingin jujur padaku?" tanya Davi.
"Apa ada yg bisa kusembunyikan darimu?" tanya Devi.
"Hmm.. sister, kudengar kemarin kau batal dijodohkan karena punya kekasih.. dan orangnya ada dihadapanku." ucap Davi yg tahu segalanya.
"Itu.." ucap Devi sedang mencari alasan.
"Itu hanya sandiwara agar aku bisa bebas dari saudariku yg menyukaiku." ucap Sammy.
"Saudarimu yg bernama Wendy itu?? ya agak aneh sih kalau kalian bersaudara berhubungan." ucap Davi.
"Benar, begitulah dan Devi juga memanfaatkan momen itu untuk menolak perjodohan." ucap Sammy.
"Jadi kami saling menguntungkan." balas Devi.
"Yakin hanya itu?kalian tak benar-benar berkencan?" tanya Davi.
"Ahh.. bagaimana mungkin Dav kami tak jujur padamu." ucap Devi.
"Ya.. dan kami sedang menjauh karena sandiwaranya telah berakhir." ucap Sammy.
Kemudian Devi menjelaskan segalanya pada Davi, agar kakek mereka tak menekan Sammy dan keluarganya tentang pernikahan. Davi pun mengerti, tapi ada yg berbeda dari keduanya. Seperti ada rasa tak rela saat sandiwara itu telah berakhir.
"Jadi sekarang kau akan menerima perkenalan lagi?" tanya Davi.
"Begitulah Dav, tolong bantu aku menyeleksinya." ucap Devi.
__ADS_1
"Serahkan padaku dan Sammy.. benarkan Samm?" ucap Davi.
"I-iya.." ucap Sammy.
"Bagus, kalian pria yg paling mengerti aku, pilihan kalian pasti tepat." ucap Devi tersenyum.
Sejak hari itu, Devi pun mengirimkan data-data mengenai calon yg akan bertemu dengannya. Davi dan Sammy pun menyeleksinya dengan ketat seperti pemilihan umum.
"Ini nama-nama dan biodatanya.. Boby sudah susah payah mendapatkannya." ucap Devi menyerahkannya.
"Mari kita lihat Samm." ucap Davi.
"Ini lumayan.. ini juga.." ucap Davi.
Sementara Sammy tak suka pada mereka semua.
"Terlalu tua.."
"Terlalu sempurna dan gila bekerja."
"Wajahnya aneh.. duda pula"
"Tampang playboy.." ucap Sammy lalu menaruh semua kertas-kertas tersebut dimeja.
"Apa benar mereka yg terbaik untukmu?" tanya Sammy membuat saudara kembar tersebut saling tatap.
"Samm.. kau baik-baik saja?" tanya Davi.
"Tentu."
"Jadi semuanya tak ada yg lolos?" tanya Devi.
"Menurutku mereka semua buruk." ucap Sammy.
"Oo.. oke.. bagus aku hanya tinggal menolaknya dengan tegas." ucap Devi.
"Jika mereka macam-macam, hubungi aku dan Davi kami siap menghajarnya." ucap Sammy.
"Ya.. ide bagus.." ucap Davi.
"O-oke.." ucap Devi bingung.
Setelah menolak semua pilihan kakek Devi, Sammy pun resah. Entah apa yg ada dipikirannya sampai meminta Davi menghubunginya jika Devi bertemu dengan salah seorang dari pria tersebut.
"Samm.. kau tak menyukai saudariku kan?" tanya Davi bingung karena dipaksa untuk ikut memata-matai pertemuan Devi.
"Ck.. kami takkan bisa bersama." ucap Sammy.
"Karena?" tanya Davi.
"Dia saudarimu." balas Sammy.
"Jawaban yg naif." ucap Davi.
"Maksudmu?" tanya Sammy.
"Aku tak pernah melarangmu dekat dengannya.. atau berkencan dengannya." ucap Davi.
"Dia itu sahabatku yg berharga sama sepertimu." ucap Sammy.
"Yaya.. terserah kau saja. Tapi kita ini sedang apa disini? " tanya Davi.
"Kita harus memastikan pria itu aman.. wajahnya tampak cab**l." ucap Sammy.
"Samm.. kau berlebihan sementara Devi sudah dikawal dua pengawal itu." ucap Davi frustasi karena harus mengawasi Devi dari pagi hari sampai malam.
__ADS_1