Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.147 Kebebasan


__ADS_3

Devi pun kini bebas kemanapun yg ia mau. Dion pun mendukungnya sepenuhnya. Walaupun menjadi pengangguran, Devi tetap mencari kesibukan dan sedang belajar untuk membuka sebuah perusahaan kecil. Davi pun melihatnya dan tersenyum karena saudarinya bisa mengatasi masalahnya dengan benar.


"Kau sedang apa?" tanya Davi.


"Sedang belajar cara untuk membuka sebuah perusahaan." ucap Devi.


"Bukannya kau sudah tau caranya?" tanya Davi.


"Sedikit tapi perusahaan kakek kan sudah berdiri dan aku hanya meneruskan jadi ada banyak perbedaan." ucap Devi.


"Oke.. katakanlah jika butuh sesuatu." ucap Davi.


"Jika semuanya sudah siap aku hanya butuh investor. " ucap Devi.


"Aku siap jadi investormu.. " ucap Davi.


"Bagus.. nanti aku akan membahasnya denganmu." ucap Devi.


"Tentu saja, tapi kau tak boleh bankrut dan menyia-nyiakan uangku.." ucap Davi tersenyum.


"Davi, aku pastikan kau takkan menyesal berinvestasi padaku." balas Devi.


"Aku menantikannya sister." ucap Davi lalu meninggalkan Devi.


.


.


.


Sementara itu, nampak Sammy tengah sibuk mencari tempat kencan yg bagus di internet. Dirinya takkan menyia-nyiakan kebebasan Devi dan akan menghiburnya. Sebuah kejutan pun disiapkan oleh Sammy untuk pertemuan tersebut.


"Tempat sudah dapat, waktunya pas, benda mungil ini juga sudah dapat." gumam Sammy menatap sebuah benda berkilau di tangannya.


Tibalah waktu dimana Sammy akan menjemput Devi di apartemennya. Dirinya pun langsung pergi 1 jam sebelum rencana pertemuannya. Dan Sammy tiba di depan pintu apartemen Devi dan Davi. Setelah menekan bel Sammy pun dibukakan pintu oleh Devi. Sammy menunggu sejenak di sana saat Devi tengah bersiap.


"Oke.. ayo kita pergi." ucap Devi keluar dari kamarnya.


"Baiklah.." ucap Sammy menatap Devi yg tampil cantik malam itu.


Mereka pun pergi ke tempat tujuannya dan Devi sangat senang bisa pergi kesana dengan Sammy. Terlebih perasaan yg ia simpan selama ini bisa terbalaskan. Devi pun banyak tersenyum dan tertawa malam itu bersama Sammy. Kebebasan yg ia impikan ternyata jadi nyata.


"Kau terlihat bahagia sekali sekarang." ucap Sammy.


"Tentu saja. Serasa semua beban berat dipundakku sudah terangkat." ucap Devi.


"Baguslah, tapi aku juga siap menanggung beban apapun itu." ucap Sammy.


"Darimana kau belajar kata-kata gombalan begitu??" tanya Devi.


"Ya.. hanya mencoba menyesuaikan diri dengan orang-orang disini." ucap Sammy.


"Bagaimana harimu?" tanya Devi.


"Semua baik-baik saja, tak ada masalah berarti." ucap Sammy.


"Baguslah.. aku juga sedang memulai untuk membuka sebuah perusahaan." ucap Devi.


"Benarkah? butuh bantuanku?" tanya Sammy.


"Mungkin nanti." balas Devi tersenyum.


"Aku tahu tuan Dion bisa kau andalkan tapi aku juga bisa membantumu." ucap Sammy.


"Benarkah?? aku menantikannya." balas Devi.

__ADS_1


"Oh, aku punya sesuatu untukmu.." ucap Sammy.


"Apa itu Samm?" tanya Devi.


"Tadaa.." ucap Sammy mengeluarkan sebuah kotak kecil.


"Wah, imut sekali hadiahmu." ucap Devi melihat kotak kecil tersebut.


"Ck.. buka dulu Dev jangan langsung protes.." ucap Sammy.


"Aku hanya bercanda.. " balas Devi tersenyum senang setelah menjahili Sammy.


Devi pun meraih hadih kecil tersebut dan membukanya. Nampak benda berkilauan itupun muncul dan membuat Devi terharu. Ditambah Sammy yg berlutut di hadapannya.


"Will you marry me??" ucap Sammy.


"Yes.. " ucap Devi terharu.


Sammy pun memasangkan cincin tersebut di jari manis Devi dan mereka pun berpelukan.


"Sekarang tak ada lagi yg bisa memisahkan kita.." ucap Sammy.


"Iya.." ucap Devi tak mampu berkata-kata lagi.


"Kenapa kau menangis?? kau harusnya senang." ucap Sammy melepas pelukannya.


"Aku hanya terharu, hampir semua wanita begitu.." ucap Devi.


Sammy pun mengambil sapu tangannya dan mengelap pipi Devi yg basah.


"Sudahlah.. kalau begitu mari kita makan saja.." ucap Sammy.


"Iya.." balas Devi.


Keduanya pun makan malam dan merasa sangat bahagia malam itu. Keduanya berharap segalanya akan lancar setelah ini karena kedua orangtua mereka sudah merestuinya.


"Terimakasih Sammy malam ini aku sangat bahagia." ucap Devi.


"Terimakasih juga Dev, aku bukan hanya bahagia tapi juga bersyukur kau menerimaku.. " ucap Sammy.


"Iya.." ucap Devi tersenyum.


"Nanti kita akan melakukannya secara resmi di depan orangtua kita." ucap Sammy.


"Iya.. aku menantikannya." ucap Devi.


"Masuklah, sudah malam." ucap Sammy.


"Iya.. bye Samm.." ucap Devi.


"Bye.." ucap Sammy.


Devi pun menutup pintu dan raut bahagia pun terpancar di wajahnya. Bagaimana bisa impiannya jadi kenyataan?? dan orang yg ia cintai sejak lama bisa mencintainya juga serta langsung melamarnya. Devi pun sangat bahagia malam itu, sampai rasanya tak bisa tidur. Sesekali dirinya menatap pada benda berkilau yg ada di jari manisnya. Bagaimana Sammy bisa malakukan hal se-manis itu.??


Jika Devi sedang bahagia, berbeda dengan Davi yg sedang lembur semalaman. Bahkan ada pasien kecelakaan yg membuatnya harus siaga malam itu.


"Sister pasti sedang bahagia saat ini?? kenapa aku masih terjebak dengan pasien disini??" gerutu Davi dalam hati.


.


.


Sementara Sammy, dirinya pun senang sekali malam itu. Dan dirinya takkan menyia-nyiakan peluang yg ada serta pengorbanan Devi untuknya. Dirinya juga langsung pulang ke apartemennya dan mengabari keluarganya.


Tapi saat masuk ke apartemennya, nampak seperti ada penyusup disana. Ada sebuah gelas di meja dan bunyi seseorang di sedang di toilet. Sammy pun curiga penuh, karena selama ini yg tahu pasword pintunya hanya dirinya.

__ADS_1


Sammy pun bersiaga di depan toilet dengan memegang tongkat pemukul. Begitu pintu terbuka Sammy pun sudah bersiap untuk memukul penyusup tersebut.


"Kena kau..!!" teriak Sammy.


"Akh.. " ucap seorang wanita lalu mundur.


"Vi-Vio.. bagaimana bisa??" ucap Sammy tak percaya hampir memukul adiknya.


"Kakak.. aku ini adikmu bukan maling..!" protes Vio.


"Kenapa kau bisa masuk??" tanya Sammy.


"Pasword yg kumasukkan benar, tentu saja pintunya terbuka." ucap Vio.


"Kenapa tidak bilang kalau datang?? bikin orang kaget saja untuk tidak ku pukul." protes Sammy.


"Maaf, ponselku mati.." ucap Vio.


"Kau ini tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, aku hampir menelpon polisi." ucap Sammy.


"Memangnya tidak ada yg tahu kata sandi apartemen ini?" tanya Vio.


"Tentu saja tidak ada, aku kan tinggal sendiri. Hampir saja Vio.." ucap Sammy.


"Maaf kak." ucap Vio.


"Lain kali hubungi aku jika kau datang." ucap Sammy.


"Iya aku akan menghubungimu." ucap Vio.


"Mari kita bicara sambil duduk." ucap Sammy memilih duduk di sofa.


Sammy pun mulai mengintrogasi adiknya tersebut. Karena menurut info dari Kenzo kalau Vio sedang cuti kuliah dan memilih berlibur.


"Kau darimana saja?? aku pulang kemarin kau tak ada di rumah." ucap Sammy.


"Aku liburan ke Paris." ucap Vio.


"Kau tak ingin cerita apapun padaku?" tanya Sammy.


"Sebenarnya.." ucap Vio mulai bercerita.


Vio pun menceritakan kesedihannya kalau Kenzo tidak menyukai pekerjaan impiannya. Sammy pun sependapat dengan Kenzo karena memang pekerjaan tersebut berbahaya bagi Vio. Mereka takut terjadi sesuatu pada Vio.


"Sebenarnya papa tak mengijinkanmu karena dia terlalu menyayangimu.. dia tak ingin putrinya terluka." ucap Sammy.


"Aku tahu kak." ucap Vio.


"Aku kalau berada di posisi papa juga takkan setuju." ucap Sammy.


"Aku hanya sedang berpikir apa yg harus aku lakukan setelah ini, meneruskan kuliah atau melakukan hal lain." ucap Vio.


"Pikirkan masa depanmu dengan baik, karena kau paling tahu tentang dirimu dibandingkan orang lain." ucap Sammy.


"Tapi kamarku dimana?" tanya Vio.


"Kau tidur di kamarku saja malam ini, besok baru bersihkan kamar tamu diujung." ucap Sammy.


"Kakak sendiri tidur dimana?" tanya Vio.


"Aku akan tidur di sofa. Kau tenang saja." ucap Sammy.


"Maaf kak aku jadi menyusahkanmu." ucap Vio.


"Harusnya kau kabari dulu.. tapi sudah terlanjur kemari yasudah." ucap Sammy.

__ADS_1


Sammy pun tak habis pikir dengan adik perempuannya tersebut. Dirinya bahkan bisa tahu kode apartemennya yg bahkan orangtuanya tak tahu. Vio benar-benar hebat dalam menebak sesuatu.


__ADS_2