
Seorang pria pun tengah duduk di meja kerjanya dan menatap pada file yg harus ia kerjakan. Ia yg sudah terbiasa sebagai sekertaris pun lebih mudah mengerjakan segalanya. Dan sangat paham apa yg terjadi. Dia adalah Ben, atau nama aslinya Benedict Ivander.
Seorang CEO muda yg baru dilantik setelah pamannya yg memegang semua kekuasaan ayahnya meninggal. Cukup lama Ben menunggu hari-hari dimana dirinya mengambil apa yg memang miliknya, dan kini ia bisa menikmatinya. Walaupun pamannya sangat bodoh dan membuat sebagian pekerjaan kantor berantakan. Belum lagi sepupunya yg sok berkuasa hingga membuat Ben bertindak.
"Kau adalah Jeny sekertarisku?" tanya Ben.
"Benar tuan." ucap Jeny.
"Oke.. selamat bergabung dan aku mohon kerjasamanya. Ingat sekarang aku atasanmu dan jika ada orang yang mengatasnamakan atasanmu selain aku kau harus lapor." ucap Ben.
"Baik tuan." ucap Jeny.
"Sekarang kau pelajari berkas-berkas yg harus aku kerjakan segera." ucap Ben.
"Baik tuan." ucap Jeny.
Beberapa jam kemudian Jeny pun kembali dengan wajah pucat. Dan Ben pun mengerti pasti ada masalah.
"Ada masalah apa?" tanya Ben.
"Tu-tuan, tuan Jack memerintah untuk menarik sejumlah dana pada staf keuangan. Dan dia ingin kita investasi untuk sebuah perusahaan." ucap Jeny memberikan laporannya.
"Perintahkan tim keuangan untuk tidak mentransfernya hingga aku memerintahkannya." ucap Ben.
"Baik tuan." ucap Jeny.
"Selanjutnya..?" ucap Ben.
"Ada banyak masalah di kantor ini tuan." ucap Jeny membeberkan seberapa parahnya masalah yg ditimbulkan Jack dan ayahnya.
"Pinta tim audit untuk mengeceknya, dan Jack suruh untuk tidak masuk kantor sampai penyelidikan berakhir." ucap Ben.
"Baik tuan." ucap Jeny.
"Ingat Jeny aku tuanmu, bukan Jack jadi jangan pernah turuti kemauannya." ucap Ben.
"Baik tuan." ucap Jeny.
Jeny yg sebagai sekertaris baru Ben pun harus berlari kesana kemari mengurusi beberapa masalah. Dan Ben memintanya untuk bergerak cepat bersama beberapa orang lainnya.
Hari-harinya pun sibuk sekali dan Ben seperti tidak memberinya waktu untuk bisa bersantai. Sungguh Ben memberikan hari yg berat untuknya dan karyawan lainnya. Bahkan tim audit dikejar-kejar oleh Ben agar tidak melewati tenggat waktunya.
Semua pun mulai mengeluh kelelahan.
"Ahh.. aku lelah sekali.. rasanya seperti dipaksa berlari." ucap salah seorang dari tim audit.
"Sudah ayo kita kerjakan."
"Bukan hanya kalian yg berlari, aku juga sama.." ucap Jeny.
__ADS_1
"Tuan Ben, benar-benar terbiasa bekerja dengan cepat dan tepat. Dan kita belum terbiasa akan hal itu." ucap salah seorang.
"Jangan mengeluh atau banyak bicara, kerjakan saja.. semua orang juga lelah." ucap Jeny.
"Apa yg dikatakan oleh Jeny benar, dan juga aku terbiasa bekerja cepat dan tepat.. meminimalisir kesalahan dan menghasilkan banyak uang untuk menggaji semua karyawan yg bekerja." ucap Ben.
"TU-tuan.." ucap mereka semua.
"Maaf tuan, kami banyak mengeluh." ucap Jeny.
"Oke.. istirahat sejenak lalu lanjutkan lagi.. ingat besok semua harus ada di mejaku dan satu lagi jangan ijinkan Jack masuk kantor.." perintah Ben.
"Baik tuan." balas mereka.
Sementara Jeny dan tim audit bekerja keras, Ben meminta Dimas dan anak buahnya mencaritahu tentang perusahaan yg ingin diinvestasi oleh Jack. Dan cukup mengejutkan itu adalah perusahaan cangkang yg menyimpan dana taktis untuk Jack. Seluruh gedung hingga stafnya pun kosong seperti tak ada aktivitas lainnya.
"Jadi begitu." ucap Ben setelah mendengar laporan dari Dimas lewat telepon.
"Benar tuan, timku akan mengirim beberapa fotonya." ucap Dimas.
"Oke.. aku tunggu kalian di kantor habis ini." ucap Ben.
Dan selang beberapa jam Dimas serta anak buahnya tiba dengan membawa sejumlah bukti kuat. Tim audit juga sudah menyelesaikan laporannya. Dan sesuai laporan Jack beserta ayahnya dinyatakan bersalah dan melakukan korupsi. Mereka sering mendirikan perusahaan cangkang dan berinvestasi.
Hingga Ben tak bisa mengampuni sepupunya tersebut. Jack pun dipanggil untuk diadili dengannya dan beberapa petinggi lainnya. Tak hanya Jack ada banyak pengikut ayahnya tuan Jim yg melakukan korupsi dengan berbagai cara. Dan Ben meminta timnya untuk mengeksekusi mereka. Karena bagaimanapun benalu hanya akan merusak sebuah tanaman, dan tanaman asli akan mati.
"Ayahku memberi kalian perusahaan yg maju dan kalian mengembalikannya dengan posisi yg kacau begini?? kuharap kalian akan mendapatkan ganjaran yg setimpal.." ucap Ben kesal.
Ben pun menjatuhi hukuman denda sesuai dengan yg mereka ambil, jika tidak sanggup mereka akan mendekam di penjara sesuai ketentuan. Dan Ben mengepal geram akan kondisi perusahaannya.
"Jika kalian tak ingin jadi pengangguran kuharap kalian bekerja dengan sangat keras untuk perusahaan ini." ucap Ben pada timnya.
"Baik tuan.." ucap mereka sembari menelan salivanya.
Bagaimana tidak, begini saja mereka sudah hampir tiap hari lembur. Lalu bekerja dengan sangat keras itu harus sampai bagimana???
Semua terjadi karena perusahaan sangat kacau, hingga Ben sengaja mengatakan hal seperti itu agar mereka tak main-main. Dan dalam 3 bulan perusahaan mulai membaik berkat kerja keras mereka.
"Ini semua berkat kalian.. perusahaan kita sudah memasuki fase aman.. kalian juga otomatis bisa terus bekerja. Dan jika omset meningkat akan ada bonus dan kenaikan gaji." ucap Ben.
"Terimakasih tuan." ucap Jeny setelah memberi laporan.
"Tuan diluar ada Dimas dan timnya." ucap Jeny.
"Baiklah saat kau keluar suruh mereka masuk." ucap Ben.
"Baik tuan." ucap Jeny.
Dimas dan timnya pun masuk dan memberikan sebuah laporan. Dan laporan itu mengenai tuan Benjamin yg kondisi mentalnya membaik. Bahkan dirinya mulai bercerita soal bayi yg ia temukan. Ben pun segera menemuinya setelah mendapat laporan.
__ADS_1
Ben pun masuk ke ruangannya bersama Dimas dan seorang dokter yg menjaganya agar tidak mengamuk.
"Hallo tuan Benjamin.. bagaimana kabarmu?" tanya Ben.
"Aku baik.." ucap Benjamin tapi arah pandangannya pada luar jendela.
"Apa kau pernah melihat rumah yg terbakar?" tanya Ben.
"Api.. api menyambar kemana-mana.." ucap Benjamin mengingat sesuatu.
"Lalu apa lagi yg kau ingat, coba ceritakan.." ucap Ben.
"Aku mau burger.. ayam goreng, dan bakso." ucap Benjamin.
"Jadi kau lapar.. baiklah nanti mereka akan membawakannya." ucap Ben.
"Iya aku lapar dan ingin makan semua." ucap Benjamin.
"Tapi kau harus mengatakan apa yg kau ingat tentang kebakaran itu.." ucap Ben.
"Hmm oke.. api besar dan rumah hangus... Ba-bayi perempuan digendong.. menangis.." ucap Benjamin.
"Lalu apalagi.?" tanya Ben.
"Lalu.. lalu aku ambil dan gendong supaya diam." ucap Benjamin.
"Apa yg terjadi saat kau mengambil bayi tersebut..?" tanya Ben.
"Pisau.. ada pisau dan aku lari dengan bayi itu." ucap Benjamin ketakutan.
"Aakkhh.. aku takut.. mereka mengejar dan membawa pisau.." ucap Benjamin histeris.
"Tenang sekarang kau aman disini.. mereka tidak ada disini." ucap Ben.
"Mereka mati?" tanya Benjamin.
"Iya.." ucap Ben.
"Aku lapar..." ucap Benjamin teriak lagi.
"Baiklah.. tapi kau janji akan bercerita lagi.." ucap Ben.
"Iya.. aku lapar mau makan.." ucap Benjamin.
"Dimas kau siapkan makanannya." perintah Ben.
Ben pun keluar dari ruangan dengan wajah lesu. Nampaknya kesabarannya diuji saat berbicara dengan orang tidak waras. Walau Dimas berkata Ben beruntung Benjamin mau bercerita dan tidak mengamuk. Karena dirinya atau anak buahnya sering mendapat perlawanan karena Benjamin mengira mereka akan mencelakainya seperti orang-orang yg mengejarnya setelah mengambil seorang bayi.
"Sabar dia orang tidak waras.. " gumam Ben dalam hati.
__ADS_1