
Lyra pun menjalani aktifitasnya seperti biasa. Dan hari ini ia mengikuti seniornya profesor Kenzo untuk melakukan pembedahan. Sebuah pengalaman berarti bagi Lyra karena orang sehebat profesor Kenzo mau mengajarinya cara meng-operasi beberapa kasus khusus.
Lyra pun semakin bersemangat dengan pelajaran baru dan pengalaman baru. Walaupun dirinya hanya sebagai dokter residen, tapi dirinya bisa melihat langsung prosesnya dan mempelajari banyak hal. Selama operasi berlangsung, Lyra fokus pada pasien dan perintah dari atasannya tersebut. Hingga operasi yg berlangsung selama beberapa jam itupun selesai.
Semua tim dokter pun lega karena operasinya sukses dan pasien bisa diselamatkan. Lyra juga bahagia mendapatkan pengalaman baru kali ini.
"Bagaimana tidak sulit bukan?" tanya Kenzo.
"Semua karena anda prof.. pemula sepertiku pasti takkan berhasil." ucap Lyra.
"Ya.. kau harus sering mengikuti seniormu melakukan operasi.. dan banyaklah belajar.. " ucap Kenzo.
"Baik prof.." ucap Lyra tersenyum.
"Baiklah, nanti aku akan mengajak beberapa dokter baru dalam operasiku.. nanti aku kabari jadwal untukmu dan dokter residen lainnya..." ucap Kenzo.
Dan sebagai dokter residen, Lyra tetap semangat menjalaninya walau berat. Begitu juga dengan Dion dan Santi di bagian yg berbeda. Tahun-tahun berat mereka pun dimulai, mereka akan berangkat pagi hari dan akan pulang pada malam hari. Dan artinya sebagai dokter residen mereka sedang menempuh pendidikan sambil bekerja untuk menjadi dokter spesialis.
Semua mereka lakukan dengan harapan mereka bisa menjadi dokter spesialis sesuai impian mereka. Tak jarang Lyra bahkan shift malam dan pulang pagi.
.
.
.
Sementara itu, di kantornya nampak James tak tenang setelah melihat kedekatan Lyra dengan rekan kerjanya. Dirinya mengetuk-ngetuk meja dengan pulpennya.
Tukk..tukk..tukk..
"Ada apa tuan? kenapa dokumennya belum diperiksa?" tanya Ben.
"Aku sedang memikirkan siapa si bre***ek itu?" ucap James.
"Maksud anda siapa tuan?" tanya Ben.
"Pria yg bekerja di rumah sakit bersama Lyra." ucap James.
"Apa anda cemburu pada nona?" tanya Ben.
"Ck.. kau itu mau tahu sekali." ucap James.
"Kau itu tidak bisa berbohong tuan.. aku cukup mengenalmu." balas Ben.
"Baiklah, lalu tugasmu sekarang caritahu siapa pria yg bekerja dengan Lyra." ucap James.
"Tuan karyawan rumah sakit bukan hanya satu atau 2 orang.. mungkin ada puluhan." ucap Ben.
"Ck.. pokoknya caritahu.. titik." ucap James.
"Jika ingin dokumen ini aku selesaikan hari ini cepat cari tahu." perintah James.
"Baiklah." ucap Ben.
Ben pun keluar dari ruangan dengan menghela nafas. Sekarang tuannya nampak sedang jatuh cinta dan suka seenaknya. Dulu bahkan saat dengan Camila lebih parah lagi. Tapi untungnya Lyra bukan wanita aneh dan semua tentangnya selalu hal positif.
Selang beberapa jam, Ben datang dengan membawa berkas karyawan rumah sakit tempat Lyra bekerja.
"Ini tuan yg anda minta tadi pagi." ucap Ben.
"Bagus Ben.. dan ini tugasku.." ucap James bertukar dokumen.
James pun melihatnya dengan seksama. Dan ia mengingat-ingat rupa pria yg bicara dengan Lyra. Dia tinggi dan memakai kacamata, berambut hitam gelap.
__ADS_1
Hingga ia melihat sebuah nama dengan latar belakang luar biasa. Seorang profesor muda yg sudah diakui kemampuannya. Bahkan lulusan dari luar negeri. Belum lagi wajahnya yg awet muda dan terlihat tampan membuat James semakin kesal.
Brakk..!!!
"Ada apa tuan?" tanya Ben berlari masuk.
"Tidak ada aku hanya kesal." balas James.
"Sudah ketemu orangnya tuan?" tanya Ben.
"Sudah.." balas James bermuka masam.
"Sepertinya bukan orang biasa." ucap Ben melihat berkas yg ada di meja.
"Prof.Kenzo.. lulusan universitas Xxxx.. sepertinya pria ini sangat hebat." ucap Ben.
"Apa hebatnya? aku juga lebih hebat punya perusahaan dan kekuasaan.. wajahku juga tampan dan tubuhku atletis, wanita manapun pasti melihatku." ucap James membanggakan diri.
"Itu benar, jadi tunggu apalagi tuan." ucap Ben.
"Maksudmu?" tanya James.
"Kalau anda yakin pada nona Lyra, anda harus meraih hatinya." balas Ben.
James pun terdiam sesaat dan berfikir. "Benar juga kata Ben.. dan aku pernah bilang Lyra boleh meninggalkanku jika bertemu pria baik.. Bodohnya aku.." gerutu James dalam hati.
"Baiklah Ben.. ucapanmu benar.. nanti siapkan reservasi resto tempat biasa." ucap James.
"Nantinya kapan tuan?" tanya Ben.
"Setelah Lyra mengabari." ucap James.
"Baiklah tuan.. segera kabari aku." ucap Ben.
.
.
Sementara itu, Bela dan Sandra pun datang ke perusahaan James untuk meminta pertanggungjawaban karena tiba-tiba Ben membatalkan perjanjian.
"Maaf tuan.. diluar ada nona Cam.. eh maksudku nona Bela.." ucap sekertaris James ditelepon.
"Ck.. Baiklah aku akan menemui mereka." ucap James.
"Ben.. kau sudah membatalkan perjanjian kita dengan Camila kan?" tanya James.
"Sudah tuan. Apa wanita itu datang kemari?" tanya Ben.
"Ya dan dirinya sudah berada di bawah." ucap James.
"Dasar wanita gila.." umpat Ben dalam hati.
James dan Ben pun menemui Bella dan asistennya Sandra. Dirinya nampak tak suka dengan kedatangan kedua wanita itu secara mendadak.
"Akhirnya kita bertemu lagi James." ucap Bella.
"Ya.. katakan apa maumu?" tanya James.
"Mengapa kalian membatalkan kontrak secara sepihak.?" tanya Bella.
"Bahkan kita belum memulai kontrak kan? jadi sah saja jika aku tak setuju." ucap James.
"Mana bisa begitu tuan.. kami sudah menyiapkan segalanya." ucap Sandra.
__ADS_1
"Benarkah? bukankah itu sudah resiko kalian..?" balas Ben.
"Ck.. Kau yakin ingin menolak berbisnis dengan kami? Kami memiliki hubungan dekat dengan induk perusahaan V.." ucap Bella.
"Tuan.. perusahaan V adalah target yg sulit ditemui." bisik Ben.
"Ck.. Seberapa menarik penawaranmu.?" tanya James.
"Sandra, tunjukan pada tuan James." pinta Bella.
"Silahkan tuan." ucap Sandra memberikan perjanjian baru.
"Baiklah.. akan aku periksa lagi.. kalian silahkan pergi." ucap James mengusir.
"Baiklah, kuharap kau tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini." ucap Bella.
James pun hanya diam dan menahan diri. Kenapa lagi-lagi wanita ini datang padanya setelah serangkaian masalah yg telah dibuatnya.?? James pun tak habis pikir pada apa yg direncanakan oleh Camila.
"Ben periksa semuanya dengan detail." ucap James.
"Baik tuan." ucap Ben.
.
.
.
Sementara itu, Lyra pun sedang istirahat dengan Santi dan Dion. Mereka tengah asik berbagi cerita.
"Bagaimana Lyra apakah tempatmu aman?" tanya Santi.
"Aman darimana? selalu sibuk." ucap Lyra.
"Kau sendiri San?" tanya Dion.
"Ya sama saja.. selalu begitu." ucap Santi.
"Kau Dion?" tanya Lyra.
"Hidupku bagaikan denyut jantung yg sedang berolahraga.." kelakar Dion.
"Hahaha.. nasib kita sama." ucap mereka tertawa.
Namun, secara tiba-tiba datang sebuah paket di meja resepsionis atas nama Lyra. Lyra pun menghampirinya dan menerima makan siang lengkap dari sebuah resto. Dan nama pengirimnya adalah James, membuat Lyra tak percaya. Setelah 4 tahun menikah baru ini pria dingin itu mengiriminya makanan.
"Ciee.. ada yg lagi romantis." ucap Santi.
"Dia agak aneh belakangan." ucap Lyra.
"Aneh, tapi kau suka kan?" goda Dion.
"Mau ditolak tapi sudah jadi suami.." balas Lyra.
"Hmm.. kayaknya nanti kita punya keponakan Dion." ucap Santi.
"Ya semoga tak semenyebalkan ayahnya." balas Dion.
"Hayalan kalian terlalu jauh.. James hanya bilang ingin memulai semuanya dari nol." ucap Lyra.
"Udah kayak isi ulang bbm aja Lyr.. hahaha.." balas Dion.
"Mulai dari nol ya kakk.." tiru Santi meniru iklan bbm.
__ADS_1
Mereka pun tertawa bersama.