
Devi pun bisa bebas dari gangguan perjodohan kakeknya tersebut. Dan lagi Sammy juga bebas dari Wendy. Mereka sama-sama mendapatkan keuntungan dan tak ada yg dirugikan. Devi pun bisa bebas kemanapun selama 6 bulan kedepan. Mungkin setelah 6 bulan Devi bisa meminta bantuan Davi untuk keluar dari perjodohan.
"Setidaknya 6 bulan ini aku bebas.. semoga Sammy juga begitu.." gumam Devi dalam hati.
Walaupun dirinya sempat berdebar saat bersama Sammy tapi Devi berusaha sadar dan tahu diri. Dirinya tak mau memanfaatkan situasi, karena dia bukanlah wanita yg suka memanfaatkan situasi dan juga ingin merasa dicintai bukan hanya mencintai saja.
Dan selama 6 bulan kedepan dirinya juga tak bisa jalan dengan pria manapun karena masih terikat sandiwara dengan Sammy. Tapi itu bukan hal besar bagi Devi.
Hingga salah satu klien Devi bernama Jeremy menghubunginya. Pria itu memberi kabar kalau dirinya baru pulang dari Italia untuk urusan bisnis dan ingin memberi Devi sebuah hadiah. Devi yg malas pun memintanya mengirimkannya saja kerumahnya.
Tapi pria itu menolak dan tetap mengajaknya bertemu. Devi pun mengabaikannya saja karena baginya rebahan di rumah adalah sebuah kenikmatan tiada tara setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan.
"Dasar pria merepotkan, tak tahu apa aku sedang menikmati waktu luangku.. masa bodo dengan hadiahnya aku cuma mau rebahan.." gumam Devi.
Esoknya Devi pun kembali bekerja di kantornya, kembali dengan sejumlah rutinitas hariannya yg padat. Jeremy yg belum menyerah pun menghampirinya di kantornya.
"Nona, ada tuan Jeremy." ucap Boby.
"Baiklah suruh masuk."
Boby pun mempersilahkannya masuk dan dirinya langsung keluar untuk menghargai atasannya.
"Hai Dev.. " sapa Jeremy.
"Hai Jer.. ada apa?" tanya Devi.
"Apalagi kalau bukan menemuimu dan memberi hadiah." balasnya.
"Terimakasih hadiahnya.. tapi aku sangat sibuk." ucap Devi.
"Aku hanya akan mampir sebentar." ucap Jeremy.
"Oke.." balas Devi tersenyum menerima hadiah.
"Mau makan siang nanti?"
"Tak bisa janji, aku bahkan tak tahu pekerjaan ini selesai kapan." balas Devi mencoba menghindar.
"Baiklah, aku akan menelponmu pada jam makan siang." ucap Jeremy.
"Ya.." balas Devi singkat.
Jeremy pun keluar dari ruangan Devi, dirinya melihat Boby dan bertanya sesuatu padanya.
"Bob.. kau sudah menikah kan?" tanya Jeremy.
"Benar.. ada masalah apa tuan?"
"Jadi kau tidak mungkin tertarik bukan pada atasanmu Devi?"
"Tentu saja tuan, aku masih setia pada istriku." balas Boby.
"Bagus.. kabari aku jika ada pria yg mendekati Devi." balas Jeremy lalu berlalu tanpa mendengarkan penjelasan Boby kalau Devi sedang menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Tuan.. dengarkan dulu.." ucap Boby tapi Jeremy hanya melambaikan tangan.
"Aahh.. dasar.." gerutu Boby.
Boby pun menceritakan hal itu pada Devi dan Devi tertawa mendengarnya. Setelah itu, Devi meminta asistennya itu untuk berhati-hati dan tak membocorkan jadwalnya pada pria tersebut.
.
__ADS_1
.
.
Pada jam makan siang, lagi-lagi Sammy menghubunginya untuk makan bersama. Devi yg masih punya waktu pun mengiyakan ajakan sahabatnya tersebut.
"Baguslah Sammy duluan yg mengajakku.." gumamnya.
Saat Devi keluar dari kantornya untuk menemui Sammy, Jeremy pun muncul dihadapannya. Langsung saja pria itu dengan penuh percaya diri menghampiri Devi.
"Hallo Dev, kau pasti ingin makan denganku??" tanyanya dengan penuh percaya diri.
"Maaf Jer, temanku sudah duluan mengajakku makan malam." ucap Devi.
"Apa?? siapa?? kau bilang blm ada janji.."
"Beberapa saat yg lalu dia menelponku .." balas Devi tersenyum.
Sementara itu Sammy pun keluar dari mobilnya setelah melihat Devi bersama seorang pria. Insting curiganya pun muncul dan ingin melindungi Devi dari pria tersebut.
"Hai Dev, kenapa lama sekali?" tanya Sammy sembari menatap pria tersebut.
Jeremy pun tak mau kalah dan balik menatap tajam Sammy. Devi pun langsung menyudahi dan mengajak Sammy pergi.
"Samm.. maaf temanku menyapaku.. namanya Jeremy.." ucap Devi.
"Oh, salam kenal.. aku Sammy kekasihnya.." ucap Sammy spontan.
"Kekasih? kau bercanda??" tanya Jeremy tersenyum.
"Iya itu fakta Jer, maaf ya baru memberitahumu.. " balas Devi.
"Sampai jumpa lagi Jeremy." balas Sammy tersenyum.
Mereka pun langsung masuk ke mobil dan tatapan Sammy pun terlihat begitu mengintimidasi Devi.
"Berhenti menatapku begitu, rasanya seperti habis ketahuan selingkuh." ucap Devi.
"Siapa Jeremy?" tanya Sammy.
"Salah satu rekan bisnis.. dia baru kembali dari Itali.." ucap Devi.
"Oh.. apa dia pria baik? kurasa tidak." ucap Sammy bertanya lalu menjawabnya sendiri.
"Dia pria baik, tapi aku tak tertarik padanya.. kau puas Sammy?" balas Devi.
"Baguslah.. aku tak bisa mengawasimu 24 jam." ucap Sammy.
"Ckk.. kau itu manusia bukan cctv jangan bercanda." ucap Devi.
"Aku serius, aku hanya tak ingin kau salah mengenal seorang pria, sebaik apapun dia tetap pria dan bisa berbahaya.." ucap Sammy.
"Memangnya kau salah satu jenis gender apa kalau bukan pria?" sindir Devi.
"Aku pengecualian.." balas Sammy.
"Mana ada, kau juga pria.." ucap Devi.
"Ck.. Pokoknya hati-hati pada pria manapun." ucap Sammy.
"Termasuk dirimu ya.." balas Devi.
__ADS_1
"Oke.." balas Sammy.
"Mau makan apa?" tanya Sammy.
"Terserah.." balas Devi sudah terlanjur kesal.
"Mana ada resto, cafe atau tempat makan namanya terserah disini.." gerutu Sammy karena jika wanita sudah berkata terserah adalah awal dari perang dingin.
"Tempat biasa saja."
"Oke." ucap Sammy lalu membawa Devi kesana.
Disana mereka makan bersama lalu istirahat sejenak. Devi pun masih kesal pada Sammy dan tak banyak bicara.
"Dev kau masih kesal?" tanya Sammy.
"Hmm.." balaa Devi singkat.
"Maaf.. aku hanya tak ingin kau mengalami hal buruk." balas Sammy.
"Oke.. posesif berlebihan juga tak baik." balas Devi.
"Maaf kalau begitu." ucap Sammy tersenyum.
"Ya.. aku paham kau pasti cemas karena aku tinggal sendiri." balas Devi.
Setelah itu, Sammy pun mengantar Devi kembali ke kantornya dan dirinya kembali ke rumah sakit. Entah apa alasannya tapi Sammy lebih suka makan siang dengan Devi daripada makan siang di rumah sakit tempatnya bekerja.
.
.
.
Di tempat lain, nampak Wendy sangat frustasi. Dirinya tak bisa menemui Sammy atau mendekatinya lagi setelah ucapan dari dadnya. Dirinya sadar tindakannya salah, tapi disisi lain dirinya juga tersiksa.
Wendy pun menangis di kamarnya dan mengunci diri. Sudah beberapa hari dirinya tak masuk kantor. Sungguh tindakan yg kekanakan dan tak dewasa, jika bukan bekerja di kantor milik dadnya pastilah Wendy sudah dipecat.
Bella pun mencarinya dan beberapa pelayan bilang kalau putrinya berada di dalam kamar. Bella pun memaksa masuk dengan kunci cadangan dan menemui putrinya.
"Wendy sayang ada apa??" tanya Bella.
"Mom.. bagaimana bisa masuk?"
"Tentu saja dengan kunci cadangan.. ada apa? kau habis menangis?" tanya Bella.
"Begitu terlihat?" tanya Wendy.
"Matamu merah dan sembab, itu sangat jelas.." ucap Bella menunjuk ke arah cermin.
"Iya, aku baik-baik saja mom." ucap Wendy.
"Jangan berbohong.. katakan ada apa?" tanya Bella.
Hingga mau tak mau Wendy menceritakan kisah cintanya yg bertepuk sebelah tangan. Bella pun mendengarkannya dan memberikan sedikit masukan, yg tentunya hal yg sangat berani bagi Wendy.
"Mom, apakah itu tak berlebihan?" tanya Wendy.
"Wendy, dimana-mana pria itu sama saja.." ucap Bella.
"Oh.. begitu ya mom." balas Wendy tersenyum kecut mendengar ide gila momnya.
__ADS_1