
Violet pun selama di Indonesia tinggal dengan Sammy, dan Sammy tak keberatan akan hal itu. Terlebih Kenzo memintanya untuk mengawasi adiknya tersebut. Namun, Violet jauh dari kata wanita yg rajin. Dirinya nampak pemalas dan membuat apartemen Sammy berantakan.
"Vio..!! apa-apaan ini?? kenapa jadi berantakan begini??" tanya Sammy baru pulang kerja pagi itu.
"Hai kak, maaf aku tak bisa tidur, jadi aku tidur di sofa sambil menonton tv dan makan camilan.." ucapnya tanpa dosa.
"Astaga.. pantas mama sering bertengkar denganmu." ucap Sammy menatapnya.
"Hehe.. maaf kakakku sayang.." ucap Vio mencoba meluluhkan hati kakaknya.
"Hhh.. cepat bereskan.. nanti bau ruangan ini." ucap Sammy.
"Baiklah.." ucap Vio lalu mengambil ponselnya sementara Sammy masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan beristirahat.
1 Jam kemudian terdengar suara dari luar dan Sammy tersenyum mengira adiknya sedang bersih-bersih apartemennya.
"Vio harus dilatih disiplin.." gumamnya tersenyum.
Kemudian Sammy pun keluar untuk melihat ruangannya. Dan bukannya senang Sammy justru terdiam melihat petugas kebersihan sedang membersihkan apartemennya.
"Bagaimana kak? aku pintar kan??" tanya Vio tersenyum.
"Kau itu pemalas sekali.." ucap Sammy menepuk jidatnya.
"Hehe.. kalau ada tenaga profesional kenapa tidak dipakai.." balas Vio tersenyum.
"Astaga, yasudah bilang pada mereka untuk berhati-hati pada barang-barangku." ucap Sammy lalu masuk ke dalam kamarnya lagi.
Sammy pum pusing melihat tingkah laku Vio yg benar-benar malas dalam pekerjaan rumah. Lalu beberapa menit kemudian, pintunya pun diketuk dan Sammy pun keluar dari kamarnya.
"Ada apa Vio?" tanya Sammy.
"Kakakku yg tampan, lihatlah ini.." ucap Vio memberikan tagihan dari tim kebersihan.
"Lalu kenapa? aku sudah melihatnya." balas Sammy tersenyum kesal.
"Ini kan apartemenmu, dan aku tak punya penghasilan, kau tahu kan maksudku kak.." ucap Vio tersenyum.
Sammy pun mau tak mau membayar tagihan tersebut. Dan menatap tajam pada adiknya itu.
"Vio, belajarlah bertanggungjawab.. aku disini hidup sendiri jadi kau juga harus mandiri." ucap Sammy.
"Baiklah kak.." ucap Vio.
"Habis pakai sesuatu langsung dicuci jadi cucian piring pun tak menumpuk." ucap Sammy.
"Baik kak." ucap Vio menunduk.
"Kau punya waktu beberapa bulan untuk berpikir tentang masa depanmu, dan juga memikirkan apa yg bisa kau lakukan saat ini." ucap Sammy menasehati Vio.
"Kak.. sekarang papa tidak memberiku uang jajan lagi." ucap Vio.
"Makanya kau menemuiku karena uangmu sudah habis.. benar kan?" tanya Sammy.
"Iya benar.." ucap Vio tersenyum.
"Hh.. baiklah, kau boleh tinggal disini aku akan membantumu tapi jangan membuat masalah dan membuat apartemen ini berantakan." ucap Sammy.
"Terimakasih banyak kak.." ucap Vio tersenyum.
__ADS_1
"Ya.. kau masih punya uang saku?" tanya Sammy.
"Sedikit.." ucap Vio.
"Aku akan mentransfer uang untuk bulan ini, jangan langsung kau habiskan karena aku takkan memberikannya lagi." ucap Sammy agar Vio bisa belajar berhemat.
"Benarkah?? kakak memang yg terbaik." ucap Vio senang.
"Oke.. kau ingat kan pesanku?" ucap Sammy.
"Jangan buat masalah dan jangan buat apartemen berantakan." ucap Vio.
"Good, lakukan sesuai yg kuperintahkan." ucap Sammy.
"Siap tuan Sammy, aku bahkan siap menjadi pengawalmu." ucap Vio.
"Memangnya aku siapa sampai butuh pengawal segala." ucap Sammy.
"Sudah, aku mau tidur.. jangan pergi tanpa ijinku.. " ucap Sammy.
"Baik kak.." ucap Vio senang.
Vio pun sangat senang, karena ditengah kegalauannya kakaknya masih mau menampungnya. Dirinya tahu papanya masih marah padanya karena memilih pekerjaan yg berbahaya. Tapi ini adalah hidupnya, Vio pikir tak ingin menyesalinya seumur hidupnya. Dan semua kini membuatnya bingung harus berbuat apa.
"Apa yg harus kulakukan beberapa bulan kedepan?? jika kak Sammy menikah siapa yg akan menampungku?? sepertinya aku harus bekerja atau kembali kuliah." gumam Vio dalam hati.
Vio pun menghubungi Devi untuk meminta sarannya dan mengajaknya bertemu. Tentu saja Devi senang Vio mengajaknya bertemu. Setelah mendapatkan ijin dari Sammy, Vio pergi menemui Devi di sebuah cafe.
"Kak Devi maaf aku terlambat." ucap Vio.
"Tak apa, duduklah." ucap Devi.
"Terimakasih." ucap Vio tersenyum.
"Vio, apa tak ada pilihan kedua?" tanya Devi.
"Ada, tapi aku sangat menginginkan pekerjaan itu." ucap Vio.
"Kurasa, jawabanku akan sama seperti kakakmu..lebih baik kau memikirkannya dengan baik." ucap Devi.
"Begitu ya kak." ucap Vio mengerti.
"Nona Devi, ayo ikut kami." ucap seseorang tiba-tiba.
"Kalian..!" ucap Devi.
"Siapa mereka kak?" tanya Vio.
"Orang suruhan kakekku.. ayo Vio kita kabur." ucap Devi.
"Kabur??" Vio pun terkejut mendengarnya.
Bukannya kabur, Vio malah menyiram salah seorang dengan minumannya. Lalu menendangnya hingga jatuh saat dirinya teralihkan. Lalu mendorong meja dihadapannya untuk membuat mereka mundur.
"Ayo kak kita lari.." ucap Vio menarik tangan Devi.
Devi pun masih terkejut dengan apa yg Vio lakukan. Dan Vio langsung menarik tangannya untuk segera kabur. Beberapa orang suruhan kakeknya pun terus mengikuti mereka.
"Nona jangan lari .. ayo pulanglah.." ucap para pengawal tersebut.
__ADS_1
Sementara kedua wanita itu terus berlari untuk menghindari mereka. Hingga mereka salah masuk sebuah gang dan menemukan jalan buntu.
"Tidak.. jalan buntu.." ucap Devi.
"Nona.. anda tak bisa kabur lagi, ayo ikut kami pulang.." ucap pengawal tersebut.
"Kata siapa kami tak bisa kabur??" tanya Vio penuh percaya diri.
"Vio.. mereka itu pintar bertarung dan kita takkan sanggup menghadapinya." ucap Devi.
"Kak mundurlah.. aku akan menghadapi mereka." ucap Vio.
"Maju kalian.." ucap Vio tapi mereka justru tertawa mendengarnya.
"Gadis kecil lebih baik kau pulang saja ke rumah orang tuamu." sindir mereka.
Vio pun semakin kesal dan memukuli mereka hingga pingsan. Dan Devi terkejut melihatnya. Pantas saja Vio menginginkan pekerjaan tersebut dengan kemampuannya ini.
"Ayo kak kita pulang. " ucap Vio menarik tangan Devi.
"Kau tak apa?"
"Iya.. kakak tenang saja." ucap Vio.
"Lain kali jika keluar ajak aku saja, aku akan menjagamu dari mereka." ucap Devi.
"Kau itu bukan pengawal pribadiku.." ucap Devi.
"Aku bisa menjadi pengawal pribadimu.. dan aku tak butuh bayaran karena kak Sammy sudah memberiku uang." ucap Vio.
"Dasar kau ini.. besok temani aku ke butik untuk mencari gaun pertunangan." ucap Devi.
"Oke.. aku siap mengawalmu." ucap Vio.
Devi pun tersenyum melihat tingkah Vio, gadis yg terlihat polos itu ternyata tak sepolos yg terlihat. Dirinya akan terlihat sangat berani saat sedang serius. Devi merasa pekerjaan impian Vio sangat cocok untuknya walaupun resikonya sangat besar.
.
.
Sementara Sammy dirinya pun bangun dari tidurnya. Dirinya harus kembali bersiap untuk ke rumah sakit karena mendapat jam malam. Dirinya mengecek ponsel dan mendapat laporan kalau adiknya itu masih bersama Devi. Tak lupa Sammy memintanya untuk pulang sebelum jam 7 malam.
Tapi tak lama kemudian, Vio sudah pulang karena Devi langsung memintanya pulang walaupun Vio sangat bosan di apartemen.
"Bagus, kau pulang sebelum aku pergi bekerja." ucap Sammy.
"Tentu kak.. hari ini aku mengawal kak Devi dari orang suruhan kakeknya." ucap Vio.
"Apa?? kau terluka?? apa yg terjadi?" tanya Sammy.
"Tenang dulu, aku bukan wanita yg lemah.. justru mereka yg sepertinya terluka." ucap Vio.
"Vio jangan cari masalah.. aku sudah bilang kan?" ucap Sammy khawatir.
"Tadi itu mendesak kak.. mereka ingin membawa kak Devi pulang." ucap Vio.
"Lain kali hati-hati.. papa masih marah padamu.. " ucap Sammy.
"Baik.. aku akan mengingatnya." ucap Vio.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menjaga Devi.. setidaknya kerja bagus adikku." ucap Sammy tersenyum.
"Oke.. selamat bekerja kak.." ucap Vio tersenyum.