Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.130 Hancur dan tak berguna


__ADS_3

Wendy pun menyadari semua kebodohannya yg dibutakan oleh cinta dan termakan ucapan momnya. Wanita itu pun mulai menangisi takdir hidupnya, masa depannya hancur karena nyatanya dirinya dilecehkan oleh tiga pria tak dikenal dalam satu malam. Seisi kantor pun membicarakannya hingga dirinya takkan mampu menampakkan wajahnya di kantor.


Wendy juga menerima fakta bahwa Sammy pria yg dicintainya adalah kakak tirinya sendiri. Sebuah tamparan fakta yg sangat menyakitkan. Akhirnya dirinya baru menyadari kata-kata Sammy kalau mereka takkan pernah bersama. Tapi anehnya Sammy tak pernah berkata yg sejujurnya padanya.


Wendy pun berniat pergi ke rumah sakit mengunjungi Sammy besok. Dan malam ini, Vina datang ke rumahnya. Tentu saja Wendy merasa takut karena ini adalah ulahnya.


"Wendy.. mari kita bicara.." ucap Vina tegas.


"Baik nek." ucap Wendy.


Mereka pun bicara empat mata di ruangan kerja James. Dan nampak Vina begitu kesal karena Wendy begitu mirip dengan ibunya yg gila itu.


"Apa kau sudah tahu apa kesalahanmu?" tanya Vina.


"Iya.. aku sudah memfitnah saudaraku sendiri." ucap Wendy.


"Makanya kalau punya otak itu dipakai..! kau kira enak dipukuli??" tanya Vina kesal.


"Maaf nek.." ucap Wendy menangis.


"Ayahmu mendidikmu agar kau tak jadi wanita murahan, kenapa kau berubah hanya karena bertemu ibumu beberapa bulan?" tanya Vina kesal.


"Aku.. aku ingin mencoba hal baru.." ucap Wendy.


"Hal baru? ayahmu sudah memperingatkan dan kau tetap melakukannya, hingga kehilangan kehormatanmu.. bukannya sadar kau malah melimpahkan kesahalahannya pada saudaramu?? kau itu manusia bukan sih??" tanya Vina kesal.


"Maaf nek.. aku hanya mencintainya.. " ucap Wendy sambil terisak.


"Harusnya kau minta maaf pada ayahmu yg berada di penjara dan saudaramu yg berada di rumah sakit." ucap Vina.


"Aku akan mengunjunginya besok.." ucap Wendy.


"Dan masalah tak akan selesai begitu saja.. kau bahkan tak mampu mengurus perusahaan, kalau aku sudah mati siapa yg mempertahankan perusahaan? " ucap Vina begitu kesal.


Sementara Wendy hanya menangis dan terisak. Kata-kata neneknya begitu menusuk hatinya dan membuatnya tersadar akan kegilaannya. Bagaimana pun perusahaan akan kacau karena ayahnya berada di penjara. Mungkin sahamnya sudah anjlok karena skandal yg ia buat dan ayahnya yg sudah ditahan. Wendy pun tak mampu mengatakan apa-apa lagi, dirinya sudah sangat hancur dan tak berguna.


"Wendy, setiap munggunya cek kehamilan dengan tespack.. kita tidak tahu apa yg akan terjadi selanjutnya." ucap Vina.


"Te-tes kehamilan??" tanya Wendy teringat hal penting.


"Ya.. bagaimanapun kau itu wanita normal yg memiliki kemungkinan bisa hamil." ucap Vina.


"Baik nek.." seketika Wendy pun menyadari kebodohannya yg lain.


"Ingat.. saat ini kau hanya punya aku jika kau membangkang kau akan kuusir dan tinggal saja bersama ibumu yg jahat itu.." ucap Vina kesal.


"Aku tahu aku salah, tapi perlukah nenek menghina ibuku?" tanya Wendy terisak.


"Maaf, tapi itu fakta.. kau bahkan berubah setelah dekat dengannya.. dulu kau adalah gadis polos yg menurutiku dan ayahmu.. tapi lihat sekarang.." ucap Vina.


Wendy pun memilih keluar dari ruangan yg sesak tersebut. Ucapan neneknya benar-benar menyakitinya sekaligus menyadarkannya. Bagaimana bisa dirinya bisa setenang tadi siang setelah dilecehkan?? bagaimana kalau dirinya hamil?? siapa yg akan bertanggungjawab?? lalu nama baiknya sudah pasti hancur. Bahkan jika perusahaan ayahnya bankrut mungkin mereka akan hidup susah.


Wendy pun mengurung diri di kamar dan menangis. Ya hanya itu yg dapat ia lakukan, karena dirinya terlalu manja dan bodoh. Sementara Vina tengah menangani masalah kantor karena tuan Tian menarik beberapa saham dan memutus hubungan kerjasama. Belum lagi harga saham mereka yg anjlok setelah James ditahan hari ini dan aib Wendy terbongkar.


"Apa ini hukuman yg harus aku terima di usia setua ini?" gumam Vina dalam hati.


Sementara James pasti akan ditahan di penjara, pasti Vina yg harus kerepotan mengurus perusahaannya. Dan Wendy sama sekali tak berguna karena tak ada prestasi yg bisa dibanggakan bahkan sering membuat masalah dikantor hingga beberapa staf mengundurkan diri.

__ADS_1


Dan Sammy, cucu satu-satunya yg ia harapkan adalah seorang dokter bedah jantung, bukan pebisnis. Pastilah Sammy lebih memilih profesinya tersebut daripada membantunya mengurus perusahaan.


.


.


.


Keesokannya, Sammy pun tersadar dari tidur panjangnya. Dirinya sudah berada di ruang perawatan sebuah rumah sakit dan ada kedua orangtuanya yg menjaganya.


"Samm.. kau bisa mendengar suaraku?" tanya Kenzo.


"Papa.. mama.. kalian datang rupanya." ucap Sammy.


"Sayang.. akhirnya kau sadar juga." ucap Daphny.


"Iya.. mama jangan khawatir.. aku cukup kuat." ucap Sammy.


"Iya mama tahu.." ucap Daphny.


"Samm jangan banyak bergerak kau istirahat saja dan katakan apa yg kau butuhkan." ucap Kenzo.


"Baik pa." ucap Sammy tersenyum.


Sejujurnya seluruh tubuhnya sangat sakit karena dipukuli tanpa ampun oleh James dan anak buahnya. Serta Sammy penasaran apa yg terjadi hingga ia bisa bebas dan bersama orang tuanya. Tapi kondisinya yg baru sadar masih lemah dan langsung tertidur lagi.


Beberapa jam kemudian, Sammy pun tersadar dan melihat kedua orangtuanya masih bersamanya.


"Mama papa.. Vio mana?" tanya Sammy.


"Kau baru sadar sudah menanyakan adikmu.." ucap Daphny.


"Kau tenang saja, nanti dia akan menyusul kemari." ucap Daphny.


"Adikmu bukan anak kecil lagi Samm." ucap Kenzo.


"Pa.. maa.. sekarang jujurlah apa yg terjadi saat aku tak sadarkan diri?" tanya Sammy.


Kenzo dan Daphny pun berkata jujur apa yg terjadi, serta bagaimana cara mereka membebaskan Sammy. Sammy pun sudah menebak pasti identitas ibunya akan terbongkar karena insiden ini.


"Maaf ma.. gara-gara aku mama jadi ketahuan." ucap Sammy.


"Tidak Sammy, ini bukan salahmu semuanya takdir. Mama tak bisa selamanya bersembunyi." ucap Daphny tersenyum.


"Mamamu benar, dan kami akan selalu ada untukmu.." ucap Kenzo.


"Terimakasih ma..pa.." ucap Sammy yg bahagia memiliki orangtua yg selalu ada untuknya.


Perlahan-lahan Sammy pun mulai mencoba bergerak dan makan makanan yg disediakan untuk menambah energinya. Daphny pun dengan senang hati menemani putranya tersebut. Sementara Kenzo menghubungi orang-orangnya yg menemani Vio datang ke Indonesia.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, Vio pun tiba di Indonesia. Negara dimana ibunya lahir dan tumbuh. Dirinya pun langsung dijemput oleh orang suruhan papanya menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


Vio pun datang dan melihat kondisi kakaknya yg terlihat babak belur. Sejujurnya dirinya sedih melihatnya dan tahu kebenarannya tapi gadis itu pura-pura tak tahu dan mencoba menghibur semua orang.


"Permisi.." ucap Vio datang.


"Vio akhirnya kau datang.. semuanya aman kan?" tanya Kenzo.


"Aman pa.. lihat aku baik-baik saja kan?" balas Vio.


"Kakak.. wajahmu semakin tampan seperti badut.. " ucap Vio jahil.


"Awas kau ya.. baru datang sudah mengejekku.." ucap Sammy sementara Vio tersenyum.


"Bagaimana kondisimu kak?" tanya Vio.


"Menurutmu?" balas Sammy.


"Sepertinya baik-baik saja.." ucap Vio menyentuh bagian yg memar di wajah Sammy.


"Akkhh.. Vio itu sakit jangan disentuh.." ucap Sammy.


"Hehe.. maaf kak.. kukira hanya warnanya saja yg indah seperti blush on." ucap Vio.


"Ckck.. kakaknya sakit malah cari gara-gara.." ucap Sammy.


Semua orang pun tertawa dengan tingkah mereka berdua. Setelah itu Daphny dan Kenzo pun pergi ke suatu tempat dan meminta Vio menjaga kakaknya. Mereka berdua pun berbicang karena sudah lama tak bertemu. Sikap keduanya yg sangat akrab meski bukan saudara kandung pun terlihat begitu hangat.


Hingga sebuah ketukan pintu dan mereka mengira itu orangtuanya.


"Masuk.." ucap Vio.


Dan wajah Wendy pun muncul, Vio pun merasa asing dengan wanita tersebut.


"Kau siapa? " tanya Vio.


"Dia Wendy.. putri tuan James.." ucap Sammy pada adiknya.


"Oh.. ada perlu apa?" tanya Vio sinis karena tahu apa yg terjadi sebenarnya.


"Aku ingin bicara pada dr.Sammuel." ucap Wendy.


Vio pun menoleh pada kakaknya dan Sammy memintanya menunggu diluar. Vio pun keluar menghormati kakaknya tersebut.


Cukup lama mereka bicara hingga Wendy keluar sambil menangis.


"Apa yg kau katakan pada kakakku?" tanya Vio menatap Wendy tajam.


"Bukan urusanmu." ucap Wendy ketus.


"Tentu saja dia urusanku, kau yg membuatnya begitu." ucap Vio tak mau kalah.


"Kau itu hanya adik tirinya." ucap Wendy.


"Aku tahu dan kau pun begitu.. benarkan?" tanya Vio.


"Ck.. aku tak punya urusan denganmu.." ucap Wendy pergi.


"Dengarkan aku, jika kau memfitnah atau membuat kakakku celaka lagi aku takkan tinggal diam." ancam Vio lalu Wendy pun pergi begitu saja.

__ADS_1


"Ckk.. dasar bit**hh..!!" gerutu Vio.


__ADS_2