
Setelah acara pertunangan antara Sammy dan Devi usai, keduanya pun menetap di Singapura. Segala urusan pekerjaan Sammy pun sudah kembali seperti dulu dan masalah rumah sakit di Indonesia sudah teratasi serta stabil.
Sementara Vio, dirinya pun merenungi nasibnya. Memilih untuk berontak dan mencari jati dirinya atau kembali kuliah dan berada sesuai jalur yg ia pilih di awal. Gadis itupun tak tahu harus mengambil langkah apa tapi yg pasti berada di sekitar orangtuanya adalah jalan yg paling aman saat ini.
Di Singapura, Vio lebih bebas karena merupakan warga negara tersebut, berbeda dengan di Indonesia yg harus lebih berhati-hati. Situasi pun aman terkendali membuatnya bebas keluar rumah saat ini. Walaupun mobilnya ditahan oleh Kenzo dan dirinya kemana-mana akan naik taksi atau menumpang pada Sammy.
"Kau mau kemana??" tanya Sammy.
"Aku mau ke gym C.. tolong antarkan aku kak." pinta Vio.
"Oke.. ingat kalau ada yg mencurigakan segera tinggalkan tempat tersebut." ucap Sammy.
"Aku mengerti, tapi ini kan negara kita setidaknya mereka yg harus berhati-hati." ucap Vio.
"Tetap saja, mereka main keroyokan Vio.." ucap Sammy.
"Iya kak aku paham." ucap Vio.
"Ingat jangan keluyuran sampai malam." ucap Sammy.
"Oke."
Setelah menurunkan Vio, Sammy pun pergi ke rumah sakit untuk bekerja. Dan di negara ini membuatnya kembali tenang karena bisa berkumpul dengan keluarganya. Apalagi Devi juga lebih aman bersama orangtuanya.
.
.
Sementara itu, Davi masih ada tugas di Indonesia dan tiga bulan lagi baru bisa kembali. Davi pun mau tak mau harus tabah karena tak ada Devi maupun Sammy lagi di Indonesia.
Dan pasiennya bernama Rose sudah bisa pulang ke rumah dan hanya akan melakukan pengecekan rutin. Sejak kejadian pertengkaran itupun baik Rose maupun ibunya jadi akrab dan baik pada Davi. Mereka merasa tak enak sudah berbuat sesukanya di rumah sakit, apalagi Davi sudah melindungi Rose dari wanita aneh tersebut.
.
.
Sementara itu, Vio pun baru pulang dari berolahraga. Dirinya langsung kembali ke rumahnya dan istirahat. Saat ini dirinya bingung dengan langkahnya dan tak tahu harus kemana. Orangtuanya mendesaknya kembali berkuliah jika belum ada tujuan, tapi Vio belum siap. Hingga gadis itu hanya berdiam diri dirumahnya.
Devi yg mendengar kabar dari Vio pun ikut sedih. Devi sadar di usia Vio memang masih labil dan ingin mencoba banyak hal demi mencari jati diri. Dan Devi akan mengajaknya untuk bekerja dengannya sembari dirinya berpikir.
Menurut Devi tak ada salahnya bagi Vio untuk menjadi asistennya sementara untuk membantunya membuka sebuah perusahaan kecil. Vio pun akhirnya bisa bertemu dengan Devi dan mendengarkan ucapan Devi.
"Baiklah, aku akan mencobanya kak." ucap Vio.
"Oke.. aku tetap akan menggajimu walaupun tak sebesar bekerja di perusahaan besar karena aku baru merintisnya." ucap Devi.
"Lebih baik daripada aku dirumah." ucap Vio.
Vio pun akhirnya bekerja pada Devi dan belajar mencari uang. Orangtuanya dan Sammy pun tak keberatan karena mereka ingin Vio tahu betapa susahnya mencari uang. Dan agar Vio bisa memikirkan masa depannya.
Hari-hari pun berlalu, Vio belajar banyak dari Devi. Dan Vio tahu seberapa sulitnya mencari uang, serta menyesal meninggalkan kuliahnya demi ambisi bodohnya. Memilih pekerjaan berbahaya dan mengabaikan kuliahnya yg ia tahu nominalnya tak sedikit.
__ADS_1
"Bodohnya aku dulu.." gumam Vio dalam hati.
Vio pun akan melanjutkan kuliahnya semester depan walaupun ia tahu sudah tertinggal dari teman-temannya. Dirinya juga sudah bicara pada orangtuanya dan kakaknya. Devi pun tersenyum mendengar ucapan Vio yg bisa memutuskan tujuan hidupnya dengan benar.
Tapi ketenangan itu belum sepenuhnya tenang, karena orang-orang tuan Tian mengawasi gerak-gerik Devi. Apalagi Vio sering bersama Devi, dan kakek tua itu tahu apa yg sedang dilakukan oleh cucunya. Serta tuan Tian mengira Vio adalah pengawal pribadi Devi.
"Pintar sekali cucuku merekrut gadis itu.." ucap tuan Tian pada pengawalnya yg memata-matai Devi.
"Menurut info yg kuterima mereka selalu bersama dan gadis itu selalu menemani nona Devi."
"Saat ada kesempatan tangkap gadis itu dan juga cucuku." ucap tuan Tian.
"Baik tuan."
Begitulah perintah dari kakek tua tersebut, entah apalagi tujuannya kali ini. Yang pasti dirinya masih ingin cucunya menjadi penerusnya.
.
.
Siang itu, Devi pun sedang mengecek sebuah gedung yg akan dia gunakan untuk kantor kecilnya. Mungkin hanya satu lantai yg akan diisi kurang dari 10 staf karena Devi tak ingin buru-buru dan ingin menikmati setiap detilnya.
"Kantornya lumayan bagus kak." ucap Vio.
"Iya.. disinilah perusahaanku akan bermula.. mungkin hanya perusahaan kecil tapi aku harap bisa berkembang." ucap Devi tersenyum.
"Tak ada yg tak mungkin kak, aku mengecek beberapa keamanannya juga sepertinya akan bagus.. tapi karena gedung ini baru dibangun, kita harus bersabar untuk fasilitasnya." ucap Vio.
Tiba-tiba orang-orang tuan Tian datang dan memojokkan mereka.
"Nona Devi ikut dengan kami.."
"Aku tidak mau, nanti aku akan datang sendiri pada kakekku." ucap Devi.
"Beliau ingin bertemu dengan anda, jadi lebih baik ikut dengan kami."
"Kalian tuli?? nona kalian bilang tidak mau, jangan dipaksa." ucap Vio maju.
"Vio, jangan melawan mereka, ayo kabur.." ucap Devi.
"Aku akan buat pengalihan, kak Devi pergi dan aku akan menyusul." ucap Vio.
"Baik, aku akan menghubungi kakakmu." ucap Devi.
Vio pun maju menghadapi mereka, sementara Devi kabur saat ada kesempataan dan mencari bantuan.
Bughhh...
"Akh.."
"Vio..!!" teriak Devi.
__ADS_1
"Pergi kak.." ucap Vio menahan pukulan dari mereka.
"Sekarang kau tak bisa bergerak." ucap salah seorang menangkap Vio.
"Pergi kak..!!" teriak Vio.
"Nona, jangan kabur.." ucap pengawal tersebut dan Devi kabur mencari pertolongan.
Devi pun langsung menghubungi Sammy dan ayahnya untuk menyelamatkan Vio. Sementara Vio pingsan setelah dipukul di area kepalanya dan dibawa mereka ke suatu tempat untuk mendesak Devi datang.
Devi pun datang ke rumah sakit Sammy sambil menangis. Dirinya menyesal meninggalkan Vio.
"Sudah, Vio gadis yg kuat dan pemberani.. kita pasti bisa membebaskannya." ucap Sammy.
"Tapi.. kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?" tanya Devi.
"Tuan Tian takkan berani, karena dia pasti tahu siapa ayah kami." ucap Sammy.
"Apa rencana kita?" tanya Devi.
"Kita bicara dengan ayah kita dulu." ucap Sammy.
Mereka berdua pun menghubungi Dion dan Kenzo untuk masalah ini. Keduanya pun terkejut dan sangat marah pada tindakan kakek tua yg menyebalkan tersebut.
.
.
Sementara itu Vio, sudah tersadar dan sedang berada di sebuah kamar dalam kondisi terikat.
"Dimana ini?" ucap Vio.
"Kau sudah sadar gadis gila?" ucap salah seorang yg terdengar begitu menyebalkan bagi Vio.
"Ck.. kalian.. " ucapnya tersenyum.
"Masih bisa kau tersenyum.??"
"8 lawan 1 orang gadis, apakah itu adil?? apakah kalian seorang pria?" tanya Vio tersenyum.
"Kau cukup sombong rupanya nona Violet Dominiq." ucap tuan Tian.
"Oh tuan Christian.. apa anda adalah orang dewasa? bagaimana bisa menculik seorang gadis.?" balas Vio.
"Berapa cucuku membayarmu sebagai pengawalnya??"
"Aku bukan pengawalnya, aku hanya asistennya sementara." ucap Vio.
"Jadi bisakah anda melepaskanku? anda tidak takut pada keluargaku?" tanya Vio.
"Cih, kau bahkan tak ada takutnya." ucap tuan Tian.
__ADS_1