
Setelah tuan Benjamim makan, Ben pun kembali dan memintanya untuk bercerita. Tapi nampaknya saat kewarasaan seseorang hilang, mereka sulit untuk mendengarkan orang lain.
"Aku sudah memberimu makanan. Sekarang katakan apa yg kau ketahui." ucap Ben.
"Aku mengantuk." ucap Benjamin.
"Katakan dulu, nanti apa yg kau inginkan akan kuberikan." ucap Ben memberi penawaran.
"Aku mau makan enak setiap hari." ucap Benjamin.
"Oke.. jadi katakan apa yg terjadi?" tanya Ben.
"Tidak ada." ucap Benjamin mulai membuat Ben kesal.
"Maksudku mengenai bayi perempuan yg kau ceritakan tadi?" tanya Ben.
"Dia cantik, matanya bersinar.. tapi dia selalu menangis." ucap Benjamin.
"Lalu kau bawa kemana dia?" tanya Ben.
"Aku taruh di sebuah kardus lalu kutinggalkan di depan rumah.. " balas Benjamin.
"Kau ingat rumah itu dimana?" tanya Ben.
"Aku tak ingat lagi.. aku lelah mau istirahat.." ucap Benjamin pura-pura tidur.
"Baiklah besok aku akan kemari lagi dengan makanan.. kau harus mengingatnya." ucap Ben.
Ben pun meninggalkan ruangannya dengan tampang kesal karena Benjamin sulit diajak berkomunikasi. Dan itu hal wajar mengingat dirinya memang tidak waras. Dokter pun sudah berusaha agar Benjamin bisa pulih sesuai permintaan Ben.
"Anda yakin tuan besok mau kemari?" tanya Dimas.
"Iya.. aku harus berusaha Dimas.. adikku entah dimana aku harap dirinya masih hidup." ucap Ben.
"Baiklah tuan, aku akan meminta tim dokter untuk memberikan obat yg ampuh agar dirinya tetap tenang." ucap Dimas.
"Oke.. kabari aku perkembangannya." ucap Ben.
.
.
.
Sementara Lyra tengah berbahagia melihat kedua sahabatnya menikah. Lyra pun hadir disana dan menikmati acara yg diadakan. Ada banyak tamu yg hadir disana. Dan Kenzo selalu berada di dekatnya, karena kabar dari Santi kalau James rekan bisnis ayahnya.
"Lyra jangan jauh-jauh, nanti mantan suamimu itu mengganggumu lagi." ucap Kenzo.
"Oke prof.." ucap Lyra.
"Saat ini aku bukan atasanmu lagi.. panggil aku Kenzo." ucap Kenzo.
"Baiklah Kenzo." ucap Lyra.
"Itu baru benar." balas Kenzo.
Mereka pun berjanji akan hadir sampai acara selesai. Dan Lyra diminta untuk duduk saja dan menikmati makanan yg ada. Jika bosan dirinya boleh jalan-jalan ditaman yg disediakan.
"Aku bosan." ucap Lyra.
"Baiklah, mau jalan-jalan sebentar.?" tanya Kenzo.
"Oke.. " ucap Lyra.
Tepat sekali saat Lyra pergi jalan-jalan di taman Kenzo melihat James dan Bella datang. Kenzo pun cepat-cepat mengajak Lyra menjauh dari pesta. Dan Lyra senang sekali jalan-jalan di taman sembari menatap bunga yg sedang bermekaran.
"Nampaknya Santi memilih waktu yg tepat, bunga-bunga ini sedang bermekaran." ucap Lyra.
"Iya.. sangat indah membuat susana pernikahan mereka semakin bagus." ucap Kenzo.
"Kenzo kau yakin tak punya kekasih?" tanya Lyra.
"Tidak punya, kenapa?? kau mau jadi kekasihku?" tanya Kenzo tersenyum.
"Cukup pura-pura saja, jangan betulan karena aku sedang berbadan dua." ucap Lyra.
__ADS_1
"Kalau kau tidak hamil memang kau mau?" tanya Kenzo penuh harap.
"Tidak tahu.." balas Lyra tersenyum.
"Padahal aku sudah berharap." ucap Kenzo.
"Kenzo, berhenti bercanda.. aku hanya anak yatim piatu yg tak punya siapa-siapa.. " ucap Lyra.
"Aku tak melihat seseorang dari latar belakannya." ucap Kenzo.
"Dan posisiku saat ini sangat tidak menguntungkanmu beberapa bulan kedepan." ucap Lyra.
"Jadi aku tak bisa menerima siapapun, sampai anak ini lahir." ucap Lyra.
"Aku mengerti, tapi tak ada yg salah bukan jika aku mencobanya." ucap Kenzo.
"Ya tapi jangan sekarang.." ucap Lyra.
"Kenapa?" tanya Kenzo.
"Sudah jelas, kau bisa dituduh menghamili seseorang." ucap Lyra.
"Hahaha.. kan berarti aku tinggal tanggung jawab dan menikahinya." ucap Kenzo senang.
"Mudah sekali kau bicara, pernikahan itu tentang keluarga juga.. memangnya keluargamu menerimanya?" tanya Lyra.
"Yah, aku bisa menjelaskannya." ucap Kenzo.
"Sudah cukup Kenzo, kita bahas saat hidupku sudah tenang bersama anakku." ucap Lyra.
"Kau mau memberi kesempatan?" tanya Kenzo.
"Tergantung situasiku nanti." ucap Lyra.
"Baiklah aku bisa memahaminya." ucap Kenzo.
Dan tanpa mereka sadari, percakapan mereka didengar oleh James yg diam-diam kabur dari Bella yg sedang asik membaur dengan koleganya. James melihat Lyra dari kejauhan dan mengikutinya. Nampak pula dirinya melihat interaksi keduanya sampai menguping.
Tapi setelah mendengar kalau Lyra sedang hamil, James pun kesal. Ia berfikir mungkin saja itu anaknya, atau anak si bre***k itu.
"Lyra..!" ucap James kesal dan Lyra serta Kenzo otomatis menoleh.
"Apa benar kau hamil?" tanya James.
"Sial nampaknya si bre***k ini menguping." gumam Lyra dalam hati.
"Tidak.. kata siapa?" balas Lyra.
"Jangan berbohong.. kau bilang kau sedang berbadan dia dan aku mendengarnya." ucap James.
"Kami sedang membahas pasien kami, yg sedang berbadan dua." ucap Lyra.
"Jangan berbohong.. ayo ke rumah sakit kita cek." ucap James menarik tangan Lyra.
"Kau apa-apaan.? lepas." ucap Lyra.
"Lepas.." ucap Kenzo menarik tangan James agar tidak membawa Lyra.
"Cukup tuan, anda hanya mantan suami, tidak berhak atas hidup Lyra.. dia adalah kekasih saya.." ucap Kenzo.
"Atau jangan-jangan kau hamil dengannya makanya kau meninggalkanku?" tanya James.
"Kalau benar bagaimana? inilah caraku membalasmu.." ucap Lyra.
"Jadi kau..! dasar mu**an..!" hina James.
"Iya.. terserah, mulai sekarang jangan ganggu aku.." ucap Lyra.
"Benar, karena kami akan segera menikah sebelum anak kami lahir." ucap Kenzo.
"Ck.. dasar kaliam memang sam**ah tak berguna." umpat James.
"Pergilah sebelum kupanggil penjaga." ucap Kenzo.
"Oke.. aku pergi." balas James kesal.
__ADS_1
Setelah James pergi Lyra pun merasa lututnya sangat lemas. Dirinya sangat takut kalau sampai orang-orang Bella tahu dan mencelakainya dan juga anaknya.
"Lyra kau baik-baik saja?" tanya Kenzo.
"Aku mau pulang.." ucap Lyra.
"Baiklah ayo pulang dan istirahat." ucap Kenzo.
Kenzo pun mengabari Santi dan Dion kalau mereka pulang karena kondisi Lyra. Dan Kenzo segera membawanya pulang karena kondisinya tidak baik. Lyra begitu ketakutan, hingga Kenzo tak bisa membiarkannya sendirian.
.
.
.
Sementara itu, setiap harinya Ben mengunjungi rumah sakit jiwa tempat Benjamin dirawat. Dan setiap harinya Ben mencoba membujuknya dengan membawakan makanan. Nampaknya Benjamin mengalami trauma berat sampai hilang akal. Bahkan menurut dokter dirinya dipaksa meminum obat tertentu sampai bisa begini.
"Hei ini sudah satu minggu.. tolong bantu aku.." ucap Ben.
"Bantu apa?" tanya Benjamin.
"Bayi yg kau bawa itu adikku.. kau ingatlah dia ada dimana terakhir kali." ucap Ben.
"Jadi bayi itu adikmu..? tidak mirip." balas Benjamin.
"Ya terserah mau mirip atau tidak, coba ingat-ingat lagi.. aku butuh lebih dari 20 tahun mencarinya." ucap Ben.
Sementara Benjamin tak memedulikannya dan makan dengan lahap.
"Kau.. tidak boleh makan sebelum bercerita." ucap Ben mengambil makanannya.
"Aku tidak ingat." ucap Benjamin.
"Coba ingat lagi.." ucap Ben.
"Aku tidak mau.. aku tidak mau ingat.. aku takut disutik.. aku tak mau dikurung dan disiksa..!" teriak Benjamin meronta-ronta.
Dimas dan tim dokter pun turun tangan menanganinya. Dan benar saja, Benjamin adalah korban juga. Dirinya disiksa, dikurung dan diberi obat-obatan berbahaya seperti kata dokter.
Esoknya Ben masih belum menyerah dan mendatangi Benjamin.
"Hei.. dengarkan aku." ucap Ben duduk disampingnya.
"Kau ingat siapa pelaku yg memperlakukanmu dengan jahat?" tanya Ben dan Benjamin hanya mengangguk.
"Aku akan menghukum mereka, tapi ada syaratnya." ucap Ben.
"Mau dengar?" tanya Ben dan Benjamin hanya menatapnya.
"Syaratnya katakan dimana kau membawa adikku dan meninggalkannya? dan mereka akan dihukum agar tidak mengganggumu lagi." ucap Ben.
Benjamin pun hanya mengangguk tanpa bicara apapun.
"Kau tak mau bicara padaku? " tanya Ben.
"Aku takut mereka datang, mereka akan membunuhku." ucap Benjamin.
"Siapa mereka?" tanya Ben.
"Mereka orang dari Xxx.. " ucap Benjamin.
"Lalu dimana mereka mengurungmu?" tanya Ben.
"Dirumah sakit di dekat laut." ucap Benjamin.
"Baiklah aku akan mencaritahu mereka." ucap Ben.
Ben pun hendak keluar tapi Benjamin mengatakan sesuatu.
"Yayasan harapan ibu.. " ucap Benjamin.
"Tempat apa itu?" tanya Ben.
"Aku meninggalkan adikmu disana.. tolong hukum para baj**an itu." ucap Benjamin.
__ADS_1
"Baiklah.. jika ingat sesuatu kabari aku. Keamananmu akan kujamin." ucap Ben.
Kemudian Ben pun meminta Dimas untuk memeriksa organisasi yg disebutkan Benjamin dan juga yayasan harapan ibu. Dimas pun bergerak cepat dan mencaritahu 2 hal tersebut.