
Malam sebelum perceraian, orang-orang yg tahu tentang kehamilan Lyra pun dikumpulkan di apartemennya. Kebetulan mereka semua tak sedang dalam shift malam. Dan Lyra mengatakan keputusannya sekaligus meminta mereka merahasiakan kehamilannya dari siapapun termasuk James dan keluarga Clinton.
"Jadi aku mengumpulkan kalian untuk meminta bantuan kalian.. " ucap Lyra.
"Katakam Lyra." ucap Santi, dan disana sudah ada Kenzo serta Dion.
"Aku akan tetap bercerai juga mempertahankan kehamilanku." ucap Lyra.
"Itu tidak buruk, tapi juga kurang baik." ucap Santi.
"Lyra kau yakin? bukankah kita dilarang bercerai saat istri sedang hamil?" tanya Kenzo bingung.
"Aku melakukan ini demi aku dan calon anakku." ucap Lyra.
"Maksudnya?" tanya Kenzo semakin bingung.
"Prof, wanita yg menjadi pelakor dalam rumah tangga Lyra itu kejam." ucap Santi.
"Dan kekacauan saat kita melakukan operasi tuan Robert adalah ulah wanita itu." ucap Lyra membuat Kenzo terkejut.
"Prof, inilah alasan Lyra memintamu merahasiakan segalanya tentang kehamilannya." ucap Dion.
"Oke.. aku mengerti, tapi bagaimana identitas anak itu saat lahir nanti?" tanya Kenzo.
"Mungkin di sini akan sulit mendapatkan identitas, tapi tidak jika aku pergi ke luar negeri." ucap Lyra.
"Jadi kau ingin pindah ke negara mana Lyr?" tanya Santi terkejut.
"Aku masih melakukan riset, dan sembari mencari pekerjaan disana karena kuyakin tabunganku takkan cukup untuk biaya hidupku dan anakku nanti." ucap Lyra.
"Aku bisa mencarikanmu pekerjaan di Singapura." ucap Kenzo.
"Benarkah prof?" tanya Lyra.
"Iya.. aku tak bohong aku punya kenalan disana." ucap Kenzo.
"Tapi Lyra teganya kau meninggalkan kami." ucap Santi.
"San aku harus pergi hingga anak ini besar, barulah aku bisa kembali." ucap Lyra.
"Aku mengerti, nanti kami akan mengunjungimu." ucap Santi.
"Terimakasih semuanya, terimakasih atas perngertiannya." ucap Lyra menangis efek dari hormonnya. Santi pun memeluknya untuk menenangkannya.
.
.
.
__ADS_1
Setelah sidang keputusan, Lyra pun resmi bercerai. Sebuah langkah besar yg diambil Lyra untuk hidupnya dan anaknya. Karena sudah dipastikan James takkan percaya bahwa itu anaknya karena ada dalam pengaruh Bella. Dan lagi tak ada yg bisa melindunginya karena mom Vina juga statusnya waspada pada Bella. Ben juga menceritakan alasan sebenarnya James menikahi Bella, tapi justru James terbawa suasana dan mendengarkan ucapan Bella.
Bella pun terkenal akan kekejamannya, mulai dari Robert hingga Vina nyaris mati ditangannya. Hingga Lyra semakin waspada, terlebih sekarang dirinya sedang hamil. Jika Bella sampai tahu maka nyawanya juga ikut terancam. Karena Bella tak ingin James kembali pada Lyra atau lebih menyayangi anak Lyra bersama James.
Lyra pun berusaha keras bekerja, hingga kehamilan mulai terlihat barulah dirinya pergi ke Singapura bersama Kenzo. Kenzo pun bersedia mengantarkannya dan mencari tempat tinggal teraman untuk Lyra, walaupun dia takkan tinggal di Singapura.
Lyra berencana akan menghadiri pernikahan Dion dan Santi barulah dirinya pergi ke Singapura. Rencana pun mulai disusun, dan Lyra mempersiapkan beberapa hal sebelum keberangkatannya beberapa bulan kedepan. Dan Kenzo siap membantunya kapanpun Lyra ingin pergi.
.
.
.
Suatu hari, datanglah Simon ke rumah sakit Lyra untuk menemuinya. Lyra pun akhirnya menemui Simon.
"Paman, ada apa?" tanya Lyra namun, raut wajah Simon tampak datar.
"Nona, aku ingin memberikan kabar kalau tuan Robert sudah tiada." ucap Simon.
"A-apa?? bagaimana bisa?" tanya Lyra.
"Dirinya sudah mengetahui ulah tuan James selama ini yg menyakitimu. Dan lagi tuan James menikahi wanita yg sangat ia tak suka, yaitu Bella." ucap Simon sambil berkaca-kaca.
"Lalu dimana kakek akan dimakamkan?" tanya Lyra.
"Lebih baik anda jangan datang sekarang, datanglah nanti beberapa hari setelah hari berduka. Karena nampak nona Bella tak ingin anda dekat dengan tuan James." ucap Simon.
"Dan ini, ada sesuatu untuk anda nona." ucap Simon.
"Apa itu paman.?" tanya Lyra.
"Kau buka saja, ini adalah warisan yg ia berikan tuan Robert untuk anda." ucap Simon.
"Tapi aku sudah bukan cucu menantunya lagi, aku tak berhak atas warisan ini." ucap Lyra.
"Ini perintah nona, atau tuan akan sedih disana jika anda menolaknya." ucap Simon.
Lyra pun membuka surat tersebut, nampak Robert sangat merasa bersalah pada Lyra karena cucunya yang bre***k itu. Bahkan disana tertulis, Robert berkali-kali meminta maaf pada Lyra. Dirinya juga memberikan satu gedung di Singapura sebagai kompensasi untuk Lyra karena Robert tahu jika Lyra tak meminta apapun dari James saat bercerai.
Air mata pun mengalir dengan deras. Lyra tak tahan dengan kesedihan ini. Dirinya pun sedikit merasa bersalah, dan hormon kehamilannya tak terkontrol jika emosinya terpancing. Hingga Lyra mulai merasa pusing setelah membaca surat wasiat tersebut.
"Nona.. anda tak apa?" tanya Simon.
"Ya.. aku tak apa.." ucap Lyra.
"Kalau begitu, tugasku sudah selesai.. ini alamat pemakaman tuan Robert, ingat anda harus datang saat sepi dan jangan sampai ada yg melihat anda." ucap Simon.
"Terimakasih paman." ucap Lyra.
__ADS_1
Kemudian mereka pun berpisah dan baru berjarak beberapa langkah Lyra pun jatuh pingsan. Beruntung Simon mengetahuinya dan langsung membopongnya masuk ke rumah sakit. Disana nampak Santi berlari mendekat dan memeriksa sahabatnya tersebut.
Lyra pun segera mendapatkan penanganan dan Simon menunggu sampai dokter memberitahu kondisinya.
"Maaf tuan tapi anda siapanya Lyra?" tanya Santi.
"Aku Simon sekertaris tuan Robert." balas Simon.
"Oh tidak dia dari keluarga Clinton." gumam Santi dalam hati.
"Oh begitu, Lyra adalah sahabatku.. dan belakangan kondisinya sedang tidak sehat.. tapi dia baik-baik saja." ucap Santi.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi anda yakin nona baik-baik saja?" tanya Simon.
"Iya tentu tuan." ucap Santi.
"Kenapa anda yg dokter kandungan yg memeriksanya?" tanya Simon curiga.
"Aku sahabatnya." balas Santi tersenyum.
"Santi.." lirih Lyra.
"Lyra sudah sadar." ucap Santi lalu bangkit diikuti oleh Simon.
"Kau tadi pingsan dan tuan Simon membawamu." ucap Santi.
"Terimakasih paman." ucap Lyra.
"Lyra, jujurlah padaku kenapa dokter kandungan yg memeriksamu?" tanya Simon.
"Seperti dugaanmu paman, aku harus merahasiakannya demi keamanan dan keselamatan kami. " ucap Lyra.
"Apa?? mengapa anda melakukan ini?" tanya Simon.
"Paman, Bella sangat kejam dan licik bahkan tega menyerang kakek dan mom Vina. Apa dia akan diam saja jika tahu aku hamil? pasti tidak kan." ucap Lyra.
Simon pun menghela nafas tapi yg dikatakan Lyra benar. Wanita licik itu takkan tinggal diam pasti.
"Baiklah, aku menghormati keputusanmu. " ucap Simon.
"Aku akan menganggap warisan kakek sebagai warisan untuk anakku yg memiliki darah Clinton." ucap Lyra.
"Ingat paman, jangan sampai ada yg tahu." ucap Lyra.
"Baiklah, kau harus hati-hati mulai saat ini.. hubungi aku jika butuh bantuan." ucap Simon.
Kemudian Simon pun pergi meninggalkan Lyra. Dirinya pun cukup terkejut sekaligus sedih, kenapa James meninggalkan istri seperti Lyra?? tapi apapun itu, dia akan merahasiakannya sampai mati agar Lyra dan anaknya aman.
Sementara Lyra, dirinya yakin kalau Simon bisa dipercaya. Jika Ben yg begitu dekat dengan James saja bisa memihaknya, apalagi Simon yg sangat dipercaya oleh kakeknya.
__ADS_1
Setelah beberapa hari setelah pemakaman Robert, Lyra pun mengunjunginya bersama Dion dan Santi. Mereka juga telah memastikan kalau tempat itu aman dan sepi. Disana Lyra menangis dan mendoakan Robert.