Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.43 Terjebak


__ADS_3

James pun kembali ke kantornya dan bekerja dengan giat. Terlebih ada seseorang yg kini menunggunya dirumah. Tapi, Ben merusak khayalannya dengan mengatakan akan ada makan malam dengan tim perusahaan Bella.


"Ben.. kau saja yg hadir.." ucap James.


"Aku sih tak masalah tuan, tapi image anda jadi tidak ramah karena tak bisa membedakan masalah pribadi." ucap Ben.


"Ck.. baiklah, aku hanya akan datang sebentar." balas James.


Ben pun mengatur segala jadwal dan pekerjaan James hari itu. Walaupun begitu, dirinya masih sempat menghubungi beberapa orang yg memiliki petunjuk lain akan saudarinya yg menghilang.


Kini dirinya bertemu dengan seorang informan terpercaya yg bekerja padanya.


"Bagaimana?" tanya Ben.


"Ternyata orang tersebut tak waras tuan.. dirinya saat ini mendekam di rumah sakit jiwa." ucap informan tersebut.


Brak..!


"Kenapa selalu menemukan jalan buntu? " umpatnya.


"Dimana rumah sakit jiwa tempat pria itu dirawat?" tanya Ben.


"Di rumah sakit Xxx.. namanya Benjamin." ucap informan tersebut.


"Baiklah, Terimakasih, nanti gajimu akan kutransfer." ucap Ben.


"Baik tuan, terimakasih." ucap informannya.


"Cari tahu latar belakang pria itu, karena mungkin ada keluarganya atau temannya yg tahu sesuatu." ucap Ben.


Ben pun kembali ke kantor dan meminta orangnya lagi untuk mengecek pria bernama Benjamin tersebut. Serta memastikan latar belakang orang tersebut. Rasanya begitu sulit menemukan saudarinya yg hilang dalam insiden kebakaran lebih dari 20 tahun yg lalu.


.


.


.


Sementara itu, dikantor James menyelesaikan segala pekerjaannya agar bisa menghadiri pertemuan lalu pulang dan bertemu istrinya. Ben yg baru tiba dengan raut wajah kecewa pun menarik perhatian James.


"Kau habis diputuskan secara sepihak?" tanya James menebak.


"Tuan, aku tak punya waktu untuk urusan cinta.. aku akan terus mencari Daphne selagi masih hidup." ucap Ben.


"Maaf kawan, aku hanya bercanda.. " ucap James.


"Jadi bagaimana persiapannya?" tanya James.


"15 Menit lagi kita berangkat." ucap Ben.


"Oke.. aku akan menghubungi Lyra kalau aku hanya akan makan dengan kalian 1 jam." ucap James.


Lyra yg dihubungi pun merasa dirinya dianggap oleh James. Bahkan pria itu sampai mengatakan akan berapa lama dirinya ada diluar jam kerja. Lyra pun tersenyum dan akan menunggunya sembari mempelajari beberapa video yg dikirimkan seniornya.


.


.


.


Tibalah James dan Ben di tempat makan malam dengan tim dari Bella dan tim perusahaannya. Mereka pun berkumpul dan makan bersama setelah James mengatakan beberapa kata untuk menyemangati mereka.


Mereka semua pun bersorak untuk keberhasilan mereka kali ini dan penuh semangat menyambut project besar lainnya. Dan tibalah ke acara makan malam tersebut. Semua nampak bahagia dan akrab satu sama lain. Begitu juga dengan Bella yg berusaha bersikap normal pada James.


"Silahkan tuan.." ucap pelayan.

__ADS_1


"Aku tidak minum.." tolak James.


"Baiklah, singkirkan gelasnya untuk tuan James." ucap Bella.


"Aku sudah menikah, dan nampaknya tak bagus jika istriku melihatku pulang dalam kondisi mabuk." ucap James.


"Baiklah James, aku menghargai keputusanmu." ucap Bella.


"Ambilkan air saja untuk tuan James .." pinta Bella pada pelayan.


"Kalau strategi satu gagal, terpaksa pakai strategi kedua." gumam Bella dalam hati.


Minuman pun datang pada James, dan dirinya langsung meminumnya. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sebuah alarm pun berbunyi tanda James harus pulang. Alarm yg sengaja ia buat agar tak terbawa suasana dan membuat Lyra menunggu.


Sementara itu, justru Ben malah mabuk hingga tak bisa mengantarkannya pulang.


"Ben.. ada apa denganmu?" tanya James kesal.


"Maaf tuan, aku hanya merasa kecewa." ucap Ben mulai kacau.


"Ckk.. aku akan panggilkan taksi untukmu." ucap James.


Setelah taksi datang Ben pun pulang duluan, dan James pulang dengan mobil lain. James sudah menyuruh sopir pribadinya untuk menjemputnya, tapi tiba-tiba kepalanya pusing dan berputar. Padahal dirinya tak meminum Wine seteguk pun. Hingga panggilan telepon dari Lyra.


"Halo.. James.." ucap Lyra.


"I-iya ada apa?" tanya James berusaha sadar.


"Aku akan menjemputmu, karena pak Agus sedang sakit." ucap Lyra.


"Baiklah, aku.. aku tunggu." ucap James.


"Kau mabuk? aku dalam perjalanan." ucap Lyra.


"Ti-tidak, kepalaku berat.. apa yg harus kulakukan?" ucap James terbata-bata.


Tapi Lyra kalah cepat dengan Bella dan Sandra yg sudah ada dilokasi. Mereka berdua nampak dibantu beberapa orang pria membawa James pergi ke suatu tempat. Rencana licik Bella pun berjalan mulus, karena tak ada yg curiga. Terlebih James sudah kehilangan kesadaran lebih dulu setelah memutuskan panggilan telepon.


"Kerja bagus, ayo bawa ke hotel." perintah Bella.


"Baik nona." ucap sang sopir.


Sementara Sandra, dirinya masih disana dan bertanggungjawab sampai semua karyawan perusahaan Bella pulang. Dan saat Lyra datang, nampak orang-orang dari perusahaan tengah keluar dari resto.


Lyra pun menatap ke segala penjuru tapi tak menemukan James. Hingga akhirnya bertanya pada karyawan di perusahaan James.


"Permisi, apa anda karyawan dari tuan James?" tanya Lyra.


"Bukan nona, tapi pria itu.." tunjuk seorang pria kemudian memanggil pria yg ia tunjuk.


"Hei, kemarilah.." panggilnya.


"Ada apa?" tanya rekannya.


"Maaf sebelumnya, apakah anda melihat tuan James?" tanya Lyra.


"Tuan James tadi sudah pulang diantar oleh nona Bella karena sekertarisnya tuan Ben pulang lebih dulu karena mabuk." ucapnya.


"Baiklah terimakasih, maaf mengganggu." ucap Lyra.


"Iya.. kami pulang ya nona." ucap mereka.


Lyra pun menghubungi orang rumah, dan mereka mengatakan kalau James belum tiba. Lalu Lyra melihat wanita yg datang bersama Camila di resto waktu itu.


"Permisi, kau pasti asisten dari Camila." ucap Lyra.

__ADS_1


"Maaf, atasanku namanya nona Bella." ucapnya.


"Bella? apakah Camila sudah berganti nama? tapi yg kemarin aku yakin Camila dan wanita ini asisten atau sekertarisnya." gumam Lyra dalam hati.


"Kalau boleh tahu, kemana nona Bella mengantarkan tuan James.? kebetulan aku istrinya." ucap Lyra dengan penuh penekanan.


"Hmm.. tentu saja kerumah nona.. " ucap Sandra.


"Benarkah?" tanya Lyra tak percaya.


"Apa maksud pertanyaan anda?" tanya Sandra.


"Hallo.. bi apakah tuan sudah sampai?" tanya Lyra di telepon.


Setelah mendapat jawaban, Lyra pun tersenyum menatap Sandra.


"Tapi suamiku tak pulang ke rumah, kemana nona Bella membawanya?" tanya Lyra.


"Aku tidak tahu nona." ucap Sandra.


"Oh.. kau mau menipuku?" tanya Lyra.


Pengawal sekitar Sandra pun mendekati Lyra.


"Apa ini? curang sekali." ucap Lyra.


Pengawal tersebut pun menarik tangan Lyra, dan menyeretnya keluar sesuai perintah Sandra. Lyra pun hanya diam dan tersenyum, kemudian di menit berikutnya dirinya melawan kedua pengawal tersebut. Dirinya menjatuhkan kedua pengawal tersebut.


"Lihatlah kejahatan kalian padaku terekam cctv." ucap Lyra.


"Dasar bodoh.. melawan seorang wanita lemah saja tak bisa." ucap Sandra.


"Sekarang telepon atasanmu.. nona Bella." ucap Lyra.


"Tidak akan, ini sudah malam nona pasti sudah istirahat." ucap Sandra.


"Maaf aku harus melakukan ini padamu.." ucap Lyra kemudian merebut ponsel di tangan Sandra.


Kemudian Lyra mengunci tangannya dan menghubungi Bella. Tak lupa Lyra mengancamnya akan melaporkan tindakannya jika dirinya berani macam-macam karena semuanya terekam oleh cctv. Dan Sandra pun menelpon atasannya tersebut atas perintah Lyra.


"Hallo nona.." ucap Sandra.


"Ada apa Sandra?" tanya Bella.


"Apakah anda sudah tiba?" tanya Sandra.


"Ya.. jangan ganggu aku.." ucap Bella memutuskan telepon.


Lyra pun tersenyum, terlebih pelayan rumahnya belum mengabari apapun. Dan ucapan terakhir Bella untuk meminta Sandra jangan mengganggunya.


"Bisa kau jelaskan dimana lokasi nona mu itu?" ancam Lyra dengan mengunci lengan Sandra sampai dirinya menjerit kesakita.


"Aaaaa... baiklah aku akan bicara." ucap Sandra.


Dan entah bagaimana kondisi disana sangat sepi, hingga tindakan Lyra tak ada yg menegur. Sandra pun mengatakan dimana Bella membawa James. Lyra yg mengepal geram pun segera menuju hotel tersebut.


Tapi Sandra yg licik telah memanggil beberapa orang untuk menghalangi Lyra mengganggu atasannya. Mengingat ini adalah rencana panjang yg disusun Bella selama beberapa tahun.


"Ck.. dasar kotor sekali cara main kalian." ucap Lyra dikepung beberapa orang.


Dan secara tiba-tiba, muncul pengawal dari suatu tempat. Dan yg jelas salah satunya kepala pengawal bernama Dimas yg diberitahukan James.


"Dimas, kau mengikutiku.?" tanya Lyra.


"Maaf nona, keselamatan anda adalah prioritas kami." ucap Dimas.

__ADS_1


Dimas pun membereskan orang-orang Sandra bersama beberapa orang. Hingga akhirnya dirinya berhasil menyelamatkan Lyra. Mereka pun membawa Lyra ke hotel dimana James akan dijebak sesuai prediksi Lyra.


"Keselamatanku prioritas, tapi dirimu sendiri tidak waspada..!" umpat Lyra dalam hati.


__ADS_2