
Santi pun melihat dengan jelas Lyra terus menitihkan air mata walau Lyra berusaha untuk menghapusnya. Namun, Santi yg sudah mengenal Lyra tahu apa yg dialami sahabatnya tersebut. Dirinya memeluknya dan membiarkan Lyra menangis sampai puas.
"Keluarkan saja Lyra.. Jangan menahannya.. aku ada disini." ucap Santi seraya memeluknya.
Umpatan-umpatan Lyra juga diucapnya untuk James. Bagaimana bisa selama beberapa tahun terakhir dirinya bersikap manis lalu menusuknya dari belakang?? bagaimana bisa James melakukan semuanya padahal dirinya sering berkata kalau Lyra satu-satunya wanita yg ia cintai?? Tangis Lyra pun pecah malam itu. Dan Santi menjadi sandaran Lyra satu-satunya. Sebagai sesama wanita Santi ikut kesal dengan kelakuan James dibelakang Lyra.
Hingga Lyra mulai tenang dan Santi memberinya air agar tenggorokannya tidak serak.
"Minumlah dulu." ucap Santi.
Lyra pun meminumnya dan terdiam.
"Jangan katakan apapun jika kau belum siap.. aku akan ada disini.." ucap Santi.
"Tapi pasienmu?" tanya Lyra.
"Aku akan mengecek mereka sebentar lagi, dan aku akan kembali setelah selesai." ucap Santi.
Tak berapa lama, Santi pun keluar untuk mengecek pasiennya. Setelah itu dirinya kembali, dan Santi meminta bantuan prof Kenzo yg sedang shift malam untuk menggantikan pekerjaan Lyra karena Lyra sedang sakit.
"Lyra sakit apa?" tanya Kenzo.
"Katanya asam lambungnya naik.." ucap Santi.
"Sudah minum obat? atau butuh obat?" tanya Kenzo.
"Sudah prof.. maaf ya jadi merepotkan anda." ucap Santi.
"Ya tak apa.. aku juga sedang senggang.." ucap Kenzo.
Lalu Santi pergi mengunjungi Lyra dan menemaninya. Cukup lama Lyra terdiam, dan tak mengatakan apapun. Santi pun hanya memeluknya dan mengelus rambutnya.
"Apapun yg terjadi kau boleh menangis tapi jangan menjadi lemah." ucap Santi.
"Iya.." hanya kata itu yg diucapkan Lyra.
Otaknya belum sepenuhnya sadar dari kenyataan. Hingga Lyra tertidur dan Santi meninggalkannya saat pemeriksaan. Kenzo yg telah menyelesaikan tugasnya pun mlihat kondisi juniornya tersebut.
Saat masuk, nampak Lyra sudah tertidur. Dan Kenzo memerhatikannya sejenak. Terlihat mata Lyra bengkak dan memerah seperti habis menangis. Karena takut membangunkannya Kenzo pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dihatinya dirinya merasa tak tenang karena jelas sekali Lyra habis menangis.
.
.
.
Kemudian Lyra terbangun setelah 1 jam tertidur. Dirinya sudah tersadar dan sudah pukul 1 pagi. Lyra pun ke toilet untuk membasuh wajahnya. Dan sangat terlihat matanya sembab dan memerah.
__ADS_1
"Apa yg kulakukan ?? aku tak boleh terlihat begini.." gumam Lyra dalam hati.
Lyra pun mencuci mukanya, dan kembali ke ruangannya. Santi pun datang dan membawakan sendok dingin untuk mengompres matanya.
"Lyra kau sudah bangun rupanya." ucap Santi.
"Iya.. Terimakasih banyak San.. lalu apa prof Kenzo menanyakanku? aku sangat bodoh sampai tertidur." ucap Lyra.
"Aku bilang asam lambungmu kambuh dan dia mengerti." ucap Santi.
"Lihat aku bawa ini karena tahu matamu pasti sembab." ucap Santi memberikan sendok dingin tersebut.
"Terimakasih San.." ucap Lyra.
"Iya.. itulah gunanya teman." ucap Santi.
"Rasanya malam ini seperti habis naik rollercoster. Emosiku dibuat naik turun oleh James dan Bella." ucap Lyra.
"Ya.. aku tak mengerti jalan pikirannya." ucap Santi.
"Kau akan merahasiakan ini kan?" tanya Lyra.
"Tentu saja, memangnya aku setega itu pada temanku?" balas Santi.
"Aku tahu kau akan merasahasiakannya. San apa yg harus kulakukan?" tanya Lyra meminta pendapat.
"Menurutku, kau harus tenang dan berfikir dengan jernih.. Dan dari penglihatanku tadi nampak Bella bukan wanita bodoh, lebih tepatnya dia sangat licik." ucap Santi.
"Tapi anehnya suamimu itu, justru mengkhawatirkanmu." ucap Santi.
"Tentu saja khawatir, keluarganya begitu mendukungku.. jika aku kenapa-kenapa dia yg akan kerepotan." ucap Lyra.
"Bukan, tapi James itu nampak takut kau meninggalkannya. Mobilnya bahkan ada di parkiran rumah sakit ini." ucap Santi.
"Dia benar-benar menungguku atau dia hanya merasa bersalah? entahlah.. saat ini aku tak tahu apa dia akan berkata jujur." ucap Lyra.
"Lyra kau harus tenang dan realistis. Ingat menurutku Bella itu licik, bisa saja ia hamil dengan orang lain atau terburuknya dia menjebak suamimu." ucap Santi.
"Ya.. itu bisa saja terjadi." ucap Lyra.
Keduanya pun bercerita dan bertukar pendapat. Sementara Kenzo tanpa sadar mendengar pembicaraan Lyra dan Santi dari balik pintu.
"James suami Lyra? berarti Lyra sudah menikah? tapi kapan? lalu siapa lagi Bella? apa yg terjadi pada Lyra?" gumam Kenzo dalam hati.
Lalu Kenzo memilih pergi daripada ketahuan dan lebih penasaran lagi. Apapun itu, yg jelas kini Lyra telah menikah dan pantas saja Lyra membatasi dirinya dengan banyak pria kecuali Dion yg merupakan sahabatnya bersama Santi.
.
__ADS_1
.
.
#Situasi yg sebenarnya terjadi..
Pagi itu, Bella terlihat kurang sehat dan tak nafsu makan. Dirinya pun mengambil vitamin yg ada di mejanya, lalu melihat kelender di meja. Ia ingat kapan terakhir kali dirinya datang bulan. Dan dia sudah telat 3 minggu. Bella pun tersenyum licik, dan tanpa ragu mengeceknya dengan tespack pagi itu.
Tak berapa lama muncul garis 2 menandakan dirinya sedang hamil. Entah anak siapa, yg jelas malam yg ia habiskan bersama James akan dijadikan bukti kalau ini ulah James.
Bella pun tetap bekerja hingga malam hari. Dan saat semua pekerjaannya selesai, dirinya barulah mengirimkan pesan pada James yg habis rapat dengan kliennya sampai malam. Jangan tanya kenapa Bella bisa tahu jadwal James, itu karena mata-matanya ada di sekitar James.
Saat hendak pulang ke rumah, James pun mendapatkan sebuah pesan gambar. Dirinya pun membukanya dan melihat ada gambar testpack garis dua dari Bella. Bola matanya pun membesar seolah tak percaya apa yg dilihatnya. Lalu Bella mengirimkan pesan akan menuju rumah sakit tempat Lyra bekerja dan memberitahukannya pada istrinya kalau Bella mengandung anak James.
Secepat kilat James datang ke rumah sakit dan mencegah Bella memberitahukannya pada Lyra. Tapi dirinya terlambat, Bella sudah memeriksakan kandungannya. Ditambah Lyra keluar dari ruangan dokter kandungan, yg dokter kandungannya juga masih sahabat Lyra.
James pun semakin bingung dan tak bisa mengatakan apapun. Bahkan Bella terang-terangan mengajak istrinya berbicara. Belum lagi sikap Lyra yg tegas dan tak kenal takut justru menerima tantangan Bella. Tatapan tajam Lyra pun menusuk hatinya, bak istrinya itu sudah tahu tapi berharap semuanya bohong.
James pun tak sanggup mengatakannya hingga Lyra sendiri yg paham situasinya. Bella pun tersenyum penuh kemenangan terlebih dirinya merasa menang atas James dari Lyra yg ia nikahi selama 8 tahun terakhir. Sampai Bella sempat menghina Lyra, walapun Lyra membalasnya dengan tawa. Tapi sorot matanya menampakkan kesedihan dan kekecewaan.
Setelah diusir oleh Lyra dari ruangannya, James menarik kasar tangan Bella keluar rumah sakit. James pun marah besar pada Bella.
"Apa yg kau lakukan?" tanya James.
"Aku hanya memeriksakan kandunganku, dan kebetulan bertemu Lyra jadi sekalian saja." balas Bella.
"Apa?? kenapa kau tak bicarakan ini denganku dulu." ucap James.
"Karena aku yakin kau akan menutupinya lagi dari istrimu. Dan aku hanya akan jadi wanita menyedihkan." ucap Bella.
"Memangnya bayi ini anakku? siapa yg tahu kau berhubungan dengan siapa saja selama ini?" tanya James.
"Kita melakukannya sebulan yg lalu." ucap Bella.
"Ya.. benar, tapi tak membuktikan kalau itu anakku." ucap James.
"Kita lihat saja nanti." ucap Bella pergi meninggalkan James.
Ben pun mendengar dan melihatnya, hingga ia tahu apa yg terjadi pada ketiganya. Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Lyra saat tahu fakta mengejutkan ini. Ben pun sedikit kesal pada James karena tak bisa membentengi diri, padahal James terlihat mencintai Lyra tapi bagaimana bisa James menghamili Bella.
"Tuan anda keterlaluan sekali pada nona Lyra." ucap Ben menatap James.
"Ben kau paling tahu situasinya. Bella menjebakku." ucap James.
"Iya, tapi bagaimana pun nona Bella benar-benar hamil.. Aku yakin dia takkan tinggal diam." ucap Ben.
"Ya aku juga tahu. Sekarang kau pulanglah naik taksi aku akan menunggu istriku sampai pagi." ucap James.
__ADS_1
"Baiklah jika itu maumu." ucap Ben pergi meninggalkan James sendirian.
Di dalam mobil James pun meruntuki kebodohannya dan bahkan sampai menitihkan air mata membayangkan Lyra meninggalkannya.