
Setelah mengurus perceraian dengan James, Lyra pun cukup tahu diri dan keluar dari rumah besar tersebut. Dirinya juga meninggalkan kartu pemberian James dan hanya membawa barang-barang miliknya. Perlahan-lahan Lyra membawa barang miliknya ke apartemen baru yg sudah dibeli Santi.
Sedikit demi sedikit dan ia cicil setiap hari, hingga semuanya sudah terkumpul di apartemen tersebut. Dan mulai hari ini Lyra akan pindah ke apartemen tersebut. Terlebih James sudah menerima surat perceraian dari pengadilan.
Santi dan Dion pun datang dan membawakan buah untuknya. Mereka juga membagikan makanan untuk syukuran atas kepindahan Lyra pada penghuni apartemen sekitar.
"Terimakasih San, Dion.. kalian selalu hadir kapanpun." ucap Lyra.
"Lyra kita sudah seperti keluarga." ucap Dion.
"Iya.. jangan sungkan." ucap Santi.
Ternyata tempat baru lebih baik daripada rumah mewah dan besar tersebut yg hanya meninggalkan luka di ingatan Lyra. Hal baru yg ia harap akan mengubah jalan hidupnya dan menjadi lebih berwarna.
Para tetangga juga baik-baik saja, dan siapa sangka Kenzo adalah tetangga Lyra.
"Ada apa?" tanya Kenzo keluar dari apartemennya saat ada yg mengetuk pintu.
"Ee..Prof tinggal disini?" tanya Lyra.
"Iya benar, kau juga tinggal disini?" tanya Kenzo
"Aku baru saja pindah, dan ingin memberikan sedikit makanan pada tetangga." ucap Lyra.
"Terimakasih Lyra, aku tak tahu kau akan pindah kemari.. mau mampir?" tanya Kenzo.
"Mungkin lain kali.. ya karena satu dan lain hal aku jadi pindah kemari." ucap Lyra.
"Karena kita tetangga dan aku seniormu, kalau ada apa-apa kabari aku, aku pasti bisa membantumu." ucap Kenzo.
"Terimakasih prof.. itu akan sangat membantuku." ucap Lyra kemudian pamit undur diri.
Kejadian hal itu pun Lyra ceritakan pada Santi dan Dion. Keduanya sangat terkejut tapi juga senang, karena yg mereka tahu Kenzo sangat baik pada Lyra. Dan Lyra bisa meminta bantuannya jika terjadi sesuatu. Karena akan sangat lama jika Lyra meminta bantuan Santi atau Dion yg tempat tinggalnya agak jauh dari sana.
.
.
.
Sementara itu, di kantornya James pun mengepal geram akan tindakan Lyra. Dirinya kesal setengah mati pada Dimas yg ditugaskan untuk melaporkan segalanya tapi justru membantu Lyra.
"Dimas.. kau tahu sudah berbuat kesalahan besar." ucap James.
"Aku tahu tuan, dan aku meminta maaf." ucap Dimas kemudian memberikan surat pengunduran diri diikuti pengawal lainnya.
"Apa-apaan kalian ini??" tanya James.
__ADS_1
"Tidak seharusnya anda menyakiti wanita yg harus anda lindungi. Apalagi nona orang yg baik dan tulus." ucap Dimas kemudian pergi meninggalkan ruangan James tanpa peduli mantan tuannya itu mengamuk di dalam.
Ben pun hanya menghela nafas dan menenangkan James. Apa yg dikatakan Dimas adalah benar, harusnya James melindunginya sekuat tenaga bukan menyakitinya.
"Apa yg dikatakan Dimas benar, dan itu fakta." ucap Ben meninggalkan James.
"Kau juga ikut-ikutan?? kau mau kupecat?" tanya James.
"James sebagai temanmu aku hanya berkata jujur, pecat saja aku jika kau mau, pekerjaan ini bukan satu-satunya yg ada di dunia ini." ucap Ben keluar meninggalkan James sendirian.
Bagi Ben percuma bicara pada James yg sedang kalap dan bisa menyerang siapapun. Ben pun memilih pergi dan bertanya pada Dimas secara langsung dan baik-baik.
"Dimas tunggu." ucap Ben.
"Ada apa tuan?" tanya Dimas.
"Apa yg sebenarnya terjadi belakangan?" tanya Ben.
"Aku takkan menghukum kalian, jadi katakan dengan jujur." ucap Ben.
Dimas pun mengatakan yg sebenarnya, tentang bagaimana mereka melihat Lyra begitu menderita hingga ingin membantunya. Bahkan setelah tahu faktanya, Lyra tampak tak bisa menutupi rasa sakit dan kekecewaannya. Dan mereka juga menceritakan soal memata-matai James.
"Kerja bagus Dimas, kau melakukannya dengan baik. " ucap Ben.
"Kenapa anda malah memujiku." ucap Dimas.
"Baiklah jika begitu, kami pamit tuan." ucap Dimas.
"Aku akan merekomendasikan kalian pekerjaan baru." ucap Ben membuat Dimas terkejut.
"Tapi kenapa tuan?" tanya Dimas.
"Kalian pengawal yg setia dan baik. Kurasa yg kalian lakukan tidak salah, bagaimanapun perselingkuhan itu tidak adil menurutku." ucap Ben.
"Terimakasih banyak tuan." ucap Dimas.
Ben pun menyetujui langkah Dimas, karena dirinya begitu membenci perselingkuhan. Dan jika James bukan temannya mungkin dia sudah memukul wajahnya. Apapun alasannya tak seharusnya James menikahi Bella tanpa bicara dengan Lyra.
Kini, Ben pun sudah tak bisa lagi menasehati James seperti dulu. Dirinya selalu bersikap arogan dan menyebalkan sejak menikahi Bella. Tapi untungnya, sebentar lagi Ben juga akan resign karena sudah ada tanggungjawab baru. Dimana akhirnya pamannya yg memegang seluruh harta kedua orang tuanya hidupnya takkan lama lagi menurut dokter dan sekarang sedang sekarat.
Tentu Ben akan kembali menjadi penerus keluarganya, karena pamannya tersebut tak punya kuasa untuk melawannya sebagai pewaris sah apalagi mewariskannya pada sepupu Ben.
.
.
Ben pun mendatangi pamannya tersebut hari ini.
__ADS_1
"Hai paman, bagaimana kabarmu?" tanya Ben.
Si paman pun hanya diam dan tak bisa berbicara. Hanya bola matanya yg bergerak menatap Ben.
"Aku tahu ini barat untuk paman, jadi lepaskan saja dan tidurlah dengan tenang. Kurasa anda sudah cukup bukan menikmati kekayaan ayahku?" ucap Ben tersenyum.
Bola mata pamannya pun melotot kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Paman, semakin anda menahannya semakin anda juga akan tersiksa.. Jadi lepaskan saja dan tenanglah. Toh dari awal sudah jelas aku pemilik aslinya, dan paman juga sudah puas membuatku menjadi seorang bawahan orang lain." ucap Ben tersenyum.
"Aku hanya berharap paman tak merasa sakit lagi dan pergi dengan tenang. Untuk sepupuku jangan khawatir karena aku akan memberikan mereka pekerjaan sesuai kemampuan mereka." ucap Ben.
Ben pun pergi meninggalkan ruangan ICU tersebut setelah mengatakannya. Dirinya yakin pamannya tersebut sudah menerima hukumannya. Dan selang satu hari pamannya tersebut dinyatakan meninggal dunia. Secara otomatis Ben akan menggantikannya sesuai surat wasiat ayahnya.
.
.
.
Rasanya belum cukup dengan Lyra yg menggugat cerai dirinya, kini James juga akan ditinggalkan oleh Ben yg selalu setia selama ini.
"Apa-apaan ini Ben?" tanya James.
"James bukankah kau tahu segalanya tentangku lebih dari siapapun, dan pamanku sudah tiada jadi otomatis aku harus kembali ke tempatku." ucap Ben.
"Kenapa mendadak begini?" tanya James.
"Aku sudah bicara 3 bulan yg lalu, dan awal bulan ini juga sudah mengajukan surat pengunduran diri." ucap Ben.
"Tapi.. kau bahkan belum memberikanku penggantimu." ucap Ben.
"Kau saja yg tidak bekerja dengan teliti.. Lihat tumpukan dokumen ini.. dan dokumen berwarna biru adalah orang-orang pilihanku untuk menggantikan posisiku." ucap Ben menunjukkannya.
"Tapi aku membutuhkanmu Ben.." ucap James.
"Perusahaan ayahku juga membutuhkanku." ucap Ben.
"Sekali lagi maaf James, bukan maksudku untuk meninggalkanmu di masa-masa sulit, tapi kau juga tahu aku menantinya selama 20 tahun lebih." ucap Ben.
"Baiklah.." ucap James dengan raut wajah kesal.
"Terimakasih atas pengertiannya tuan." ucap Ben.
Kini Ben hanya tinggal beberapa hari lagi bekerja dengan James. Dirinya juga sudah membaca beberapa file dari perusahaan ayahnya yg harus dia pelajari.
"Sekarang tinggal mencari Daphne.. " gumam Ben.
__ADS_1