
Tibalah hari dimana Devi pergi untuk memilih gaun pertunangannya. Ditemani Vio untuk membantunya memilihnya. Vio pun dengan senang hati melakukannya karena memang dirinya sedang tak ada kerjaan. Mungkin pergi bersama Devi membantunya memberi ide atau inspirasi begitulah pikirnya.
Tapi justru itu membuatnya harus melindungi Devi karena lagi-lagi orang suruhan kakeknya memaksa Devi untuk pulang dan membatalkan pertunangannya dengan Sammy.
"Bagaimana Vio?" tanya Devi.
"Ini bagus, tapi lebih cocok yg tadi." ucap Vio.
"Aku juga merasa begitu, baiklah aku pesan beli yg tadi saja." ucap Devi.
"Oke.." ucap Vio.
Devi pun berganti pakaian dan orang-orang aneh pun muncul membuat Vio siaga.
"Dimana nona Devi??" tanya mereka.
"Tidak ada yg namanya Devi disini." ucap Vio.
"Ck.. kau kan gadis kemarin.. cepat beritahu kami dimana nona Devi?? "
"Memangnya ada urusan apa?" balas Vio.
"Dia harus kembali pada tuan Tian dan mengurus perusahaan." ucap pengawal tersebut.
"Apa?? aku tidak dengar??" tanya Vio sembari pura-pura mengorek telinganya membuat mereka kesal.
"Dasar gadis kurang ajar..!! kau harus diberi pelajaran aku penasaran siapa orangtuamu."
"Jangan bawa-bawa orangtuaku..!" ancam Vio dengan tatapan tajamnya.
"Berani sekali kau memelototi kami."
"Kalian mau kubuat pingsan lagi?? bahkan di tangan gadis kecil ini??" cibir Vio.
"Cih.. ayo kita beri pelajaran gadis kecil ini.."
"Aku gemas melihat tingkahnya."
Vio pun menggulung sebuah majalah, dan ketika mereka mendekat Vio memukul ke arah wajah mereka.
"Akhh.."
"Sialan..!!"
Duakhh..duakkhh..Duakhh..
Vio pun menendang mereka yg tengah kesakitan dia area mata dan hidungnya karena pukulan majalah tadi.
Devi pun keluar setelah mendengar kekacauan.
"Ada apa ini??" tanya Devi.
"Tak ada waktu kak, ayo kita kabur.." ucap Vio menarik tangannya.
Mereka pun dengan cepat menuju ke pintu keluar, tapi dihadang lagi oleh orang suruhan kakeknya yg berjaga di depan.
"Mau kemana kalian??"
"Uups.. mereka masih ada." ucap Vio.
"Vio, aku akan ikut mereka.. kau pulanglah jangan membuat dirimu berasa dalam bahaya." ucap Devi.
"Maaf kak, aku tak suka melihat mereka." ucap Vio maju dan memukul mereka.
Vio pun mencolok mata salah seorang kemudian memukulinya. Lalu menendang area vital yg lain dan memukulnya hingga jatuh dan kesakitan.
"Ayo kita lari mumpung mereka jatuh." ucap Vio.
Devi pun menurut saja dan langsung menuju ke apartemen miliknya. Dirinya sudah merasa orang-orang kakeknya mulai mengintainya. Dan untuk itu Devi nampaknya harus pergi ke Singapura agar aman.
"Vio, kau pasti habis ini akan dalam bahaya.. kumohon jangan kemana-mana.." ucap Devi.
"Kakak jangan khawatir.. aku akan baik-baik saja." ucap Vio santai.
__ADS_1
"Vio, ikutlah denganku pulang ke Singapura.. " ajak Devi.
"Aku belum bisa kak.. kakak duluan saja." ucap Vio.
Akhirnya Devi pun menyerah membujuk Vio, karena Devi takut terjadi sesuatu pada adik Sammy yg berani memukuli orang suruhan kakeknya. Devi pun mengabari Sammy akan hal itu, dan Sammy cukup terkejut mendengarnya. Sammy pun berniat akan mengurung Vio di dalam apartemennya untuk sementara.
"Kak kalau aku lapar bagaimana? aku tak bisa memasak." ucap Vio.
"Pesan online." balas Sammy.
"Kalau aku bosan.?" tanya Vio.
"Itu masalahmu.. pokoknya jangan keluar apartmen." ucap Sammy.
"Huu.. baiklah.." balas Vio menyerah agar tidak dipulangkan ke Singapura.
.
.
Di tempat lain, nampak tuan Tian sedang memarahi anak buahnya yg gagal menjemput paksa Devi.
"Apa?? kalian dipukuli oleh seorang gadis??" ucapnya heran.
"Gadis itu cukup cerdik dan kuat tuan."
"Alasan.. kalian saja yg payah.." balas tuan Tian.
"Maaf tuan.."
"Ck.. bawa gadis itu padaku, aku penasaran dimana cucuku menemukannya.." ucap tuan Tian.
"Baik tuan." ucap mereka.
"Dasar lemah..!" ucap tuan Tian kesal.
.
.
"Aku tak sabar Daphny.." ucap Santi.
"Iya aku juga.. siapa yg menyangka keduanya akan menikah." ucap Daphny.
"Tapi nampaknya Devi akan kemari lebih awal karena kakeknya ingin mengacaukan pertunangannya." ucap Santi.
"Ada masalah apa dengan ayahmu? sampai sebegitunya." ucap Daphny.
"Aku juga tak mengerti, dan maaf ayahku memang tidak menyukai Sammy." ucap Santi.
"Yasudahlah.. aku bisa mengerti." ucap Daphny.
Dan Dion pun akan menjemput Devi, besok setelah mendengar 2x percobaan penjemputan paksa. Dion takkan tinggal diam oleh ulah ayah mertuanya tersebut. Padahal dirinya dan istrinya sudah memohon dan meminta ijinnya tapi tetap saja orang tua kolot itu keras kepala.
Kini Dion harus melindungi putrinya dan membawanya langsung ke Singapura. Dan Devi sudah tahu jadwal kepulangannya serta sudah mempersiapkan segalanya.
Sesuai jadwal, Devi pun kembali ke Singapura bersama Dion. Dan semuanya berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Kakek tua itu nampaknya tak berani melawan Dion yg memiliki hak atas Devi penuh sebagai ayahnya.
.
.
Sementara Vio pun sangat bosan berada di apartemennya. Mau tak mau Vio harus menuruti kakaknya yg memberinya tempat tinggal dan uang selama di Indonesia. Selama 24 jam dalam sehari Vio terus terkurung di dalam apartemen membuatnya seperti zombie hidup.
"Vio kau sakit?" tanya Sammy.
"Kakak masih tanya? aku bosan berada di dalam apartemen ini." ucap Vio.
"Haha.. sabarlah, sebentar lagi kita akan pulang ke Singapura dan kau akan bebas." ucap Sammy.
"Bebas apanya?? papa pasti akan mengawasiku di rumah dan disuruh kembali kuliah." ucap Vio.
"Tentu saja, kau pikir uang kuliahmu itu turun dari langit?? tidak kan.." balas Sammy.
__ADS_1
"Tapi kak.." ucap Vio berasalan.
"Kau saja belum mampu hidup sendiri, jadi saranku kau hanya perlu berpikir dengan baik tentang tujuan hidupmu." ucap Sammy.
"Baiklah.. aku akan menjadi zombie hidup 3 hari lagi." ucap Vio.
"Oh iya, aku tak masalah.." ucap Sammy tersenyum melihat adiknya tersiksa.
Sementara itu, Devi menghubungi Davi untuk mengambil gaun pesanannya di butik. Dan Davi yg tidak tahu apapun, mau tau mau mengambilnya. Beruntung Devi memberitahu kalau Vio tahu tempat tersebut dan datang bersamanya saat pemesanan.
Davi pun meminta ijin Sammy untuk meminta Vio menemaninya mengambil gaun tersebut. Sammy pun mengijinkannya karena Vio akan aman bersama Davi.
"Kau senang sekali bisa keluar apartemen." ucap Davi.
"Tentu saja kak, kak Sammy mengurungku dan aku hampir seperti zombie hidup." ucap Davi.
"Kau tetap lucu tak berubah seperti dulu, coba kau adikku pasti aku akan memanjakanmu." ucap Davi.
"Benarkah? angkat aku jadi adikmu kak.." ucap Vio.
"Adik Sammy berarti adikku juga.. kau tenang saja.." balas Davi tersenyum.
"Lokasinya sudah dekat?" tanya Davi.
"Iya, itu ruko berwarna serba putih." ucap Vio.
"Oke.."
Mereka pun turun dan masuk ke dalam toko tersebut. Lalu mengambil pesanan Devi dan langsung pergi. Tiba-tiba orang-orang kakek Davi muncul.
"Tuan Davi, ikutlah dengan kami."
"Kak, mereka datang lagi." ucap Vio.
"Sebelumnya juga begini?" tanya Davi dan Vio mengangguk.
"Astaga, aku mau dibawa kemana?" tanya Davi.
"Ini perintah tuan Tian."
"Aku sibuk, lain kali saja.. permisi." ucap Davi.
"Silahkan tuan." ucap pengawal tersebut tapi juatru menahan Vio.
"Tapi gadis menyebalkan ini akan kami tahan."
"Tunggu dia tak ada hubungannya dengan ini.." ucap Davi.
"Mereka sudah memukuli kami 2x.." ucap mereka.
"Dan akan jadi 3x.. " balas Vio lalu memberikan bogem mentahnya pada salah seorang pengawal tersebut.
Bughhhh..
"Ehh.. Viio.." ucap Davi syok.
Krettekkk.. Vio pun meregangkan otot tangannya untuk siap memukul lagi. Tapi Davi langsung menarik tangannya dan kabur dari tempat tersebut. Ternyata cerita Sammy dan Devi pun bukan sekedar bercanda melainkan Vio benar-benar mampu memukul pengawal kakek mereka.
"Astaga Vio, ternyata kau tak sepolos yg kukira." ucap Davi.
"Maaf kak, aku agak kesal melihat mereka jadi kupukul agar diam." balas Vio tersenyum.
"Yasudah, kau diam di apartemen Sammy saja.. kakekku orang yg cukup berbahaya dan punya kekuasaan." ucap Davi.
"Aku mengerti kak.." ucap Vio.
"Maaf, tadinya aku ingin mengajakmu jalan-jalan tapi keadaannya tak baik.. aku tak mau kau jadi sasaran orang suruhan kakekku.." ucap Davi.
"Aku tahu kak kondisinya." ucap Vio.
"Aku akan langsung mengantarmu pulang.. " ucap Davi langsung membawa Vio ke apartemen Sammy.
Vio pun menurutinya karena Davi benar tentang keadaan saat ini. Terlebih Vio tak ingin menggangu pertunangan kakaknya.
__ADS_1