
Hari-hari selanjutnya, mereka pun mengikuti keinginan Devi yg ingin belanja dan wisata kuliner. Serta mereka mengunjungi beberapa tempat wisata. Tak hentinya Devi berfoto bersama kedua pria tersebut, dan walaupun tak suka mereka tetap menurutinya setelah kejadian malam itu.
"Dev, sudah ya gigiku kering nyengir mulu." ucap Davi.
"Pfff.. oke.. setidaknya senyum sedikit." ucap Devi.
"Sabar bro.." bisik Sammy.
"Bagaimana kalau kita makan siang di sana.." tunjuk Devi pada sebuah tempat makan.
"Oke.." ucap Sammy yg sudah lelah.
"Iya mari kita makan." ucap Davi bahagia akhirnya mereka istirahat juga.
Disanalah mereka beristirahat dan makan sejenak. Kemudian Davi mengulur waktu karena kakinya pegal menuruti saudara kembarnya itu belanja dan jalan-jalan. Walaupun berat tinggal terpisah, tapi Davi bersyukur karena dirinya tak setiap hari menemani Devi berbelanja.
"Dev, habis ini kita pulang ke Villa untuk istirahat dan membereskan barang sebelum besok pergi." ucap Sammy.
"Yah, waktu cepat sekali berlalu." ucap Devi.
"Sister, masih banyak waktu.. nanti kita bisa kesini lagi." ucap Davi.
"Iya.. kita juga sudah jalan-jalan seminggu penuh ini.. " ucap Sammy.
"Tapi nanti kita ke pantai, aku ingin melihat matahari terbenam." ucap Devi.
"Oke.." ucap Davi.
"Ya.. tak masalah." ucap Sammy.
Akhirnya mereka punya alasan untuk istirahat lagi dengan dalih merapikan barang sebelum pulang. Mereka juga tak keberatan untuk menemani Devi melihat matahari terbenam, karena itu memang pemandangan indah.
.
.
.
Sore harinya, sesuai janji mereka menemani Devi melihat matahari terbenam. Ketiganya pun duduk di pantai dan menunggu momen itu. Setelah matahari mulai terlihat terbenam, mereka pun menyaksikan dan mengabadikannya di ponselnya.
"Indah sekali." ucap Devi.
"Ya.. berkatmu aku juga bisa melihatnya." ucap Davi.
"Aku pasti merindukan tempat ini." ucap Sammy.
"Ayo berjanji nanti kita bertiga kemari lagi." ucap Devi.
"Oke.." ucap Davi dan Sammy.
Setelah dari pantai mereka mencari makan di sekitar dan melihat James. Sammy yg melihatnya pun menarik kedua temannya untuk tak makan di resto yg sama.
"Sstt.. tunggu ada tuan James." ucap Sammy.
"Iya.. kau benar." ucap Davi.
"Kita pindah saja kalau kalian tidak nyaman." ucap Devi.
"Kau tak keberatan?" tanya Sammy.
"Iya.. ayo ke resto C saja." ucap Devi.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pergi ke resto C dan makan malam disana. Lalu mereka pulang ke villa untuk beristirahat. Saat tiba mereka pun duduk di ruangan santai dan mengobrol.
"Samm.. kau sangat tak nyaman dengan tuan James." ucap Davi.
"Iya, bahkan kau begitu terlihat menjauhinya." ucap Devi.
"Entah mengapa aku tidak menyukainya.. Walaupun dia baik pada kita tetap saja ada perasaan tidak nyaman." ucap Sammy.
"Aku juga merasa tak nyaman, tapi tak masalah bertemu dengannya." ucap Davi.
"Ya.. itu hal wajar karena dia kan orang asing." ucap Devi.
"Ya.. kurasa aku terlalu berhati-hati pada orang yg baru kutemui." ucap Sammy.
Begitulah obrolan singkat mereka dan Sammy belum bisa jujur pada ketiga sahabatnya. Hingga esoknya mereka pun harus pulang dan pagi-pagi sekali sudah ada di bandara.
Beberapa menit perjalanan pun tak terasa, hingga mereka tiba di Jakarta. Kemacetan jalanan khas Jakarta pun menjadi hal yg dikeluhkan oleh ketiganya.
"Inilah alasanku malas tinggal disini." ucap Davi.
"Benar, separah ini kemacetannya." ucap Sammy.
"Karena ini jam istirahat kantor, jadi lumayan padat.. belum lagi saat pulang kantor." ucap Devi.
"Itulah pertimbanganku enggan bekerja disini." ucap Sammy.
"Iya, terserah padamu Sammy." ucap Devi.
Hingga mereka berada beberapa jam di jalanan yg padat. Dan saat sampai mereka nampak kelelahan hingga langsung istirahat di kamar masing-masing.
Siang harinya, mereka berkumpul di ruang makan untuk makan siang. Para pelayan di rumah mereka pun sudah memasakkan makanan untuk ketiganya. Dan nenek serta kakek dari kakak beradik itu memang jarang tinggal disana karena mereka lebih memilih tempat yg tenang dan damai seperti di villa untuk menghabiskan masa tua.
"Jadi kau selalu sendiri tinggal disini?" tanya Sammy.
"Yah, kakek dan nenek kami memang sudah tua dan mereka ingin hidup dengan damai di tempat terpencil." ucap Davi.
"Pantas saja kau senang sekali kami datang." ucap Sammy.
"Ya.. kadang beberapa temanku juga menginap disini." ucap Devi.
"Tapi, setidaknya ada banyak orang di rumah ini yg menemanimu." ucap Sammy.
"Kau benar Sammy, walaupun aku jarang ada dirumah dan memilih kuliah sambil mengurus beberapa pekerjaan yg ditugaskan kakek." ucap Devi.
Begitulah mereka menghabiskan waktu terakhir sebelum Sammy dan Davi kembali ke Singapura. Keduanya pun kasihan pada Devi yg hanya tinggal bersama para pelayan di rumah besar tersebut.
Sebelum kembali ke Singapura, Devi memberikan mereka oleh-oleh makanan khas Indonesia yg sudah ia pesan.
"Dev, ini banyak sekali.." ucap Sammy.
"Iya mom bilang ibumu menyukai beberapa camilan ini." ucap Devi.
"Terimakasih Dev, nampaknya bagasiku penuh." ucap Sammy.
"Kau memang pintar dalam hal belanja sister, semua pesanan mom sangat lengkap." ucap Davi.
"Tentu saja, jangan remehkan hobiku itu." balas Devi tersenyum.
"Terimakasih sudah datang dan mengajakku liburan, liburan dengan kalian sangat menyenangkan dan aku merasa lebih aman." ucap Devi.
"Tentu sister, aku akan merindukanmu." ucap Davi.
__ADS_1
"Sama-sama Dev, aku juga senang liburan disini." ucap Sammy tersenyum.
.
.
.
Hingga esoknya Sammy dan Davi harus kembali ke Singapura. Mereka pun merasa berat meninggalkan Devi, tapi Devi bukan gadis lemah yg tak bisa melewati ini semua. Terbukti setahun terakhir Devi mampu melewatinya. Dan dirinya juga bisa menyesuaikan diri di Indonesia.
"Sampai jumpa lagi Dev.. " ucap Sammy.
"Hati-hati selama aku tak ada." ucap Davi.
"Oke.. sampai ketemu lagi.. kalian orang-orang berharga di hidupku." ucap Devi memeluk keduanya.
"Ingat, jangan pergi sendirian di malam hari." ucap Sammy.
"Aku akan mengingatnya.. " ucap Devi.
"Bye, sister selalu kabari aku, dad dan mom." ucap Davi.
"Iya.. " ucap Devi.
"Bye Dev, jaga dirimu." ucap Sammy.
"Bye Samm.. Dav.." ucap Devi.
Mereka pun harus berpisah karena Sammy dan Davi harus masuk ke dalam bandara. Devi pun menatap punggung mereka sampai tak terlihat lagi. Sedih rasanya, tapi bagaimanapun cita-citanya adalah meneruskan perusahaan kakeknya. Dan dirinya masih bisa bertemu lagi dengan Sammy dan Davi, serta orangtuanya.
.
.
Saat mereka sudah naik ke pesawat, nampak Sammy tak asing dengan pria yg duduk di depannya. Lalu dirinya mengenali suara James, dan seketika membuatnya menghela nafas.
"Ada apa bro?" tanya Davi.
"Ada tuan James di depan kita, ini kebetulan yg menyebalkan." bisik Sammy.
"Slow.. kita bisa pura-pura tidak tahu saja ." ucap Davi mengerti.
Sammy pun menganggukkan kepalanya. Dan pesawat pun lepas landas menuju ke Singapura. Perjalanan pun cukup untuk Sammy dan Davi tertidur sejenak. Hingga mereka sudah tiba saja di bandara Singapura.
Sammy mengaktifkan ponsel dan segera mengabari Kenzo tentang kedatangan James. Dirinya tak ingin ketenangan mamanya terusik karena bertemu James mantan suaminya sekaligus ayah dari Sammy.
Kenzo pun membaca pesannya, dan dirinya yg sudah sampai bandara bersama istri dan adik Sammy pun berbisik pada istrinya tersebut.
"Benarkah?" tanya Daphny terkejut.
"Iya, kau di dalam mobil saja.. biar aku dan Vio yg menyambut Sammy." ucap Kenzo.
"Oke.." ucap Daphny.
"Vio, ponsel mama tertinggal di dalam mobil, kamu sama papa tunggu kakak ya.." ucap Daphny.
"Oke ma.. hati-hati." ucap Vio.
Kemudian Kenzo melihat beberapa orang-orang James, dan mau tak mau dirinya mengikuti Daphny. Dan meninggalkan Vio bersama satu orang pengawal.
"Vio, papa mau ke toilet.. kamu tunggu kakakmu, disini juga ada seorang pengawal. " ucap Kenzo.
__ADS_1
"Oke pa.." ucap Vio.
Gadis itupun menunggu kakaknya dengan santai sembari menatap ponselnya.