Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.143 Mengakui perasaan


__ADS_3

Setelah Sammy menemui kakeknya Devi pun agak khawatir. Ia takut kakeknya akan melakukan sesuatu yg menyakiti Sammy. Terlebih jika kakeknya itu tahu siapa ayah kandung dari Sammy.


Devi pun bertanya pada Davi, tapi saudara kembarnya itupun belum mendapatkan kabar apa-apa dari Sammy.


"Bagaimana Dav?" tanya Devi.


"Dia belum mengabariku apa-apa.. kau tenang saja Sammy tak sebodoh itu." ucap Davi.


"Semoga begitu." ucap Devi.


.


.


Sementara itu Sammy fokus merawat neneknya. Dirinya juga menjaga makanan yg akan dikonsumsi neneknya. Meski kerap harus menghadapi James tapi Sammy berusaha profesional.


"Bagaimana kabar nenek?" tanya Sammy.


"Tentu saja aku sangat baik nak.. Berkatmu aku bukan hanya bisa istirahat di rumah sakit tapi juga istirahat dari bekerja." ucap Vina tersenyum.


"Ideku bagus kan??" balas Sammy tersenyum.


"Tapi kau tak menyesal membebaskannya?"


"Sebanding dengan nyawa nenek, kurasa itu lebih baik." ucap Sammy tersenyum.


"Kau tak hanya pintar, tapi juga dewasa." ucap Vina.


"Tentu, aku kan cucu nenek." ucap Sammy.


Setelah mengunjungi neneknya Sammy pun melanjutkan pekerjaannya. Dan James sering datang mengunjungi ibunya. Dan mau tak mau James juga berkonsultasi pada Sammy yg merupakan anak kandungnya sendiri. Rasa malu dan bersalah pun membuatnya tak mampu menatap mata putranya sendiri.


"Kondisi nyonya Vina semakin membaik, minggu ini sudah bisa pulang ke rumah." ucap Sammy.


"Terimakasih dr.Sammuel.." ucap James menunduk.


"Ya.. saya harap nyonya tidak tertekan selama dirumah." ucap Sammy.


"Aku mengerti." balas James.


Kemudian sesi konsultasi pun selesai, dan James keluar dari ruangannya. James menuju ke mobilnya. Di dalam mobilnya dirinya menangis menyesali semua perbuatannya baik pada Daphny maupun Sammy. Waktu yg berlalu pun tak bisa diputar lagi. Hal itu membuat James sangat menyesal dan menderita.


.


.


Beberapa hari kemudian, Vina pun diperbolehkan pulang. Dan Sammy memeriksakan kondisinya sebelum Vina pulang.


"Sudahlah nenek sudah baik-baik saja." ucap Vina.


"Nenek, sebentar cuma 3 menit." ucap Sammy memaksa.


"Baiklah." ucap Vina.


Setelah memeriksa, dan yakin akan kondisi neneknya Sammy pun memperbolehkannya pulang. Disana sudah ada Simon dan seorang perawat yg dipersiapkan untuk menjaga neneknya.


"Kabari aku nek, jika terjadi sesuatu." ucap Sammy.


"Ya.. kau tenang saja sudah ada Simon." ucap Vina.


"Simon, jaga baik-baik nenekku." ucap Sammy.


"Perawat, terus cek kondisinya sesuai apa yg sudah aku instruksikan." ucap Sammy.


"Baik dokter." ucap Simon dan perawat tersebut.

__ADS_1


Sammy pun mengantar kepulangan neneknya sampai di depan pintu masuk. Lalu dirinya kembali bekerja dan barulah merasa sedikit lega karena neneknya sudah dalam proses pemulihan.


"Satu persatu masalah usai.. sekarang tinggal masalahku dengan Devi." gumam Sammy.


Lalu tiba-tiba dirinya mendapat pesan dari Jeremy yg memberitahukannya kalau dirinya dan Devi akan bertunangan malam ini di sebuah hotel mewah. Seketika hati Sammy pun panas dan tak terima. Walaupun tuan Tian belum menyetujuinya, tapi kalau sekarang dirinya tak bertindak mungkin Sammy akan menyesalinya seumur hidupnya.


"Ck .. apa maksud pria ini memberitahuku, bahkan memberitahu lokasi dan waktunya." gumam Sammy dalam hati.


Rasa penasaran pun menyelimutinya dan tak ingin melakukan kesalahan yg membuatnya mempermalukan dirinya, Sammy pun bergegas ke hotel tersebut dan bertanya pada resepsionisnya. Berita yg ia dapatkan berbeda dari yg diterima dari Jeremy. Memang ada sebuah pertunangan nanti malam tapi bukan Devi melainkan pasangan lain. Sammy pun tersenyum karena hampir saja terjebak dan mempermalukan dirinya.


"Apa-apaan baj***an ini?? mau mempermainkanku?" gumam Sammy.


Sammy pun mengambil ponselnya dan menghubungi Jeremy langsung.


"Hallo.. " ucap Sammy di telepon.


"Kukira kau akan langsung menghubungiku, ternyata butuh waktu beberapa jam ya.." ucap Jeremy.


"Kau ingin menjebakku?" tanya Sammy.


"Menjebak bagaimana?" balas Jeremy tersenyum.


"Kau berusaha membodohiku, Devi tak akan bertunangan tanpa memberitahukannya padaku." ucap Sammy.


"Yah ketahuan.. ternyata kau pintar juga ya dr.Sammuel." ucap Jeremy.


"Apa maumu bre***sek??" tanya Sammy.


"Datanglah ke sebuah resto XX malam ini." ucap Jeremy.


"Apa maumu?? ayo kita bertemu dan selesaikan secara jantan." ucap Sammy.


"Tidak, kau datang saja nanti malam jam 8 ya.." ucap Jeremy yg berusaha menahan tawanya mendengar reaksi Sammy.


"Cih.. "


Dan Davi pun yg harus menjelaskan segalanya pada Sammy. Karena teman baiknya itu sampai mendatanginya di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Samm.. akhirnya kau mengunjungiku.. tapi rasanya ada yg tak baik-baik saja.." ucap Davi langsung membaca ekspresi Sammy.


"Dimana Devi, Dav?? " tanya Sammy.


"Tentu saja bekerja.. " ucap Davi.


"Aku baru dari kantornya dan katanya dia tak ada." ucap Sammy.


"Oh, dia keluar kota.. karena mereka tak mengenalimu jadi tak memberitahukan dimana atasan mereka." balas Davi.


"Kukira baj**an itu melakukan sesuatu yg buruk." umpat Sammy.


"Baj****an siapa?" tanya Davi kesal.


"Jeremy.. kau mengenalnya?" tanya Sammy.


"Oh, calon suaminya.." balas Davi memanas-manasi.


"Kau bilang pernikahannya sudah gagal?" balas Sammy emosi.


"Hahaha.. kau langsung emosi.. sabar bro.. makanya kalau cinta jangan pake gengsi.." sindir Davi.


"Ck.. kau ini menyebalkan.." ucap Sammy.


"Kau lupa Devi itu saudariku, artinya aku calon iparmu." ucap Davi.


Sammy pun menarik nafas panjang, emosinya ditarik ulur oleh Davi. Jika diteruskan mungkin tensi darahnya akan semakin tinggi.

__ADS_1


"Maaf.. aku hanya kesal. Tapi memang benar aku mencintainya, kau keberatan??" tanya Sammy.


"Tidak juga, kata siapa aku keberatan." ucap Davi tersenyum sembari mengangkat bahunya.


"Jadi calon iparku.. jaga emosimu dan ungkapkanlah perasaanmu.. " ucap Davi.


"Aku akan berusaha.. walaupun kakek kalian menentangnya." ucap Sammy kemudian menceritakan segalanya tentang pertemuannya dengan tuan Tian.


Davi pun tak percaya pada ucapan Sammy yg terang-terangan berkata jujur dan membeberkan segala fakta mengenai dirinya dan ayah kandungnya.


"Kau sedang uji nyali Samm??" tanya Davi.


"Aku tahu, tapi lebih baik kakek kalian tahu sekarang.. dan lagi orang tua kalian kan mengenalku. " ucap Sammy.


"Ya.. tak ada yg bisa kulakukan selain memberimu semangat bro.." ucap Davi menepuk pundaknya.


"Baiklah.. aku akan mengatakannya pada Devi secepatnya." ucap Sammy.


"Ya.. jangan sampai ditikung lagi." ucap Davi.


Kemudian Sammy pun pamit meninggalkan rumah sakit tersebut. Sammy masih harus bekerja dan menghubungi Devi tentang rencana apa yg tengah disusun oleh Jeremy untuk mereka.


Devi pun tak memberi jawaban juga, hingga malam hari. Dan Sammy harus datang langsung sesuai permintaan Jeremy.


.


.


Tibalah malam itu, Sammy datang ke resto yg ditujukan dan melihat Devi serta Jeremy tengah duduk di sebuah meja. Sammy pun dengan tenang menghampiri keduanya.


"Selamat malam.. maaf mengganggu tapi aku juga diundang untuk datang kemari." ucap Sammy.


"Siapa yg mengundangmu.. dasar pengganggu.!" ucap Jeremy.


"Hei baj**an kau yg memberitahuku untuk datang tadi siang.. mau kuhajar??" tanya Sammy sambil tersenyum menahan emosinya di tempat tersebut serta mengurangi volume bicaranya.


"Kau cukup berani rupanya." ucap Jeremy.


"Tunggu.. tunggu ini ada apa?" tanya Devi yg bingung dengan keadaan ini.


"Dev, dia yg menghubungiku untuk datang malam ini dan kenapa kau mengabaikan panggilan serta pesanku?" tanya Sammy.


"Ponselku mati, karena seharian ini aku ada diluar kota." ucap Devi.


"Devi haruskah kita pergi ke resto lain karena ada pengganggu?" tanya Jeremy membuat Sammy kesal.


"Berhenti bermain-main Jeremy.. Sammy tak mungkin datang jika tak diberitahu.." ucap Devi menatap tajam.


"Ck.. kalian ini saling memahami satu sama lain tapi masih bersikap bodoh. " ucap Jeremy lalu bangkit dari duduknya.


"Apa maumu?" tanya Devi pada Jeremy.


"Dr.Sammuel, sepertinya aku memberimu kesempatan terakhir untuk bicara karena jika kau tak mengatakannya sekarang aku akan mengambil kesempatan ini dan bicara pada tuan Tian." ucap Jeremy tersenyum lalu meninggalkan mereka.


"Dia itu kenapa?" gerutu Devi.


"Ck.. kenapa momennya begitu menyebalkan.." gerutu Sammy.


"Sam.. kau mau bicara apa?" tanya Devi.


Sammy pun menarik nafas panjang, lalu mengatakan apa yg sudah ada di benaknya.


"Devi aku hanya ingin jujur padamu.. Aku menyukaimu, aku selama ini tidak menyadarinya dan bertindak bodoh, tapi tidak kali ini." ucap Sammy.


Plakk..plakk.. Devi pun menampar pipinya 2x untuk memastikan apa yg didengarnya adalah nyata.

__ADS_1


"Apa ini mimpi??" tanya Devi.


__ADS_2