Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.37 4 Tahun kemudian


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Lyra pun sudah dinyatakan lulus di kampusnya. Dan sekarang Vina, Jasmine beserta James hadir di acara wisudanya. Mereka pun bahagia dan bangga atas kerja keras Lyra selama ini.


"Selamat sayang.." ucap Jasmine memeluk Lyra.


"Terimakasih bunda." ucap Lyra.


"Selamat Lyra.. mom bangga padamu." ucap Vina.


"Terimakasih mom." ucap Lyra ikut memeluk Vina.


"Selamat Lyra, kau sudah bekerja keras selama ini." ucap James.


"Selamat nona.. usaha anda tidak sia-sia." ucap Ben yg hadir bersama James.


"Terimakasih James, Ben.. " ucap Lyra tersenyum.


Lyra pun masuk ke dalam lulusan terbaik kampus tersebut. Dan dirinya mendapat beberapa penghargaan yg membuat orang-orang sekitarnya bangga padanya. Dion dan Santi juga ikut lulus bersama Lyra dengan nilai terbaik.


Setelah euforia kelulusan mereka, ketiganya sudah punya tujuan masing-masing. Ketiganya memilih mengambil kuliah dokter spesialis, sesuai keinginan masing-masing. Sembari mereka bekerja di rumah sakit.


Ketiganya masih harus berjuang demi mimpi mereka dan tak kenal lelah. Sementara Lyra, tak ada yg berubah meski sudah 4 tahun menikah dengan James. Tak ada cinta, ataupun hal berbau romantis. Keduanya hanya menjalani peran mereka dengan baik dihadapan orang lain.


Dan berkat kelas yg diikuti Lyra dari ibu mertuanya, kini Lyra mahir beberapa bahasa. Hingga tak jarang James mengajaknya ke beberapa pertemuan dengan klien atau undangan resmi.


Malam ini mereka akan mendatangi acara pernikahan anak dari klien mereka. James maupun Lyra siap berakting bak pasangan sungguhan malam ini. Walaupun entah sampai kapan mereka harus bersandiwara begitu.


"Kau sudah siap Lyra?" tanya James.


"Ya.. sebentar lagi." balas Lyra yg sedang bersiap.


Kini Lyra sudah terbiasa hidup dengan James yg mengharuskannya pergi ke pertemuan khusus dengan rekan bisnisnya. Dan semua pelajaran yg diminta Vina padanya untuk mengikuti berbagai kelas pun terbukti berguna. Lyra fasih dalan beberapa bahasa, mengerti table manner dengan benar, juga beberapa pengetahuan tentang negara luar. Belum lagi profesinya sebagai dokter yg membuat orang tidak meremehkannya.


Dan Lyra kini sudah bertransformasi menjadi wanita dewasa dengan pola pikir yg luas dan terbuka. Dirinya sudah bisa menjaga sikap dan tak terlalu sering bertengkar dengan James, hanya sesekali mereka berdebat.


Dengan gaun cantik yg dikenakannya, serta rambut indah yg tergerai membuat Lyra menjadi wanita dewasa yg sangat cantik. Bahkan James mengakuinya walau itu ia ucapkan dalam hati.


"Damn.. kenapa gadis ini jadi semakin cantik??" gumamnya dalam hati.


Meski kini Vina banyak berada di luar negeri karena beberapa perusahaan yg harus ia urus, tapi dirinya tetap berhubungan baik dengan menantu kesayangannya tersebut. Bagaimana tidak dapat julukan menantu kesayangan, karena Lyra begitu mengerti dirinya dan tahu apa yg ia butuhkan. Walaupun Vina masih sering menguliti kekurangan Lyra yg masih terlihat.


"Bagaimana? aku tidak norak kan?" tanya Lyra pada James.


"Hanya orang buta yg menyebutmu begitu. Lihat saja seberapa mahal gaunmu." ucap James.


"Ini pilihan mom." ucap Lyra.

__ADS_1


"Pantas saja.." ucap James.


"Ayo kita berangkat." ucap Lyra.


Lyra dan James pun pergi ke acara undangan klien bisnis James. Keduanya naik mobil yg dikendarai oleh Ben. Dan kini Ben melihat sudah ada perbaikan antara hubungan James dan Lyra. Keduanya sudah tak pernah terlihat bertengkar lagi dan hanya akan sedikit berdebat.


"Tuan.. nona kalian sangat serasi malam ini.." puji Ben.


"Tentu saja.. aku tak ingin orang lain bicara di belakang." ucap James.


"Itu benar Ben, lagipula tak baik jika aku mendapatkan banyak rumor.." ucap Lyra.


Mereka pun menuju ke tempat acara dilangsungkan malam itu. Dan saat turun dari mobil, nampak Ben membukakan pintu untuk Lyra dan James menjemputnya. Bak diperlakukan sebagai ratu, semua orang pun iri pada Lyra. Apalagi dirinya tampil cantik dan menawan membuat semua mata tertuju padanya. Terlebih tubuhnya yg lumayan tinggi, kurang lebih sekitar 170cm membuatnya terlihat lebih seimbang jika bersanding dengan James.


"Apa-apaan mata mereka itu.." gerutu James.


"Tentu saja karena aku cantik." bisik Lyra.


"Kau terlalu percaya diri." ucap James.


"Memangnya apalagi James kalau bukan itu?" balas Lyra tersenyum.


"Salahmu sendiri berdandan cantik.." gerutu James dalam hati.


"Tuan James, jadi ini istri yg selama ini kau sembunyikan.." ucap nyonya Darwin.


"Benar.. lebih tepatnya aku belum bisa memperkenalkannya karena dulu dirinya masih menempuh pendidikan." ucap James.


"Maaf, karena kesibukanku harusnya aku lebih sering datang ke acara seperti ini.." ucap Lyra.


"Hoho.. tak apa nyonya.. kami memakluminya.." ucap nyonya Darwin.


"Kau sangat berutung tuan James mendapatkan istri yg cantik seperti ini.. apalagi nyonya seorang dokter. " ucap tuan Darwin.


"Kau benar tuan, rasanya aku memiliki banyak keberuntungan di hidupku." ucap James.


Mereka pun berbincang-bincang, dan bertemu banyak klien lainnya. Ada juga yg dari negara tetangga, dan Lyra bisa menghadapinya berkat kelas bahasa asing yg ia pelajari.


"Kemampuan bahasa asingmu cukup bagus." ucap James.


"Ini berkat mom." bisik Lyra.


"Jika begini, kau bisa sering ikut acara undangan begini." ucap James.


"Aku tak janji James, karena aku bisa kapan saja berlari ke rumah sakit." ucap Lyra.

__ADS_1


"Damn.. kenapa rumah sakit selalu menyebalkan." umpat James dan Lyra hanya tersenyum.


Apalagi yg bisa membuat James bahagia selain pujian dari kliennya mengenai istrinya yg cantik dan pintar. Membuatnya bangga jika pergi bersama Lyra. Padahal awalnya James meragukan Lyra, tapi siapa sangka kini gadis itu bertransformasi menjadi wanita yg sempurna di mata banyak orang?? Itulah hidup, berlian akan berharga jika berada di tangan dan lingkungan yg tepat.


Belum lagi sikap Lyra yg senantiasa ramah dan rendah hati. Membuat James sedikit luluh hatinya, dan juga mulai memikirkan masa depan Lyra. Apa yg harus ia lakukan pada Lyra?? melanjutkan pernikahan atau berpisah diwaktu yg tepat.??


James pun masih menimbang-nimbang akan hal itu. Sementara Lyra, dirinya sudah mempersiapkan sekenario terburuk. Dirinya sudah menabung dan berinvestasi sedikit demi sedikit untuk membeli tempat tinggal jika dirinya harus meninggalkan keluarga Clinton.


.


.


.


Setelah tiba dirumah, mereka yg lelah pun bisa beristirahat. Dan James ingin mulai berbicara serius dengan Lyra mengenai masa depan mereka. Tapi sebuah panggilan pun muncul di ponsel Lyra yg membuatnya harus segera pergi. Panggilan yg tak bisa ia tunda yg mengharuskannya berlari menuju ke rumah sakit.


"Lyra, bisa kita bicara?" tanya James.


"Maaf James, aku harus pergi ke rumah sakit." ucap Lyra.


"Sekarang? ini sudah jam 12." ucap James.


"Pasien tak mengenal waktu James.. maaf mungkin besok kita bicarakan kau tidur saja." ucap Lyra.


"Kau akan pulang malam ini?" tanya James.


"Tidak tahu, kalau tidak pulang paling aku menginap di rumah sakit." ucap Lyra.


"Yasudah pergilah." ucap James.


"Oke.." balas Lyra bersiap-siap.


Tapi saat hendak keluar kamar, James menariknya ke mobilnya dan akan mengantarkannya ke rumah sakit.


"James, kau tidur saja ini sudah malam." ucap Lyra.


"Justru karena sudah malam, jadi aku akan mengantarkanmu." ucap James.


"Oke.. Terimakasih.. Kenapa kau jadi bersikap manis begini?" ucap Lyra tersenyum.


"Karena klien bisnisku menyukaimu." ucap James berbohong.


"Dasar.." umpat Lyra kesal.


Lyra mengira James tulus melakukan ini, tapi mendengar alasannya Lyra jadi kesal karena James hanya memikirkan bisnisnya. Sementara James tak bisa berkata jujur karena gugup dan harga dirinya yg masih tinggi. "Terserahlah.. aku tak mampu mengatakannya." gumam James dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2