Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.41 Makan Malam Romantis


__ADS_3

Setelah mengabari James kapan dirinya pulang, Lyra pun langsung mendapat balasan kalau James akan menjemputnya dan mengajaknya makan malam. Sesuatu yg tak biasa terjadi akhir-akhir ini dimana James sering mengajaknya malam malam berdua. Tapi tak lupa Lyra meminta saran kedua temannya mengenai sikap James. Dion sebagai laki-laki pun yakin kalau sikap James mungkin bisa jadi ketulusan hatinya.


"Bagaimana menurut kalian berdua?" tanya Lyra.


"Apa dia meminta sesuatu padamu?" balas Santi penasaran.


"Dia hanya meminta untuk tidak bercerai." ucap Lyra.


"Maksudku, keinginan yg bisa menguntungkannya semacam take and give.." ucap Santi.


"Tidak ada.. dia hanya bilang bahwa kami tak boleh bercerai selamanya." ucap Lyra.


"Itu bukti Lyr, sepertinya James memang menyukaimu. Dan lagi makan malam.. kemungkinan dia akan membuat suasana romantis untuk mengambil hatimu." ucap Dion.


"Benarkah, lalu aku harus apa?" tanya Lyra.


"Kau harus melihat dengan benar, apakah dia tulus padamu atau hanya ingin memanfaatkanmu." ucap Santi.


"Dan kau juga harus hati-hati.. jangan terbawa suasana." ucap Dion.


"Jika terjadi sesuatu hubungi kami." ucap Santi.


"Baiklah.. aku mengerti.. Terimakasih teman-teman." ucap Lyra.


Tak berapa lama James menelpon kalau dirinya sudah tiba di depan.


"Cepat sekali sampai sudah tiba." ucap Lyra.


"Tunggu.. " tahan Santi pada Lyra.


"Kenapa San?" tanya Lyra.


"Setidaknya pakai lipstik ini.. kau terlihat lelah." ucap Santi mengoleskan lipstik.


"Terimakasih San.." ucap Lyra.


Lalu Lyra pun pergi menemui suaminya dan Santi serta Dion hanya menatapnya dari kejauhan.


"Rasanya mereka mulai akan menikmati masa pernikahannya." ucap Santi.


"Belum tentu San.." ucap Dion.


"Kau sendiri bagaimana? mau sampai kapan jomblo.. awas nanti jadian sama jarum infus." ucap Santi.


"Memangnya kau sendiri sudah jelas? mana kekasihmu itu?" tanya Dion.


"Ck.. kami sudah berpisah.." balas Santi.


"Baguslah, dia tak cocok denganmu." ucap Dion lalu pergi meninggalkan Santi.


Setelah sekian lama, akhirnya Dion bisa memiliki kesempatan mendekati Santi. Dirinya pun sangat bahagia dan ingin menyembunyikannya. Sementara Santi, dirinya tak tahu harus berbuat apa pada hatinya. Padahal prinsipnya dirinya tak ingin memiliki hubungan apapun dengan sahabatnya.


Dan Kenzo dari kejauahan melihat Lyra menaiki mobil mewah. Dirinya pun penasaran siapa yg menjemput Lyra dengan mobil mewah tersebut, apakah kekasihnya? tau justru kakaknya??


.


.


.


Sementara itu, Lyra dan James sudah ada di dalam mobil. Rasa canggung pun mulai terasa, hingga Lyra sendiri tak tahu harus berkata apa. James pun gugup tak tahu harus melakukan apa, hingga mereka tiba di resto.


"Disini? apa ada acara khusus?" tanya Lyra.


"Tidak ada.. anggap saja karena kau sudah berusaha keras selama ini." balas James.


"Baiklah." ucap Lyra.


Mereka pun duduk di tempat yg bahkan sudah direservasi oleh James. Lyra pun semakin curiga kalau dugaan Dion benar, tapi dirinya juga tak boleh langsung mempercayai dugaannya dan terbawa suasana.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya James.

__ADS_1


"Sibuk, lebih tepatnya sangat sibuk. Kau sendiri bagaimana? apa semuanya lancar?" balas Lyra.


"Ya.. begitulah.. Bisnis dan perusahaan selalu begitu, ada banyak trik dan tipu muslihat jadi harus selalu waspada." ucap James.


"Oke.. jadi tujuan dari makan malam tak biasa ini?" tanya Lyra.


"Hanya makan malam biasa. Dan bukankah kita harus mulai dari nol?" tanya James.


"Hmm..pfff.." ucap Lyra tak tahan bisa menahan tawanya teringat bagaimana Santi menirukan iklan bbm.


"Apa yg lucu? aku tak sedang bercanda." balas James kesal.


"Aku hanya teringat dengan iklan bbm.. kata-katamu mirip." ucap Lyra.


"Ckk.. aku sedang serius kau malah bercanda." ucap James.


"Oke maaf.. " balas Lyra.


Kemudian mereka pun memulai makan malamnya. Semua nampak biasa saja, hingga makan malam usai. Dan James memberikan sebuah hadiah pada Lyra. Sebuah kalung yg cantik dan pastinya harganya mahal.


"Ini untukmu." ucap James memberikan sekotak hadiah.


"Hadiah?" ucap Lyra menerimanya.


"Bukalah.." ucap James.


Lyra pun membuka kotak tersebut dan tampaklah sebuah kalung yg cantik. Dan Lyra nampak menatapnya dengan intens.


"Dalam rangka apa James kalung ini?" tanya Lyra.


"Tidak ada.. memangnya harus ada alasan khusus untuk memberi hadiah." ucap James.


"Baiklah, Terimakasih.." ucap Lyra.


"Sudah biar aku bantu pakaikan." ucap James langsung memakaikannya pada Lyra.


Lyra pun diam saja, dan menuruti James. Hingga James telah selesai dan menatap Lyra dengan intens.


"Terimakasih.." balas Lyra canggung.


"Iya.. pasti karena pasti harganya mahal." ucap Lyra.


Tapi sebuah panggilan muncul dengan nama prof. Kenzo.


"Siapa Kenzo?" tanya James.


"Dia seniorku, sebentar ya.." ucap Lyra.


"Hmm.." balas James tak suka.


Lyra pun menerima panggilan di depan James, dan nampak Lyra harus kembali ke rumah sakit. Hal tersebut membuat James kesal.


"Kau mau kembali ke rumah sakit?" tanya James.


"Mau bagaimana lagi James, aku harus kesana." ucap Lyra.


"Baiklah, aku akan mengantarmu." ucap James.


Akhirnya makan malam mereka pun berakhir dengan Lyra harus ke rumah sakit. Tapi saat hendak keluar rumah sakit, seorang wanita datang dan menghampiri James.


"Hai James.." ucap wanita itu yg tak lain adalah Camila.


"Camila..." ucap James.


"Namaku sekarang adalah Bella.. apa kalian habis makan malam?" balas Bella.


"Ya.. dan kami sudah selesai, permisi." ucap James.


"Tunggu.." ucap Bella.


"Apa maumu?" tanya James dan Lyra menatap interaksi mereka.

__ADS_1


"Kau harus memikirkan mengenai kerjasama perusahaan kita." ucap Bella.


"Ckk.. Bicarakan masalah kantor pada jam kantor. Permisi." ucap James.


James pun langsung menarik tangan Lyra dan menuju ke mobil dengan terburu-buru. Lyra pun tak berani bertanya lebih jauh. Dan dirinya semakin bingung. Walaupun James ingin memulainya dari awal tapi tetap saja keberadaan Camila saat ini mengganggunya.


"Kenapa kau diam saja?" tanya James.


"Camila kan kenalanmu." balas Lyra.


"Tapi aku suamimu." balas James.


"Kau berharap aku cemburu? jangan terlalu cepat menyimpulkan James, kita bahkan baru mulai." ucap Lyra.


"Awas jika kau bermain dibelakangku." ucap James.


"Kita lihat saja nanti siapa yg akan bermain." ucap Lyra.


Ckiittt... James pun mengerem mendadak.


"Kenapa tiba-tiba mengerem?" tanya Lyra.


"Dengar Lyra, aku mulai serius dengan pernikahan ini. Kuharap kau juga bisa memulainya." ucap James.


"Akan kucoba walau tak bisa menjamin hasilnya." ucap Lyra.


"Aku akan membuatmu menatapku." ucap James.


"Memangnya aku sekarang menatap patung?" balas Lyra tersenyum.


"Bukan itu maksudku." ucap James kesal.


"Oke.. lanjutkan mengemudi aku harus buru-buru." ucap Lyra.


"Sebegitu tak sabarnya bertemu pria itu.." ucap James.


"Cemburumu berlebihan padahal ini masih awal." ucap Lyra.


James pun hanya diam, dan mengantarkan Lyra sampai rumah sakit. Kemudian, Lyra berpamitan dengannya.


"Ingat hubungi aku, aku pasti datang." ucap James.


" Ya.. baiklah." balas Lyra tersenyum.


Tiba-tiba saat hendak menarik gagang pintu mobil, Lyra pun terkejut karena tangan James menariknya ke pelukannya.


"Hmm.. kau kenapa? katanya tak mau memaksa." ucap Lyra.


"Anggap ini balasan untukku karena sudah memberimu sebuah kalung." ucap James.


"Ingat jangan terlalu dekat dengan Kenzo tak peduli seberapa hebat dirinya." ucap James.


"Baiklah akan kucoba." ucap Lyra.


"Oke.. sudah." ucap James.


Lalu Lyra pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam. Sementara James menatapnya hingga Lyra tak terlihat pandangannya.


.


.


.


Sementara itu, tugas sudah menanti Lyra. Dan Kenzo sudah menunggunya untuk membantu dalam operasi dadakan. Operasi pun berjalan dengan baik dan berhasil. Setelah semuanya usai, Kenzo pun menghampiri Lyra.


"Maaf Lyra, apakah aku mengganggu waktumu.?" tanya Kenzo.


"Tidak.. ini sudah tugasku dan ilmu yg berarti bagiku." balas Lyra.


"Maaf jika begitu, aku tahu kau pulang dan datang kemari dengan pria yg sama." ucap Kenzo.

__ADS_1


"Ya.. begitulah prof tapi jangan khawatir karena dia bisa memahami kondisiku." ucap Lyra.


"Baguslah." ucap Kenzo."Ternyata benar Lyra punya kekasih.." gumam Kenzo dalam hati.


__ADS_2