
3 Hari sebelum Robert tiba di Indonesia, Simon pun melihat beberapa perawat baru yg menurutnya mencurigakan. Dimana tempat rumah sakit sebagus itu, bisa-bisanya menerima perawat amatir. Dan hal itu menambah kecurigaan Simon.
Simon pun khawatir kalau tuannya itu berada dalam bahaya, hingga menempatkan bodyguard di depan pintu untuk berjaga-jaga. Dan dirinya bicara empat mata dengan dokter yg bersangkutan.
"Apa yg terjadi pada staf kalian?" tanya Simon.
"Ada beberapa perawat baru tuan." ucap dr.Roger.
"Apakah masuk akal menaruh perawat amatir memeriksa pasien VVIP?" tanya Simon.
"Kami akan melakukan yg terbaik tuan, dan saya akan ikut datang jika mereka memeriksa pasien." ucap dr.Roger.
"Baiklah.. jangan main-main dengan kami." ucap Simon.
"Tentu tuan.." ucap Roger.
Kemdian Roger menuliskan resep pada Simon. Awalnya Simon tak mencurigainya, tapi ternyata ada pesan dibalik resep tersebut. Pesan yg berisi kalau Robert dalam bahaya dan sedang diincar. Roger pun bersedia membantu mereka kabur sebisanya karena ini pengaruh dari atasannya.
Setelah membaca pesan Roger, Simon pun berfikir dan mengatur rencana. Dirinya hanya terpikir Lyra yg berada di bidang kedokteran yg mungkin bisa mencari dokter terbaik untuk Robert. Hingga akhirnya Roger berkata akan ada orang yg menyuntikkan obat pada Robert, hingga Simon mempercepat rencana memabawa kabur tuannya.
"Tuan, pergilah besok malam lewat jalur udara.." ucap Roger.
"Kau harus membantuku." ucap Simon.
"Aku akan berusaha, karena mereka sedang menyiapkan sebuah racun." ucap Roger.
"Siapa pelakunya?" tanya Simon.
"Aku tidak tahu pasti, yg jelas dia atasanku." ucap Roger.
"Baiklah, lebih baik kau juga pergi dari sini sebelum aku menuntut rumah sakit ini." ucap Simon.
"Aku juga sudah memikirkannya tuan." ucap Roger saat melakukan pemeriksaan terakhir.
Ya, kondisi Robert saat ini adalah masa pemulihan pasca transplantasi jantung. Dan ini adalah hal yg sudah ditunggu setelah bertahun-tahun, karena sangat sulit menemukan donor jantung. Dirinya saat ini belum sadarkan diri setelah operasi.
Hingga 1 jam sebelum keberangkatan, perawat yg menjadi mata-mata Bella beraksi karena mendengar kabar kalau Robert akan pergi. Dirinya menyuntikkan sebuah obat berbahaya di tubuh Robert. Seketika Robert pun melemah, dan Roger langsung memeriksanya.
"Bagaimana dok?" tanya Simon.
"Aku hanya mampu memberi ini.. tapi jika memburuk kita membutuhkan tindakan operasi ." ucap Roger.
"Tapi aku mampu membuatnya bertahan saat dalam perjalan.. kuharap rencana kita berjalan baik." ucap Roger.
"Baiklah.. anak buahku sedang dalam perjalanan membawa helikopter." ucap Simon.
Setelah helikopter tiba, dengan cepat Simon dan Roger membawa Robert. Walau ada sedikit perlawanan sengit karena beberapa orang sempat menghambat mereka pergi. Tapi anak buah yg disiapkan Simon sudah bersiap dan lebih banyak dari mereka. Hingga situasi mudah ditangani.
"Kalian tuntut rumah sakit ini.. karena membahayakan pasien VVIP..!" perintah Simon pada bawahannya.
"Baik tuan." ucap mereka.
Sementara Roger dan Simon mendorong ranjang Robert dan menuju ke atap. Begitu tiba di atap, tim yg ada di sana pun bersiap dan langsung membawa Robert masuk ke helikopter. Semua pun aman, dan Roger memberikan beberapa dosis obat jika kondisi Robert memburuk.
"Semoga kalian beruntung, hanya ini yg bisa aku bantu untuk tuan Robert." ucap Roger.
"Terimakasih atas bantuanmu.. kau juga berhati-hatilah." ucap Simon.
Kemudian, Simon pun terbang menuju ke Indonesia dan menuju ke rumah sakit tempat Lyra bekerja. Simon juga sudah menerima data profesor yg akan menangani Robert. Ternyata pilihan Lyra tepat, dan Simon yakin Kenzo bisa menyelamatkan tuannya.
__ADS_1
.
.
.
Setelah tiba dan diperiksa, ternyata Robert butuh tindakan operasi. Hingga mereka memanggil James untuk menyetujui tindakan operasi tersebut. James yg langsung tiba pun segera menyetujuinya agar kakeknya selamat.
Lyra, Kenzo dan tim dokter pun sudah bersiap dan kini masuk ke ruang operasi. Disana nampak Kenzo fokus untuk menyelamatkan pasiennya. Detik demi detik pun berjalan, walaupun mereka mengalami kesulitan tapi Kenzo dan timnya mengusahakan agar pasiennya tetap hidup.
Dan ditengah-tengah operasi, kegaduhan pun terjadi. Saat itu, James sedang ke toilet dan Ben yg ada di depan ruangan. Ben pun terkejut karena anak buahnya dikepung beberapa orang hingga dirinya ikut membantu.
"Apa mau kalian?? ini rumah sakit.. jika ingin cari masalah ayo keluar." ucap Ben.
Tiba-tiba seorang perawat tengah dijadikan tahanan oleh mereka. Nampak perawat tersebut membawa beberapa obat-obatan dan persediaan darah.
"Tu-tuan tolong aku.." ucap perawat tersebut.
"Hei apa yg terjadi?" tanya Ben bingung.
"Tuan, di dalam butuh semua obat-obatan dan stok darah ini.. tolong selamatkan aku agar pasien bisa diselamatkan." ucap perawat wanita tersebut.
"Hei lepaskan.." ucap Ben melawan mereka.
"Jika kau melawan maka perawat ini akan mati..!" ucap salah seorang.
"Hallo Ben.. mana James ku?" tanya Bella datang.
"Bella jangan main-main.. di dalam tuan Robert sedang berjuang." ucap Ben.
"Kalau begitu panggil Lyra keluar, dan James juga." ucap Bella.
"Kau ingin Robert kehabisan darah.?" tanya Bella.
Ben pun tak ada cara lain selain meminta perawat memanggil Lyra. Akhirnya sambungan telepon pun diterima antara Lyra dan Bella.
"Ada apa?" tanya Lyra.
"Cepat keluar, kalian butuh obat dan stok darah kan?" tanya Bella.
Lyra pun melihat stok obat dan darah yg belum tiba, lalu mengepal geram.
"Cepat berikan kami tak punya banyak waktu." ucap Lyra dan Kenzo pun menoleh.
"Kalau begitu keluarlah, maka perawat itu akan kami antarkan." ucap Bella.
"Baiklah." ucap Lyra.
Kemudian Lyra berbicara situasinya pada Kenzo dan posisinya pun digantikan oleh dokter lain.
"Apapun yg terjadi kalian tetaplah fokus. Aku akan membawa semua yg dibutuhkan disini." ucap Lyra kemudian keluar.
Situasi tegang pun terjadi saat pintu operasi dibuka. Nampak dua orang tengah menyandera perawat yg membawa obat dan stok datah tersebut.
"Lepaskan dia dan aku akan keluar.." ucap Lyra dan tim dokter menjadi terkejut.
"FOKUSSS..!" teriak Kenzo membuat mereka kembali bekerja.
"Baiklah.. " ucap salah seorang melepaskan perawat tersebut.
__ADS_1
Dan Lyra melihat seorang lagi berusaha menyelinap dan menuju ke meja operasi. Tapi Lyra menariknya dan menendangnya keluar.
"Setelah aku keluar langsung kunci pintu ini.." ucap Lyra pada perawat saat tengah mengunci pria satunya.
Bughh.. Brakkk..!
Pintu pun tertutup dan terkunci. Lyra pun tersenyum menatap mereka.
"Ayo kita berkelahi dan aku takkan menahan diri.." ucap Lyra.
"Lyra.. bagaimana di dalam?" tanya Ben dan Lyra melihat sekumpulan pengawal tengah berhadapan dengan beberapa orang lainnya.
"Di dalam sedang berlangsung operasi.. apa yg terjadi?" tanya Lyra.
"Hai Lyra.. bagaimana kabarmu? kau sangat cocok jika penuh dengan darah begitu.." ucap Bella.
"Jadi ini semua ulahmu?" balas Lyra dengan sorot mata tajam.
"Mari kita bicara.." ucap Bella.
"Dan kalian diam disini.. sampai aku memerintahkannya." ucap Bella pada orang-orangnya.
James pun baru tiba dari toilet dan melihat kerumunan orang di depan ruang operasi. Dirinya lantas berlari dan mendekat takut kalau terjadi sesuatu. Setelah agak dekat dirinya melihat Lyra bicara pada Bella.
"Bella? apa yg wanita gila itu lakukan disini?" gumam James.
James pun menghampiri mereka dan menarik Lyra.
"Ada apa ini?" tanya James.
"Mari bicara James.. " ucap Bella.
"Ckk.. apa maumu?" tanya James kesal.
"Ssttt.. ini rumah sakit jadi lebih baik kita bicara." ucap Bella.
"James, ikuti saja ini rumah sakit kita bisa diusir." ucap Lyra.
James dan Lyra pun mengikuti Bella dengan catatan semua orang Bella keluar dari rumah sakit tersebut dan hanya menyisakan 2 orang untuk menjaga Bella.
"Bagus.. menurutlah." ucap Bella.
"Jadi katakan ada apa?" tanya Lyra.
"Kau butuh ini kan?" tanya Bella menunjukkan sebuah obat.
"Hei obat itu dibutuhkan untuk tindakan operasi." ucap Lyra.
"Eits.. maaf Lyra.. aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu." ucap Bella.
James pun mendekat dan langsung ditahan oleh dua bodyguard Bella.
"Bella nyawa kakekku dalam bahaya cepat berikan...!" ucap James.
"Aku akan memberikannya setelah kalian menurutiku." ucap Bella tersenyum.
.
.
__ADS_1
.