
Sammy pun malam itu mendengarkan semua cerita Vina dengan hati-hati. Dirinya juga tak menyangka kalau Wendy akan hamil dan mengalami hal buruk tersebut. Bayangkan saja dirinya belum menikah tapi hamil entah dengan siapa karena kebodohannya. Bukan hanya itu, Vina pun ikut pusing mengurusnya karena ibunya sudah meninggal dan ayahnya berada di penjara.
Semua yg terjadi pada Vina pun membuat kesehatannya menurun. Bahkan Sammy bisa melihat tubuh neneknya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Belum cukup dengan perusahaan, kini Vina harus mengatasi Wendy dengan depresinya akibat kesalahan fatal yg sudah ia perbuat.
"Nek.. jangan banyak pikiran.." ucap Sammy.
"Aku mengerti nak."
"Besok aku akan menjadwalkan nenek untuk cek kondisi kesehatan nenek secara menyeluruh." ucap Sammy.
"Kau tak perlu melakukan hal sejauh itu.. aku baik-baik saja." balas Vina.
"Tidak, nenek harus menurut." ucap Sammy.
"Ternyata kau itu pemaksa ya.. baiklah kabari nenek jadwalnya."
"Orang yg sudah tua cenderung keras kepala, jadi memang harus sedikit dipaksa.." balas Sammy tersenyum.
Setelah dari pertemuan neneknya Sammy pun pulang ke apartemen miliknya. Rasa lelah pun mulai terasa dan dirinya memilih tidur. Tapi baru memejamkan matanya tiba-tiba sebuah panggilan darurat pun muncul di ponselnya. Mau tak mau Sammy harus kembali ke rumah sakit.
"Rasanya aku tidak punya waktu istirahat.." gumamnya.
Sammy pun pergi ke rumah sakit dan terkejut akan kondisi pasiennya yg ternyata adalah neneknya sendiri. Baru saja mereka bertemu dan neneknya terlihat masih baik-baik saja, tapi kini Sammy melihat neneknya tak sadarkan diri.
"Anda tuan muda Sammuel??" tanya Simon membuat semua orang menatap Sammy.
"*Tuan muda??"
"Apa dr.Sammuel aslinya dari keluarga kaya*??"
Bisik-bisik para staf rumah sakit pun terdengar dan membuat Sammy menarik Simon ke ruangannya.
"Jangan panggil aku tuan muda disini.. walaupun rumah sakit ini milik ayahku aku tetap seorang dokter biasa." ucap Sammy.
"Maaf, aku takut lancang." ucap Simon.
"Jadi katakan apa yg terjadi pada nenek?" tanya Sammy.
"Nyonya tiba-tiba pingsan, jadi kami membawanya kemari."
"Baiklah, aku akan memastikan pengobatan yg terbaik." ucap Sammy.
Lalu Sammy melakukan pemeriksaan dan neneknya harus segera dioperasi karena ada sedikit masalah pada jantungnya. Dan di dalam operasi tersebut Sammy butuh persetujuan dari walinya. Sammy pun segera memberitahu Simon akan hal itu.
"Tuan, nyonya Vina butuh tindakan operasi secepatnya.. tapi.." ucap Sammy terdiam.
"Tapi apa?"
"Tapi kami butuh persetujuan walinya.. kau tahu kan siapa walinya.. " ucap Sammy.
"Baiklah, aku akan segera menemui tuan James."
"Lakukanlah sebelum terlambat." ucap Sammy.
"Baik dokter."
Simon pun berlari menuju ke penjara dimana James ditahan. Dan James sangat terkejut akan hal tersebut. Dirinya langsung menandatangani persetujuan operasi tersebut demi keselamatan ibunya.
__ADS_1
Lalu Simon kembali ke rumah sakit dan menyerahkan dokumen tersebut. Tindakan operasi pun dilakukan malam itu juga. Ketegangan pun terjadi selama operasi dan menit demi menit berlalu dengan cepat. Hingga tak terasa sudah 1 jam lamanya mereka di ruang operasi.
Operasi kali ini pun berhasl dan nyawa Vina terselamatkan. Sammy pun bersyukur akan hal itu dan tindakan cepat dari Simon yg segera membawanya ke rumah sakit.
"Bagaimana dok?" tanya Simon.
"Operasinya berhasil, nyonya Vina butuh banyak istirahat dan jangan berikan dia pekerjaan untuk sementara." ucap Sammy.
"Baiklah, terimakasih." ucap Simon.
"Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan." ucap Sammy.
Simon pun bersyukur atasanya selamat malam itu. Dan hanya Simon satu-satunya yg dipercaya oleh Vina selain keluarganya.
.
.
Disisi lain, Sammy merasa kasihan pada neneknya. Karena ulah be**at ayah kandungnya yg kini di penjara neneknya harus bekerja keras. Sammy pun tak bisa meninggalkan pekerjaan yg ia impikan tersebut. Sementara Wendy, sangat tidak bisa diandalkan justru sekarang kondisinya memprihatinkan.
"Nenek tidak bisa terus bekerja.." gumam Sammy dalam hati.
Malam itu, Sammu menghubungi Daphny dan Kenzo. Dirinya meminta nasihat akan tindakan yg akan ia lakukan pada ayah kandungnya tersebut mengingat kondisi neneknya.
"Jadi bagaimana menurut mama dan papa?" tanya Sammy.
"Apa nenekmu kondisinya sangat parah?" tanya Daphny khawatir.
"Tidak terlalu, tapi butuh banyak istirahat.. dan perusahaan mereka pasti kacau jika nenek istirahat." ucap Sammy.
"Kau lebih peduli pada mereka dibanding perkiraanku." ucap Kenzo.
"Kalau kondisinya begini, rasanya tak masalah nak." ucap Daphny.
"Ya.. kau melakukan ini juga demi nenekmu." ucap Kenzo.
"Kalau kalian setuju aku akan mengurusnya besok." ucap Sammy.
"Baiklah sayang lakukan apa yg menurutmu benar." ucap Daphny.
"Ya.. kami menyerahkan segala keputusan padamu." ucap Kenzo.
"Terimakasih mama papa.." ucap Sammy.
.
.
Keesokkannya, Sammy pun mendatangi tempat dimana James berada. Dan dirinya menarik semua tuntutannya terhadap ayah kandungnya tersebut. Sebelum pergi dirinya pun menemui James.
"Sam.." ucap James malu.
"Anda malu?? tentu saja. Tapi aku melakukan ini demi nenek." ucap Sammy.
"Kau boleh membenciku atau tak menganggapku ayahmu." ucap James.
"Tak kau suruhpun aku sudah melakukannya sejak lama." ucap Sammy.
__ADS_1
"Baiklah.. Terimakasih sudah membebaskanku." ucap James.
"Sekarang, uruslah perusahaan dan putrimu. Biarkan nenek pensiun dan menikmati hidupnya." ucap Sammy.
"Tapi jika aku pensiun, siapa yg akan meneruskan perusahaan?" tanya James.
"Itu pikirkan nanti. Pokoknya kau harus tetap hidup bagaimana pun caranya agar aku tak menjadi penerusmu." ucap Sammy.
"Baiklah.. aku menerima hukuman ini darimu seumur hidupku." ucap James.
"Sekarang jangan sia-siakan kebebasanmu.. urus perusahaanmu dan putrimu.. aku hanya akan mengurus nenek." ucap Sammy lalu pergi.
James pun menangis melihat putranya yg bahkan tak mau mengakui dirinya. Memanggil "ayah" pun Sammy enggan melakukannya. Ya, ini adalah hukuman yg pantas bagi James setelah apa yg dialami Daphny dan Sammy selama ini. Wajar jika Sammy melakukan itu.
Penyesalan dan rasa bersalah pun akan dirasakan James seumur hidupnya. Bahkan putranya sendiri yg jadi korban kejahatannya tapi membebaskannya dari hukuman penjara. Sungguh James akan melewati hari-hari berat jika berpapasan dengan Sammy.
.
.
.
Ditempat lain, nampak Davi menemui kakeknya dan meminta agar pernikahan Devi dibatalkan.
"Kakek sudah tahu kan insiden yg Devi alami kemarin malam?" tanya Davi.
"Tentu saja, wanita bodoh." ucap Tian.
"Dia sangat frustasi akan perjodohan.. hentikanlah kek dia bisa bunuh diri jika terus tertekan." ucap Davi.
"Ck.. anak jaman sekarang memang sulit diatur. " ucap Tian.
"Ya.. begitulah kek. Kami punya pemikiran sendiri yg mengikuti perkembangan jaman."
"Kau sendiri? apa menjadi dokter menyenangkan?" tanya Tian.
"Kalau tidak, untuk apa aku berjuang sejauh ini?" balas Davi.
"Baiklah, jika kau ingin agar pernikahan saudarimu digagalkan sebagai gantinya kau yg akan dijodohkan." ucap Tian.
"Kenapa kakek menginginkan sebuah perjodohan??" tanya Davi.
"Karena, kakek ingin mall milik kita tak jatuh ke tangan yg salah... ibu kalian sudah memilih menjadi dokter, begitu juga denganmu."
"Kek, kan Devi bersedia melakukannya." balas Davi.
"Tapi kakek takut kalau suaminya hanya memanfaatkannya." ucap Tian.
"Aku mengerti kecemasan kakek." ucap Davi.
"Davi, kau pasti mengenal dr.Sammuel?" tanya Tian tiba-tiba.
"Tentu saja, kami tumbuh bersama di Singapura." balas Davi yg sudah membaca tujuan kakeknya.
"Panggil dia kemari.. aku ingin bicara dengannya." ucap Tian.
"Baiklah, aku akan menghubunginya." ucap Davi.
__ADS_1
Begitulah pertemuan Davi dan kakeknya yg berujung pada perjodohan untuk Davi. Sementara Davi tak menganggapnya serius, dan bisa menolak semua calonnya.