
Lyra pun merasa aneh pada sikap James semenjak kembali dari negara x. Mulai dari pulang terlambat, tak memberi kabar atau membalas pesannya, hingga parahnya kini James mengacuhkannya. Apa yang terjadi di negara tersebut hingga James berubah drastis?? Lalu bagaimana dengan janjinya untuk memulai segalanya dari awal??
Pikiran Lyra pun bertanya-tanya, bahkan kini James tak pernah lagi sarapan apalagi makan masakan buatannya. Tak ada sapaan, teguran, apalagi pertanyaan tentang dirinya yg dulu pernah James lakukan. Lyra pun menebak telah terjadi sesuatu padanya.
Bahkan Lyra sampai bertanya pada Ben, tapi jawaban Ben mengecewakannya. Ben juga nampak menutupi segalanya. Semua karena demi nyawa orang-orang di klan Clinton. Tapi Lyra tak tahu akan hal itu, dan berpikir pasti ada sebuah konsprirasi besar disini.
"Apa yg terjadi saat ini?" gumam Lyra dalam hati.
.
.
.
Lyra pun bekerja seperti biasa, dan kini tak ada lagi pesan yg menanyakan tentang dirinya. Dirinya mulai kehilangan sesuatu yg biasanya hadir di hidupnya. Dan Santi menyadari hal tersebut.
"Lyra.." panggil Santi tapi Lyra tetap diam.
"Lyra..!" panggil Santi sembari menepuk punggungnya.
"Eh.. iya.. ada apa ?? " tanya Lyra.
"Kau ini bengong mikirin apalagi sekarang?" tanya Santi.
"Ehmm.. anu.. tidak ada .." ucap Lyra.
"Ck.. katakan atau kau akan aku jauhi." ucap Santi.
"Kau memang sangat peka dan mengenalku.." ucap Lyra kemudian menceritakan segalanya pada Santi.
Santi pun terkejut karena nampak sahabatnya itu dipermainkan oleh suaminya.
"Dia sedang mempermainkanmu.." ucap Santi.
"Benarkah?" tanya Lyra.
"Itu sangat mungkin, karena dia yg berjanji tapi dirinya justru berubah padamu." ucap Santi.
"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Bella?" ucap Lyra.
"Bisa saja Lyra.. tapi kau yakin suamimu hanya pulang ke rumahmu, tidak mampir kemana-mana?" tanya Santi menaruh curiga.
"Kalau itu aku juga tidak tahu pasti San." ucap Lyra.
"Ya.. Bella orang yg patut dicurigai.. lebih baik kau bersiap pada skenario terburuk." ucap Santi.
"Baiklah, nampaknya rencanaku kemarin bisa saja tetap berjalan." ucap Lyra.
Dan Santi pun menceritakan masalah Lyra pada Dion saat sedang berdua. Dion mengepal geram karena sebagai laki-laki dirinya tak menepati ucapannya. Tapi mereka sebagai sahabat hanya akan membantunya apapun yg terjadi nanti.
.
.
.
Hari-hari pun terus berlanjut dan tak ada yg berubah pada sikap dingin James. Hal tersebut membuat Lyra lelah dan kesal padanya.
"Mau sampai kapan kau mendiamkanku?" tanya Lyra.
"Aku lelah karena banyak pekerjaan.." ucap James.
"Dasar pecundang.. !" ucap Lyra.
"Apa katamu?" tanya James.
"Ya pecundang, selalu menghindar dan tak berani menghadapi kenyataan." ucap Lyra.
"Kau.. tak tahu apapun." ucap James.
"Bagaimana aku tahu kalau kau tak bicara? memangnya aku dukun?" tanya Lyra.
__ADS_1
"Aku malas berdebat denganmu." ucap James pergi ke ruang pribadinya.
"Dasar PEMBOHONG ." ucap Lyra dengan penuh penekanan.
Hal tersebut pun semakin membuat James tak mampu lagi menghadapi Lyra. Karena memang benar dirinya pembohong dan seorang pecundang yg tak mampu melindungi keluarganya.
.
.
.
Hari berikutnya, Lyra pun meminta bantuan Dimas dan anak buahnya untuk bekerjasama.
"Maaf nona kami tidak bisa." ucap Dimas.
"Oke.. kalau begitu kalian jadi lawan bertandingku. Bagaimana?" tanya Lyra.
"Itu tidak mungkin nona.. bagaimana bisa kami menyerang anda?" tanya Dimas.
"Lalu bukankah lebih baik untuk membantuku?" tanya Lyra.
"Tapi.." ucap Dimas menimbang-nimbang. "Kalau aku ikuti kemauannya bisa bahaya, tapi jika tidak diikuti nyawaku taruhannya." gumam Dimas dalam hati.
"Bagaimana Dimas? mau yg mana?" tanya Lyra.
"Baiklah aku akan membantu anda.. tapi dengan satu syarat.." ucap Dimas.
"Katakanlah." ucap Lyra.
"Anda harus berhati-hati.. karena sekarang tuan agak berbeda dari biasanya." ucap Dimas.
"Bahkan kau saja tahu perubahannya, bagaimana aku yg istrinya tidak tahu.. kalau sudah sadar kita bergerak." ucap Lyra.
Lyra pun bertanya mengenai alat pelacak dan sebagainya untuk melacak suaminya. Lyra sampai mengajukan cuti demi mengetahui jadwal suaminya.
Saat James pulang, beberapa anak buah Dimas pun menaruh pelacak di mobilnya. Dan James tak akan curiga karena mereka memang sering melakukan pengecekan keselamatan.
Keesokannya masih sama, dan Lyra semakin yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada James. Setelah sarapan pagi, Lyra seperti biasa pura-pura akan pergi ke rumah sakit. Dan James seperti biasa akan ke kantornya lebih dahulu.
Setelah 10 menit barulah Lyra, pura-pura pergi. Dan dirinya menuju ke sebuah cafe dimana Dimas dan anak buahnya berkumpul.
"Bagaimana Dimas?" tanya Lyra.
"Nona.. tuan hanya ke kantornya." ucap Dimas.
"Tentu saja, normal jika dia ke kantornya. " ucap Lyra.
"Apakah kita pulang saja?" tanya Dimas.
"No.. kau awasi pergerakan mobilnya dan aku berbelanja.. jika terjadi sesuatu kabari aku." ucap Lyra.
"Baik nona." ucap Dimas.
Lyra pun pergi ke mall tempat biasa momnya mengajaknya pergi. Lalu dirinya ke toko langganan momnya tersebut. Senyum ramah pun ditunjukkan pegawai toko tersebut.
"Selamat datang kembali nona." sapa mereka.
"Terimakasih apakah ada barang baru?" tanya Lyra.
"Tentu nona." ucap pegawai tersebut.
Lyra pun melihatnya dan tertarik pada tas tersebut. Lyra langsung membayarnya, dan seorang wanita juga nampak sedang berburu tas yg Lyra beli.
"Maaf nona tapi sudah terjual baru saja." ucap pegawai toko.
"Siapa pembelinya.?" tanya Bella.
"Nona ini.." tunjuknya pada Lyra.
"Ada apa Bella?" kau mencari tas yg sama? maaf ya aku sudah membelinya, nampaknya aku sedang beruntung." ucap Lyra tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan membayarnya 2x lipat." ucap Bella.
"Bella aku sangat menyukainya jadi maaf." ucap Lyra tersenyum.
"Lihat saja, keberuntunganmu takkan selamanya." ucap Bella.
"Ya.. tak ada yg abadi bukan?" balas Lyra.
Sementara Bella pun mengepal geram. Bahkan sampai meminta orang-orang bayarannya untuk mengikuti Lyra dan memberinya pelajaran.
"Kalian ikuti wanita yg kukirimkan fotonya.. dia berada di mall xx.." ucap Bella.
"Siap nona.." balas orang-orangnya melalui sambungan telepon.
Tanpa menunggu lama, mereka telah tiba di mall. Tapi Lyra yg mendengar tak ada pergerakan apapun dari mobil James yg kemudian akan terjadi sampai jam pulang kantor, memilih untuk ke salon. Ya, mumpung hari ini libur Lyra memilih untuk perawatan.
Setelah beberapa jam di salon pun, tak ada kabar perubahan dari anak buah Dimas. Tapi saat Lyra keluar dari salon, dirinya nampak diikuti oleh beberapa orang.
"1..2..3..4.. tidak lebih.. siapa mereka?" gumam Lyra dalam hati.
Tanpa basa basi, Lyra memanggil pengawalnya yg ia juluki Alfa1 sebagai tanda bahaya.
"Alfa1 masuk." ucap Lyra dan mereka pun segera menemui nonanya.
Setelah berada di area parkir yg sepi, Lyra pun berhenti dan mereka tepat ada di belakangnya.
"Aku tahu kalian mengikutiku dari Salon? atau kalian sudah menungguku selama 3 jam? bagaimana kesal tidak?" ucap Lyra.
"Ckk.. banyak bicara, kau harus diberi pelajaran karena sudah membuatku menunggu." ucap mereka.
Tapi Lyra sudah bersiap dengan mampir ke toko untuk membeli pentungan baseball tadi.
Bughh..Bughhh..bughhh.
Perkelahian pun tak bisa dihindarkan, dan Dimas bersama anggotanya tiba untuk membantu Lyra. Pertarungan pun sengit karena mereka cukup hebat. Tapi Lyra tak mau kalah walaupun dirinya sempat kena pukul, Lyra pun membalas dengan mencekik beberapa hingga pingsan.
Beberapa menit kemudian, situasi pun sudah teratasi. Dan Dimas segera memanggil polisi untuk menangkap mereka.
"Nona anda hebat.." puji anak buah Dimas.
"Ya tapi sayangnya kalian menolak berlatih denganku." ucap Lyra.
"Pak Dimas, kita harus berlatih dengan nona cara mencekik.." ucap anak buahnya.
"Ck.. memangnya nona itu guru kalian?" tanya Dimas kesal.
"Boleh saja, tapi balasannya kalian harus setia padaku." ucap Lyra.
"Bagaimana pak?" tanya anak buahnya.
"Nona, apa tidak apa? " tanya Dimas.
"Aku ini dulu instruktur bela diri.. jadi kalian tenang saja." ucap Lyra.
"Baiklah, kami akan setia pada nona.." ucap Dimas diikuti anak buahnya.
"Yasudah, sekarang kita pulang.. lihat luka-luka kalian.." ucap Lyra.
Mereka pun memutuskan pulang dan tak jadi mengintai James. James juga tak ada pergerakan lain dan langsung pulang. Lebih tepatnya langsung pulang setelah adanya insiden penyerangan pada Lyra.
Saat pulang, dirinya melihat Lyra sedang mengobati lukanya. Tapi walaupun ia tak tahan tapi dirinya tetap bersikap dingin sampai akhir.
"Mau sampai kapan kita begini?" tanya Lyra.
"Kau kan sudah ada Dimas dan pengawal lainnya, lagipula kau selamat." ucap James santai.
"Tiba-tiba kau menjadi diam dan begitu dingin. Apa salahku?? Aku tahu ada perjanjian dalam pernikahan kita tapi sikap diammu ini bisa membunuhku..." ucap Lyra.
"Jangan berlebihan.." balas James lalu masuk ke kamarnya.
Padahal dirinya tak tahan melihat Lyra terluka, tapi Bella bisa saja mencelakai keluarganya bahkan Lyra juga. Hingga James tak bisa melakukan apapun dan menangis dalam hatinya.
__ADS_1