Diammu Membunuhku

Diammu Membunuhku
EP.105 Sadar


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Sammy pun tersadar disebuah ruangan serba putih. Dirinya hanya bisa menatap atap yg berwarna putih, serta merasakan alat-alat yg menempel di tubuhnya. Dan begitu sadar, rasa sakit itupun muncul kembali.


Perawat yg bertugas berjaga di kamar tersebut pun segera memanggil dokter dan memeriksa kondisinya.


"Tuan Sammuel.. jika anda mendengarkan saya bisakah anda gerakkan jari tangan anda?" tanya perawat tersebut.


Jari tangan Sammy pun bergerak.


"Tuan Sammuel tunggu sebentar.. dokter akan memeriksa kondisi anda." ucap perawat tersebut.


Sammy pun kembali menggerakkan jari-jarinya tanda mengerti. Tak lama kemudian dokter pun masuk ke ruangannya dan memeriksanya. Sebuah keajaiban pun terjadi pada Sammy, dimana para dokter yg hanya pasrah karena kondisinya sebulan terakhir, kini pasien tersebut berhasil siuman dan dapat merespon dengan baik.


Kenzo pun berlari tak peduli itu rumah sakit, dirinya terharu akhirnya Sammy bisa sadar kembali.


Brakk..


"Dok.. bagaimana putraku?" tanya Kenzo.


"Sudah ada perkembangan tuan Kenzo."


"Baguslah.." ucap Kenzo menangis bahagia.


Dokter pun menjelaskan kondisi Sammy pada Kenzo dan sebagai seorang dokter Kenzo pun paham tentang apa yg dijelaskan. Dirinya juga sudah menghubungi Daphny istrinya kalau putra mereka sudah siuman.


"Sammy.. kau ingat papa? " tanya Kenzo.


Sammy pun berkedip tanda mengerti dan mengingatnya.


"Syukurlah nak.. papa dan mama serta Vio selalu menunggumu untuk sadar." ucap Kenzo menangis bahagia.


Walaupun sudah sadar tapi tetap saja kondisi Sammy belum pulih dan banyak alat yg terpasang ditubuhnya. Hingga Sammy belum bisa bicara normal. Hanya beberapa bahasa isyarat yg mampu ia lakukan untuk berkomunikasi.


Saat Daphny tiba pun, Daphny begitu bahagia mendengar putranya sadar dari koma. Dirinya menangis tersedu-sedu melihat putranya kembali membuka mata.


"Sammy ku.. akhirnya kau sadar juga nak.. " ucap Daphny.


Sammy pun menitihkan air mata melihat mamanya menangis dihadapannya. Begitulah keluarga mereka punya sedikit harapan untuk putra mereka. Tak terhitung rasa syukur yg bisa mereka ucapkan. Karena putra mereka satu-satunya akhirnya bisa terbangun dari komanya. Dan sebuah fakta kalau Sammy adalah satu-satunya korban yg selamat dari peristiwa naas tersebut.


Perlahan-lahan hari demi hari peralatan yg menempel ditubuh Sammy pun dilepas karena kondisinya semakin membaik. Kenzo pun langsung memindahkannya ke rumah sakit milik keluarganya. Disana Kenzo bisa memantaunya dengan baik.


Sammy pun sudah bisa bangun walaupun harus dibantu dan duduk di kursi roda. Dirinya pun kini lebih banyak diam dan tiada satupun yg bisa membuatnya ceria seperti dulu.


Bahkan Vio adiknya yg sering ia jahili pun merasa kehilangan sosok kakaknya yg dulu.


"Kakak.. " ucap Vio tapi Sammy hanya menoleh ke arahnya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Vio.

__ADS_1


"Baik.." ucap Sammy.


"Kakak, kenapa jadi banyak diam?" tanya Vio.


"Tidak apa.. " ucap Sammy tersenyum.


"Makan buah ya.." ucap Vio.


"Iya boleh." ucap Sammy.


Vio pun seperti tak mengenali kakaknya. Sammy yg dahulu selalu ceria dan super jahil pun berubah menjadi pendiam dan tak bisa ditebak prilakunya.


"Pokoknya, kakak harus cepat sembuh.. rumah terasa sepi tanpa kakak." ucap Vio sembari mengupas buah.


"Iya Vio." ucap Sammy tersenyum.


Lagi-lagi hanya kata singkat dan sebuah senyuman. Vio pun tak bisa memaksanya bicara lagi, dan berharap kondisi kakaknya akan pulih setelah sembuh juga dengan keceriaannya.


Hingga tiba hari dimana kondisi Sammy membaik, bahkan dirinya sudah bisa keluar kamar dengan kursi roda. Dirinya pun mulai menanyakan Alice yg tak pernah disebutkan oleh keluarganya.


"Papa.. apa papa tahu kabar Alice?" tanya Sammy.


"Iya papa tahu, kau ingin bertemu dengannya?" tanya Kenzo.


"Iya.. papa bisa kan memberiku ijin menemuinya.?" tanya Sammy.


"Iya nak.. besok kita menemui Alice." ucap Kenzo dengan raut wajah sedih.


Seketika Sammy pun mendadak resah melihat ekspresi papanya. Apakah Alice sudah tiada? begitulah pikirnya. Tapi Sammy tak ingin berburuk sangka dan mengira Alice juga sedang menjalani pengobatan seperti dirinya.


Keesokannya, Kenzo pun membawa Sammy ke suatu tempat. Awalnya Sammy bahagia dan tak sabar bertemu kekasihnya, tapi tiba-tiba mobil mereka memasuki area pemakaman yg seketika membuat Sammy lemas.


Dan saat mobil berhenti, papanya menatapnya dengan sedih.


"Maafkan papa nak, tapi kau pasti bisa tahu kenapa kita ada disini." ucap Kenzo berusaha menutupi air matanya.


"Jadi.. Alice sudah.." ucap Sammy menitihkan air mata.


"Kuatkan dirimu.. kau harus bertemu dengannya." ucap Kenzo.


"Baik pa.." ucap Sammy menghapus air matanya.


Kenzo pun membantu putranya dengan kursi roda dan mengantarkannya menuju ke pusara Alice. Dengan perlahan Kenzo membawa putranya tersebut dengan harapan Sammy bisa kuat menghadapi cobaan hidupnya.


Tepat ketika Kenzo berhenti, Sammy melihat sebuah pusara dengan bunga yg masih segar yg artinya masih sering dikunjungi.


"Nak, disinilah Alice berada kini.. papa akan memberimu ruang untuk bicara dengannya." ucap Kenzo sedikit menjauh.

__ADS_1


"Terimakasih pa.." ucap Sammy.


Air mata Sammy pun terjatuh lagi dan sudah tak bisa terbendung. Bagaimana dengan sebuah kejadian dirinya kehilangan kekasih hatinya. Rasanya baru kemarin dirinya memiliki kekasih kini wanita itu sudah tiada lagi di dunia, bahkan tanpa mengucapkan kata perpisahan.


"Alice.. maafkan aku.. aku gagal menjagamu.. " ucap Sammy mulai terisak.


"Aku akan pastikan pelakunya takkan bisa hidup tenang." ucap Sammy.


Setelah menangis sepuasnya, Sammy pun mendoakan Alice agar tenang di alam sana. Walaupun masih tak percaya Sammy pun berusaha tegar menjalani hidupnya. Walaupun dirinya juga tak percaya kalau masih bisa hidup sampai detik ini mengingat kecelakaan tragis tersebut.


Setelah dari pemakaman, Sammy pun semakin pendiam membuat Kenzo khawatir.


"Sammy jika ada yg ingin kau tahu, papa akan menceritakan segalanya.. tentang Alice dan juga pelakunya." ucap Kenzo.


"Iya pa.. aku membutuhkannya nanti.. Saat ini pikiranku sedang kacau." ucap Sammy.


"Aku mengerti, tenangkanlah dirimu.. lalu katakanlah saat kau ingin mendengarnya." ucap Kenzo.


"Baik pa.. Terimakasih." ucap Sammy menitihkan air mata.


"Ini adalah musibah besar bagi kita, tapi kita harus tetap bersama dan saling menguatkan." ucap Kenzo.


Mereka pun kembali ke rumah sakit, dan Sammy beristirahat. Tak bisa dibayangkan olehnya setelah terbangun dari tidur panjangnya. Begitu banyak hal yg mungkin terjadi dalam 2 bulan terakhir.


Sementara itu, Devi pun setiap hari menanyakan kabar Sammy pada Davi.


"Dav, bagaimana Sammy?" tanya Devi.


"Kondisinya sudah berangsur membaik.. jika kau penasaran datang saja kemari Dev.. " ucap Davi.


"Syukurlah, aku pasti menangis jika kesana." ucap Devi.


"Kalau Sammy sepenting itu di hidupmu, kau harus menemuinya bukan menggangguku sepanjang hari dengan bertanya kondisinya.." ucap Davi.


"Aku belum bisa kesana Dav, mungkin akhir pekan aku baru bisa kesana." ucap Devi.


"Jangan cari alasan.. temui dan saksikan sendiri.. " ucap Davi.


"Saat ini Sammy dalam keadaan tak baik, dia butuh keluarga dan teman terdekatnya." ucap Davi.


"Iya aku mengerti." ucap Devi.


"Yasudah.." ucap Davi memutuskan sambungan telepon.


"Devi, aku tahu kau menyukainya.. tapi kau juga harus tahu tak ada yg melarangmu menemui Sammy." gumam Davi dalam hati.


Devi memang tahu Sammy memiliki kekasih, dan itu cukup membuat hatinya hancur. Tapi Devi bukan gadis lemah, dirinya tetap tegar. Kini kondisinya berbeda, karena Alice sudah tiada jadi tak ada yg salah jika Devi menemuinya. Tapi sayangnya Devi tak tahu akan hal itu, dirinya hanya takut terbawa suasana dan kehilangan jarak dengan Sammy serta membuat kekasih Sammy tak suka.

__ADS_1


__ADS_2