
Lyra pun kesal bahkan sampai menitihkan air mata atas perlakuan James yg kelewatan. Bahkan saat melihat dirinya terluka karena seseorang yg kemungkinan adalah Bella pun James tak menanyakan apapun. Entah kemana rasa cinta yg dikatakan James waktu itu, serta kata-kata manis kalau mereka takkan pernah bercerai.
Semua sikap James adalah bukti kalau ada sesuatu yg telah terjadi. Dan Lyra menjadi semakin ingin membongkarnya. Dirinya bahkan sudah menghubungi Dimas untuk fokus dalam misi mereka memata-matai James.
Setiap malam, Lyra dan para pengawal pun berlatih. Dan Lyra mengajari mereka beberapa teknik juijitsu yg ia kuasai. Berkat itulah mereka menjadi sangat setia pada Lyra dan mengikuti semua perintahnya. Terlebih Lyra tak pernah membahayakan mereka, justru mengobati luka-luka mereka.
Keesokannya, James pun ke kantor lebih awal. Dan Lyra sudah bersiap akan rencananya. Dirinya meminta anak buah Dimas untuk standby di depan layar untuk melihat pergerakan mobil James.
Beberapa menit setelah James pergi, Lyra juga keluar dan mencari tempat yg baik untuk memata-matai. Mereka pun berkumpul di satu titik yg tak jauh dari kantor James. Juga ada beberapa yg memata-matai di sekitar kantor James.
"Nona, nampaknya tuan akan sama seperti kemarin." ucap Dimas.
"Ya.. pokoknya jangan lengah, kalian boleh istirahat tapi bergantian.. ingat fokus." ucap Lyra.
"Baik nona." ucap Dimas.
Kemudian Dimas menginstruksikan segalanya pada anak buahnya. Untuk tetap fokus dan istirahat bergantian. Dan yg lebih penting adalah berhati-hati.
Hingga pada siang hari dan saat makan siang, mobil James keluar menuju ke sebuah tempat makan. Lyra pun meminta anak buah Dimas untuk mengikutinya. Dan hal yg tak terduga pun terjadi, dimana Bella juga datang ke resto tersebut. Bahkan anak buah Dimas sempat mengambil foto-foto Bella dan James yg makan satu meja.
"Sudah kuduga." ucap Lyra.
"Bagaimana nona? apa kita akan berhenti?" tanya Dimas.
"Tidak, belum cukup. Diam dan tunggu, jangan lakukan apapun." ucap Lyra.
"Baik nona." ucap Dimas lalu memberikan perintah tersebut pada anak buahnya yg ada di dalam resto.
Lyra dan Dimas pun menunggu di dalam mobil. Hingga 30 menit kemudian, anak buah Dimas mengabari kalau James sudah keluar dari resto. Mereka bahkan berjalan bergandengan tangan seperti pasangan. Dan Lyra sangat panas dan sakit hati melihat foto-fotonya.
"Rasanya ingin kupatahkan kedua tangan itu." gumam Lyra.
"Nona, apa ini belum cukup.? nona mau semakin terluka?" tanya Dimas khawatir.
"Tunggu dan lihat yg terjadi hari ini." ucap Lyra.
"Baiklah." ucap Dimas yg tahu kalau Lyra tidak baik-baik saja.
.
.
.
Hingga saat jam pulang kantor, James pun pulang tepat waktu. Padahal biasanya dirinya pulang larut malam. Hal tersebut membuat Lyra curiga dan memerintahkan pengawalnya mengikuti mobil James dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Kalau bisa tunggu sampai beberapa menit baru ikuti, agar jaraknya jauh dan meminimalisir kemungkinan ketahuan.
Anak buah Dimas pun berhasil melacak lokasi James berada. Di sebuah perumahan elit dan di salah satu rumah disana. Lyra pun mulai gemetar, dan terus menunggu kabar dari anak buah Dimas.
__ADS_1
Untuk mencari tahu masalah jam pulang James, Lyra pun mengirimkan ojol untuk mengirim makanan pada suaminya. Tapi resepsionis berkata kalau tuan James selalu pulang tepat waktu. Dan hal itu memperpanjang rentetan kebohongan James.
"Yasudah pak, makanannya buat bapak saja.. suami saya mungkin sudah sampai rumah." ucap Lyra di telepon dengan bapak ojol.
"Wah, terimakasih banyak Mbak.. ini makanan mahal lho apa tidak apa?" tanya si bapak ojol.
"Iya.. tidak apa pak.. hitung-hitung berbagi rezeki." ucap Lyra.
"Kalau begitu terimakasih banyak mbak.. semoga lancar rezekinya." ucap si bapak ojol.
"Sama-sama pak.. amin.." ucap Lyra kemudian menutup sambungan telepon.
Dan selang beberapa detik, raut wajah Lyra pun berubah. Dimas yg ada mobil tersebut pun menghela nafas.
"Nona, lebih baik kita pulang.. anda lelah dan butuh istirahat." ucap Dimas merasa kasihan.
"Tidak, caritahu sampai dapat." ucap Lyra bersikeras.
Hingga Dimas dan anak buahnya pun terus bekerja dan mencaritahu. Bahkan dari warga sekitar, karena anak buah Dimas pura-pura bertanya alamat yg salah.
"Itu rumah ibu Bella pak, bukan bapak Burhan.." ucap penjaga salah satu rumah yg tinggal di perumahan elit tersebut.
"Ooh.. suaminya bapak Burhan bukan?" tanya anak buah Dimas lagi.
"Bukan, kalau tidak salah ibu Bella belum lama menikah dengan suaminya namanya bapak.. emm Oh.. Bapak James.." ucap si satpam.
Satu kebohongan lagi terungkap dan semakin memperpanjang list kobohongan James. Sekarang sudah cukup rasanya bagi Lyra dan memilih untuk pulang dan menghentikan pencarian bersama anak buah Dimas.
"Sudah cukup.. hentikan sampai disini." ucap Lyra.
"Baik nona." ucap Dimas kemudian menyuruh anak buahnya pulang.
Semua pun pulang dan tak lupa mobil yg mereka pakai untuk mengintai adalah mobil rental, hingga tak ada jejak. Dan identitas yg menyewa pun identitas palsu yg biasa digunakan untuk pencarian.
Lyra pun pulang dengan semua rasa sakit dan kesedihannya. Dirinya tak menyangka kata-kata manis yg diucapkan suaminya dahulu hanya manis dibibir. Aslinya adalah tingkahnya yg sekarang yg begitu menyakitinya. Apapun alasannya harusnya James jujur padanya bukan malah bersikap dingin padanya.
Dan hal tersebut membuat Lyra yakin pada rencana awal untuk meninggalkan James. Ditambah lagi rasanya Bella takkan tinggal diam untuk menyingkirkannya dengan cara apapun, jadi lebih baik Lyra pergi sebelum semakin terluka.
.
.
.
Keesokannya, Lyra pun seperti biasa berpura-pura bekerja. Dan Dimas terus membohongi James karena merasa tak tega dengan nonanya. Dirinya memutuskan akan berhenti jika tuannya marah akan kebohongannya beberapa hari terakhir untuk memberi kabar Lyra.
Tapi tujuan kali ini Lyra bukan bekerja ataupun memata-matai James, melainkan ke pengadilan agama untuk memproses surat perceraian.
__ADS_1
"Nona anda yakin ingin kesana?" tanya Dimas.
"Iya.. apalagi yg kuharapkan dari suamiku, kau dan anak buahmu sudah tahu faktanya." ucap Lyra.
"Baik nona, kami akan setia dan menjaga nona sampai akhir." ucap Dimas.
"Jika kalian kehilangan pekerjaan, hubungi aku.. aku akan mencarikan kalian pekerjaan." ucap Lyra.
"Nona.. anda terlalu baik." ucap Dimas.
"Tidak, itu adalah harga untuk kesetiaan kalian." ucap Lyra.
Kemudian Lyra turun dari mobil dan menyerahkan berkas perceraian untuk diproses. Disana juga sudah ada Santi dan Dion. Bahkan mereka berdua mendukung Lyra dan membantu mencarikan pengacara.
"Lyra kau harus kuat." ucap Santi.
"Iya San.. terimakasih." ucap Lyra.
"Lyr, katakan jika butuh sesuatu lagi." ucap Dion.
"Iya.. Terimakasih Dion." ucap Lyra dan kedua temannya berusaha untuk menguatkannya.
Setelah itu, Lyra menuju ke rumah sakit untuk bekerja. Dan beberapa hari kedepan James akan mendapat surat perceraian tersebut dari pengadilan.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, saat Lyra sedang bekerja ponselnya pun berdering. Sesuai prediksi James pun menghubunginya.
"Halo.." ucap Lyra.
"Apa-apaan ini?" tanya James kesal.
"Kau pasti sudah menerima suratnya." ucap Lyra.
"Kenapa kau memutuskannya begitu saja tanpa bicara denganku?" tanya James.
"Apa kau masih mau bicara denganku? kurasa tidak, lagipula aku tahu semuanya.. Aku tahu kau selalu pulang tepat waktu tapi pergi ke rumah Bella, aku juga tahu pernikahan kalian yg dilakukan secara tertutup. Aku tahu semuanya James." ucap Lyra.
"Mari kita bicarakan lagi." ucap James.
"Tidak, kita bicarakan ini di pengadilan saja.. I'm done.." ucap Lyra menutup sambungan telepon.
Akhirnya Lyra mengatakannya dengan benar walaupun disertai tangisan. "Yah.. I'm done.." gumamnya sambil menangis.
__ADS_1