
Sammy, Davi, dan Devi pun menunggu sejenak, hingga pria paruh baya mendatangi mereka. Pria yg tak lain adalah James pun mendekat dan ingin berterimakasih pada ketiganya.
"Maaf sudah menahan kalian bertiga." ucap James.
"Ya.. kami tak masalah tuan." ucap Davi.
Sementara Devi dan Sammy diam menatap pada pria paruh baya tersebut dengan tenang.
"Terimakasih karena kalian sudah membawa putriku kemari dengan cepat. Jika tidak nyawanya pasti tidak akan selamat." ucap James.
"Kami hanya belajar sedikit tentang ilmu medis, dan nampaknya nona tadi sudah sangat lemah hingga kami memutuskan membawanya ke rumah sakit." ucap Sammy.
"Benar, 10 menit terlalu lama untuk menunggu ambulans, jadi kami langsung membawanya kemari." ucap Davi.
"Sekali lagi terimakasih, berkat kalian putriku selamat. Ini ada sedikit uang jajan untuk kalian." ucap James ingin memberikan mereka uang.
"Maaf tuan, kami membantu dengan ikhlas.. lebih baik simpan saja uang anda atau berikan pada yg lebih membutuhkan." ucap Sammy.
"Benar, kami ikhlas membantu." ucap Davi.
"Kami hanya kebetulan saja bertemu nona tadi, dan kami bertiga ikhlas membantu demi kemanusiaan." ucap Devi yg akhirnya berbicara.
"Baiklah jika kalian menolaknya." ucap James.
"Kalau begitu, kami pamit pulang tuan hari sudah larut dan orangtua kami menunggu di rumah." ucap Sammy.
"Ya.. kalau begitu hati-hati dijalan nak." ucap James.
Akhirnya mereka pun bisa pulang dengan cara halus. Jujur saja mereka ikhlas membantu dan enggan menerima uang tersebut. Walaupun Sammy harus berbohong dengan mengatakan orang tua mereka sudah menunggu dirumah.
Di dalam mobil mereka pun sedikit bercerita, dan agak tak nyaman dengan wali dari wanita yg mereka tolong.
"Akhirnya kita bisa bebas walaupun Sammy harus berbohong." ucap Devi.
"Kadang kebohongan kecil diperlukan.." ucap Sammy tersenyum.
"Ya kurasa nona tadi sakit parah, karena denyut nadinya sangat lemah." ucap Davi.
"Kau khawatir atau menyukainya?" tanya Devi.
"Ck.. Bukan begitu Dev, ini namanya kemanusiaan." ucap Davi.
"Davi benar, nampaknya nona tadi kondisinya tak baik, bahkan sampai dilarang pergi ke Mall." ucap Sammy.
"Dari wajahnya juga kelihatan wanita itu sangat pucat, saat kita masuk resto." ucap Devi.
"Tuh, kau bahkan melihatnya dari awal.. " ucap Davi.
"Ya, semoga nona tadi baik-baik saja.. lebih baik sekarang kita pulang karena aku lelah." ucap Sammy.
"Samm.. yg menyetir aku dari tadi.." protes Devi.
"Maaf sister, jika kami memiliki Sim di negara ini kami pasti menggantikanmu." ucap Davi.
__ADS_1
"Hhh.. harusnya kita pergi dengan sopir." protes Devi yg kelelahan.
Devi pun ngomel sepanjang jalan, padahal ini idenya sendiri untuk jalan-jalan ke mall. Dan dirinya juga yg banyak berbelanja kesana kemari. Tapi Davi dan Sammy yg harus memasang telinga mereka untuk mendengarkan ocehan wanita itu.
Bahkan saat sudah sampai pun Devi terus mengomel membuat Davi ingin cepat-cepat masuk kamar. Sammy pun berinisiatif dengan sebuah coklat di kantongnya.
"Dev.. " panggil Sammy.
"Apa? aku lelah tahu." ucap Devi.
"Buka mulutmu.. aaaa... amm.." ucap Sammy memasukkan coklat tersebut ke mulut Devi.
"Makanlah agar moodmu membaik.. kami juga lelah." ucap Sammy tersenyum lalu mengambil langkah seribu bersama Davi masuk ke dalam rumah.
"Hmmm.." ucap Devi yg tak bisa berbicara karena mulutnya penuh coklat.
Lalu sedetik kemudian, wajah Devi merah padam karena malu. Bagaimana bisa Sammy menyuapinya coklat lalu tersenyum seperti tak terjadi apapun?? Devi pun menenangkan diri, dirinya yg awalnya cerewet pun mendadak langsung diam dan menuju ke kamarnya. Para pelayan pun ia tugaskan untuk membawa semua barangnya.
Sementara Davi dan Sammy pun bisa bebas karena tak harus mendengar Devi mengomel.
"Goodjob.." ucap Davi.
"Sure.." balas Sammy.
Mereka pun tersenyum kemudian masuk ke kamar masing-masing. Setelah membersihkan diri keduanya yg kelelahan pun langsung tertidur. Sementara Devi masih gelisah karena perbuatan Sammy.
"Devi.. jangan gila.. Sammy sahabatmu..!" gumam Devi dalam hati sembari menepuk kedua pipinya.
.
.
.
"Selamat datang Sammy.." sapa Ben kemudian memeluknya.
"Uncle Ben, lama tak bertemu." ucap Sammy.
"Kalian pasti, si kembar Davi dan Devi.. ayo duduk.." ucap Ben.
"Terimakasih uncle.." ucap Devi sementara Davi pun tersenyum.
Dan dari kejauhan terdengar teriakan Xavi dari dalam kamar.
"Kak Sammyyyyyy.." panggil Xavi.
"Hai Xavi.. kau sudah besar sekarang." ucap Sammy.
Kemudian disusul dengan istri dari Ben Aunty sally.
"Hai Sammy.. " sapa Sally.
"Hai Aunty, apa kabar?" tanya Sammy.
__ADS_1
"Baik, kau sendiri?" tanya Sally.
"Aku baik, dan aku kemari dengan si kembar Dava Devi." ucap Sammy.
"Hai, Dava.. Davi.. kalian sudah besar ya waktu tak terasa berjalan begitu cepat." ucap Sally.
"Tunggu sebentar ya.. aku bawakan minuman." ucap Sally.
"Jangan repot-repot Aunty." ucap Sammy.
"Tidak, kalian kan jarang kemari." ucap Sally kemudian menyiapkan segalanya dibantu oleh pelayan di rumahnya.
Ben pun mengobrol dengan keponakannya yg akhirnya menginjakkan kaki di Indonesia tersebut. Ben pun senang akhirnya Sammy bisa mengunjunginya, dan pergi ke tanah leluhurnya. Bagaimanapun Sammy adalah keturunan Indonesia juga.
Mereka pun berbincang lalu bermain sejenak dengan Xavi. Semua pun berjalan lancar hari itu, dan Sammy senang bisa mengunjungi Ben. Sally juga sangat baik padanya dan teman-temannya juga tak sungkan berada di rumah Ben.
Menjelang sore mereka pun pamit undur diri, karena besok mereka akan berangkat ke Bali untuk berlibur. Ben pun menawarkan villa miliknya untuk mereka bertiga tinggal. Sammy pun menerimanya agar pamannya tersebut senang, karena kebetulan hotel g mereka dapatkan kurang nyaman.
"Nanti orang-orang uncle akan membantu kalian." ucap Ben.
"Terimakasih uncle." ucap Sammy.
"Terimakasih uncle, besok pasti liburan kami menyenangkan." balas Devi.
"Ya.. sangat sulit sekali uncle mendapatkan villa bagus sekarang." ucap Davi.
"Ya, gunakanlah dan selamay liburan Sammy, Davi dan Devi.." ucap Ben mengantar ketiga keluar.
"Terimakasih uncle.. sampai jumpa lagi." ucap Sammy.
Ketiganya pun pulang ke tempat tinggal Devi. Mereka juga harus menyiapkan segalanya untuk besok. Dan yg paling sibuk dari ketiganya adalah Devi. Dirinya membawa koper besar dengan banyak barang di dalamnya. Sammy dan Davi pun hanya bisa tersenyum melihat isi kopernya yg pasti penuh dengan pakaian.
.
.
.
Keesokannya, mereka pun berangkat ke Bali pagi-pagi sekali sesuai jadwal. Dan bak sudah takdir, kali ini Sammy bertemu lagi dengan James di pesawat yg sama. Bahkan kursi mereka bersebelahan.
"Oh kau.. pemuda yg kemarin." ucap James.
"Ya tuan.. bagaimana kabar putri anda?" tanya Sammy.
"Dia masih harus tinggal di rumah sakit.. tapi aku harus pergi bekerja di Bali." ucap James.
"Oh begitu.." ucap Sammy.
"Kalian pasti ingin liburan.?" tebak James.
"Ya.. begitulah tuan." ucap Sammy sementara Devi dan Davi hanya tersenyum.
"Oke.. semoga perjalanan kita aman dan lancar." ucap James sementara Sammy hanya tersenyum.
__ADS_1
"Takdir membawaku bertemu ayah kandungku lagi.. Baru 3 hari aku disini tapi sudah bertemu dengannya 2x.." gumam Sammy dalam hati.
Sepanjang perjalanan pun Sammy tak banyak bicara pada James, dirinya hanya mendengarkan musik di earphonenya sembari menanti pesawat mendarat.