
" Ambil pistolnya , buktikan kata katamu ! Bukankah tadi kau bilang akan menyerahkan nyawamu untuk menebus kesalahanmu !!?? Sekarang tebus semua kesalahanmu pada putriku .... " ujar Heru Darsono dengan masih berdiri tegak dengan dua tangan bersedekap , kedua matanya nanar melihat pria muda yang masih terpaku di depannya .
Untuk sesaat Gibran terdiam , jika saja pria itu yang menembaknya mungkin saja akan lebih mudah baginya . Tapi tak pernah ia bayangkan dalam hidupnya jika dia harus mengakhiri dirinya sendiri . Setelah berkali kali menghela nafas perlahan Gibran melangkah menuju meja kerja tempat pistol itu di letakkan .
Perlahan diraihnya senjata api itu ....
" Apa nyawa saya adalah jalan satu satunya penebus semua kesalahan saya ?? "
" Cihh kau takut ??!! " sinis Heru yang melihat Gibran yang hanya melihat senjata yang sudah ada di tangannya .
" Tidak , tapi sebelum saya melakukannya saya ingin anda berjanji pada saya . Jangan pernah sakiti Gisel dan anak kami , anda boleh membencinya tapi berjanjilah untuk membiarkan mereka bahagia di jalan mereka sendiri . Kelak saya tidak bisa melindunginya maka saya minta andalah yang menjadi tameng bagi mereka ! "
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Gibran mengarahkan senjata tepat di keningnya , dapat ia rasakan dinginnya ujung senjata yang akan mengantarkannya pada awal hidup yang lain , dan akhirnya ...
KLEKKKKK ... KLEKKKK
Dua kali ia menekan kokang dan memejamkan matanya rapat rapat , Gibran berpikir mungkin setelah ini dia akan berjalan di dalam dunia lain . Matanya memicing karena ia tak merasakan apapun dan ketika membuka mata baru ia sadari jika tak terjadi apapun pada dirinya . Senjata itu masih ada ditangannya dan menempel di keningnya .
Gibran sedikit terkejut ketika merasakan sebuah tangan menepuk bahunya dengan keras , dia melihat Heru Darsono sedang tersenyum ke arahnya . Sejenak ia masih bingung dengan apa yang sudah terjadi , pria itu yang memintanya untuk mengakhiri hidupnya . Tapi kenapa bisa saat ini malah tersenyum ke arahnya seolah olah sudah bisa melupakan semua kesalahannya .
" B*jingan itu sudah mati , dan sekarang yang ada di depanku adalah ayah dari cucuku !! " kata Heru Darsono yang kemudian melihat tubuh pria muda di depannya luruh dengan dua lutut dan tangannya menyentuh lantai . Bisa ia dengar bunyi nafas yang tak beraturan .
Tapi Gibran terlihat bangkit dan duduk berhadapan di meja kerja milik Heru . Dia sadar pria itu ternyata hanya menggertaknya . Heru memang ingin melenyapkan sisi gelap dirinya , sisi egois yang pernah menjadikannya pria yang tidak bertanggung jawab .
__ADS_1
" Aku tahu hubungan kalian tidak begitu baik , putriku menolak keras dirimu karena rasa sakit hatinya . Aku juga tahu akhir akhir ini kau berusaha untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya . Tapi ketahuilah Nak , tidak akan mudah menakhlukkan hati seorang wanita yang sudah tersakiti sebelumnya . Walau mungkin Gisel sangat membutuhkanmu , tapi putriku akan berusaha keras untuk terlihat kuat !! "
" Saya tahu , sekali lagi saya minta maaf karena membuat semuanya semakin sulit !! " lirih Gibran masih dengan kepala tertunduk .
Heru sengaja melakukan itu semua untuk melihat kesungguhan ayah dari cucunya itu . Tidak akan mudah memperbaiki hal yang dari awalnya sudah salah . Tapi sebagai seorang ayah sekaligus calon kakek ia harus bisa membuat semuanya menjadi lebih baik .
" Jika aku memintamu untuk segera menikahi putriku apa kau bersedia melakukannya ??! "
Gibran mengangkat kepalanya , seperti sebuah mimpi ketika mendengar pria di depannya menanyakan tentang hal itu . Atau pendengarannya memang sedang tidak berfungsi normal setelah kejadian tadi .
" A-apa ... maksud anda !? "
__ADS_1
" Apa kau bersedia menikahi Gisella secepatnya ?? Menjadi imam yang akan membimbingnya ? Menjadi pria yang akan melindungi keluargamu kelak !? "
" Saya bersedia .... !! "