
Bram menatap malas papanya yang sedang menertawainya , dari pagi Sartika sudah memonopoli menantu kesayangannya hingga tak ada waktu untuk Bram untuk bermanja manja seperti biasanya . Dua wanita itu sedang asyik berkutat di dapur sambil mengobrol beberapa hal yang Bram tidak mengerti .
" Percuma bibir kamu mau di majuin berapa kilo pun mereka tidak akan memperhatikan kamu . Terima saja jika sekarang istrimu yang menjadi anak kesayangan mamamu ! " ujar Hardian , pria itu sedang membaca berita ekonomi melalui tablet miliknya . Sebuah rutinitas yang tak bisa ia tinggalkan .
" Masak apa sih mereka Pah ?!! Perasaan lama banget nggak mateng mateng . Bram keburu mau ke Puncak mumpung weekend nih !! "
" Ckk kesana sekarang bukannya seneng malah empet !! Weekend begini pasti macet banget . Kalau mau ngajak honeymoon jangan tanggung tanggung , masa iya cuma ke sana sih !! " kata Hardian tanpa mengalihkan matanya dari layar tabletnya .
" Ya mana bisa kami pergi jauh jauh ! Cahaya sudah jadi CEO di Wijaya , lusa aku juga sudah memimpin Sadewo . Sepertinya tidak akan ada waktu untuk kami berduaan ! " gerutu Bram dengan meletakkan kepalanya di atas meja makan .
Sartika dan Cahaya yang melihat Bram seperti itu hanya bisa tertawa kecil , mereka tahu setelah ini dedengkot Sadewo itu akan memberi kejutan . Tadi Cahaya tak sengaja mendengar pembicaraan kedua mertuanya ketika ingin turun ke dapur .
" Nih .... " Hardian meletakkan sebuah amplop besar di depan putranya . Dan Bram hanya melihatnya tanpa mau menyentuhnya , ia berpikir mungkin itu hanya salah satu pekerjaan yang di bawa pulang papanya .
__ADS_1
" Proyek apalagi sih Pah ??! Besok aja Bram lihat , sekarang lagi bad mood banget ... Masa iya weekend begini masih dikasih kerjaan sih !! " kata Bram melirik istrinya yang masih asyik dengan mamanya . Dua wanita itu sedang menata masakan di atas meja .
" lni beneran nggak mau ?? Jangan nyesel kalau Papa tarik lagi . Atau tiket ini buat kita saja Mah , hitung hitung honeymoon kedua kita Mah ! " kata Hardian yang diangguki oleh istrinya .
" lde bagus Pah , lama juga Mama nggak jalan jalan keluar negeri, " sahut Sartika dengan mengedipkan satu matanya ke arah menantunya .
" Tiket ? Jalan jalan ? Memang apa yang ada di amplop itu sih Pah !!? Dinas keluar negeri ? Atau ada klien baru dari luar negeri ?? "
Dengan malas Bram membuka amplop yang masih ia kira adalah perjalanan bisnis dari papanya . Mungkin akan lebih menyenangkan jika pergi ke luar negeri tanpa harus memikirkan bisnis di otaknya . Dengan begitu mungkin keinginan kedua orang tuanya untuk segera mempunyai cucu akan terwujud .
" lni bukannya .... " lirih Bram dengan mata menyipit ketika membuka satu demi satu lembaran yang ada di amplop itu .
" Masih nggak mau ??? " tanya Hardian ketika melihat putranya masih terpaku pada kertas kertas di amplop itu .
__ADS_1
" lni bukannya tiket perjalanan keliling Eropa Pah !? Jadi ini bukan perjalanan bisnis ?? "
" Yang bilang itu perjalanan bisnis siapa ?? Kami dan Mbak Lena kemarin sudah membicarakan tentang hal ini . Kami memberikan hadiah perjalanan bulan madu untuk kalian selama tiga minggu penuh keliling Eropa , lengkap tiket hotel , akomodasi dan ada cek juga untuk uang saku kalian di amplop itu " jelas Sartika sambil memeluk erat menantunya .
" Kami berharap dari perjalanan tiga minggu itu kalian bisa memberi kabar gembira untuk kami , tapi jangan terlalu terbebani !! Semua itu adalah hadiah agar kalian mempunyai waktu sebelum kalian disibukkan oleh urusan perusahaan yang pasti akan menguras pikiran dan tenaga kalian ! " kata Hardian menyambung perkataan istrinya .
" Lepaskan istri Bram Mah !! Dia milikku .... kenapa jadi Mama terus yang dari tadi memeluknya ! Sini sayang bisa habis pipi kamu kalau dekat dekat dana Mama terus . Enak aja dari tadi cium cium istri Bram ! " gerutu Bram menarik lembut tangan istrinya yang masih berdiri disamping Sartika .
" Jangan mentang mentang kau adalah suami kau jadi sok berkuasa pada Cahaya . Dia memang istrimu ... tapi dia adalah putriku !! " sinis Sartika menarik salah satu tangan Cahaya kembali ke sisinya .
" Ya Tuhan ... kenapa hanya Cahaya yang kalian perebutkan ?? Kenapa bukan Papa ?? "
" Tidak mau !! " sahut Sartika dan Bram bersamaan , dan Cahaya malah tertawa mendengarnya . Bahagia rasanya berada di tengah tengah keluarga yang sangat menyayangi dan mencintainya . Hal yang tak pernah ia dapatkan selama ini .
__ADS_1