
Sampai di rumah Vina dikejutkan dengan ibunya yang sudah terlihat rapi dan menata beberapa rantang makanan yang baunya sudah tercium harum walau ia masih ada di pintu depan .
" Vin udah pulang kamu !? Cepetan mandi !! "
" Lhohh udah sore begini baru mau kirim makan siang buat Kakak !? Sebentar lagi juga Kak Gibran pulang , ngapain repot repot ke kantor Bu .. " sahut Vina yang masih lelah karena seharian beraktivitas di kampusnya .
" Bukan buat kakak kamu ... ini buat kakak ipar kamu , kita ke kediaman Wijaya buat silaturahmi . Kamu juga belum kasih selamat ke Gis ... eh Cahaya ! "
Vina mengerutkan dahinya , dia merasa pendengarannya salah . Baru sekali ini ibunya memanggil Cahaya dengan sebutan kakak ipar , biasanya Sofi memanggil mantan menantunya dengan sebutan wanita ular .
" Apa tidak apa apa kita ke sana Bu ?? Kak Cahaya kan sudah punya suami , bagaimana kalau sampai Kak Bram sampai mikir yang enggak enggak ke kita . Kak Gibran juga belum tentu ngizinin kita Bu !! " kilah Vina berharap ibunya bisa berpikir dua kali dengan rencananya .
__ADS_1
" Halahhhh kita kan cuma silaturahmi , Nyonya Wijaya juga tidak akan tega menolak kita . Ibu ini kan mantan besannya .... siapa tahu kakak iparmu bisa kembali sama Gibran . Kita bisa kaya raya ... "
" Ya Allah Bu .... mana bisa begitu ! Kak Cahaya bukan barang yang bisa di buang sana sini .Biarkan dia tenang jalani rumah tangganya yang sekarang Bu ! "
" Cihhh tahu apa kau soal rumah tangga , tidak usah banyak omong ! Sekarang mandi , habis itu kita segera berangkat kesana . Sukur sukur pas jam makan malam jadi kita bisa sekalian makan malam disana . Ibu mau selfi selfi di rumah mewah itu sama Jeng Lena , mau ibu pamerin ke teman teman arisan ibu kalau besan ibu nggak kalen kaleng !! "
Vina langsung berjalan menuju kamarnya , percuma ia beradu argumen dengan ibunya . Gadis itu hanya bisa berharap Gibran pulang dan bisa mencegah keinginan ibunya yang ' memalukan ' . Bisa bisanya bersikap baik pada Cahaya setelah mengetahui jika mantan kakak iparnya itu adalah pewaris tunggal Wijaya .
Selesai mandi Vina menggerutu karena sudah mendengar Sofi menggedor gedor pintu kamarnya . lbunya terus saja berteriak agar ia cepat turun agar bisa langsung berangkat .
Lena dan Cahaya tampak sudah berdiri menyambut mereka di ruang depan . Bram tidak ada di antara mereka karena ada urusan yang mengharuskannya pergi dengan Hardian sore itu . Dua wanita cantik itu memeluk tamunya satu persatu . Vina sempat berbisik mengucap kata maaf ketika memeluk mantan kakak iparnya . Dan Cahaya yang mengerti dengan situasinya hanya tersenyum dan mengangguk . Di elusnya lembut lengan Vina seakan berkata jika Cahaya mengerti dengan apa yang terjadi dan meminta Vina untuk jangan terlalu khawatir .
__ADS_1
" Selamat menjelang malam Jeng Lena , maaf tiba tiba datang tanpa mengabari terlebih dahulu . Vina ingin bertemu dengan kakaknya , katanya kangen banget soalnya kemarin tidak sempat datang untuk mengucapkan selamat ... " kata Sofi dengan nada melas dengan pandangan ke arah putrinya .
" Ooo gadis cantik ini putri anda ?! Hai Vina senang lbu bisa bertemu denganmu . Masih kuliah !? "
Vina tampak kikuk ketika menghadapi keramahan Lena Wijaya . Wanita itu dengan hangat memeluk dirinya seolah dia adalah anaknya sendiri .
" S-saya masih kuliah Nyonya .... "
" Panggil lbu sayang , Cahaya sudah bercerita banyak tentang dirimu . Dia sudah menganggapmu sebagai adik kandungnya dan itu artinya kau juga adalah putriku. "
Ada rasa haru di hati Vina karena Cahaya tidak menaruh dendam padanya , rasa bersalah dan penyesalannya kini menjadi semakin menggunung . Dan itu membuat dadanya menjadi penuh sesak .
__ADS_1
" Terimakasih Nyo ... eh .. l-ibu ! Sebuah kehormatan bagi saya memiliki keluarga seperti kalian, " ucap Vina terbata . Gadis itu berpikir sepertinya keramahan keluarga ini akan menjadi sebuah boomerang . Vina tahu ibunya pasti berpikir jika keramahan ini adalah lampu hijau untuk menjalankan rencana jahatnya .
Dan dugaan Vina benar , Sofi melihat ternyata Lena dan Cahaya menyambut dengan sangat baik kedatangan mereka . Itu membuat Sofi bersorak senang dalam hatinya , sepertinya rencananya untuk membuat Cahaya menjadi menantunya kembali bisa berjalan mulus .