
" Mas Braamm cukup !!! Uwis ( sudah ) uwisss .... " seru Darto dan beberapa teman yang melihat Bram kesetanan memukul Kucir yang sudah bersimbah darah wajahnya .
BUGGHHHH ...
" Beraninya kau tersenyum padanya ... " lirih Bram ketika otaknya mengingat tawa dan senyum Gista pada pria kaya yang mengajaknya makan malam di kafe tadi .
DUAAGGHHHHH ....
" AKU BUNUH KAUUU !!!!! " pekik Bram meluapkan semua emosinya , dia tak peduli tubuh kurus yang di hajarnya sudah tidak sadarkan diri .
Darto dan beberapa teman langsung dengan sigap menarik tubuh Bram yang sedang kesetanan .
" Sudah Mas !! Eling ... sing eling !!! "
" Kita harus segera pergi sebelum ada yang datang !! Yang penting mereka sudah dapat peringatan dari kita , ayo Mas Bram kita pergi !! "
Mereka terpaksa menarik tubuh Bram menuju tempat parkir motor mereka . Karena Bram belum stabil emosinya maka Darto yang membawa motornya sementara pria muda itu yang membonceng .
" Seharusnya kalian biarkan aku membunuhnya ! Sampah sepertinya tidak layak untuk hidup .... "
__ADS_1
Darto tidak menanggapi semua sumpah serapah pria yang sedang diboncengnya , ia lebih fokus untuk melaju di jalanan sepi ini agar lebih cepat sampai di kampung mereka . Karena mungkin kejadian di terminal tadi akan di ketahui yang berwajib .
Tanpa mereka tahu ada dua orang berbaju serba hitam sedang sweeping di tempat kejadian tadi .Mereka mengirim Kucir dan beberapa orang lagi yang terluka parah ke rumah sakit . Dan yang masih sadar dibungkam mulutnya dengan memberi beberapa lembar uang , mereka diminta untuk tutup mulut dengan kejadian ini . Sekaligus di ancam jika buka mulut maka mereka akan menyusul teman teman mereka yang ada di rumah sakit .
Semua yang terlibat penyerangan tadi berkumpul di pangkalan ojek , sebagian dari mereka ada yang makan di warung warung tenda yang ada di pinggiran pasar . Mereka berlaku seolah olah tidak terjadi apa apa .
" Ada teman teman yang terluka parah ?! " tanya Bram memastikan keselamatan teman temannya .
" Cuma lebam Mas ! Sudah kita suruh istirahat dan tadi juga sudah dikirim makanan biar nggak keluar dulu . Takutnya jadi bahan pertanyaan tetangga, " jelas salah seorang teman pada Bram .
" Ya sudah , mulai besok kita harus lebih waspada siapa tahu ada teman mereka yang tidak terima dengan penyerangan tadi . Jika sore atau malam cuma ada satu atau dua orang mangkal disini lebih baik pulang saja !! Setidaknya harus ada sepuluh atau lebih orang yang mangkal. "
" Memang sudah ijin sama Mas Jarwo !? " tanya Darto yang tahu pria berwajah sangar itu tidak suka dengan apapun yang berbau perkelahian , tawuran dan semacamnya .
" Tenang saja , kalau menyangkut keselamatan orang orang disekitar sini pasti Mas Jarwo jadi garda terdepan yang maju . Kedamaian dan keselamatan wilayah ini harga mati buat dia ... "
Bram terdiam , hampir saja dia menjadi mesin pembunuh hanya karena melihat senyum di bibir itu . Dia mencoba mengingat wajah pria yang tadi ada didepan Gista , dia seperti tidak asing dengan wajah pria itu .
" Gibran .... dia Gibran Satya Bagaskara !! Cihhh pintar juga dia mencari mangsa, " decih Bram yang ingat dengan wajah pria itu karena sudah beberapa kali wajah Gibran menjadi sampul majalah bisnis . Pria itu dikenal sebagai pebisnis muda sukses yang menjadi inspirasi pengusaha muda lain .
__ADS_1
*
" Darimana kamu !? lbu sudah capek capek masak kamu malah pergi makan malam di luar !! " sinis Sofi yang baru saja melihat putranya pulang saat jam sudah melewati jam makan malam .
Tadi dia terpaksa memesan banyak makanan lagi untuk makan malam karena malas untuk berbelanja dan memasak untuk makan malam mereka . Sofi berpikir jika lnem sudah berangkat kerja maka ia tak perlu menggelontorkan dana hanya untuk membeli makanan dari restoran .
" Pasti Gibran makan nanti masakan ibu . lbu dan Vina sudah makan kan ? "
" Ehmm ... sudah , adikmu sepertinya sudah istirahat sekarang, " jawab Sofi sedikit gugup karena sebenarnya Vina baru keluar pergi ke ulang tahun temannya . Dan biasanya Vina akan pulang pagi dengan keadaan setengah mabuk . Dia dan Vina lupa jika Gibran sedang ada di rumah .
" Apa lbu sedang berbohong padaku ?? Mana Vina Bu ? "
Gibran melihat makanan di meja masih utuh itu artinya belum ada satupun orang menyentuh makanan itu . Dia tiba tiba ingat dulu Gista sering mengeluh tentang Vina yang terlalu sering keluar malam dengan alasan kerja kelompok dengan teman teman kampusnya . Gista khawatir pada adik iparnya tapi waktu itu dia malah menganggap sepele keluhan istrinya . Bukannya menasehati adiknya ia malah membiarkannya .
Tanpa bertanya lagi Gibran melangkah ke lantai atas menuju kamar adiknya . Sofi yang kaget langsung mengejarnya , dia tak ingin Gibran mengetahui jika Vina suka keluar menikmati dunia malam .
" Gibrannn !! Vina sedang tidur !! Jangan ganggu dia ... " pekik Sofi menarik tangan putranya yang sudah ada di depan kamar Vina .
BRAKKKKKK ...
__ADS_1