Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
57


__ADS_3

Gibran perlahan membuka matanya walau ia merasakan kepalanya sangat pusing . Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati sedang memeluk tubuh seorang wanita yang tidur memunggunginya , dan yang lebih mengejutkan adalah keadaan mereka sama sama polos .


Pria itu mencoba mengingat kepingan kepingan ingatan tentang kejadian semalam , tapi yang dia ingat hanyalah jika dia membawa pulang istrinya dan mereka bercinta untuk meluapkan rasa rindu mereka .


" Hai tampan , kau sudah bangun !? "


Ternyata gadis itu sudah bangun dan sedang memandang ke arahnya , tubuh mereka kini saling berhadapan hingga dengan jelas Gibran dapat melihat dua bukit dengan ukuran cukup besar menempel di dadanya .


" S-siapa kau .... kenapa kau ada di sini !?? " kata Gibran sambil menjauh agar tidak menyentuh kulit wanita itu .


" Semalaman kita bermain di ranjang ini , kurasa kau juga mengingatnya . Aku menikmatinya sayang ! Walau berkali kali kau menyebut nama Cahaya saat kau menggeram nikmat . Apa dia kekasihmu ?? Atau malah istrimu yang sedang menunggumu di rumah ?! "


" Cahaya ?! " lirih Gibran , ternyata ia meluapkan rasa rindunya pada wanita yang salah . Minuman keras itu membuat akalnya hilang hingga menganggap wanita yang bersamanya saat ini adalah istrinya .

__ADS_1


Gibran meraup kasar wajahnya , dengan tidur bersama wanita lain dia merasa sudah mengkhianati cinta yang ia jaga untuk istrinya .


" Kau menyesalinya tampan ?? Calm down ... kita tidak sedang mengkhianati siapapun , kita hanya bersenang senang !! "


" Diam kau !! " ketus Gibran yang bangkit tak mempedulikan tatapan wanita yang masih tidur di bawah selimut itu . Tubuh polosnya beranjak untuk memunguti satu demi satu pakaiannya dan kemudian memakainya . Yang Gibran inginkan hanyalah pergi dari kamar itu .


Ketika ingin meninggalkan kamar Gibran berdiri di pintu dengan membuka dompetnya . Dan wanita itu terlihat tersenyum karena tahu apa yang akan Gibran katakan padanya ...


Bukannya menjawab wanita itu malah beranjak seperti yang Gibran lakukan tadi . Dengan tubuh yang masih polos ia berjalan mendekati pria yang terlihat membuang pandangannya .


" Aku ingin jika suatu saat kita bertemu kita bisa mengulang semua ini , aku butuh pria sepertimu !! Kau sangat menyenangkan ketika bermain di atas ranjang .... " bisik wanita itu tepat ditelinga Gibran .


" Dasar gila !! "

__ADS_1


BRAKKKKKK


Gibran dengan langkah tergesa segera keluar dari tempat itu , baru ia sadari jika ia masih ada di dalam klub yang semalam ia datangi bersama teman temannya . Hatinya merutuki teman temannya yang membiarkan dia di giring ke dalam kamar oleh wanita yang sama sekali tidak di kenalnya .


Sampai di mobil ponselnya terdengar berdering , tapi ia melemparkan benda pipih itu ke dashboard mobil ketika membaca siapa penelponnya . lbunya sudah berkali kali menelponnya , dan Gibran yakin jika bukan masalah yang makan ini tentang pertemuannya dengan anak dari salah satu teman ibunya .


Untuk saat ini yang dia inginkan hanyalah ketenangan , dia belum siap jika harus menjalin hubungan baru . Apalagi proses perceraiannya masih berlangsung . Lagipula tidak akan mungkin ada wanita yang mampu menggantikan nama istrinya di hatinya .


Setelah berkali kali tidak mengangkat teleponnya , ada sebuah notif pesan yang ia yakin dari ibunya .


Malam ini kau harus datang ke restoran yang ada di Jln Semeru , jangan buat ibu malu !!


Setelah membaca pesannya Gibran kembali membuang ponselnya ke dashboard , sambil berdecak kesal berkali kali ia pukul kemudinya . Walau semarah apapun ia pada ibunya tapi ia tidak bisa mengabaikan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu .

__ADS_1


__ADS_2