Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
119


__ADS_3

" A-appaa .... "


Gisel segera masuk ke dalam bath up dan menyembunyikan tubuh polosnya dalam busa sabun yang melimpah didalamnya . Jika ada hal yang ia inginkan sekarang adalah menarik kata kata bodohnya . Bisa bisanya ia mengatakan hal yang membuatnya seperti sedang membutuhkan cinta suaminya .


DEGGHHHHH ....


Jantung Gisel berdetak cepat ketika merasakan punggungnya dipijat lembut oleh suaminya . Yang bisa dia lakukan hanya memejamkan mata untuk menikmatinya , pria itu mungkin sekarang sedang mengejeknya karena akhirnya dia sendiri yang minta untuk disentuh .


" Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu . Tapi sungguh semua tidak seperti yang kamu pikir ! Kau tahu sangat berat ketika menahan naluriku untuk tidak menyentuhmu karena aku sudah berjanji padamu , bahwa aku tidak akan menyentuhmu sebelum kau memintanya . Kau tahu di setiap detik aku berdoa agar hatimu bisa lebih terbuka padaku , agar Tuhan mengambil semua rasa kecewamu padaku . Mungkin anganku terlalu tinggi , aku ingin kita bisa belajar saling mencintai dan saling memahami satu sama lain . Jika kau bisa mendengarnya maka tiap detik kau akan mendengar hatiku berkata ' cintai aku ' . Aku ingin kau bisa mencintaiku seperti selayaknya seorang istri mencintai suaminya ... "


Gisel masih tetap diam ketika merasakan Gibran masuk ke dalam bath up dan duduk di belakangnya . Setelah itu tangan kekarnya kembali menggosok punggungnya .


" Apa ini sudah terasa pegal !? " tanya Gibran dengan menyentuh lembut pinggang wanitanya . Ketika mengetahui bahwa dia akan mempunyai penerus dia bersemangat untuk mencari tahu tentang apa saja yang berhubungan dengan kehamilan . Termasuk rasa pegal yang sering dirasakan karena perut yang sudah mulai membesar .


" lya ... " cicit Gisel yang tiba tiba saja merasa terharu , pria itu sama sekali tidak membencinya walau selama ini dia menunjukkan rasa sinisnya . Pria itu sangat menyayangi anak yang di kandungnya dan menjaganya seolah dia adalah pot kaca yang mudah pecah .

__ADS_1


" Boleh aku memijatnya ?? Aku ada di belakang dan sabunnya sempurna menutup tubuhmu , jadi aku tidak akan bisa melihatmu ! Aku masih memegang janjiku , aku tidak akan menyentuhmu jika bukan kau yang memintanya, "


Gisel hanya diam , ia menikmati setiap sentuhan lembut suaminya . Sesaat kemudian pria itu beranjak setelah mengecup puncak kepalanya .


" Jangan terlalu lama berendam , itu tidak baik untukmu dan si kecil . Aku akan memijatmu lagi nanti . Sekarang kita bilas dulu ... "


" Tapi .... " Gisel menoleh ke belakang dan melihat suaminya sudah berdiri membelakanginya . Dia tahu pria itu ingin dia membersihkan diri terlebih dahulu .


" Hei ... kau pasti juga sangat kedinginan . Kita bisa membilas tubuh kita bersama sama . Bukankah kau masih menutup matamu !? " Gisel meraih tangan suaminya dan membawanya menuju ruang shower .


Gibran sedikit tersentak ketika merasakan dinginnya air menerpa wajah dan tubuhnya .


" Aku pria dewasa , biarpun aku tidak melihatmu tapi aku bisa masih membayangkannya ! " sahut Gibran menggeram pelan ketika merasakan sapuan nafas hangat istrinya di area dadanya .


" Cepat pakai bajumu , atau aku langgar janjiku !! "

__ADS_1


" Kau mengancamku Tuan Bagaskara ?? Kau pikir aku takut !? " tantang Gisel yang sebenarnya sudah meraih handuk dan menutupi tubuhnya . Sekarang dialah yang leluasa memandang tubuh berotot yang masih polos sempurna itu . Wanita itu bahkan menatap tongkat yang masih mengeras itu dengan pandangan tak berkedip . Tongkat itu yang sudah pernah membuatnya tak berdaya di bawahnya .


" Kau mulai nakal Nyonya ... " lirih Gibran ketika membuka mata dan melihat istrinya sedang memandangi lekuk tubuhnya . Masih dengan tubuh yang polos dia segera menghampiri dan membopong tubuh istrinya .


" Kau harus cepat pakai bajumu sebelum masuk angin !! Setelah kau pakai bajumu baru kau boleh memandangku sepuasmu . Tubuh dan jiwaku adalah milikmu Nyonya ... "


Gisel tertawa kecil mendengarnya , kata kata sederhana yang membuat dirinya merasa dihormati dan dihargai .


" Begitupun aku ... tubuh dan jiwaku adalah milikmu ! "


" Apa itu artinya .... "


" Sentuh aku ! Aku memintamu untuk menyentuhku Tuan Gibran " bisik lirih Gisel tepat di telinga suaminya .


" As you wish sayang ... " sahut Gibran tersenyum bahagia , akhirnya ia bisa memiliki istrinya seutuhnya .

__ADS_1


" Ehhmm tapi pelan pelan , kata dokter ... "


" Aku tahu sayang , kita akan bermain sangat lembut ! "


__ADS_2